Dengan ragu Krystal melangkah masuk melewati gerbang Istana yang sangat megah itu. Tatapan sinis para penjaga membuat Krystal ingin cepat-cepat pergi. Krystal berlari pelan, sampai tidak menyadari jika dirinya menabrak seseorang di depannya.
“Akh, maafkan saya,” Krystal membungkukkan badannya tanpa tahu siapa yang ia tabrak.
“Dari mana saja kau?” Suara bariton itu membuat Krystal menegakkan tubuhnya dan membelalakkan matanya. Krystal meneguk salivanya, ia kembali menundukkan kepalanya. Mata merah itu menatapnya tajam seolah akan membunuhnya saat itu juga.
“Sa—saya dari…”
Lozo memotong ucapannya, “Kenapa bajumu ganti?”
Krystal mengerjapkan matanya lalu menatap pakaiannya. “Ah, ini. Tadi aku se—“
“Cepat masuk dan kerjakan pekerjaanmu!” potong Lozo singkat sebelum cowok itu berlalu pergi begitu saja dari sana meninggalkan Krystal yang bingung.
Krystal menghembuskan napas rendah. Ia pikir Lozo akan mengomeli dan menghukumnya setelah apa yang terjadi tadi. Krystal segera masuk Istana lewat belakang untuk mengambil alat kebersihan dan langsung mulai bersih-bersih bersama pelayan yang lain.
Sedangkan Lozo menggeram rendah mengingat ucapan orang suruhannya yang ia tugaskan secara khusus untuk mengikuti Krystal diam-diam. Mereka mengatakan jika Krystal pergi dengan seorang pria, bahkan pergi ke gubuk pria itu dan keluar dengan pakaian berbeda. Dan entah mengapa perasaannya langsung memburuk setelah itu.
Lozo mengerahkan kekuatannya pada pohon besar tidak berdosa yang berada di ruang khusus latihannya.
“Apa yang harus kulakukan untuk menghukummu?” geram Lozo sembari masih melakukan hal yang sama. Masih sibuk melampiaskan kemarahannya, Lozo baru berhenti ketika sebuah pemikiran melewati kepalanya.
“Tunggu saja hukumanmu Baby Girl,” Lozo tersenyum sampai menampakkan gigi taringnya yang tajam.
Setelah selesai bersih-bersih, Krystal langsung menemui Ellen yang sedang membersihkan taman. Krystal lari-lari kecil sampai tidak menyadari ada lubang di tanah yang membuat dirinya jatuh. “Akh,”
“NONA!” Ellen yang melihat jatuhnya Krystal segera menaruh pemotong rumput dan menghampiri Krystal.
“Kenapa kau sering sekali jatuh Nona?” Ellen benar-benar tidak habis pikir dengan Krystal yang sangat sering nyusruk. Padahal seingatnya Nonanya tidak pernah seceroboh ini sebelumnya.
Krystal berusaha berdiri dengan Ellen yang ikut membantunya. Krystal menepuk-nepuk dress-nya yang kotor. “Yah, kotor,” gumamnya. Padahal dress baru ini berasal dari Delon, teman barunya. Ia yakin Delon pasti menghabiskan banyak uang untuk membeli pakaian cantik ini, namun ia dengan kecerobohannya malah merusaknya.
“Ayo, aku akan membersihkan luka anda, Nona.” Krystal menggelengkan kepalanya.
“Aku akan membersihkan baju ini dulu, Ellen.”
Krystal akan pergi, namun Ellen menahannya. “Tidak perlu Nona. Nona memiliki banyak dress yang jauh lebih cantik daripada ini. lebih baik ini dibuang saja,” Krystal menggelengkan kepalanya cepat.
“Jangan. Ini dari teman baruku. Akan sangat tidak sopan jika aku membuangnya begitu saja. Aku yakin ini pasti masih bisa diperbaiki,” ujar Krystal menatap dress coklat yang sobek sedikit di bagian lengan dan roknya.
Ellen terdiam sebentar, sedikit tidak percaya Krystal akan mengatakan kata semanis ini tentang barang murahan yang ia dapatkan. Padahal biasanya hanya karena terkena sedikit kuah makanan gadis ini akan langsung membakar pakaian yang harganya bahkan jauh lebih mahal daripada satu juta pakaian yang dikenakannya sekarang. Ya, Krystal memiliki pakaian mahal banyak karena dulu ia sering memeras para pelayan, mengambil gaji secara paksa untuk memenuhi kebutuhannya. Namun pada akhirnya Krystal akan mendapatkan hukuman berat karena para pelayan selalu melaporkannya kepada Lozo.
“Baiklah. Aku yang akan membersihkan dan memperbaikinya. Lebih baik sekarang Nona segera mengobati luka Nona dan berganti pakaian. Ayo!” Ellen menitah Krystal yang kesulitan berjalan.
Tanpa mereka sadari di atas pohon seorang cowok dengan rambut hitam dengan mata merahnya itu langsung mematahkan dahan pohon ketika mendengarkan pembicaraan mereka tadi. Wajahnya terlihat dingin dan tidak bersahabat.
.
.
.
“Bagus. Saya senang melihat perubahan kamu. Padahal baru kemarin Miss Lenka mengatakan jika kamu tidak mengenali alfabet. Bahkan saya sudah berniat untuk mengajarkanmu cara membaca secara pribadi. Tapi kau malah membuatnya terkejut,” Krystal tersenyum senang mendengar pujian Miss Roxana atas dirinya. Setelah selesai membacakan materi Krystal berjalan kembali ke tempat duduknya.
Kemarin setelah mengobati lukanya, Krystal meminta Ellen untuk mengajarinya tentang alfabet dan angka-angka romawi. Mungkin karena kepintarannya yang pernah menjadi kucing, Krystal dapat dengan cepat memahami dan menghafalkannya. Bahkan Ellen juga terkejut karena ia bisa dengan mudah mempelajarinya. Lalu Ellen memberikannya buku bacaan yang diambil dari perpustakaan kerajaan untuk melatih bacaannya.
Krystal yang melihat kaki sudah menyalang di depannya langsung menghentikan langkah. Ia menghela napas sebelum berjalan dengan sedikit mengangkat tinggi kakinya. Gadis yang tadinya hendak menjegal Krystal itu berdecih sebelum menarik kakinya. Belum berhenti sampai di situ, Krystal yang akan duduk pun mengira tidak akan terjadi apa-apa sebelum pantatnya menabrak kerasnya lantai.
Suara tawa langsung terdengar keras kala melihat Krystal merintih. “Makanya diliat-liat dulu dong. Dipuji dikit aja udah berasa di langit,”
"Seharusnya manusia rendahan bisa menyadari posisinya!"
Ejekan lainnya mulai menyerangnya bergantian. Krystal berdiri, lalu mendudukkan dirinya lagi setelah membenahi letak kursinya.
“Ada apa Krystal?” suara lembut Miss Roxana terdengar ikut terkejut dan cemas. Wanita yang usianya lebih tua dari Miss Lenka itu berjalan menghampiri Krystal. “Apa kau baik-baik saja?” tanya Miss Roxana memastikan.
Krystal memaksakan senyumannya lalu mengangguk. Miss Roxana sudah cukup baik kepadanya, ia tidak ingin membuat wanita itu khawatir karenanya. “Saya tidak apa-apa Miss,”
“Hati-hati ya,” Ucapan lembut itu mengingatkan Krystal akan masa lalu yang entah bagaimana bisa lewat di kepalanya.
“Kamu pasti bisa bahagia Nak. Mama percaya padamu,” Krystal memegang kepalanya pening. Ingatan apa itu? Kenapa terasa begitu nyata?
“Apa ada yang sakit, Krystal?” Pertanyaan Bu Roxana berhasil menyadarkan Krystal. Dadanya mulai berdebar tidak karuan, rasanya sangat menyakitkan.
“Apa saya boleh keluar sebentar, Miss?”
.
.
.
Wajah dengan pahatan sempurna itu memejamkan matanya kuat selama beberapa menit sebelum ia menyadari ada sesuatu yang lewat. Dengan insting tajamnya ia hampir mengeluarkan kekuatan dalamnya. Namun suara tangis yang terdengar familiar itu menghentikan niatnya. Bukan terdengar melalui telinganya, ia hanya dapat merasakan tangisannya. Mengatur napasnya perlahan lalu memperlihatkan mata merah terang yang bisa menghancurkan banyak orang.
Lozo memutar tubuhnya mencari sosok yang sudah mengganggu meditasinya. Lozo dapat menemukannya dengan cepat karena insting yang tiba-tiba muncul seperti biasanya. Tidak seperti Vampir Rogue yang bisa memprediksikan sesuatu dengan ikatan batinnya, Lozo hanya merasa jika ia bisa merasakan apa yang sedang gadis itu lakukan, dan terkadang ia juga bisa mengetahui keberadaannya. Mengeluarkan sayap hitamnya, Vampir Muda itu terbang ke gedung tertinggi sekolahan.
Ia masih diam di ujung atap gedung memperhatikan gadis bersurai putih yang berdiri di ujung lainnya.
“Di—dia siapa?” Krystal semakin tidak bisa menahan rasa sakit di kepalanya, ia berlutut menyembunyikan kepalanya di atasnya.
“Pe—pergi!” Krystal memukuli kepalanya beberapa kali karena tidak tahan dengan rasa sakit yang ia rasakan sekarang.
Lozo mengernyitkan keningnya bingung melihat tingkah aneh Krystal. Siapa yang harus pergi di saat gadis itu hanya sendirian di sana? Apa dirinya? Ah, mungkin memang dirinya yang disuruh pergi.
Lozo menyembunyikan sayapnya dan hendak menghampiri gadis yang sudah berani mengusirnya pergi. Namun langkah Lozo segera terhenti ketika mendengar gadis itu kembali mengucapkan sesuatu.
“Mama?”
Deg!
Jantung Lozo berdebar kencang. Suara itu…
“Mama!”
Lozo segera menggelengkan kepalanya cepat. Tidak! Tidak mungkin Krystal si gadis rendahan itu adalah dia. Lozo mengetatkan rahangnya. Tidak ada yang boleh menyamai dia, siapapun itu. Lozo berjalan mendekat dan menarik lengan Krystal kasar.
“Akh,” Krystal benar-benar terkejut dengan kedatangan Lozo yang terlalu tiba-tiba.
“A—ada apa?” Mata merah itu memancarkan kemarahan, Krystal berdebar semakin kencang karenanya. Ia takut,
Lozo tidak menjawab. Hingga tanpa ia sadari dirinya mulai tenggelam dalam mata biru itu, sangat cantik dan candu. Namun sesegera mungkin Lozo menyadarkan dirinya, ini bukan waktu yang tepat untuk masuk ke dalam permainan keturunan pengkhianat ini.
Dengan sangat kasar Lozo mendorong lengan Krystal sampai gadis itu menubruk meja di belakangnya. Krystal merintih menahan sakit di punggung dan kakinya yang tergores besi panjang. Terlalu sakit sampai Krystal tak kuasa menahan air matanya yang menumpuk sebelum kedatangan Lozo.
Lozo mengepalkan tangannya. Bahkan cara gadis itu menangis sangat mirip dengan dia. Lozo mendekat, sedikit membungkukkan tubuhnya lalu menarik dagu gadis itu kasar. “Berhenti!”
Krystal malah menangis semakin tersedu-sedu karenanya. “AKU BILANG BERHENTI BERTINGKAH SEPERTI DIA!”
Sekali lagi Lozo mendorong tubuh Krystal, bahkan sekarang seragam berwarna putih itu berubah menjadi merah karena darahnya sendiri, sobek di mana-mana. Krystal menatap Lozo dengan tatapan tidak percaya dengan tindakannya.
Napas Lozo terengah-engah. Ia kembali merasakan ada yang aneh dengan tubuhnya setelah apa yang terjadi pada Krystal. Berusaha menampik perasaan itu, Lozo memilih pergi dari sana dengan sayapnya. Meninggalkan Krystal yang tidak berdaya sendirian di atas.
Dan pada akhirnya Krystal masih di atap, karena tidak mungkin ia akan turun dengan kondisi pakaiannya sekarang. Gadis itu sudah berhenti menangis, sepertinya air matanya sudah mulai kering. Ia tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa di sekolah ini. Tidak ada yang menganggap baik keberadaannya, bahkan ia mulai merasa jika Onsky yang ia pikir baik ternyata juga sama saja dengan yang lain. Artinya ia juga tidak bisa meminta bantuan pada cowok itu.
Langit semakin gelap. Terlalu lelah, Krystal mulai memejamkan matanya tanpa peduli di mana dirinya sekarang. Gadis itu merasa kosong dan sendiri. Terlalu awal untuk putus asa, namun dirinya juga tidak tahu harus memperjuangkan apa. Semua tidak seperti perkiraan awalnya, ia sudah terlalu lelah.
Sedangkan di sisi lain lelaki dengan jubah hitamnya itu mondar mandir tidak jelas di ruangan tertinggi Istana Utama yang memperlihatkan bagian depan istana. “Ke mana dia pergi?!” tanya Lozo mencari seseorang yang sudah memenuhi kepalanya sejak tadi.
“Apa kau menunggu seseorang, Pangeran?” tanya Onsky yang baru saja tiba dengan teleportasi.
Lozo langsung merubah raut wajahnya menjadi dingin seperti biasanya lalu menoleh, “Tidak. Di mana kantong darahku? Kenapa dia tidak terlihat sejak tadi?”
Onsky mengernyitkan keningnya. “Apa dia belum kembali? Saya pikir Nona Krystal ada dengan Pangeran, karena dia tidak ada dengan Para Pelayan tadi,”
“Aku tidak akan bertanya jika aku tahu,” jawab Lozo acuh walau sekarang mulai banyak pertanyaan di kepalanya.
“Sepertinya saya juga tidak melihat Nona di sekolah. Ke mana dia pergi? Atau dia kabur?” tanya Onsky menebak.
Lozo reflek menoleh dengan perkiraan Onsky. “Tidak! Dia tidak boleh kabur. Apa tidak ada satu pun anak buahmu yang mengikuti dia? Bagaimana jika dia benar-benar melarikan diri,” pikir Lozo mulai cemas jika Krystal pergi. Apalagi sejak kejadian tadi, ia yakin gadis itu pasti semakin membencinya. Namun kemungkinan lain adalah dia pasti akan mulai menunjukkan sifat aslinya lagi.
“Bukankah Pangeran sendiri yang menyuruhku agar anak buahku tidak mengikuti Nona jika berada di sekolahan?” tanya Onsky.
“Jangan ada yang mengikuti gadis itu jika di sekolahan. Dia akan menjadi urusanku,” Onsky bahkan mengingat betul apa yang Lozo ucapkan padanya.
Lozo berdecak kesal. “Lalu aku yang harus disalahkan jika gadis sialan itu kabur?”
“Maafkan saya Pangeran. Saya akan mengerahkan anak buah saya untuk mencari Nona. Saya permisi,” ujar Onsky yang kemudian langsung pergi begitu saja sebelum mendapatkan serangan mendadak dari Pemimpin Kerajaan ini.
Lozo menghembuskan napasnya kasar. Mengingat bagaimana ia yang membuat gadis itu menangis dan kesakitan. Perasaannya mulai tidak enak sejak itu, namun ia juga tidak memiliki pilihan lain selain pergi dengan harapan agar ia bisa berhenti merasa iba kepadanya. Namun malah kebalikannya, ia tidak bisa tenang dan malah terus memikirkannya.
“Kenapa lama sekali?!” Padahal baru beberapa saat berlalu. Tapi Lozo sudah tidak sabaran. Ia juga tidak bisa diam saja di sini sekarang, sebelum ia benar-benar gila karena memikirkan gadis yang seharusnya sangat ia benci.
Angin berhembus sangat kencang, bersamaan dengan keluarnya sayap hitam yang terlihat sangat arogan di punggung tegap itu, jendela besar di sana terbuka kencang hingga menyebabkan bunyi yang sangat nyaring terdengar di seluruh penjuru ruangan luas. Di gelapnya malam satu-satunya Pangeran Vampir di dunia itu pergi keluar dengan tujuan paling tidak penting yang tidak akan bisa dibayangkan oleh siapapun.
“Krystal Erega. Kau berhasil membuatku gila!”
Mencari orang yang sangat ia benci.
.
.
.