Semalaman aku tak bisa tidur. Lebih kepada memikirkan segala kejadian di luar dugaan. Pertemuanku dengan Ellen tanpa sengaja menyeretku ke dalam kemungkinan terbesar. Yaitu terbunuh. Sebab, pengamatan demi pengamatanlah yang menghasilkan kesimpulan mutlak itu. Kemudian disusul lagi pertemuan dengan lelaki asing. Gerak-gerik tubuh, senyum dan perkataannya seakan mengunci setiap langkahku. Mengisyaratkan bahwa tak ada jalan keluar. Lalu, pertemuan dengan Paman Hury semakin melengkapi sederet rasa was-was ini. Buku unik tapi mistik miliknya yang sampai sekarang masih menjadi teka-teki. Sebenarnya terbuat dari apa? Aku kini bagai menyusun rangkaian puzzle. Benar, lambat laun semuanya pasti akan terkuak.
Kutarik malas selimut yang menutupi tubuh. Berjalan gontai menuju kamar mandi. Pagi ini, aku terpaksa memenuhi keinginan Ellen untuk berkunjung ke rumah Paman Hury—lagi. Tapi sebelum itu, ada satu pertanyaan yang akan kuajukan padanya. Ini terkait dengan peta ‘kota mati’ itu. Kota yang memberikan dunia tersendiri bagi Paman Hury dan mungkin juga lelaki asing itu. Sebenarnya, aku hanya ingin memastikan bahwa Ellen, Paman Hury dan lelaki asing itu tak ada hubungan satu sama lain. Lebih mengerikan kalau tidak dimulai dari sekarang.
Persis ketika aku selesai mandi, ibu menggedor-gedor pintu kamar sambil menyeru namaku. Dia selalu saja begitu setiap pagi. Hidup tanpa ayah bukan berarti tak melakukan kegiatan apa pun, termasuk hal sepele seperti ini. Belum lagi bila dia tahu kalau aku lebih memilih makanan di luar daripada masakannya sendiri. Esoknya, pasti akan ada omelette kesukaanku tersaji di meja makan. Ah, lama-lama aku merasa dianggap suaminya.
“Aku bahkan sudah selesai mandi, Bu!” seruku padanya sambil membetulkan letak wearable towel.
Tak terdengar ibu menyahut atas jawabanku. Pasti dia sudah berlalu. Perlu beberapa menit untuk menyusulnya. Sebab, mau tak mau aku harus merapikan tempat tidur yang masih acak-acakan. Dia pasti marah bila aku tak melakukannya. Maklum, dia adalah seorang perfeksionis. Kesempurnaan setara dengan keutamaan baginya.
“Maaf terlalu lama, Bu.” Aku duduk di depan ibu yang masih mengoleskan selai stroberi di atas roti.
“Kau sudah membereskan tempat tidurmu sebelum ke sini, kan?”
“Sudah, Bu,” jawabku singkat dan padat.
Benar, kan? Ibu memastikanku apakah sudah membereskan tempat tidur?
“Good, Dear. Sekarang makanlah,” katanya seraya menyodorkan roti padaku.
Kutuangkan jus jeruk dalam gelas di sela-sela lahapanku. Ibu terlihat ingin menginterogasi. Jangan-jangan lantaran semalam aku pulang terlaru larut? Atau ada hal lain yang akan ditanyakannya?
“Ray, apa kau baik-baik saja?”
“Se ... per ... ti ... yang kau lihat, Bu. I’m ok.”
“Kau tidak sedang menyembunyikan sesuatu dari ibu, kan? Semalam kau ke mana saja hingga pulang selarut itu? Lagi pula siapa temanmu? Ibu belum pernah melihatnya.”
Ibu memberondong pertanyaan yang sejujurnya bingung akan kujawab mulai dari mana. Pasti dia tidak akan mengizinkanku berteman dengan Ellen kalau saja dia tahu bagaimana proses pertemanan kami. Suapan roti terakhir telah selesai dikunyahnya. Dia mengangkat alis—menunggu jawaban.
“Dia Ellen, Bu. Kami sudah satu bulan saling mengenal.”
“Hmm .... Lalu kenapa kalian bisa keluar sampai selarut itu? Ingat, Ray. Dia baru sebulan menjadi temanmu. Ibu sarankan, kau harus waspada dengannya.” Ibu memajukan badannya ke depan. Matanya menatapku serius.
“Bu, kami hanya mengunjungi rumah seorang paman. Kebetulan dia memiliki banyak koleksi buku. Kau pasti tahu kesukaanku, Bu.”
“Ray, ibu hanya tidak ingin hal buruk terjadi padamu. Apa lagi jika kau terus membahas soal buku.”
Genggaman tangan ibu membekukanku beberapa saat. Aku menelan ludah dengan susah payah. Tiba-tiba rasa bersalah hinggap. Memang, seharusnya semalam aku memberi kabar. Setidaknya agar dia tak khawatir. Tapi yang kulakukan justru asyik bersama Ellen, seseorang yang bahkan sangat ‘baru’ di hidupku.
“Tidak akan terjadi apa-apa, Bu. Percayalah.” Aku membalas genggaman ibu dan berusaha menenangkannya.
Perbincangan kami berakhir seiring ponselku yang tiba-tiba berdering—sangat keras. Ibu lebih memilih membereskan meja makan tanpa melihatku. Sepertinya dia sedikit marah.
“Halo, Ellen.”
“Ray, bisakah kau ke minimarket di ujung gang rumahmu saja?”
“Baiklah.”
***
Hari ini Ellen mengenakan kaos biru longgar dipadu celana jeans dengan warna senada. Rambutnya dikuncir kuda. Sepatu kets turut melengkapi penampilannya yang menurutku terlihat sangat tomboy. Mirip sekali dengan Kate Siegel dalam film ‘Hush’. Aku melambaikan tangan. Tapi, mataku tiba-tiba tak lepas dari jaket yang melekat di tubuhnya. Jaket apak itu adalah tempat di mana peta yang kemarin disembunyikannya. Ya, rasa penasaran yang tadi sempat hilang beberapa menit, kini mulai menjalar lagi. Bertumpuk-tumpuk memenuhi rongga hatiku. Baiklah, proses investigasi akan segera dimulai. Kau takkan bisa mengelak lagi, Ellen.
Banyak pertanyaan yang harus terjawab sebelum aku dan Ellen menemui Paman Hury lagi. Aku sangat membutuhkan penjelasan tentang kota itu. Ibu juga sudah mengingatkan, bahwa Ellen adalah seseorang yang patut diwaspadai. Mengapa tidak? Tapi dia bahkan terkesan ramah sekali. Tak ada sedikit pun terpancar dari wajahnya kalau dia bisa saja menyakitiku. Mungkin memang itu adalah sebuah tak-tik, rencana atau apa sajalah untuk menjeratku ke dalam ‘dunianya’. Dunia yang sama dengan Paman Hury. Kini, setiap waktu adalah misteri. Salah satunya adalah sejak kehadiran Ellen.
“Ray, ada apa denganmu?” tanya Ellen setelah aku berdiri persis di hadapannya.
“Oh—aku. Mungkin karena aku tidur terlalu larut semalam. Aku ... aku merasa sedikit lemas. Ya, kurasa begitu.”
“Kau terlihat gugup, Ray.”
Ellen menatap dengan iba. Kedua tangannya mencengkeram pundakku, seakan tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi. Ellen, kau benar-benar mengkhawatirkanku? Apa kau tidak akan berbuat kejam?
“Aku baik-baik saja, Ellen.”
“Kau yakin?”
“Tentu.”
Jujur, aku tak berani membalas tatapan simpatik Ellen. Entahlah, begitu menyeramkan apabila dia bertingkah seperti itu. Cengkeramannya macam seekor elang yang tidak rela jika hasil buruannya lepas, terbang, lalu hilang.
Dia memutuskan untuk membawaku ke rumahnya dulu. Lagi pula, katanya, ini masih terlalu pagi apabila ingin berkunjung ke rumah Paman Hury. Aku sedikit curiga akan hal itu. Bukankah semalam sebelum berpisah, dia terlihat keranjingan ingin ke sana sesegera mungkin? Benar, semakin ke sini aku semakin berupaya mengukukuhkan firasat. Bahwa Ellen sering bertandang ke sana. Tapi dia menutupi itu semua dariku. Lantas, bagaimana aku bisa menghindar dari kalian? Atau aku harus mengikuti permainan kalian?
Demi Tuhan, suatu saat aku akan membunuh kalian terlebih dulu jika memang dugaanku benar.
Ellen menjalankan mobil dengan tempo lambat dan sangat hati-hati. Mungkin agar aku merasa nyaman. Perlahan, dia menyetel musik. Lagu-lagu milik Adelle jadi pilihan. Dia memandangku. Aku memandangnya. Sementara itu, tangan kirinya asyik membereskan makanan dan minuman ringan yang tadi dibelinya di minimarket. Untuk teman menonton, katanya.
Jarak rumah kami tidak terlalu jauh. Hanya memerlukan waktu lima belas menit saja. Itu tandanya, sebentar lagi kami akan sampai. Tapi aku ingin lebih lama menyusuri kota. Terlebih ini masih pagi. Udara masih segar dan lalu lintas hari ini tidak terlalu padat. Bukan karena aku tak mau berada di rumah Ellen, tapi ini masalah yang lebih penting dari apa pun. Tentang peta kota ‘misterius’ itu. Dari mana dia mendapatkannya? Apakah baru-baru ini atau justru sebaliknya? Aku tidak tahu pasti. Maka, sekaranglah saat paling tepat untuk menanyakannya.
“Ellen.”
“Ya.”
Ellen menoleh padaku. Senyumnya terkembang.
“Aku tak ingin ke rumahmu dulu. Ehm, maksudku ... bisakah kita membicarakan ini di sini saja?”
“Ray, kau ingin membahas apa denganku?”
Aku diam beberapa detik sebelum akhirnya memberikan jawaban paling tepat, agar rasa penasaran ini segera hilang.
“Tentang peta itu.” Aku berkata tanpa jeda sedikit pun.
Ellen terlihat seperti akan diinterogasi. Dia semakin memelankan laju mobil dan mengeremnya sedikit. Membuat seseorang di belakang membunyikan klaskon berkali-kali. Kemudian orang itu menjejeri mobil kami dan mengucapkan sesuatu yang kurang jelas tertangkap telingaku. Sampai akhirnya melesat jauh—pergi meninggalkan kami.
“Ada apa dengan peta itu, Ray?” tanyanya sambil terpaksa menepikan mobil.
“Aku belum pernah mendengar kota itu. Apa namanya? Lalu, dari mana kau mendapatkan peta itu? Apa kau—“
“Aku akan menceritakannya, Ray,” potong Ellen sebelum aku menjejalinya dengan pertanyaan lagi.
Ellen memerhatikan jalanan yang tiba-tiba lengang. Sinar matahari kini semakin terang menerobos celah-celah mobil. Aku menatapnya lekat-lekat. Mencoba mencari kebenaran di matanya, bukan kebohongan.
“Nama kota itu adalah Sevlasia. Dulu, kota itu ramai sekali. Para penduduk kebanyakan bekerja sebagai penjahit. Sementara anak-anak tidak dibiarkan bersekolah hingga ke perguruan tinggi. Menurut orang tua mereka, lulus dari perguruan tinggi itu sama saja dengan menghambur-hamburkan uang. Lebih baik uangnya digunakan untuk membeli bahan jahitan. Dengan begitu, anak-anak bisa membantu orang tua mereka sekaligus belajar teknik menjahit dan menjual. Keuntungan yang didapat tentu berlipat ganda. Tidak semata-mata berhenti bersekolah, Ray. Bagiku, Sevlasia adalah kota terindah hingga kini. Keberadaannya sekarang yang mungkin hampir tidak diakui, tidak lantas terabaikan olehku. Kau tahu, aku lahir dan dibesarkan di sana.”
Blaaarrrr ... blaaarrrr ...
Pletak ... pletak ... pletak ...
Tes ... tes ... tes ...
Hujan mulai turun. Padahal tadi tidak mendung sama sekali. Aku memandang langit. Hmmm ... hujan deras ini agaknya akan lama reda. Bisa kujadikan alasan agar sebaiknya Ellen tak perlu repot-repot membawaku ke rumahnya. Toh aku sudah baikan sekarang.
“Kau lahir dan dibesarkan di sana? Tapi katamu, kau sampai harus menggunakan peta ‘kota asing’ itu. Apalah namanya tadi. Agar kau bisa mengunjungi Paman Hury, kan?” kataku cepat.
Untuk sepersekian detik, ada sebuah pemikiran baru. Bahwa nantinya, kesalahan terbesar dalam hidupku adalah mengenalmu, Ellen.
“Jangan katakan kalau Sevlasia adalah kota asing lagi, Ray. Aku tidak suka. Kau bisa menyebut namanya lain kali. Kau mau berjanji padaku?” kata Ellen seraya meletakkan tangan kirinya di pundak kananku.
Sebentar, apa tadi yang dikatakannya? Hujan semakin deras saja. Membuat suaranya lamat-lamat terdengar. Lebih mirip sebuah bisikan daripada sebuah suara. Bisikan yang kian menenggelamkanku ke letak paling dasar kesadaran.
“Ellen, untuk apa aku berjanji?” balasku kemudian dan sedikit meninggi.
“Aku hanya tidak suka orang lain mencela kota kelahiranku, Ray.”
Tiba-tiba matanya mengembun. Dia menangis? Apa ini sungguhan? Atau hanya sandiwara agar aku iba padanya? Bahunya berguncang hebat. Sampai-sampai aku enggan menenangkannya. Aku mohon hentikan, Ellen!
“Kau? Ada apa denganmu, Ellen? Kau menangis? Ma—maaf jika aku sudah menyakitimu. Tapi ada beberapa hal lagi yang ingin kutanyakan padamu.”
“Apa?” Dia balik bertanya. Menarik tisu dihadapannya dan segera membersihkan ingus.
Lagu-lagu milik Adelle entah sejak kapan sudah habis terputar. Tinggal suara hujan tumpah dan angin menderu-deru di antara kami. Aku berinisiatif menggerakkan wiper blades agar kaca mobil tidak memburam. Ellen menunggu.
“Apa kau ada hubungan dengan Paman Hury? maksudku, hubungan saudara atau kerabat, atau semacamnya?”
Ellen terperangah.
“Ray, sudah cukup kau menginterogasiku seperti ini? Apa lagi ini penyelidikan sesuatu, kurasa. Kau mencurigaiku, kan?”
“Bukan, bukan itu.”
“Lalu apa?”
Matanya nyalang, tak ada sisa tangis di sana. Seolah dia siap menerkamku.
“Darimu aku tahu, kalau kau tak ada keterkaitan dengan Paman Hury. Tapi darimu juga aku berhak tahu, apakah benar yang kukatakan tadi?”
“Sudahlah, Ray. Aku malas menjelaskan ini itu lebih lanjut padamu. Kau pun pasti tetap mengira aku bersekongkol dengan Paman Hury untuk mencelakaimu.”
Aku tak habis pikir, mengapa Ellen terlihat begitu marah? Kalau memang tidak ada hubungan dengan Paman Hury, harusnya dia lebih santai menanggapi ini semua. Tak perlulah bersitegang.
“Aku tak menuduhmu macam-macam, Ellen.” Aku menghela napas panjang.
“Kau ingin tahu kelanjutannya, Ray? Maka ikutlah denganku nanti malam ke rumah Paman Hury.”
Kepalaku mendadak pusing. Seisi mobil seolah-olah menghimpitku dengan sangat. Ellen tak lagi berbicara. Hanya wajahnya tiba-tiba dihiasi senyum. Senyum aneh penuh ancaman. Sebenarnya dia akan melakukan apa? Tapi aku begitu penasaran dengan kelanjutan itu.
Kelanjutan apa lagi? Teka-teki lagikah?