Angin berhembus sangat kencang, gadis berambut putih itu membuka kedua matanya merasa tubuhnya menggigil kedinginan. Sembari memegang tubuhnya yang kedinginan ia berusaha untuk mendudukkan diri. Kepalanya benar-benar pening, dan tubuhnya terasa akan hancur. Sakit ia rasakan di mana-mana, dari kepala sampai ujung kaki.
“Di—dingin sekali,” lirih Krystal sambil menggosok-gosokkan kedua tangan berusaha mencari kehangatan.
Krystal mendongakkan kepalanya. Ia baru sadar jika langit sudah diterangi dengan ribuan bintang dan bulan tsabit diantaranya. Tanpa sadar Krystal tersenyum melihat langit yang terlihat sangat cantik, sudah lama ia tidak menikmatinya. Semenjak Tuannya tewas dalam kecelakaan, sebagai kucing Krystal sudah tidak bisa lagi hidup dengan tenang. Ia selalu menjadi sasaran binatang serumpun maupun binatang buas yang selalu ingin menjadikannya mangsa. Bahkan ia juga sering kehujanan karena tidak tahu harus berteduh di mana, kelaparan juga sering ia rasakan.
Krystal berusaha untuk berdiri, beberapa kali ia mencoba akhirnya ia berhasil berdiri dengan benar. Sepertinya Krystal mulai membenci keputusannya untuk pergi ke atap sekolahan. Di kondisinya sekarang, ia tidak tahu bisa turun dengan selamat atau tidak sampai lantai dasar, ditambah cahaya remang-remang membuatnya sedikit kesulitan menatap jalan.
Krystal bertumpu pada pinggiran tangga, napasnya berderu tidak stabil, dadanya sakit, kepalanya juga semakin pusing. “Ya Tuhan, lindungi aku.”
Krystal memejamkan matanya, lalu membukanya setelah beberapa saat. Krystal melakukannya beberapa kali dengan harapan agar kesadarannya bisa ia jaga sampai ia sampai di Istana, walau ia belum memikirkan cara untuk sampai di Istana setelah ini.
“Tinggal sekali lagi,” ujar Krystal menatap deretan tangga di bawahnya setelah ia selesai menuruni empat lantai dengan tangga. Krystal bahkan sampai tidak menyadari jika darah di kaki dan punggungnya mulai menetes di setiap perjalanannya.
Krystal menghentikan langkahnya merasa perutnya seperti diacak di dalam. tidak bisa menahannya lagi, Krystal langsung memuntahkan isi perutnya. Krystal jongkok sembari memegang perutnya. Lagi-lagi gadis itu kembali menangis karena tidak kuasa menahan sakit yang ia rasakan. Hingga kesadarannya terenggut.
“NONA KRYSTAL!!”
Di sisi lain, Lozo menghela napas panjang karena tidak menemukan Krystal di sepanjang perjalanan ke sekolahan. Tidak ada jejak maupun petunjuk yang ia dapatkan. Ia hanya mendapatkan firasat buruk yang membuat pikirannya semakin tidak karuan.
“Apa dia ada di sekolahan?” Lozo menggeram, daripada terus berperang batin lebih baik ia segera pergi untuk memastikannya. Mengepakkan sayapnya, Lozo kembali terbang ke arah sekolahan. Lebih tepatnya ke tempat terakhir kali ia bertemu dengan gadis itu hari ini. mendarat dengan aman, mata merahnya menyusuri setiap bagian atap sekolahan. Namun hasilnya nihil, ia tidak melihat Krystal di sana.
Dada Lozo sesak melihat sobekan baju di besi panjang itu, sidikit bercak darah di sana yang seolah menjadi bukti betapa kejamnya Lozo kepada gadis itu. Lozo berjalan mendekat, meraih sobekan baju itu dengan tangannya. Lagi dan lagi untuk pertama kalinya ia merasakan hal aneh setelah perbuatannya. Bukan lagi kepuasan ketika Krystal menahan rasa sakit, tapi rasa hancur yang sama dengan apa yang gadis itu rasakan. Kenapa? Kenapa ia harus merasakan semua ini?
Menggenggam erat sobekan baju, aroma darah menguar dari sana. Lozo mencium aroma harum yang ia rasa hanya Krystal pemiliknya, sangat harum dan candu. Mencium aroma sama di tempat lain, Lozo menoleh—terkejut melihat tetesan darah yang berjalan menuju pintu atap. Perlahan sayap hitam itu menghilang, Lozo berjalan mengikuti darah yang menetes di sepanjang tangga. Terus meningikutinya sampai ia melihat muntahan di tangga terakhir. Di muntahan darah itu ada darah familiar yang ia yakini itu juga adalah milik Krystal. Namun setelahnya tidak ada darah lagi yang terlihat.
Sepertinya Krystal masih berada di sekitar sini karena memang aroma darahnya seperti masih baru. Seperti mendapatkan petunjuk, ia seperti ditunjukkan sebuah tempat yang tiba-tiba lewat di kepalanya. Lozo mengeluarkan kembali sayapnya setelah memegang kalungnya yang terhubung dengan batin Onsky.
Mengitari area sekolahan untuk mencari tempat yang masih terlihat asing di kepalanya, sampai mata merah tajamnya berrhasil menemukan apa yang ia cari. “BERHENTI!” Lozo berteriak berusaha menghentikan sosok asing yang menggendong kantong darahnya. Lozo segera turun, di bawah juga sudah ada Onsky dan anak buahnya.
“Kalian siapa?” Cowok berambut coklat itu terkejut melihat vampir-vampir keturunan kelas atas mengepungnya.
“Lepaskan dia Tuan,” ujar Onsky dengan suara rendah agar pria itu mau menyerahkan Krystal tanpa paksaan, namun sayangnya Pangerannya yang memiliki emosi tingkat tinggi sudah berdiri di hadapannya.
“Berikan dia kepadaku!”
Delon reflek menunduk melihat sosok familiar di hadapannya. “Pangeran Kebanggan Semesta, hamba memberi hormat,”
Lozo berdecak, ia menatap Krystal yang terlihat sangat pucat dengan mata terpejam. “Berikan dia!” Delon langsung menghindar sebelum Lozo merebut gadis di gendongannya.
“Maafkan hamba, Pangeran. Tapi kondisinya sangat kritis, hamba akan membawanya ke tabib untuk diobati,” ujar Delon mengelak dengan cepat sebelum pasukan di belakang Lozo melemparkan bola api kepadanya.
“Apa kau mengenalnya?” tanya Onsky.
“Dia teman saya, Tuan. Namanya Krystal,”
Lozo mengepalkan tangannya kuat mendengar jawaban Delon. “Teman? Krystal?” Lozo menatap Delon tajam, “Siapa kau berani memanggil dia dengan namanya?!”
Delon dan yang lainnya mengerjapkan mata bingung, bukankah ia sudah cukup jelas mengatakan jika Krystal adalah temannya?
Onsky menatap Lozo lekat. Lozo marah hanya karena seseorang memanggil nama kantong darahnya? Bukankah itu terlalu tidak masuk akal?
Lozo berdecak dan merebut Krystal begitu saja ke dekapannya. “Kalian urus dia,”
“Sa—“
“Kau juga. Aku akan pergi sendiri,” Lozo menyela ucapan Onsky. Lozo melepaskan jubahnya dan memakaikannya pada tubuh Krystal yang sudah sedingin es. Lozo terbang dengan memeluk Krystal erat dalam dekapannya, berharap aliran darahnya yang biasanya panas dapat menghangatkan tubuh dingin itu. Ia benar-benar berharap banyak sekarang.
“Karena kau tidak boleh mati sekarang. Kecuali aku sendiri yang menginginkanmu untuk mati, Erega.”
.
.
.
Dokter sudah selesai mengobati luka Krystal dan juga memberikannya obat. “Nona akan istirahat sepanjang malam ini. Kondisinya sangat lemah, bahkan ini jauh lebih parah daripada sebelumnya,”
Lozo mengernyitkan kening bingung, “Apa luka di tubuhnya tidak bisa hilang?”
Dokter itu menggelengkan kepala, “Bukan Pangeran, tapi saya rasa seperti ada yang mengganggu pikiran Nona, yang semakin memperparah kondisinya, “
Tiba-tiba Lozo teringat ketika Krystal memanggil “Mama,” tadi. Apa mungkin gadis itu sedang merindukan ibunya? Ck! Lozo segera menepis pemikirannya, ini bukan urusannya gadis itu sedang memikirkan siapa. “Baiklah. Kau boleh pergi,”
Dokter itu menggelengkan kepalanya pelan. Untuk pertama kalinya ia berkunjung ke istana lebih dari dua kali dalam hitungan hari. Dan pasiennya juga masih sama, gadis yang digadang-gadang sebagai kantong darah Pangerannya. Ia juga merasa jika ada ikatan aneh antara Lozo dengan Krystal sejak beberapa hari lalu, tidak seperti sebelumnya. Bahkan Lozo juga bersikap aneh, Pangeran Kerajaan Vampir itu terlihat cemas jika gadis bersurai putih itu terluka. Bukan cuma itu, ia juga merasakan jika Krystal yang sekarang seperti berbeda orang dengan Krystal yang dulu. Namun sebagai orang biasa, ini bukanlah kewenangannya untuk ikut campur urusan mereka.
Lozo mendudukkan dirinya di pinggir ranjang. Menatap dengan saksama wajah pucat yang masih terlihat cantik. Tangannya terangkat menyentuh wajah itu, mengusapnya secara perlahan. Ia sangat ingin melihat kelopak mata itu terbuka dan menunjukkan bola mata birunya yang sangat indah. Mata yang selalu menunjukkan rasa sakit dan kesedihan, ia ingin melihatnya sebentar lagi. Satu-satunya bola mata yang selalu bisa membuatnya tenang.
“Ini memang pemikiran bodoh. Tapi jujur,”
“Aku sangat merindukanmu,”
.
.
.
Krytsal membuka kedua matanya merasa cahaya matahari masuk menembus jendela kamarnya. Gadis itu meregangkan tubuhnya setelah mendudukkan diri. “Akh,”
Krystal menatap perban yang melilit hampir sekujur tubuhnya. Ah, ia hampir saja lupa dengan kejadian kemarin. Tapi ia heran, bagaimana ia bisa sampai di Istana? Padahal seingatnya kemarin ia sama sekali bertemu dengan orang-orang Istana.
“Delon?” gumam Krystal mengingat sosok Delon yang muncul sebelum ia kehilangan kesadarannya. Namun kenapa ia malah ada di sini? Apa mungkin Delon yang mengantarnya?
Krystal menggelengkan kepala. “Bahkan dia tidak tahu aku tinggal di mana,” pikir Krystal.
“Ya ampun! Apa aku sudah telat?” Krystal baru menyadari jika ternyata hari sudah semakin siang. Dengan langkah cepat ia pergi keluar dari kamar.
“Ellen!” Krystal terkejut ketika melihat Ellen setelah ia membuka pintu kamarnya.
“Nona, kenapa kau lari-lari?” tanya Ellen cemas. Nona-nya ini sekarang sering sekali sakit, ia jadi khawatir.
“Aku sudah telat Ellen. Aku pasti akan mendapatkan hukuman nanti,” ujar Krystal cemas. Ia sering melihat para vampir yang telat akan dihukum untuk mengitari lapangan Berstart yang sangat luas itu 100 kali, namun karena besarnya kekuatan Vampir, tentu hukuman ini terlalu ringan. Sedangkan ia sepertinya tidak akan bisa melakukan itu di kondisinya sekarang, tenaganya juga tidak sekuat vampir. Bahkan ia sendiri juga bingung, kata orang-orang ia juga termasuk keturunan Vampir. Tetapi kenapa kekuatannya jauh lebih lemah, bahkan ia juga tidak menyukai darah seperti vampir pada umumnya,
“Tenang Nona. Apa kau tidak tahu jika besok adalah ulang tahun Pangeran?” ungkap Ellen membuat Krystal menggelengkan kepalanya karena ia memang tidak tahu.
“Astaga Nona. Bagaimana kau bisa melupakannya?” tanya Ellen tidak habis pikir. Padahal tahun-tahun sebelumnya Krystal selalu bersemangat di hari Ulang Tahun Lozo, karena hanya di hari itu Krystal akan lebih mudah untuk menggoda Lozo. Namun tetap seperti awalnya, Lozo sama sekali tidak tergoda dengannya, dan malah menghukum gadis yang berusaha membuatnya senang itu dengan sangat tidak berperasaan.
Namun sekarang berbeda, Krystal sama sekali tidak tampak tertarik. “Berarti hari ini sekolahan libur?” Tentu saja pertanyaan Krystal membuat Ellen terkejut.
“Ya ampun Nona. Bagaimana kau bisa sesantai ini?”
Kening Krystal mengerut bingung. “Memangnya aku harus melakukan apa?” Kemudian Krystal menganggukkan kepalanya paham, “Ah maaf. Kau memanggilku untuk memberikanku pekerjaan bukan? Maafkan aku yang tidak tahu status,”
Ellen mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia masih bingung, apa orang yang kehilangan ingatan juga akan merubah sifat kebiasaannya? Ellen benar-benar tidak tahu harus merespon bagaimana.
“Tidak Nona. Kau istirahat saja, tubuhmu pasti masih sakit. Aku ke sini untuk mengganti perban dan membersihkan tubuh anda,” ujar Ellen yang akhirnya menyerah membahas ulang tahun Lozo.
Di sisi lain, Lozo menatap ke arah pintu kamarnya. Seperti ada yang aneh, tapi ia tidak tahu di mana letak keanehannya. “Onsky,”
Onsky yang sedang meminum darah ayam langsung dari sumbernya itu menoleh, “Iya?”
Lozo menoleh, lalu berdecak kesal karena sahabatnya itu selalu mencuri ayam dari peternakan. Lalu Onsky selalu menyantap ayam itu di dekatnya agar tidak diamuk si pemilik ternak. “Apa kau merasa ada yang aneh dengan pintu itu?”
Onsky membuang ayamnya keluar jendela, mengusap darah di bibirnya dengan sapu tangannya. “Apa pintunya rusak?” tanya Onsky tidak tahu.
Lozo menghela napas rendah, “Apa dia belum siuman?”
Onsky mengernyitkan keningnya, “Siapa?”
Lozo berdecak keras, “Apa kau ingin bertemu Raja Naga?”
Onsky tertawa kecil menanggapinya sembari menggelengkan kepalanya tidak mau. “Apa yang kau maksud Nona Krystal? Jika iya, dia sudah siuman. Tadi aku melihat seorang pelayan mengantarkan makanan ke ruangannya,” jawab Onsky. Itulah akibatnya jika berbicara setengah-setengah.
Lozo berdehem lalu mendudukkan dirinya di pinggiran ranjang. “Lebih baik kau cepat pergi sebelum aku memberitahu para peternak jika kau yang mencuri ayam mereka,”
“Sabar Pangeranku. Saya mohon undur diri,” Onsky langsung menghilang begitu saja. Dulu sewaktu kecil ia pernah dikeroyok para peternak dengan alasan mencuri ayam-ayam di kandang mereka, lalu sebagai hukumannya ia harus menggunakan pakaian aneh berbentuk ayam untuk mengitari desa. Jujur saja, Onsky masih trauma dengan masa-masa itu.
.
.
.