Krystal sudah menawarkan diri untuk membantu Ellen yang sedang sibuk mempersiapkan pesta ulang tahun Lozo nanti malam. Namun Ellen terus menolak dan menyuruhnya untuk beristirahat. Alhasil Krystal hanya rebahan saja di atas ranjangnya. Sesekali ia membaca buku dengan bahasa baru untuk ia pelajari. Tanpa ia sadari, Krystal mulai menyukai kegiatan yang disebut ‘belajar’. Karena mungkin hanya dengan belajar ia tidak akan merasakan sakit apapun, malah ia senang karena dapat mempelajari hal baru yang belum pernah ia ketahui sebelumnya.
Krystal mengerjapkan matanya ketika membaca buku tentang peperangan yang terjadi 14 tahun yang lalu. Peperangan besar yang berhasil menewaskan ribuan orang, termasuk Raja dan Ratu Kerajaan Vampir. Para tetua dan orang-orang penting lainnya ikut menjadi korban dalam peperangan yang disebabkan akibat pengkhianatan sekelompok Kaum Vampir. Bahkan para vampir golongan biasa yang tidak tahu apa-apa harus mati sia-sia karena keegoisan Kaum Vampir Erega.
“Erega?” gumam Krystal yang merasa familiar dengan nama itu.
“Krystal Erega. Kau berhasil membuatku gila!” Sepertinya ia mengingat kalimat itu samar-samar dalam ketidaksadarannya kemarin.
Deg!
Jantung Krystal berdebar cepat, ia kembali membaca kalimat di dalam lembaran buku itu. “Kaum Erega adalah pengkhianat yang tidak berperasaan,” Krystal melepaskan buku itu dari tangannya. Sejak ia membaca tadi, Krystal tidak sadar jika ia menangis. Kisah nyata itu begitu menyayat hati, banyak orang kehilangan seseorang yang mereka sayangi. Bahkan Pangeran Handium yang selalu kejam dan dingin itu memiliki masa lalu yang sangat menyakitkan dengan meninggalnya orang tua dan adiknya yang menghilang dan dikabarkan tiada. Namun hal yang membuat Krystal semakin terkejut adalah orang yang menyebabkan ribuan orang mata itu, “Adalah keluargaku,”
Cukup lama Krystal menenangkan diri atas keterkejutannya, Krystal memilih untuk keluar dari kamarnya. Dengan membawa buku-buku tebal di tangannya, gadis itu pergi ke perpustakaan untuk melanjutkan membaca di sana. Karena ia mungkin membutuhkan banyak info untuk mengetahui siapa dirinya, bahkan jika ada ia juga ingin tahu bagaimana ia bisa hidup dengan wujud ini sedangkan awalnya ia hanyalah seekor kucing biasa.
“Aku pikir pelayan itu akan sadar diri setelah kehilangan ingatan, ternyata sama saja.” Ujar seorang pelayan.
“Bukannya mempermudah, malah semakin jadi beban,”
Krystal mengepalkan tangannya, ia tahu betul siapa yang mereka bicarakan. Tatapan para pelayan lainnya cukup mengganggu Krystal, ia merasa jika sikap mereka perlahan berubah. Bahkan tidak jarang ia mendengar mereka membicarakan hal buruk tentangnya entah secara diam-diam maupun terang-terangan seperti barusan. Krystal semakin menundukkan kepalanya. Sebenarnya ia juga ingin membantu, tapi Ellen melarangnya. Ia juga tahu dengan kondisinya sekarang, bahkan kakinya sudah terasa seperti akan patah, padahal ia hanya berjalan sebentar dengan membawa sedikit buku.
Krystal menghentikan langkahnya setelah sampai di area perpustakaan yang letaknya berada di belakang gedung utama. Di sana ada dua penjaga vampir dari bangsa Vetar. Krystal jadi ragu untuk masuk ke sana atau tidak.
“Untuk apa kau di sini Nona?” Krystal reflek menjatuhkan bukunya terkejut mendengar suara di sampingnya.
“Onsky!” ucap Krystal setelah tahu jika Onsky yang bertanya.
Onsky terkekeh sembari mengambil buku-buku Krystal yang jatuh. “Kau suka membaca, Nona?” Onsky mengernyitkan kening membaca judul buku paling atas. “Masa Kelam Grastisius?” tanya Onsky
Krystal langsung merebut buku-buku itu dari Onsky. “Aku hanya ingin membaca,” ujar Krystal mendadak gugup. Padahal tidak ada hal yang harus ia sembunyikan. Ia hanya merasa malu karena orang lain melihat apa yang ia baca.
“Kalau begitu aku pergi dulu Onsky,” Krystal berjalan pergi dari sana. Meninggalkan Onsky yang baru saja menarik salah satu bibir tanpa ia ketahui.
.
.
.
Raut muka Lozo langsung berubah setelah mendengarkan ucapan Onsky. Ia mencengkeram wadah yang berisi pakaian wanita di tangannya. Tidak bertahan lama, wadah itu kini sudah berubah menjadi beberapa bagian di tangannya. Emosinya benar-benar sedang diuji hari ini.
“Untuk hari ini, kau harus tenang,”
Berusaha menahan amarah, Lozo memejamkan matanya erat sembari melakukan penyucian diri yang biasa ia lakukan sebelum berkunjung ke makam kedua orang tuanya nanti. Setelah selesai dengan emosi yang lebih terkendali, ia keluar dari istana.
Prosesi Peringatan Akhir Peperangan Besar yang dinamai Peran Antar Vampir itu dimulai. Tepatnya 14 tahun yang lalu setelah Raja Para Vampir dinyatakan tewas dalam peperangan bersama dengan sang istri tercinta. Diingatnya peperangan sadis itu sebagai lambang dimulainya kehidupan baru paran bangsa vampir. Semua kaum vampir kecuali Erega turut hadir dalam kegiatan yang selalu dilakukan setiap tahun ini.
Kegiatan terlaksana dengan sangat baik dan lancar. Bahkan cuaca ikut menjadi pendukung, tidak panas, hujan, maupun dingin. Banyak orang yang menangis mengingat keluarga mereka yang ikut tewas dalam peperangan itu.
Dengan menaiki kereta kuda dengan beberapa Vampir Vetar dan Vampir Rogue yang mengawalnya. Seperti di tahun-tahun sebelumnya, Lozo akan mengikuti aturan istana untuk menggunakan kereta kuda ketika berkunung menemui orang tuanya. Padahal sebenarnya ia ingin langsung menggunakan sayap atau berteleporatasi dengan Onsky agar cepat sampai di makam.
Seperti biasa juga, Lozo selalu melarang siapapun untuk mengikutinya sampai ke dalam. Karena ia tidak ingin ada yang mengganggunya berkeluh kesah kepada ayah dan ibunya yang meninggalkan dirinya tepat di hari ulang tahunnya.
Ulang tahun yang seharusnya menjadi hari bahagia karena Tuhan dengan baik hati masih memberikan waktu untuk kita memperbaiki diri sampai satu tahun berikutnya, malah akan Lozo hadapi dengan kebalikannya. Walau sebagian orang malah menyia-nyiakan waktu yang Tuhan berikan tersebut dengan melakukan hal yang salah.
“Ayah, Mama. Apa kalian bahagia di sana?” tanya Lozo dengan suara datar, walau terdapat banyak rasa rindu di dalamnya.
Lozo tersenyum tipis, “Apa Gerald juga bersama kalian?” tanya Lozo.
“Apa kalian benar-benar sedang bersenang-senang tanpa aku?” Raut wajah itu berubah sendu.
“Aku hanya sendirian di sini, tapi dengan sangat tidak adil Tuhan mempersatukan kalian secepat ini dan meninggalkan aku sendiri,” Lozo mencengkeram batu nisan Ayah, diusia yang kau bilang seharusnya ku gunakan untuk bersenang-senang malah aku gunakan untuk mengurus kerajaan sebesar ini sendirian. Bahkan ketika seharusnya sekarang aku mendengar kemarahanmu karena kekeras kepalaanku yang sama denganmu, aku malah mengunjungi makammu,” Lozo dengan wajah datarnya itu meneteskan air mata yang turun tanpa disuruh. Ia memeluk erat batu nisan bertuliskan ‘Argon Grastin’ itu.
Setelah cukup puas, Lozo memutar tubuhnya pada makam ibunya yang terletak bersebelahan dengan sang ayah. Lozo tersenyum lembut menatap ibunya, mengingat tatapan lembut ibunya yang selalu berhasil membuatnya tenang setelah dimarahi oleh ayahnya. “Apa kau tidak merindukan putramu ini Ma? Aku sangat merindukan sup yang kau buat hingga aku lupa enaknya rasa darah Rusa Winter,” Lozo semakin tidak bisa menahan tegap tubuhnya. “Hari ini aku berulang tahun. Kau selalu menjadi yang pertama mengucapkan selamat untukku. A—aku ingin mendengarnya lagi,” Lozo memejamkan mata kuat, air matanya sudah tidak dapat dibendung lagi. “Hanya kau yang selalu mengerti aku, Mama. Kau yang selalu membelaku ketika Ayah memarahi—ku. A—aku, aku sangat merindukanmu,”
Tubuh kekar itu benar-benar sudah roboh. Menangis, hal paling sakral yang Lozo lakukan seumur hidupnya. Hanya di hadapan kedua orang tuanya ia bisa menangis dengan leluasa. Bertukar rindu walau pada akhirnya ia hanya akan berbicara sendirian. Sungguh, ia sangat ingin memutar waktu dan kembali ke masa lalu untuk menyelamatkan keluarganya dan seluruh masyarakat vampir.
“Tapi apa yang bisa aku lakukan. Aku hanya anak berusia 5 tahun Mama,” ujar Lozo dengan suara getir.
Lozo menarik napas dalam-dalam, kembali menenangkan diri. Ia tidak boleh terlalu larut dalam kesedihan, ia harus mengakhirinya sekarang atau ia nanti tidak tahu cara untuk berhenti. Lozo memberikan kecupan lembut pada nisan kedua orang tuanya, lalu berdiri.
Di luar makam, para vampir yang berjaga ikut merasakan kesedihan yang Pangeran mereka hadapi. Mereka tahu beban apa yang harus anak itu lakukan diusia yang masih sangat belia. maka dari itu, tidak ada prajurit maupun pelayan yang akan menunjukkan kasih sayang antar keluarga ketika di Istana. Alasannya satu, mereka tidak ingin membuat Lozo merasa sendirian. Namun dengan hatinya yang sangat baik Lozo selalu memberikan waktu untuk pelayan maupun prajurit menghabiskan waktu dengan keluarga di hari-hari tertentu, semisal ulang tahun salah satu anggota keluarga, kematian, bahkan ketika keluarga ada yang sakit Lozo tidak akan segan untuk memberikan izinnya. Walau terkadang Lozo tidak akan segan untuk memberikan hukuman berat kepada siapapun yang tidak patuh akan perintahnya maupun membantahnya. Itu semata-mata untuk membuat mereka sadar.
Mereka langsung berdiri tegap ketika Lozo berjalan kembali. Lozo memakai topinya, sengaja untuk menutupi wajah sembabnya habis menangis. “Seperti biasa. Aku tidak ingin ada yang mengasihaniku. Kita kembali,” ujar Lozo berusaha untuk terlihat baik-baik saja.
.
.
.
Sampai di Istana, Lozo langsung pergi ke perpustakaan untuk mencari seseorang yang mengganggu pikirannya sejak tadi. Lozo dengan wajah datarnya terlihat mengerikan, kaki panjangnya berjalan masuk ke dalam ruangan penuh buku itu. Hingga ia menemukan sosok dengan surai putih yang ia cari. Ia berjalan mendekat dan berdiri di belakangnya.
“Keturunan Grastin,” batin Lozo membaca buku yang menjadi tumpuan kepala Krystal yang sedang terlelap.
Lozo mengambil salah satu buku di rak, dengan sangat kasar ia melemparkan buku itu tepat di samping Krystal hingga membuat gadis itu kelabakan. Napasnya tersengal karena terkejut, entah sedang bermimpi apa gadis itu tadi.
“Pa—pangeran,” Krystal spontan berdiri dan menundukkan kepalanya ketika melihat Lozo di sana.
“Apakah kau sudah melupakan statusmu Nona Krystal?” tanya Lozo sengaja menggunakan ‘Nona’ agar gadis itu merasa tersindir.
Krystal mencengkeram roknya kuat, “Maafkan hamba, Pangeran.”
Lozo mengetatkan rahangnya, ia mengambil satu buku lagi dan melemparkannya dengan tidak berperasaan ke arah Krystal. Buku itu sangat tebal, ditambah Krystal juga tidak memiliki persiapan untuk menghindar, jadilah gadis itu sekarang tersungkur di atas dinginnya lantai.
Krystal berusaha menahan rintihannya yang ia rasakan di punggungnya. Sepertinya luka di sana baru saja terbuka karena punggungnya menubruk kursi. Sedangkan ekspresi Lozo masih sama, ia sama sekali tidak peduli jika gadis itu sedang kesakitan.
“Berdiri!” Hanya satu kata. Namun terdengar begitu kasar, sampai membuat Krystal berusaha berdiri dan melupakan lukanya sendiri.
“Cepat lakukan tugasmu, jangan mencari alasan apa pun! Dan datang ke pesta nanti malam dengan gaun yang akan pelayan siapkan di kamarmu!” Krystal langsung menganggukkan kepalanya tanpa membuat alasan. Karena ia tahu, Lozo tidak akan mungkin mau mendengarkannya.
Lozo membalikkan badan sembari tersenyum tipis, “Dan satu lagi. Jangan berbuat macam-macam di istanaku, atau aku tidak akan segan untuk menghabisimu tanpa memikirkan siapapun yang akan mencegahku,”
Krystal tersentak, lalu menoleh menatap buku-bukunya. Apakah ia sudah melakukan hal yang salah dengan datang ke perpustakaan ini? Ah, pasti dirinya sudah terlalu lancang untuk pergi ke perpustakaan ini. Ia pernah mendengar jika perpustakaan merupakan salah satu tempat yang sering Lozo kunjungi.
“Maafkan hamba, Pangeran.”
Lozo yang sudah berjalan pergi langsung menghentikan langkahnya mendengar ucapan lirih itu. ia menghela napas berat sebelum benar-benar pergi dari sana. Krystal menundukkan kepalanya murung. Setelah membaca buku-buku ini ia jadi bisa memahami apa yang pria itu rasakan. Kesedihannya, kecemasaannya, dan rasa takut yang dideritanya sejak usia dini. Krystal juga mulai mengerti atas kebencian yang pria itu rasakan untuknya.
Beberapa saat kemudian Krystal merintih, ia baru saja ingat jika luka di punggungnya kembali terbuka. Namun ini bukan saatnya untuk mencari dokter maupun Ellen. Seperti kata Lozo tadi, ia harus ikut membantu para pelayan yang sedang bekerja.
“Kau harus menahan semua ini, Krystal.”
.
.
.