Rhea makin sibuk. Inkubator bisnisnya masuk tahap pendanaan lanjutan.
Ia harus presentasi di depan investor kampus minggu depan.
Semua waktunya terpotong rapat dan revisi proposal.
Dan di sela kesibukan itu…
Pesan dari Dika datang lebih sering.
Tanaman Hias lagi sibuk banget ya?
Lo nggak pernah balas cepat sekarang.
Rhea membaca sambil berjalan cepat di koridor.
Lagi fase serius hidup, Kak.
Waduh. Aku jadi nggak prioritas?
Rhea tersenyum tipis.
Dari dulu juga bukan prioritas.
Dika membalas dengan emoji tertawa.
Tapi kali ini, pesannya berlanjut.
Aku lagi mikir pindah kota sih kalau dapat magang di sana.
Rhea berhenti sebentar.
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Serius?
Iya. Biar ada alasan ketemu Tanaman Hias.
Rhea tidak langsung membalas.
Dan di saat yang sama…
Juna duduk di sampingnya.
Ia melihat layar ponsel Rhea menyala lagi dengan nama yang sama.
Dika.
Sekarang bukan sekadar nostalgia.
Sekarang intens.
Dan perasaan Juna mulai tidak nyaman.
“Dia sering chat?” tanya Juna pelan.
Rhea menoleh.
“Iya.”
“Seberapa sering?”
“Lumayan.”
Hening.
Juna mencoba tetap tenang.
“Dia mau pindah ke sini?”
“Katanya mungkin.”
Kata mungkin terasa seperti ancaman.
Juna mengangguk kecil.
Ia tidak marah.
Ia hanya mulai merasakan sesuatu yang baru dan berat…
Cemburu.
Dan kali ini bukan kecil.
Malam itu, Juna tidak mengirim pesan seperti biasa.
Tidak ada “udah makan?”
Tidak ada “jangan lupa istirahat.”
Rhea memperhatikan.
Ia membuka chat mereka.
Kosong.
Biasanya selalu ada satu pesan kecil.
Ia mengetik.
Lo kenapa?
Balasan datang lama.
Enggak.
Jawaban paling klasik.
Dan Rhea tahu itu bukan “enggak” biasa.
Di sisi lain, Dimas memperhatikan perubahan itu.
“Lo kenapa jadi diem?” tanya Dimas.
“Gue nggak tau gue punya hak buat cemburu atau nggak,” jawab Juna jujur.
Dimas menatapnya.
“Lo belum nembak.”
“Iya.”
“Terus?”
“Gue nggak mau terlihat posesif.”
“Lo bukan posesif. Lo takut.”
Juna terdiam.
Takut.
Takut kehilangan sebelum benar-benar punya.
Beberapa hari kemudian, Rhea dan Juna duduk berdua di kantin.
Suasananya sedikit canggung.
Rhea membuka percakapan.
“Jun.”
“Hm?”
“Junaedi”
“Bukan nama gue”
“Lo marah?”
“Enggak.”
“Cemburu?”
Juna tersenyum tipis.
“Boleh?”
Rhea terdiam.
Pertanyaan itu tidak terdengar bercanda.
“Aku belum bilang apa-apa ke kamu,” lanjut Juna pelan.
“Terus?”
“Gue nggak tau posisi gue apa.”
Kalimat itu jujur.
Dan Rhea tidak bisa langsung menjawab.
Karena ia pun bingung.
Dika hadir dengan ringan.
Juna hadir dengan konsisten.
Dua arah berbeda.
“Gue nggak mau kehilangan fokus,” ucap Rhea akhirnya.
“Gue tau.”
“Gue juga nggak mau nyakitin siapa-siapa.”
“Lo nggak nyakitin.”
“Lo lagi sakit.”
Hening.
Juna menatap meja.
“Gue cuma takut gue kalah sebelum mulai.”
“Kalah sama siapa?”
“Masa lalu lo.”
Rhea menghela napas panjang.
“Dika itu… nyaman.”
“Dan gue?”
Rhea menatapnya.
“Lo… penting.”
Jawaban itu menggantung.
Malam itu, Rhea duduk sendirian.
Ponselnya berbunyi lagi.
Tanaman Hias jangan lupa makan ya.
Dika.
Beberapa detik kemudian, pesan lain masuk.
Jangan terlalu kerja keras.
Juna.
Dua perhatian.
Dua gaya berbeda.
Rhea menutup matanya.
Kenapa justru sekarang semuanya terasa rumit?
Ia tahu hatinya mulai condong pada Juna.
Tapi Juna belum pernah benar-benar mengatakan apa-apa.
Dan selama tidak ada kejelasan…
Semua terasa abu-abu.
Keesokan harinya, Rhea menelepon Kirana lagi.
“Ran.”
“Iya?”
“Kalau dua orang sama-sama baik ke kita… kita harus gimana?”
Kirana terdiam beberapa detik.
“Kamu suka yang mana?”
Rhea langsung menjawab cepat,
“Gue nggak tau.”
“Kamu tau.”
Hening.
“Yang satu ringan. Yang satu dalam,” lanjut Rhea pelan.
“Dan kamu tipe yang pilih mana?”
Rhea menatap langit-langit kamarnya.
“Yang dalam… tapi gue takut.”
“Takut apa?”
“Takut kehilangan kalau salah.”
Kirana tersenyum lembut dari seberang.
“Re.”
“Apa.”
“Kadang orang nggak kalah karena saingan. Tapi karena terlalu lama diam.”
Kalimat itu membuat Rhea terdiam lama.
Di kampus, Juna berdiri di depan fakultas bisnis lagi.
Rhea keluar dengan wajah lelah.
“Lo mau ngomong sesuatu?” tanya Rhea langsung.
Juna menatapnya.
Ia ingin.
Ia sangat ingin.
Tapi ada rasa takut yang sama.
Takut kalau ia mengucapkan terlalu cepat dan justru memecah fokus Rhea.
“Belum,” jawabnya akhirnya.
Rhea tersenyum tipis.
“Jun.”
“Hm?”
“Lo jangan lama-lama.”
“Lama-lama apa?”
“Diam.”
Kalimat itu pelan.
Tapi seperti alarm kecil.
Dari jauh, Felly dan Dimas kembali jadi penonton.
“Ini udah tahap genting,” gumam Dimas.
“Kalau Juna masih nunggu, bisa kalah,” jawab Felly.
“Dan kalau dia buru-buru?”
“Bisa salah timing.”
Dimas menghela napas.
“Drama dewasa tuh lebih pusing ya.”
Felly tersenyum kecil.
“Karena yang dipertaruhkan bukan cuma hati. Tapi masa depan.”
Sore itu, Rhea berjalan pulang sendiri.
Pikirannya penuh.
Ia tidak ingin kehilangan Juna.
Ia tidak ingin mengulang nostalgia.
Ia tidak ingin salah pilih.
Dan yang paling menyiksa
Ia tidak ingin menjadi alasan seseorang merasa kalah.
Langit mulai gelap.
Dan untuk pertama kalinya sejak lama—
Rhea merasa benar-benar bingung.
***
Juna tidak tidur nyenyak malam itu.
Pikirannya berputar pada satu kalimat Kirana yang pernah ia dengar secara tidak langsung dari Rhea:
“Kadang orang nggak kalah karena saingan. Tapi karena terlalu lama diam.”
Dua tahun lebih ia menunggu.
Dua tahun ia konsisten.
Dua tahun ia memilih sabar.
Tapi sabar tidak boleh berubah jadi takut.
Dan ia tahu—
Dika bukan ancaman terbesar.
Ancaman terbesarnya adalah dirinya sendiri.
Keesokan sore, ia berdiri di depan fakultas bisnis.
Tidak membawa kopi.
Tidak membawa roti.
Tidak membawa alasan kecil.
Hanya satu keputusan.
Rhea keluar dengan wajah lelah seperti biasa.
“Lo lagi?” ucapnya.
“Iya.”
“Lo nggak ada kelas?”
“Ada.”
“Terus?”
“Gue izin bentar.”
Rhea mengernyit.
“Serius banget mukanya.”
“Iya.”
Rhea berhenti berjalan.
“Oke. Ada apa.”
Juna menarik napas dalam.
Untuk pertama kalinya, ia tidak menyiapkan kalimat lucu.
“Gue takut.”
Rhea terdiam.
“Takut apa?”
“Takut kehilangan lo sebelum gue pernah punya kesempatan.”
Hening.
Angin sore berhembus pelan di halaman kampus.
Rhea tidak menyela.
“Gue udah dua tahun lebih di sini,” lanjut Juna.
“Gue nggak pernah maksa. Nggak pernah minta lo jawab cepat. Karena gue tau lo lagi bangun hidup lo.”
Rhea menatapnya.
“Dan gue nggak mau jadi gangguan,” lanjutnya.
“Lo nggak pernah jadi gangguan.”
“Tapi gue juga nggak mau jadi orang yang cuma nunggu tanpa pernah jujur.”
Juna menatapnya lurus. Kemudian ia menarik pelan tangan Rhea.
Deg_
Rhea mematung dengan perlakukuan Juna tanpa menghindar.
“Re, gue suka lo.”
Tidak keras.
Tidak dramatis.
Tapi jelas.
Kalimat itu akhirnya keluar.
Rhea tidak langsung menjawab.
Ia berdiri diam beberapa detik.
Dua tahun kalimat itu ditahan.
Dan sekaranG…
ia benar-benar mendengarnya.
“Lo tau kan gue sibuk?” tanya Rhea pelan.
“Gue tau.”
“Lo tau hidup gue nggak sederhana?”
“Gue tau.”
“Lo tau gue bisa jadi ribet?”
“Gue tau.”
“Lo tau Dika masih chat gue?”
Juna mengangguk.
“Iya.”
“Dan lo tetap bilang gitu?”
“Iya.”
Rhea menatapnya lebih dalam.
“Kenapa?”
Juna tersenyum tipis. sambil mengeratkan tangannya pada tangan Rhea
“Berulang kali udah gue bilang. Karena kali ini gue nggak milih karena sepi. Gue milih karena yakin.”
Hening.
Dan kalimat itu terasa berbeda.
“Gue nggak mau jadi pilihan karena gue ada terus,” lanjut Juna.
“Terus?”
“Gue mau jadi pilihan karena lo mau.”
Rhea merasakan sesuatu yang menghangat di dadanya.
Ia bukan lagi takut pada masa lalu.
Ia bukan lagi sekadar nyaman.
Ia sadar.
Ia butuh.
“Jun.”
“Hm?”
“Lo tau gue paling takut apa?”
“Apa?”
“Takut kehilangan arah kalau gue terlalu fokus ke perasaan.”
Juna mengangguk pelan.
“Gue nggak mau lo kehilangan arah.”
“Kalau gue gagal?”
“Gue tetap di sini.”
“Kalau gue berhasil?”
“Gue tepuk tangan paling keras.”
Rhea menahan senyum.
“Lo capek nggak sih jadi dewasa banget?”
“Capek.”
“Terus kenapa tetap begitu?”
“Karena gue nggak mau ngulang kesalahan yang sama.”
Hening.
Nama Nabila tidak disebut.
Nama Kirana tidak disebut.
Tapi mereka tahu sejarah itu ada.
Dan kali ini
ia berbeda.
“Gue nggak mau lo nunggu lagi.”
Kalimat itu membuat jantung Juna berdetak lebih cepat.
“Tapi?”
“Gue juga nggak mau jawab karena tertekan.”
“Gue nggak tekan.”
“Gue tau.”
Rhea menarik napas pelan.
“Gue juga suka lo.”
Kalimat itu lebih pelan dari milik Juna.
Tapi tidak ragu.
Hening panjang.
Juna tidak tersenyum lebar.
Tapi hatinya seperti melompat ingin keluar.
Ia hanya mengangguk kecil untuk menutupi kegrogiannya..
“Gue tau.”
“Geer.”
“Enggak. Gue cuma ngerasa.”
Rhea tertawa kecil.
Tawa yang dulu selalu ia tahan.
“Gue nggak janji bakal jadi gampang,” ucap Rhea.
“Gue nggak cari gampang.”
“Gue nggak bisa tiap hari ketemu.”
“Gue nggak minta tiap hari.”
“Gue bisa tiba-tiba sibuk.”
“Gue udah biasa.”
Rhea menatapnya lama.
“Lo serius banget.”
“Iya.”
“Kenapa nggak dari dulu bilang?”
Juna tersenyum kecil.
“Karena dulu gue masih belajar sabar. Sekarang gue belajar berani.”
Dan itulah bedanya.
Di kejauhan, Felly dan Dimas yang kebetulan lewat melihat mereka berdiri lama.
“Kayaknya itu bukan obrolan tugas,” gumam Dimas.
Felly memperhatikan ekspresi mereka.
“Enggak. Itu momen.”
Dimas menelan ludah.
“Jadi?”
Felly tersenyum pelan.
“Akhirnya.”
Tidak ada pelukan dramatis.
Hanya dua orang yang berjalan berdampingan menuju gerbang kampus.
Sedikit lebih dekat dari biasanya.
Dan untuk pertama kalinya—
Tidak ada tembok.
Tidak ada abu-abu.
Hanya keputusan yang lahir dari dua tahun konsistensi.
Malamnya, Rhea menerima pesan dari Dika.
Tanaman Hias, aku jadi ke kota lo minggu depan ya.
Rhea menatap layar beberapa detik.
Lalu membalas.
Boleh. Tapi aku nggak sendiri lagi.
Beberapa menit hening.
Lalu balasan masuk.
Oh.
Akhirnya ya?
Rhea tersenyum kecil.
Iya.
Di sisi lain kota, Juna melihat pesan dari Alya.
Kamu baik-baik aja?
Ia membalas.
Aku sudah memilih.
Tidak ada lagi rasa takut kehilangan sebelum mulai.
Karena sekarang….
Mereka sama-sama sudah melangkah.