Perintah Lozo langsung direalisasikan oleh seluruh penghuni sekolahan. Karena memang sudah hukum di dunia jika perintah vampir dengan pangkat lebih tinggi merupakan suatu keharusan untuk dipenuhi, bahkan jika itu harus mengorbankan nyawanya.
Air bau dari got sekolahan itu tersiram dengan santainya dari puncak kepala Krystal merata ke seluruh tubuhnya. Krystal yang tengah membersihkan kamar mandi terkejut dengan hal itu, namun ia hanya bisa diam. Ia harus terbiasa dengan hal itu, karena setelah ini pasti akan ada banyak hal buruk menantinya.
Tak kuasa menahan tangis, Krystal mengusap wajahnya. Ia kembali mengepel ulang kamar mandi, berusaha mengabaikan suara tawa yang sangat mengganggu di sekitarnya. Setelah selesai, Krystal segera keluar dari sana sebelum kamar mandi kembali kotor karena anak-anak mengotorinya lagi karena ia masih di sana.
“Ugh, temen-temen. kalian cium bau nggak enak nggak sih?” Seorang gadis dengan rambut sebahu itu bertanya kepada teman-temannya.
“Bau sampah nggak sih?”
“Saddam, kau suka cewek cantik atau cewek bau,” Tawa langsung terdengar di sepanjang Krystal berjalan. Ia berusaha untuk tidak mengambil hati omongan kasar itu, namun apa daya telinganya yang masih sangat sehat ini.
Krystal akan pergi mengambil baju ganti, namun tiba-tiba aroma darah familiar yang menguar dari dalam lokernya membuat Krystal berhenti. Dengan tangan bergetar ia membuka lokernya. Napasnya tercekat ketika ia melihat bangkai kucing yang ada di dalam lokernya.
“Kucing?” Krystal merasa tubuhnya lemas. Ini terlalu mendadak, ia bahkan belum sempat menyuapkan diri. Suara tawa di sekitarnya mulai tidak terdengar. Krystal merasa kepalanya pening, hingga tiba-tiba kesadarannya terenggut bersamaan dengan ia yang menggendong bangkai kucing itu.
.
.
.
Bau aromaterapi yang wangi membangkitkan kesadaran Krystal. Perlahan ia membuka mata dan menatap sekitarnya. Sekelebat bayangan bangkai anak kucing tadi langsung memenuhi kepada Krystal. Ia segera bangun dan berjalan pergi dari sana.
“Kau mau ke mana? Hey!” panggil dokter sekolahan yang terkejut dengan kepergian pasiennya. Padahal kondisinya sedang tidak baik-baik saja.
Krystal tidak mendengarkan, ia berlari ke arah loker untuk mencari kucing tadi. Bayangan masa lalu mulai teringat, ketika kucing yang merupakan ibu sambungnya ketika ia masih kecil harus meninggal bersama anak-anaknya karena menyelamatkannya dari binatang buas yang hendak memangsanya. Awalnya anak-anaknya yang meninggal duluan, dan hal itu membuat induknya menjadi depresi, sampai ibunya meninggal juga dengan alasan yang sama, yaitu untuk menyelamatkannya. Itu masa paling buruk ketika Krystal masih menjadi kucing. Kenangan buruk itu masih terbayang di kepalanya.
Dan kucing yang ada di lokernya tadi memiliki warna dan rupa yang begitu mirip dengan salah satu saudara kecilnya dulu. Induknya pasti sedang mencari keberadaan anaknya sekarang. Ditambah lagi Krystal yakin jika kucing kecil itu pasti dibunuh, bukan meninggal karena sakit maupun mengkonsumsi racun.
Dengan wajah basah air mata Krystal berjalan tanpa memperdulikan orang-orang yang mulai mengganggunya. Bahkan ia tidak peduli ketika bubuk hitam menghiasi tubuhnya lagi dari atas sampai bawah.
“Kucingnya di mana?” gumam Krystal mencari kucing itu di sekitarnya.
Dan semua pergerakkan Krystal tidak lepas dari perhatian Lozo yang menatapnya dari lantai atas. Ia mengepalkan tangannya karena melihat Krystal yang memilih mencari kucing mati tidak berguna itu daripada istirahat di ruang kesehatan di kondisi seperti ini.
Tadi ia terkejut mendengar kabar jika Krystal pingsan di ruang loker. Maka dari itu ia menyuruh seseorang untuk menolong Krystal tanpa mengatasnamakan dirinya karena ia tahu Onsky pasti masih mengawasinya. Entah mengapa ia jadi perhatian kepada gadis itu. Mungkin ada yang salah dengan otaknya. Lozo memilih pergi dari sana, biarkan saja gadis itu ingin melakukan apa.
Lozo memilih pulang untuk menenangkan diri, ia sedang tidak ingin mendengar apapun yang berkaitan dengan Krystal. Ia memilih pergi ke ruangan rahasia yang terletak di ruangan bawah tanah istana. Dengan pencahayaan minim ia menatap sebuah lukisan besar yang tertempel di dinding. Lukisan yang selalu berhasil membuat amarahnya bangkit ketika mengingat kejadian beberapa tahun silam.
Suara teriakan orang-orang yang ia sayangi mulai menggema di telinganya. Ucapan manis yang selalu ingin ia dengar berulang kali. Suara yang selalu menjadi penyemangat hidupnya sampai sekarang.
“Kau harus tetap hidup. Pertahankan klan kita! Jadilah pemimpin yang tidak terkalahkan!”
“Semoga kau selalu bahagia putraku. Ibu selalu bangga memiliki putra sepertimu,”
“Aku ingin menjadi seperti kakak jika aku bisa hidup lebih lama lagi,”
Suara bantingan barang-barang terdengar nyaring. Mata merah itu menunjukan kemarahan dan dendam yang membabi buta. Ia harus hidup sendirian di dunia ini, dengan satu tujuan pasti yang tentunya sudah diketahui seluruh umat vampir,
Tangannya mengepal kuat, kuku-kuku tajam itu berhasil membuat darah menetes dari telapak tangannya. Hingga tiba-tiba sekelebat bayangan gadis cilik berambut putih dengan mata coklat kembali membayangi kepalanya.
“Aku sangat mencintaimu. Mari kita bertemu lagi jika peperangan ini sudah selesai,”
Lozo menggigit bibir bawahnya, “Bella, apa kau baik-baik saja?” sorot sendu terlihat ketika mengingat gadis yang selalu ia rindukan selama ini. Memandang sendu lukisan gadis kecil di sana yang terlihat sangat cantik dengan rambut putihnya.
“Maafkan hamba, Pangeran,”
Lozo membuka matanya dengan napas terengah-engah, sebelum ia melemparkan pisau di atas meja dengan kasar. “Gara-gara keluargamu aku harus kehilangan orang-orang yang paling aku sayangi. Jangan pernah mengharapkan belas kasihanku, Krystal Erega!”
Sedangkan di sisi lain, Krystal sudah dikeluarkan dari sekolahan karena bau yang ada di tubuhnya. Berkali-kali gadis itu menghela napas sembari memandang gerbang sekolahan yang tinggi menjulang di depannya. Tatapan jijik dari para penghuni sekolah berhasil membuat nyali Krystal menciut hanya sekedar ingin mengatakan sesuatu. Tidak ada satu orang pun yang mau membelanya, mereka yang tidak ikut menindasnya juga hanya memilih menutup mata dan telinga seolah tidak tahu apa yang terjadi kepadanya.
“Apakah memang menjadi kucing jauh lebih baik?” tanya Krystal sendu.
Krystal berjalan tak tahu arah menjauhi sekolahan. Karena tadi ia berteleportasi dengan Onsky, jadi ia tidak tahu jalan mana yang harus ia lewati untuk pergi ke Istana. Ah, sepertinya ia terlalu berharap. Mungkin Lozo sudah tidak mau lagi menampungnya. Namun mungkin itu akan menjadi sesuatu yang jauh lebih baik jika ia bisa hidup bebas di jalanan daripada mendapatkan siksaan terus menerus seperti ini.
“Hai,” Krystal mendongak ketika melihat kaki berdiri di depannya.
“Apakah kau butuh bantuan Nona?” tanya cowok itu. Krystal masih terdiam tanpa merespon apapun.
Cowok dengan penampilan biasa itu tertawa kecil dengan diamnya Krystal. “Aku bertanya kepadamu Nona Rambut Putih,” ujar cowok itu memperjelas.
“Apa kau tidak mencium bau busuk?” Cowok dengan rambut dominan coklat itu mengernyit.
“Aku bau,” cicit Krystal sembari menundukkan kepala malu.
Cowok itu tertawa kecil, “Bukankah bau tidak terlalu penting selagi kau cantik, Nona?”
Krystal menatap cowok itu lekat. kata-katanya tidak jauh berbeda dari kucing-kucing jantan yang memiliki banyak kekasih. Kata-kata pujian yang selalu bisa membuat para kucing betina luluh, kecuali dirinya.
Krystal memilih mengabaikan dan kembali melanjutkan perjalanannya. Namun cowok itu kembali menghadang di depannya.
“Aku hanya bercanda, maafkan aku. Apa kau ingin membersihkan dirimu dulu? Tidak seperti ucapanku tadi. Jika tubuhmu bau seperti ini, aku yakin tidak akan ada kereta yang mau mengantarkanmu pulang, Nona.”
Krystal terdiam sembari berpikir sejenak. Sebenarnya ia juga tidak tahu harus pulang ke mana setelah ini. Namun ia juga tidak yakin cowok ini benar-benar tulus mau menolongnya. Tapi ia tidak memiliki siapapun yang ia kenal selain Lozo dan Onsky, mereka juga tidak terlihat sedari tadi.
“Bagaimana Nona?”
Krystal berdeham, “Baik. Tapi aku berharap kau sedang tidak mencari kesempatan dalam kesempitan,”
Cowok itu terkekeh. Lalu setelahnya Krystal mengikuti langkahnya pergi. Krystal tidak bisa menghilangkan rasa kagumnya ketika melihat pemandangan kota yang ternyata terlihat jauh lebih baik dengan wujud ini daripada saat menjadi kucing. Ia yang dulu sering keinjak, bahkan ditendang oleh orang-orang yang berlalu lalang.Sekarang bisa berjalan dengan tenang tanpa khawatir diinjak.
Terkadang ia membantu kucing yang terjebak di keramaian, dan memindahkannya ke tempat yang lebih aman. Cowok itu sesekali menoleh dan tersenyum melihat sikap Krystal yang sangat menawan. Gadis itu terlihat sangat senang menggendong kucing-kucing jalanan itu, bahkan ia tidak memperdulikan tatapan dan cemoohan orang-orang karena penampilannya.
Sampai di sebuah gubuk kecil. Cowok itu menghentikan langkahnya, yang sontak membuat Krystal juga ikut menghentikan langkahnya.
“Kau bisa mandi di dalam. Tidak ada siapapun di sini. Dan aku akan mencarikanmu pakaian untuk ganti,” Krystal menganggukkan kepala sebelum ia masuk ke dalam gubuk itu.
Tempatnya lumayan kecil. Hanya ada satu tempat tidur, sedikit ruang untuk dapur, dan kamar mandi. Sepertinya cowok tadi tinggal sendiri, pikir Krystal. Karena sepertinya tempat ini sangat tidak memungkinkan untuk ditempati oleh lebih dari satu orang, kecuali jika cowok itu hanya memiliki satu orang lagi di rumahnya.
Krystal membersihkan diri dengan sangat baik, ternyata baunya semakin menyengat ketika disiram dengan air. Setelah merasa aroma tubuhnya jauh lebih baik Krystal keluar dari kamar mandi dengan handuk, ia segera mengambil baju yang ternyata sudah Cowok Coklat tadi siapkan.
Krystal tersenyum karena ukuran baju itu sangat pas di tubuhnya. Walaupun terlihat sederhana, namun ini juga cukup bagus. Ia ingat jika anak Tuannya dulu juga pernah memakai pakaian dengan model seperti ini. Dress dengan warna coklat muda ini terlihat sangat cantik dengan kulit putihnya.
“Sudah selesai?” Pintu terbuka menampilkan si Cowok Coklat.
Krystal menoleh lalu menganggukkan kepalanya.
“Wah, ternyata aku cukup ahli dalam memilihkan pakaian. Padahal aku hanya mengira-ngira, ternyata dress ini sangat pas dan cocok untukmu,”
Krystal tersenyum lalu berjalan mendekati cowok itu. “Terima kasih atas bantuan anda Tuan. Aku pasti akan mengingatnya seumur hidup,”
“Namaku Delon, Nona.” Ujar Delon memperkenalkan diri. Ia mengangkat tangannya berjabat tangan dengan Krystal. “Lalu siapa namamu Nona Rambut Putih?”
“Aku?” Krystal menunjuk dirinya sendiri.
“Saya sudah memperkenalkan diri saya. Bukankah tidak adil jika hanya anda yang dapat memanggil saya. Lalu apakah saya harus memanggil anda dengan Nona Rambut Putih terus?”
Krystal tertawa kecil, ternyata Delon memiliki humor yang cukup bagus. Memikirkan nama, ia sendiri tidak tahu apa namanya yang sebenarnya. Tapi karena orang-orang di Istana memanggilnya ‘Krystal’, mungkin itu adalah namanya, “Namaku Krystal. Lalu sekarang bisakah kau mencarikanku kereta? Aku harus segera kembali sebelum Tuanku memarahiku,”
Delon tersenyum penuh arti. “Saya akan dengan senang hati membantumu Nona Krystal,”
.
.
.