“Aku rasa kau harus melihatnya dulu, Ray. Akan kupastikan kau tak akan menyesal dapat memilikinya.”
“Kenapa kau begitu yakin aku akan menyukainya?”
Ellen tertawa, memamerkan sederet gigi timunnya padaku. Entahlah, terkadang saat dia tertawa, ada yang membuatku tak habis pikir. Mengapa sampai sekarang dia belum menikah? Padahal dia wanita yang sangat cantik, berpendidikan, ramah dan dengan segala bentuk pendukung lainnya.
“Aku hanya menebak bagaimana seleramu, Ray,” katanya kemudian sambil memelintir rambutnya.
“Jangan bilang kalau warnanya merah?”
“Benarkah itu warna kesukaanmu?”
Tak ada jawaban dari mulutku. Tapi Ellen tak mempermasalahkannya. Dia memelankan laju mobil lalu berbelok ke kiri. Aku memandang ke luar, jalanan seakan mati. Tak ada orang di sini. Hanya ada kami—menembus malam. Daun-daun kering hampir menutup aspal. Gelap semakin menusuk mataku. Kulirik Ellen sekilas, sepertinya dia sudah terbiasa melewati jalan ini.
“Berapa lama lagi kita akan sampai?” tanyaku padanya.
“Kau penasaran, Ray? Tenang, sebentar lagi kita akan sampai. Tempatnya di ujung gang ini.”
“Ak—“
Braaaakkkk!!!
“Auuu!” Aku dan Ellen menjerit secara bersamaan.
Sesuatu telah menabrak mobil kami—cukup keras—dari belakang. Kurasa juga mobil. Tapi aneh, mengapa derumnya tak terdengar olehku? Atau jangan-jangan Ellen juga tak mendengarnya?
Ellen yang masih kesakitan karena dadanya membentur setir, seketika melepas seatbealt-nya—bersiap turun dari mobil. Namun, seseorang yang telah menabrak kami itu lebih cepat. Kini, orang itu sudah berada di samping mobil kami—mulai mengetuk pintu.
Ellen terkesiap sesaat, lantas mulai menurunkan kaca mobil. Aku mengamati orang itu dari dalam, yang ternyata wajahnya mirip sekali dengan John Gallagher Jr. Sangat tampan, namun penuh dengan kekejaman. Aku mencengkeram tangan kiri Ellen, berharap dia takkan berbicara sedikit pun pada lelaki itu. Tapi dia tak peduli dan menarik tangannya segera.
“Maaf, aku sungguh minta maaf.” Orang itu berinisiatif untuk meminta maaf terlebih dulu seraya mengatupkan kedua telapak tangannya.
Perlahan Ellen tersenyum, kemudian diulurkanlah tangannya pada lelaki itu.
“Tak masalah, lagi pula tadi kami berjalan lambat.”
Aku melotot pada Ellen, apanya yang tak masalah? Jelas-jelas dia begitu kesakitan. Ya Tuhan, sepertinya dia terhipnotis oleh ketampanan lelaki itu.
Tiba-tiba lelaki itu menatapku, aku kikuk dibuatnya. Refleks membuang muka, menatap jalanan lagi.
“Apa dia temanmu?” tanyanya pada Ellen.
Ellen menoleh padaku, membuat rambut cokelatnya bergoyang.
“Ah, dia. Ya, dia teman baikku. Apa kau mengenalnya?”
“Tidak, aku hanya merasa pernah melihatnya. Tapi entah di mana. Kalian baik-baik saja, kan? Sekali lagi, aku sungguh minta maaf.”
Ellen mengangguk. Percakapan pun berakhir. Tapi lelaki itu. Aku merasa dia mengamati kami. Lalu, satu jam, setengah jam, lima menit, atau bahkan lebih pendek daripada itu, bisa jadi kami akan dibunuhnya. Aku memejamkan mata, menggigit bibir dan berusaha menyingkirkan pikiran konyol itu. Tidak mungkin dia membunuh kami. Kami baru saja saling mengenal. Ya, lelaki itu orang asing. Tak ada hubungannya sama sekali dengan kami. Tapi ... perkataannya tadi membuatku bergidik ngeri. Dia pernah melihatku?
Lelaki itu perlahan pergi, menuju mobilnya. Kali ini aku berani mengamati. Keningku berkerut. Bagaimana mungkin mobil dengan fisik bobrok seperti itu derumnya masih halus sekali? Bahkan menurutku hampir tak ada suaranya. Seperti saat dia datang tadi, tak ada suara. Dia menoleh sekilas ke arah kami dan tersenyum hangat. Untuk beberapa saat, aku dapat merasakan senyuman itu tak menakutkan. Lalu, Ellen pun melambaikan tangan padanya. Sementara aku? Hanya membuang muka—lagi.
Huh, mengapa Ellen mengajakku ke tempat seperti ini? Tempat yang menurutku tak ada titik kehidupan. Di sini seperti kota mati dengan seribu zombie. Bisa kaubayangkan? Umpatku dalam hati.
“Bisakah kita pergi sekarang, Ellen?” pintaku kemudian.
Ellen mengembuskan napas satu kali.
“Tentu, Ray. Kau lihat tadi, bagiku dia cowok yang seksi.”
Ya Tuhan, ternyata benar. Dia telah terhipnotis lelaki asing itu.
***
Paman Hury menyambut kami dengan baik. Dia sendirian di rumah ini. Tanpa istri dan anak-anak, kurasa dia sangat jenuh. Tapi sepertinya tidak. Dia lelaki paruh baya pecinta seni. Kesibukan akan membunuh rasa itu secara perlahan, bukan? Salah satunya dengan hobi. Tapi bukan melukis, menulis, atau menyanyi yang disukainya. Melainkan mengoleksi buku dengan cover yang unik—sama sepertiku.
Tak banyak orang yang memiliki hobi semacam itu. Tapi Ellen berhasil mempertemukan kami, di sudut kota yang tak pernah kudengar sebelumnya. Aku mengira, Paman Hury adalah penduduk satu-satunya di kota ini, tepatnya di sini.
“Tidak susah menemukan tempat ini, kan?” kata Paman Hury seraya meletakkan tiga cangkir cokelat panas di atas meja.
Aku mengamatinya dari jauh sambil merabai buku-buku yang tersusun rapi di dekat pintu. Sementara itu, Ellen mulai menggeser kursi—siap dengan obrolan. Sial, kalau dia sudah begitu, pembicaraan akan berlangsung lama! Padahal aku ingin cepat-cepat pergi dari sini. Tapi sayangnya, aku telah dibuat jatuh cinta pada sesuatu yang dimiliki Paman Hury. Itu berarti, aku akan sering mengunjunginya. Atau mungkin, ini adalah pertemuan pertama sekaligus terakhirku dengannya. Entahlah.
Paman Hury duduk di depan Ellen. Aku pun mulai menghampiri mereka dan memilih duduk di samping Ellen. Hmm ... aroma cokelat panas begitu menggoda. Segera kusambar salah satunya. Lumayan, ada sesuatu yang bisa kulakukan.
“Oh, aku memang sedikit lupa, Paman. Tapi tenang saja, kami sama sekali tidak kesulitan mencari tempat tinggalmu ini, ” kata Ellen kemudian sambil menyesap cokelat panas dalam genggamannya.
“Apa dia yang kau maksud, Ellen? Siapa namanya?” Paman Hury menatapku dengan saksama.
“Ah—iya. Aku hampir lupa mengenalkannya pada Paman.
“Dia, Ray. Sahabatku sejak sebulan yang lalu.”
“Sesingkat itukah?”
“Ya, aku dan Ray. Kami tak sengaja bertemu karena suatu hal. Sebenarnya ini sangat absurd. Tapi kami berbicara apa saja, sampai akhirnya kubawa dia kemari.”
Lagi-lagi aku dibuat kikuk. Pertama, lelaki yang tadi menabrakku dan Ellen. Kedua, Paman Hury. Sampai-sampai, aku terlihat sangat tidak sopan. Buktinya aku tak berusaha menjabat tangan Paman Hury.
“Selamat datang di duniaku, Ray,” ucap Paman Hury seraya menatapku dengan tajam.
Matanya berkilat. Seketika bulu kudukku meremang. Seolah-olah kami siap ditelannya. Tidak, bukan kami. Lebih tepatnya aku. Akhirnya, aku hanya mampu tersenyum agar setidaknya rasa gugup ini tidak kentara.
“Ayolah, Ray. Kenapa kau diam saja? Kau senang berada di sini, kan? Ellen terlihat antusias sekali.
“Ya, kurasa,” jawabku sekenanya. “Lalu mana buku yang kaumaksud itu? Lekas tunjukkan padaku dan kita segera pergi dari sini. Sungguh, aku tak suka caranya memandang.”
“Ada apa denganmu, Ray? Kenapa kau berbisik-bisik seperti ini? Kau seperti orang ketakutan.”
Tiba-tiba Paman Hury mendekat ke arah kami. Seperti hendak mengatakan sesuatu. Aku memilih menghindarinya.
“Tak masalah, Ellen. Mungkin aku terlihat menyeramkan baginya. Oke, kalian lihatlah dulu buku-buku itu. Lagi pula aku juga harus membereskan sesuatu di dalam.”
“Oke, Paman. Terima kasih.” Ellen menjawab sambil memandangku dengan curiga. Cokelat panasnya yang masih separuh dihabiskan buru-buru, tak peduli akan kondisi lidahnya nanti.
Paman Hury meninggalkan kami berdua. Aku menatap punggungnya hingga menghilang di balik tembok. Tiba-tiba aku merasa sangat penasaran. Sebenarnya apa yang dilakukannya di dalam sana? Mungkinkah dia menyembunyikan sesuatu yang berbahaya? Lalu, kami terjebak di sini. Tak bisa ke mana-mana. Hingga satu per satu dari kami dibunuhnya dan diabadikan di ruangan khusus.
Aku menggeleng-gelengkan kepala. Berharap pemikiran yang mustahil terjadi itu hilang. Tapi keringat dingin justru mulai mengalir dari dahiku. Membuat detak jantung lebih cepat daripada biasanya. Semakin menguatkan bahwa begitu banyak hal yang tidak beres di sini—di rumah Paman Hury.
“Kau sering kemari?” Aku mengusap dahiku dengan punggung tangan. Ellen masih memandangku. Semoga dia memberikan jawaban yang tepat.
“Maksudmu? Kau kira aku sering kemari? Kau mencurigaiku? Ha ... ha ... ha .... Coba kau lihat ini!”
Ellen mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jaketnya. Sesuatu yang tak pernah kuduga sebelumnya. Perlahan, dia membukanya. Sungguh, di satu sisi aku begitu lega. Tapi di sisi lain, seperti ada sesuatu yang disembunyikan Ellen dariku.
“Peta ini selalu kau bawa?” tanyaku penuh selidik dan waspada.
“Ayolah, Ray,” Ellen menyisir rambut dengan tangan kanannya, ”kau sedang tak curiga padaku, kan? Jaket ini sudah lama berada dalam mobilku, aku belum sempat mencucinya. Aku tak bisa berkunjung ke rumah Paman Hury tanpa menggunakannya. Kau tahu aku hanya memakai tank-top. Kau bisa mencium baunya yang sudah apak kalau kau masih tak percaya.”
Aku menurutinya. Benar, jaket itu seperti tak tersentuh air dan matahari dalam waktu yang cukup lama. Aku menghela napas lega. Tidak ada apa-apa dengannya, begitu juga Paman Hury. Dia juga pasti sedang membereskan sesuatu yang benar-benar penting. Mungkin kamarnya yang berantakan, atau piring kotor bertumpuk di sana sini.
“Oke, oke. Tunjukkan buku unik itu padaku. Aku sudah mulai beradaptasi di sini.” Telunjuk dan ibu jariku menyatu, membuat huruf O.
Mata Ellen berbinar cerah. Dia sangat antusias. Kemudian, dia membawaku ke tempat di mana buku itu diletakkan. Perlu menunduk agar kepalaku tak menyentuh atap sekaligus tangga itu. Ada sebuah pintu di depan sana dan dia membuka kenopnya—segera.
Beberapa saat aku merasa kengerian akan datang kembali. Pertanyaan seketika mencuat. Mengapa tempat tersembunyi seperti ini dibiarkan tak terkunci oleh Paman Hury? Sedangkan bagiku, buku dan benda-benda lainnya adalah koleksi yang tak boleh sembarang orang menyentuhnya. Ya, seharusnya seperti itu. Aku merasa lagi bahwa Ellen sering kemari, jauh sebelum kami saling mengenal.
Buku dengan berbagai cover, warna dan model tertangkap oleh mataku. Selain itu, Paman Hury juga menyimpan koleksi yang menurutku sangat tidak lazim, seperti: tali tambang dengan berbagai warna dan ukuran, peti kecil dengan gembok berbeda-beda, juga bermacam-macam parfum tertata rapi dan menempel di bagian atas tembok.
Semuanya sangat disengaja menurutku. Sebab, peletakkannya mudah dijangkau dan benda-benda itu seperti rutin digunakan. Tapi untuk apa? Apa yang ada di dalam peti-peti kecil itu? Lalu, di sudut kiri gudang kulihat kantong plastik hitam yang menumpuk. Apakah Paman Hury memproduksi sesuatu selain mengoleksi benda-benda ini? Ellen mendahuluiku yang masih terheran-heran. Lantas, diambillah buku unik itu. Letaknya di rak paling atas, di samping tumpukan kantong plastik hitam itu. Dia membuka kertas minyak berwarna merah yang menutupi buku itu. Ternyata ingatan Ellen masih sangat baik soal di mana Paman Hury menyimpan buku unik itu, pikirku.
“Ellen, apa yang kau lakukan?” Aku membelalak tak percaya atas apa yang dia lakukan.
“Kau tenang saja, Ray. Paman Hury tak akan marah pada kita.”
“Kau yakin itu?”
“Ya, tentu.
“Tapi itu sangat tidak sopan, Ellen,” jelasku padanya sambil sesekali melihat ke arah pintu. Kalau sampai Paman Hury memergoki, maka habislah kami!
Ellen meneruskan membuka kertas minyak itu. Kini, sebuah buku unik terpampang di depan mataku. Sungguh, buku itu adalah buku terindah yang pernah kutemui.
“Coba kau lihat, Ray!”
Aku mengambil buku itu dari tangan Ellen. Warnanya merah dengan garis-garis hitam. Sangat tipis, tapi terkesan hidup. Aku meraba dan mencermatinya perlahan. Cover buku ini ... seperti bukan berasal dari buah imajinasi liar atau semacamnya. Melainkan ....
“Kalian sudah di sini rupanya?”
“Oh ...”
Ellen terkejut karena kedatangan Paman Hury yang tiba-tiba. Buku ini pun hampir terlepas dari genggamanku. Kami segera merapikannya kembali.
“Sudah, jangan diteruskan. Lagi pula kalian sudah membukanya. Jadi, untuk apa ditutup kembali?” Paman Hury tersenyum hangat pada kami.
“Aku—“
“Ehm, kami tidak bermaksud lancang. Sungguh, maafkan kami, Paman.”
“Kami minta maaf atas ketidaksopanan kami.” Akhirnya aku menambahi.
Paman Hury melewati kami. Kali ini dia yang membawa buku itu. Kami membuntutinya—ikut meninggalkan gudang. Dia menuju meja dan meletakkan beberapa gerendel pintu di atasnya. Aku memandangnya hingga tak berkedip. Mungkinkah banyak ruangan di rumah ini yang tak kuketahui di mana tempatnya? Barangkali, dia menyembunyikan sesuatu.
“Buku ini peninggalan istri dan anakku. Aku berjanji mengabadikannya walau nantinya mungkin akan berpindah tangan.”
Apa? Ternyata Paman Hury pernah memiliki istri dan anak? Bukankah kata Ellen selama ini dia hidup sendiri? Cerita mana yang harus kupercaya? Aku menatap tepat di matanya. Menunggu cerita itu dipaparkan. Cokelat panas milikku yang kini mulai mendingin, segera tandas. Lalu, apa lagi yang bisa kulakukan? Mendengarkan dia bercerita tanpa berbuat sesuatu? Ah, konyol! Ini seperti berhadapan dengan kekejaman tak berpenghalang. Bahkan, jarak kami terasa amat dekat. Sedekat kematian yang mungkin kini mengintaiku lewat perjamuan hangat ini.