Author’s POV
Pia menghela lelah setelah seharian menjalani pesta pernikahannya yang baru saja selesai malam ini. Bahkan hari ini, keduanya tidak tinggal di rumah yang sudah keluarga Riley siapkan untuk keduanya tempati. Pia meminta untuk menginap di villa tempat resepsi pernikahan mereka diselenggarakan karena baginya akan sangat berbahaya untuk dirinya dan Riley jika ia menyetir dengan keadaan lelah. Awalnya Riley menentangnya dengan alasan jarak villa ke kantornya sangat jauh. Namun kedua keluarga sepakat untuk mengabulkan permintaan Pia karena dinilai lebih benar daripada pendapatnya.
Sudah kapas ketiga ia gunakan untuk membersihkan makeup yang ia gunakan selama satu harian penuh. Ia mengantuk karena tadi sedari subuh ia harus makeup dan paginya ia harus mengikuti pemberkatan pernikahannya. Begitu juga malamnya dilanjutkan dengan resepsi pernikahan.
Awalnya hari resepsi dan hari pemberkatan terpisah, namun Riley mendesak agar resepsi dan pemberkatan disatukan harinya dengan alasan ia memiliki banyak pekerjaan untuk dilakukan.
Pia mengutuk Riley dalam hatinya karena telah menyebabkan kelelahan yang ia rasakan sepanjang hari. Ditengah u*****n yang masih berjalan didalam hatinya, Riley baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Pia tidak sengaja melihatnya dan memekik kuat dibarengi dengan mata yang tidak sepenuhnya ia tutup.
“Bisakah kau diam?”
“Lebih tepatnya, bisakah kau pakai pakaianmu di kamar mandi?!”
“Lebih baik kau diam sebelum aku pecahkan kaca riasmu. Bukankah karena kaca itu kau bisa melihatku?”
“Dia menyalahkan kaca? Apa dia gila?”
Pia melirik malas Riley dan kembali mengusap wajahnya untuk membersihkan makeup nya. Mulutnya sudah terlalu lelah untuk berkata-kata, terlebih bertengkar dengan Riley hanya akan membawanya ke permasalahan sepele yang rumit. Setelah selesai membersihkan makeupnya, Pia berdiri lalu berjalan ke kamar mandi. Tak membutuhkan waktu yang lama baginya untuk mencuci muka dan menyikat giginya, karena ia sudah sangat lelah dan mengantuk.
Langkah Pia terhenti ketika ia melihat Riley tengah sibuk dengan tabletnya. Bukan karena kesibukannya membuatnya berhenti melangkah, melainkan Riley yang sedang berbaring di kasur. Riley menyadarinya lalu menatap Pia dan mengisyaratkannya untuk tidur dilantai.
“Kau gila?”
Riley tidak membalas, ia tetap sibuk dengan tabletnya. Pia menatapnya dengan ketidakpercayaan atas sikapnya yang menyebalkan tersebut. Dengan kesal, Pia menarik selimut yang Riley ada padanya agar Pia bisa masuk ke dalamnya dan berbaring. Ia tidak perduli jika harus seranjang dengan pria itu, karena tidur di lantai hanya akan membuatnya pilek, terlebih Pia sangat mudah pilek.
“Apa kau bodoh?”
Pia berpura-pura untuk tidak mendengarnya dan tetap menutup matanya berharap agar mimpi segera menjemputnya. Tanpa pikir panjang, Riley mendorong Pia menggunakan kakinya hingga ia terjatuh. Pia meringis kesakitan karena ia jatuh dengan kuat, sementara pria itu kembali sibuk dengan tabletnya. Dengan kegeraman yang tercetak jelas diwajahnya, Pia mengambil bantal yang ada disamping Riley dan memukulnya ke kepala Riley.
Tidak ada takut dalam dirinya ketika Riley bangkit dan berdiri di depannya. Hanya saja tanpa ia duga Riley menamparnya dengan kuat hingga ia terjatuh. Pia tidak sadar ketika matanya sudah berkaca-kaca dengan rasa panas yang masih melekat di pipi kanannya ketika ia memegangnya dengan tangannya.
“Ti-dur di ba-wah,” ucap Riley tanpa mengetahui jika gadis itu tengah berjuang mati-matian untuk tidak mengingat masa lalu yang ia benci. Tubuhnya masih membeku ketika pria itu melemparnya dengan sebuah bantal.
“Kendalikan dirimu Pia, kendalikan dirimu,” ucapnya secara terus-menerus pada dirinya sendiri. Pandangannya kembali Riley yang masih sibuk dengan urusannya sendiri. Rasa benci mulai meliputi Pia dan dengan cepat ia mengusap air matanya yang masih mengalir. Pia kemudian mengambil bantal yang tadi Riley lempar padanya untuk ia gunakan sebagai alas kepalanya. Hanya saja tidak butuh waktu yang lama untuk Pia memutuskan untuk pindah ke sofa.
“Hah.. setidaknya ini lebih baik daripada lantai sialan itu,” gumamnya dalam hati sebelum mimpi benar-benar menjemputnya.
***
Byurr!
“Kau tidak berniat untuk bermalas-malasan, kan?” Pia terbangun setelah Riley menyiramnya dengan segayung air. Pia mengerang ketika hidungnya terasa sakit karena air masuk ke dalam hidungnya. Dia merasa tidak baik, badannya terasa sangat berat dan lesu. Untuk membuka mulut dan berbicara saja ia tidak kuat.
“Siang nanti, kau akan dijemput untuk pergi ke rumah yang sudah keluargaku siapkan,”
Pia menggangguk mengerti dan berusaha untuk mendudukkan dirinya disofa,
“Bukankah seharusnya kau tidur di lantai?” tanya Riley tanpa menyadari kalau gadis itu tengah sakit. Pria itu terlalu bodoh untuk memahami keadaan dan perasaan seseorang, bahkan untuk mengerti dirinya sendiri saja ia tidak bisa.
Ponsel Riley bergetar sehingga ia tidak jadi membuka mulutnya untuk kembali menyanggahi anggukan Pia. Riley mengangkat panggilan ponselnya tanpa melayangkan pandangannya dari Pia. Sementara Pia sendiri enggan untuk menatapnya dan memilih untuk melihat kearah lain.
“Selamat pagi, pak,”
“Pagi,” jawab Riley tanpa mengalihkan manik matanya dari Pia,
“Maaf sebelumnya, saya ingin memberitahu jika meeting kali ini dipercepat menjadi pukul 09.00 pagi. Saya sudah mempersiapkan semua bahan dan saat ini saya menunggu kedatangan anda agar kita bisa sedikit membahas mengenai perancangan proyek yang nantinya anda presentasikan sendiri,”
“Ah, baik. Saya akan kesana sekarang,”
Riley langsung melangkah keluar tanpa berkata sepatah kata apapun. Pia menghela nafas lega karena pria itu sudah meninggalkannya. Keberadaan Riley hanya akan membuat kepalanya semakin sakit. Terlebih ia malas untuk berdebat dalam kondisi yang seperti ini. Pia berusaha untuk berdiri dan berjalan ke kasur, namun ia tak sanggup. Jalannya sempoyongan atau mungkin ia bisa saja terjatuh jika ia tidak memegang tembok dan barang-barang sekitar.
“Ahh,” erangnya dengan sakit kepala yang semakin mendera ketika ia duduk di kasur. Pia mengambil air botol yang ada di meja dan meneguknya. Ia hanya meminum sedikit sebelum ia baring dan tertidur.
****
“Sial,” Riley turun dari mobilnya dengan cepat dan berlari ke dalam rumahnya. Dengan langkah besar, ia berhenti di kamar Pia. Nafasnya belum teratur ketika ia melihat Pia tengah tidur yang ditemani oleh Peter bersamanya. Peter menatapnya sinis Riley ketika pria itu sampai. Ketidaksukaan Peter mencuat ketika ia mengetahui Riley lebih mementingkan pekerjaannya daripada adiknya yang sedang sakit. Setidaknya memanggilnya saja untuk menjaga Pia, itu sudah cukup.
Sementara Riley sendiri, ia mendapat cacian dari ayahnya karena ketidakbecusannya dalam menjaga Pia. Rico, ayahnya Riley juga berpikiran hal yang sama, bahkan ia mengancam Riley jika ia tidak pulang dan menjaga Pia yang sedang sakit.
“Apa menurutmu proyek yang sedang kita kelola saat ini lebih penting daripada kesehatan istrimu?” Riley hanya bisa menatap Peter dalam diam. Selama ini, hal yang paling sulit untuknya ialah berkomunikasi dengan Peter. Menurut Riley, Peter adalah sosok yang sangat susah ditebak karena sikapnya yang tenang dan tidak banyak bicara.
Maka dari itu, bermasalah dengan Peter merupakan bom bunuh diri untuknya.
“Apa perlu kita sudahi kontrak kita agar kau bisa mengurus istrimu dengan baik?”
“Apa aku tidak salah dengar?” batin Riley dengan ketidakpercayaannya terhadap perkataan Peter.
“Setelah semua yang telah kita lakukan? Hei Peter, apa kau bisa membedakan antara masalah pribadi dengan masalah pekerjaan? Bukankah hal ini merupakan masalah pribadi yang seharusnya tidak boleh dikaitkan ke pekerjaan?” jawab Riley setelah mendengar pernyataan Peter yang terdengar konyol baginya. Apapun yang terjadi pada Pia, sama sekali tidak ada hubungannya dengan pekerjaan dan proyek yang sedang mereka kelola.
Peter tersenyum miring,”Apa itu adalah sebuah pengakuan jika kau memang tidak becus?”
“Peter, aku rasa kau sudah berlebihan. Kau menyalahkanku karena Pia sakit? Apa kau pikir aku yang menularkan sakit itu untuknya?”
“Berlebihan?”
Bugh!
Peter menarik kerah kemeja Riley dan membantingnya ke tembok dengan kuat hingga Riley meringis. Peter memandang Riley dengan amarahnya yang mulai meluap. Jika saja ia tidak ingat kalau Pia tengah istirahat, ia pasti sudah menghajar pria sialan itu,
“Apa menurutmu meninggalkan seorang gadis sendirian di penginapan dalam kondisi sakit adalah hal yang wajar? Terlebih dia itu istrimu!”
Riley terdiam dan tak bergeming. Peter memang sangat mengerikan, ia sendiri hampir jatuh ketika Peter melepas cengkaraman dengan dorongan yang kuat.
Riley membawa pandangannya kepada Pia dengan rasa bersalah yang mulai menyebar dalam dirinya. Pria bodoh itu mengutuk ketidaksadarannya saat ia melihat wajah pucat gadis itu tadi pagi. Riley tak melepaskan tatapannya bahkan saat ia terhuyung kecil karena Peter menabrak bahunya. Riley mengacak rambutnya frustasi karena kebodohannya, seharusnya ia tau jika gadis itu tidak akan membuka mulutnya dan merengek akan keadaannya pada dirinya.
***
Pia membuka matanya perlahan ketika ia merasa dahinya basah karena handuk basah yang baru saja Riley letakkan di dahinya. Handuk yang baru saja Riley ganti terlalu basah sehingga airnya mengalir ke sekitar wajah Pia. Pia menoleh dan mendapati pria itu tengah menatapnya bersama dengan semangkuk bubur di meja kecil tepat disampingnya.
“Apa kau ingin menyiramku lagi dengan handuk basah ini?”
Riley hanya diam dengan mangkuk bubur ditangannya. Ia terlihat canggung ketika ia mengambil sendok dan hendak menyuapi bubur itu untuk Pia. Pia mengambil handuk basah dikeningnya dan berusaha duduk untuk ia mengambil mangkuk bubur yang dipegang Rai. Ia segera mengambilnya dari tangan Riley sebelum kecanggungan terjadi pada mereka berdua,
“Enak. Dimana kau membelinya?”
“Aku yang membuatnya,”
“Uhuk,” Riley hanya diam dan membiarkan Pia untuk memukul dadanya ketika ia tersedak, bahkan untuk mengambilkan air putih yang berada tepat disampingnya pun tidak ia lakukan. Namun, matanya masih mengikuti gerak dari Pia, dia sudah menduga reaksi Pia akan sedemikian dengan pemikirannya.
“Apa kau menghinaku?”
Pia menggeleng kuat bersama dengan tangannya,”Tidak, aku hanya tidak menyangka pria sepertimu bisa memasak,”
“Kau menghinaku,”
“Menghina? Tentu saja tidak, aku sedang memujimu,” ujar Pia sebelum menyuapi mulutnya dengan sesendok bubur buatan Riley.
“Aku rasa kau sudah sehat,”
“Lumayan,” Pia mengangguk dan meletak buburnya dinampan, menghiraukan tatapan Riley yang terus mengekorinya. Satu alis Riley terangkat ketika ia melihat bubur buatannya tidak habis dimakan Pia,
“Kau tidak menghabiskannya?”
“Tidak, aku sudah kenyang,” Pia menarik selimutnya, lalu merebahkan tubuhnya kembali, menghiraukan kekesalan Riley karena Pia tidak menghabiskan bubur buatannya. Dengan kesal, Riley menarik selimut Pia hingga gadis itu berbalik dan mencebik kesal padanya,
“Apa kau tahu aku telah membuatnya dengan susah payah?!”
“Memangnya apa susahnya membuat semangkuk bubur! Lagipula aku sakit juga karena keegoisanmu semalam!” balas Pia yang tidak ingin kalah dari pria itu.
“Kau menyalahkanku?!”
“Tentu saja! Kalau kau membiarkanku untuk tidur di ranjang, aku pasti akan sehat sekarang!” pekiknya dengan toanya yang nyaring. Mendengar toa Pia yang begitu menganggu, Riley menutup telinganya,
“Berisik!”
“Bodo amat!”
Pia menarik selimutnya dan membanting tubuhnya dengan kesal, tidak menghiraukan kepalanya yang semakin nyeri rasanya. Tak lupa ia membelakangi Riley ketika ia berbaring. Riley menghela nafasnya untuk menahan diri dari ledakan kekesalannya. Ia bergegas membereskan bubur buatannya dan pergi dengan ketidakpuasannya.
Untuk seorang Riley Henderson, memasak merupakan hal yang sangat jarang ia lakukan. Bahkan ia biasanya akan melakukannya hanya untuk seseorang yang spesial. Namun berbeda hari ini, ia terpaksa melakukannya karena rasa bersalahnya terhadap Pia.
Sementara Pia tengah menunggu pria itu keluar dari kamarnya agar ia bisa membuka matanya. Ketika terdengar suara cklek maka, ia langsung menelentangkan tubuhnya dan menatap langit-langit kamarnya. Ia memegang dadanya yang berdegub sangat kencang, untuk pertama kali baginya mendapat perlakuan yang baik nan menyebalkan dari seorang pria.
“Baiklah Pia, berhentilah berdebar-debar,”
Jantungnya semakin berdebar ketika ia tanpa sadar tengah membayangkan sebuah adegan romansa dirinya bersama Riley. Ia tidak sadar telah tersenyum manis membayangkannya. Dan tidak berapa lama kemudian, ia menyadari kebodohannya tersebut,
“Tidak, tidak. Tidak!” pekiknya untuk mengusir imajinasinya,
Pekikan Pia berhenti ketika ia melihat wajah panik Riley ketika ia membuka pintu kamar Pia dengan cepat. Pria itu berpikir ada sesuatu yang terjadi karena ia mendengar suara aneh dari kamar. Begitu ia membuka pintu kamar, ia mendapati Pia baik-baik saja dan berkedip beberapa kali padanya. Akibatnya, kekhawatiran pria itu digantikan dengan wajahnya yang begitu masam.
“Sial,” batin Riley ketika jantungnya semakin berdegub kencang.