Tujuh tahun yang lalu Lozo mengambil paksa Krystal sebagai alat pembalasan dendamnya pada bangsa Vampir Erega, karena mereka sudah menimbulkan peperangan yang berhasil merenggut seluruh bangsa Vampir Grastin, dan hanya menyisakan Lozo saja.
Namun buktinya Bangsa Erega tidak ada yang berani mendekat setelah Lozo mencuri putri bangsa itu.
Awalnya Lozo hanya menghisap darah Krystal saja secara membabi buta, namun pada akhirnya ia hanya memuntahkan dari darah yang ia hisap karena memang gadis itu merupakan jenis vampir yang ia hisap darahnya untuk pertama kali. Namun, mengingat rasa darah yang ia hisap satu minggu yang lalu. Ia merasakan candu, dan ingin mencobanya berkali-kali. Bahkan ia sempat berpikir jika darahnya sudah terkontaminasi dengan sesuatu, tapi berkali-kali juga dokter mengatakan jika darah gadis itu masih murni.
“Apakah kau menikmatinya?” tanya Lozo disela gigi taringnya yang sudah menancap di leher Krystal.
Krystal hanya diam sembari menahan rintihannya. Rasanya sangat menyakitkan, bahkan lebih sakit daripada ia yang dikeroyok para kucing betina karena berhasil merebut perhatian kekasih mereka.
Tidak mendapatkan jawaban yang ia inginkan, Lozo semakin mengeraskan hisapannya hingga Krystal tidak bisa lagi menahan rintihannya. “Jawab aku!”
“I—iya Pangeran,” Lozo menyeringai. Ucapan dan yang sebenarnya sangat tidak sinkron. Tentu saja Krystal berbohong, disaat raut wajahnya yang seolah mengatakan jika dia sedang kesakitan itu. Tapi Lozo tetap menyukai jawabannya.
“Iya apa?” Lozo menghisap kuat darah yang mengucur dari leher itu, sedikit demi sedikit. Ia sangat suka melihat wajah tersiksa Krystal.
“Sa—saya sangat menikmati Pangeran menghis—sap darah saya,” Krystal berusaha berbicara dengan tenang walau kenyataannya ia tidak bisa setenang itu.
Lozo berhenti melakukan kegiatannya. Ia tidak akan pernah puas jika tidak memaksakan diri untuk berhenti. “Karena perubahanmu beberapa hari ini. aku sudah menyiapkan hadiah yang paling kau idam-idamkan sebelumnya,”
Krystal berusaha mengatur napasnya yang terengah-engah. Tenaganya terasa habis hanya karena Lozo yang menghisap darahnya selama beberapa menit. Matanya mulai memberat sebelum kantuk merenggut kesadarannya.
Lozo tersenyum penuh arti sebelum ikut merebahkan dirinya di samping Krystal yang sudah memejamkan matanya.
.
.
.
“Sekolah?” beo Krystal dengan wajah bingung mendengar ucapan pelayan itu.
“Iya Nona. Kami sudah menyiapkan seragam Nona,” ujar Ellen, Pelayan yang usianya tiga tahun lebih tua daripada Krystal.
Ada yang Krystal bingungkan mengenai usianya. Ia berpikir jika sekarang ia sudah berumur 20 tahun atau bahkan lebih kala mengingat anak tuannya yang dulu sering menyiapkan ulang tahun untuknya sewaktu kecil. Namun mendengar penjelasan tabib Istana, ternyata ia baru berusia 17 tahun dengan peraturan usia di dunia. Seperti ada yang janggal, tapi Krystal tidak tahu apa itu. Atau memang sistem bertambahnya umur antara kucing dan manusia yang berbeda?
Krystal bersiap-siap dengan dibantu oleh beberapa pelayan termasuk Ellen. Lagi-lagi ia pertama kali mendapati hal asing setelah hidup menjadi manusia atau vampir…? Krystal terpukau menatap dirinya di pantulan cermin. Rambut putih yang menawan terlihat sangat cantik dengan kulit putih pucatnya. Belum lagi mata biru yang juga menjadi khas untuk dirinya. Tanpa sadar ia tersenyum mengagumi dirinya sendiri. Dulu ketika menjadi kucing ia sering dipuji cantik oleh tuannya, juga kucing-kucing jantan yang ia temui. Namun ia tidak menyangka penampilannya akan sesempurna ini selain menjadi kucing.
“Nona cantik sekali,” Krystal menoleh dengan wajah memerah malu karena pujian Ellen.
“Kau juga cantik Ellen,” ujar Krystal balik.
Ellen terkekeh, “Jangan merendah Nona. Kau adalah wanita paling cantik di Grastisius, tidak ada yang bisa mengalahkan kecantikanmu,”
Krystal tertawa kecil, “Sudah, berhenti memujiku. Aku ingin tahu apa yang bisa aku lakukan di tempat bernama sekolahan itu nanti,”
Krystal datang ke sekolahan bersama Onsky. Selain Ellen, Krystal juga suka dengan Onsky. Atau mungkin bisa dibilang mereka adalah teman terdekatnya. Sesampainya di sekolah, Krystal hanya menundukkan kepala ketika orang-orang menatap ke arahnya. Onsky menoleh menatap kegugupan makanan sahabatnya.
“Tenanglah. Mereka menatapmu hanya karena ingin tahu siapa dirimu,” ujar Onsky yang seolah paham apa yang sedang Krystal pikirkan. Krystal menoleh lalu menganggukkan kepalanya paham.
Sedangkan di lantai atas. Lozo menyeringai sinis sembari menghisap nikotin kesukaannya. Wajah ketakutan itu adalah candunya mulai sekarang…tidak! Mungkin teriakan meminta tolong akan jauh lebih menyenangkan. Dan tentu saja ia akan merealisasikan hal itu, secepatnya.
“Cepat bongkar niat busukmu Krystal Erega,”
.
.
Krystal mencengkram ujung kemejanya. Kini semua orang menatapnya dengan pandangan yang berhasil mencekiknya dalam keheningan. Telinganya sudah memerah mendengar omelan dari orang yang disebut guru itu.
“Bagaimana anak yang tidak bisa membaca alfabet sekolah di sini? Sebenarnya berapa umurmu?” omel Miss Lenka, guru yang mengajar di kelas itu.
Krystal berusaha menahan air mata mendengar suara tawa kecil di belakangnya. Ucapan wanita itu berhasil menyakiti hatinya. Ia sendiri juga baru mengetahui huruf-huruf itu hari ini, apa ini kesalahannya karena tidak mengerti?
“Kenapa? Kau mau menangis? Membuatku terlihat seperti orang jahat, begitu?” Krystal menggelengkan kepalanya pelan. Ellen mengatakan jika sekolah adalah tempat yang menyenangkan karena bisa memiliki banyak teman dan pengetahuan. Namun apa yang ia alami sekarang? Bahkan menangis juga termasuk kesalahan di sini. Sebenarnya tempat apa yang disebut sekolah?
“Secantik apapun wajahmu itu. Kau tetaplah keturunan penghianat. Jangan terlalu percaya diri jika Pangeran Kebanggaan Semesta memperbolehkanmu sekolah. Seharusnya kau bersujud kepadanya, bukan malah mempermalukannya seperti ini,”
Setelah mendapatkan omelan panjang lebar dari Miss Lenka, Krystal dihukum untuk membersihkan halaman sekolahan yang sangat luas itu. Krystal sama sekali tidak diberi kesempatan untuk memilih, bahkan jika diberi kesempatan sekalipun mungkin Krystal akan memilih diam daripada menambah masalah.
“Cantik. Tapi sayang penghianat,”
“Bagaimana Pangeran kita berbaik hati pada vampir rendahan sepertinya? Ini sangat tidak masuk akal,”
“Jangan pernah berpikir jika Pangeran akan tergoda dengan kecantikannya. Kita tahu sendiri bagaimana Pangeran sangat membenci keluarga gadis murahan itu,”
Telinga Krystal memerah panas. Semua orang mencacinya atas hal yang tidak ia ketahui. Menuduhnya melakukan berbagai hal buruk, disaat dirinya bahkan tidak tahu siapa dirinya dan siapa keluarganya yang sangat dibenci oleh Lozo.
Berusaha mengabaikan, Krystal tetap fokus dengan sapunya. Hingga tiba-tiba sesuatu berhamburan di atasnya. Krystal reflek mendongak, mendapati beberapa gadis di lantai atas melemparkan beberapa kantong sampah yang sengaja disebarkan.
“HALAMANNYA SUDAH BERSIH, JADI KAMI MEMBANTUMU DENGAN MENAMBAHKAN SEMUA ITU!!” teriak seorang siswi dengan rambut pirang yang langsung dibalas tawa oleh teman-temannya.
Krystal menunduk sembari mencengkram gagang sapunya. Menghela napas singkat sebelum kembali melanjutkan hukumannya.
“Ku pikir kau sudah berubah Pangeran,” Onsky meneguk cairan bening itu dalam sekali tegukan.
Lozo menarik salah satu sudut bibirnya, “Apakah kau ingin bertemu Para Naga, Tuan Rogue?”
Onsky tertawa kecil, “Aku hanya bercanda Pangeran,”
Lozo diam tidak menjawab. Masih memperhatikan Krystal yang diganggu oleh anak-anak Bertart School. Ya, ini adalah perintahnya yang menyuruh mereka untuk mengganggu Krystal. Sangat berbanding jauh dari perkiraannya, ia berpikir jika gadis itu mungkin akan marah-marah dan menunjukkan sifat aslinya lagi. Namun seperti kemarin, dia hanya diam tanpa protes, bahkan ketika diberi hukuman atas kesalahan yang tidak masuk akal.
“Aku ingin sekolah. Kau pikir aku mau hidup menjadi orang bodoh di Istana jelekmu ini? Aku sangat pintar dulu, sebelum Vampir Pendendam sepertimu menculikku,”
Lozo mengernyitkan kening. Tiba-tiba teringat ucapan Krystal satu tahun yang lalu. Lalu ucapan Miss Lenka yang mengatakan jika Krystal bahkan tidak mengenali satu huruf alfabet dan alasan inilah yang membuat Krystal dihukum sekarang ini.
Lozo menatap Krystal lekat. Kenapa seperti ini? Ia merasa jika Krystal yang sekarang sangat berbeda dari Krystal ketika ia culik. Lebih tepatnya ia merasa jika gadis itu berubah sejak ia temukan menghilang di hutan. Bahkan yang lebih anehnya sesuatu di dalam dadanya seolah bergejolak ketika melihat perlakuan orang-orang kepada Krystal.
Mengabaikan pemikiran bodohnya, Lozo segera mengambil cairan memabukkan itu dan meneguknya dalam sekali tegukan. Setelahnya cowok itu berdiri.
“Mau ke mana?” tanya Onsky.
“Memainkan mainanku,” ujar Lozo yang lalu berlalu pergi menggunakan sayap buatan mendiang ayahnya.
Onsky menyeringai sembari melihat kepergian Lozo, lalu menatap Krystal. Kasihan sekali gadis malang itu, padahal yang berbuat keluarganya, namun ia yang harus menerima getahnya.
Mekarnya sayap milik Lozo membuat para gadis memekik histeris. Memang tidak ada yang bisa menolak pahatan sempurna keturunan Grastin. Sayap hitam legamnya terlihat sangat cantik dan menawan, tidak ada satu makhluk pun yang tidak menginginkan sayap seperti ini, bahkan burung merak sekalipun. Termasuk Krystal yang ikut mendongak ke atas mendengar teriakan di sekitarnya. Dia terdiam, seolah ikut terpana oleh Tuannya yang terbang menghampiri.
Krystal reflek mencengkram gagang sapunya, ketampanan Lozo benar-benar berhasil membuatnya tidak sadar keadaan. Bahkan kini Krystal mulai membandingkan ketampanan alami Lozo dengan kucing-kucing yang gemar menggodanya dulu.
Lozo menyeringai melihat Krystal yang bahkan tidak mengalihkan pandangannya. Ternyata dia masih sama dengan Krystal yang dulu ia kenal. Yang sering sekali terdiam hanya untuk mengagumi ketampanannya. Tapi berbeda dengan perasaannya yang awalnya sangat kesal ketika gadis itu menatapnya, mendadak sangat senang melihat ekspresi polos gadis itu.
“Apakah kau sudah selesai mengagumiku?”
Spontan Krystal langsung menundukkan kepalanya. “Maafkan hamba Pangeran,”
Lozo berdecak, ia mulai kesal karena Krystal yang terus mengatakan ‘maaf’ di keadaan apapun, bahkan ketika ia tidak membuat kesalahan sedikitpun. Namun ia hilangkan perasaan kesal itu secepat mungkin ketika mengingat jika Onsky sedang mengawasinya sekarang. Lozo menyeringai, sebelum mengucapkan kata yang akan membuat Krystal semakin menderita.
“AKU INGIN KALIAN SEMUA YANG ADA DI SINI MENGENALI DIA!” Lozo menunjuk Krystal yang kini sudah menatap ke arahnya.
“YA! DIA ADALAH KETURUNAN PENGKHIANAT! DAN AKU INGIN KALIAN MEMPERLAKUKAN PENGKHIANAT INI SEPERTI APA YANG SEHARUSNYA SEORANG PENGKHIANAT DAPATKAN!”
Jantung Krystal berdebar kencang. Terlalu tidak percaya Lozo akan memperlakukannya seperti ini. tubuhnya gemetar takut melihat semua orang memusatkan tatapan kedanya. Tatapan mereka persis seperti ketika Tuannya menuduh ia mencuri ikan di meja makan, bahkan sekarang jauh lebih parah daripada itu.
“APA KALIAN MENGERTI?!” tanya Lozo sembari menatap Krystal yang terlihat ketakutan.
“MENGERTI PANGERAN!”
Lozo tersenyum puas. “Apa kau juga mengerti baby girl?” bisiknya sembari mengangkat dagu Krystal agar menatapnya.
Krystal meneguk salivanya kaku, mata merah itu. Krystal mulai membencinya.
“Apa hamba memiliki pilihan Pangeran?”
.
.
.