"Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu," Pia tengah menyusun beberapa piring di meja makan ketika ia selesai menyiapkan sarapan untuk Riley. Pria itu baru saja turun dengan setelan rapi nya, ia tampak tidak mengindahkan Pia yang sedang berbicara padanya. Ia lebih memilih untuk menatap arlojinya ketimbang memberi waktu untuk manik matanya melihat Pia,
"Aku akan makan dengan client ku," ujarnya ketika ia lewat tepat di samping Pia. Pia berbalik kepada Riley yang terus melangkah menjauh kepadanya. Diam-diam gadis itu berkacak pinggang dibalik punggung Riley,
"Sepagi ini? Apa kau ingin membalasku karena buburmu semalam?” ujarnya yang menyimpulkan jika Riley bisa saja marah karena bubur yang kemarin tidak ia habiskan.
"Diamlah," tutur pria itu dengan dingin.
Riley melesat pergi meninggalkan Pia yang mematung dibelakangnya. Pia masih berkacak pinggang dengan emosi yang ia berusaha ia kendalikan. Pia menatap sayang beberapa potong sandwich yang sudah ia siapkan sedari tadi subuh. Pia mengambil sandwich buatannya dan memakannya dengan geram. Matanya tidak berhenti menatap langkah yang sudah ditinggalkan Riley untuknya.
“Kau akan menyesal karena sandwich buatanku ini enak!” pekiknya dengan hentakan kesal di kakinya. Ia tidak perduli jika pria itu tidak mendengarnya, yang penting ia sudah melampiaskan perkataan emosionalnya untuk Riley. Pia menghabiskan semua sandwich buatannya dan terus mengutuki pria itu dalam hatinya.
Setelah ia selesai dengan sandwich nya, Pia berjalan ke kamar Riley yang terletak di lantai dua. Keduanya tidur terpisah atas kesepakatan masing-masing sebelum mereka menikah.
“Aku harap ia tidak benar-benar sengaja mengacak kamarnya kali ini,” kata Pia sebelum ia memutar knop kamar Riley. Setelah dia membuka pintunya sedikit, Pia juga perlahan membuka matanya seiring lebarnya pintu ia buka. Pia bernafas lega ketika ia melihat seisi ruangan terlihat rapi.
Sebuah bingkai kecil yang tertutup menyorot perhatian Pia ketika ia melangkah masuk lebih dalam ke kamar Riley. Pia berjalan dan mendapati bingkai itu berisikan foto Riley bersama dengan seorang wanita cantik disampingnya. Keduanya tersenyum lebar dan wanita yang ada di foto tersebut merangkul mesra Riley.
“Setauku Riley memang memiliki kakak perempuan, tapi ini siapa? Apa ini kakaknya? Kenapa mereka terlihat seperti pasangan kekasih?”
Jantung Pia mencelos, rasa penasarannya mulai mencuat ketika ia membuka bingkai kecil itu,
R&N
Pia memasukkan kembali foto tersebut ke dalam bingkainya. Kini Pia mengerti mengapa pria itu bersikukuh menolak dirinya. Ia menduga jika Riley juga terpaksa seperti dirinya, hanya saja keduanya memiliki alasan yang berbeda dalam menolak perjodohan ini. Pia merasa tidak enak kepada wanita yang ada di dalam foto tersebut, juga ia merasa tidak enak pada Riley. Pia menggelengkan kepalanya menepis pemikiran negatif mengenai dirinya. Tidak seharusnya dia menghantui dirinya dengan rasa bersalah.
“Mengapa aku merasa bersalah? Tentu saja aku tidak bersalah! Aku juga terpaksa menerima perjodohan ini!”
Pia menggangguk seiring kepercayaan dirinya meningkat. Pia meletakkan kembali bingkai tersebut dan berbalik untuk keluar dari kamar Riley. Pia terpental kecil ketika menabrak Riley yang tidak diduga ada dibelakangnya. Gadis itu tersentak kaget mengingat ia sudah menyentuh barang yang seharusnya tidak ia sentuh.
Pia menelan ludah ketika Riley mengarahkan tatapannya ke bingkai foto yang baru saja Pia letak. Riley kembali menatap Pia yang tak bergeming ditempatnya. Dalam hati, Riley tersenyum senang karena gadis itu sudah melakukan kesalahan, karena ia bisa lebih leluasa mengatai dan mengintimidasi Pia.
“Siapa yang mengizinkanmu masuk?” tanya Riley tanpa memberi ekspresi apapun pada Pia. Pia tidak tahu jika di balik dinginnya wajah pria itu, terdapat seringai kemenangan di dalamnya.
“Ah... aku baru saja masuk dan aku ingin merapi-“
“Apa aku ada memberimu izin?”
Pia menggeleng,”Tapi bukankah wajar jika seorang istri merapikan kamar suam-“
“Sejak kapan aku menganggapmu sebagai istriku?”
Pia terdiam dan mengalihkan tatapannya pada pria yang baru saja ia sebut sebagai suaminya. Pia mengangguk mengerti dan kembali menatap pria itu,
“Benar juga, sejak kapan kita benar-benar berperan sebagai suami istri,” senyuman miring Pia mengundang heran untuk Riley. Riley terlalu meremehkan gadis itu, jika ia berharap gadis itu akan merasa terintimidasi terhadap dirinya. Namun Riley sangat pintar dalam menyembunyikan reaksi dan emosinya, hal itulah yang membuat Pia terkadang tidak bisa menebak pria itu.
“Baiklah, aku tidak akan masuk ke kamar ini lagi, puas?” ujar Pia dengan kedua tangan yang ia angkat. Pia berbalik pergi Riley setelah ia menurunkan tangannya.
“Kau melihatnya bukan?”
Pia menghentikan langkahnya dan dengan cepat ia menghilangkan kecemasan wajahnya setelah ia menoleh, “Memangnya kenapa?”
“Kau terlalu lancang memegang barang pribadi seseorang,”
“Baik. Aku tidak akan melakukannya lagi dan sampai kapanpun aku tidak akan masuk ke kamar ini,” tegas Pia sebelum ia meninggalkan Riley yang masih berdiri tak bergeming ditempatnya.
***
“Ahh kita melakukannya lagi,” ujar wanita itu saat ia membanting tubuhnya ke kasur yang ia gunakan untuk melakukan aktivitas ranjangnya. Begitu juga pria itu yang setelahnya berbaring tepat disampingnya.
“Aku tidak menyangka jika kita akan melakukannya bahkan setelah kau menikah,”
Pria itu mengendikkan bahunya,”Apa bedanya jika aku sudah menikah dengan kau yang sudah menikah? Kita bahkan masih melakukannya bahkan setelah kau menikah,”
“Hahahah kau betul,” tawa wanita itu bersamaan dengan senyuman kecil yang tercetak jelas di bibir Riley. Riley bangkit dari kasurnya setelah Nadine bangun dan duduk di senderan ranjang. Riley menarik selimut dan menyelimuti tubuh polos Nadine, begitu juga dengannya yang kemudian duduk di sebelah Nadine, kekasihnya tersebut.
“Seandainya aku tidak punya ayah, sudah pasti aku tidak akan menikah dengan pria itu,” katanya sembari menyenderkan kepalanya dibahu Riley. Riley mengangguk kecil dan memberi elusan lembut di kepala Nadine untuk menenangkannya,
“Aku tidak pernah merasa bahagia bersama pria itu. Ia bahkan tidak pernah pulang atau bahkan menyapaku. Kalaupun ia pulang, ia pasti mabuk dan aku benci bau alkohol yang kuhirup saat ia berbicara padaku,”
“Tenanglah, aku pasti akan mencari cara agar kita bisa bersama,” ujar Riley berniat untuk menenangkan Nadine. Dalam hati, ia mengutuk Pia karena telah hadir dalam hidupnya.
Riley dan Nadine sudah berpacaran ketika keduanya berkuliah di Kanada. Hubungan keduanya tetap berjalan walaupun mendapat pertentangan dari orang tua Riley. Kala itu, Riley sudah siap untuk meninggalkan semua kekayaannya untuk pergi bersama Nadine. Namun naas, Ben yang merupakan ayah Nadine sudah menjualnya pada seorang pria kaya yang merupakan atasan dari Ben sendiri.
“Apa itu berarti kau akan berpisah dengan istrimu?”
Riley mengangguk,“Ya,”
“Eh, tapi ngomong-ngomong, istrimu cantik loh,”
Riley tidak bisa menampik jika Pia memang cantik. Tapi untuk apalah sebuah kecantikan jika ia tidak mencintainya sama sekali,
“Menurutku kau lebih cantik,”
“Oh ya?” ujar wanita itu menatap Riley dengan menilai. Riley tersenyum kecil lalu merangkul wanita itu lagi,
“Apa menurutmu kita bisa kembali bersama?” tanya wanita itu dengan senyuman getirnya. Tatapannya lurus tanpa menatap Riley yang sedang memandangnya tak percaya,
“Tentu saja bisa, aku sudah punya rencana agar Pia menceraikanku,” Nadine menganga untuk sementara waktu, ia tidak menyangka jika Riley sudah memiliki rencana untuk bercerai mengingat ia baru saja menikah.
“Kau serius?! Apa kau rela diceraikan oleh wanita secantik dia?”
“Aku tidak mencintainya,”
Nadine terdiam sejenak, menatap Riley yang masih menatap lurus ke depan. Dengan pelan dan ragu-ragu, dia bertanya,“Bagaimana jika aku memintamu untuk mencintainya?”
Riley menoleh dan menggeleng cepat. Ia segera mengambil kedua tangan wanita itu dan mengenggamnya dengan erat. Ia menatap wanita itu dengan kesedihan seakan ia sudah ditinggal mati olehnya,
“Sudah cukup kau memintaku untuk menikahinya dan sekarang kau memintaku untuk mencintainya? Tentu saja aku tidak bisa melakukannya karena aku mencintaimu,”
Air mata Nadine semakin mengalir ketika Riley memeluknya dengan erat. Riley selalu membisikkannya untuk tetap sabar menunggunya. Ia berjanji akan menuntaskan semua yang telah menghalangi hubungan mereka agar mereka bisa kembali bersama.
Nadine mengangguk dan tetap menangis dalam diam. Riley tau jika wanita itu menangis di dalam pelukannya. Hanya saja pria itu tidak tahu jika Nadine bukan menangisi kemirisan kisah cinta mereka berdua, melainkan rasa bersalahnya karena sudah membuat Riley candu akan dirinya.
***
“Mmm….” Pia tersenyum senang mengingat ia sudah selesai dengan belanjaannya untuk masakannya nanti malam dan besok pagi. Hanya saja, belanjaannya terlalu berat hingga ia tidak sadar jika ada pria yang lewat hingga menabraknya tanpa sengaja,
“Ah maaf,” ujarnya tanpa menatap pria itu dan berusaha untuk melesat pergi. Pia tersentak kecil ketika seseorang mengambil belanjaannya. Pia menatap pria itu dan hendak untuk mengambil kembali belanjaannya,
“Biar aku saja yang bawa,” Pia tak bergeming ketika pria itu menarik plastik belanjaan Pia yang satunya lagi dan menentengnya untuk dirinya,
“Aku Julian, sahabat Riley” katanya sembari menunjuk dirinya sendiri.
Dengan kaku gadis itu mengangguk mengerti“Oh…”
“Wajar kau tidak mengenalku, karena aku baru saja balik dari Kanada,”
Pia mengangguk mengerti, sementara Julian mengajak Pia untuk meletakkan belanjaannya di mobil Pia.
“Bagaimana kau bisa mengenalku, maksudku aku bahkan tidak mengenal siapapun teman dari Riley,” ujar Pia ketika ia memasukkan belanjaannya ke bagasi.
“Tentu saja. Aku menerima undangannya tapi sayangnya aku tidak bisa datang. Lagipula taulah, kita kan bukan hidup dijaman yang sudah canggih juga,”
Pia kembali menggangguk dan membiarkan pria itu menutup bagasinya. Pia mengamati Julian dengan seksama sembari menilainya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Ia tidak menyangka jika orang seperti Julian bisa bersahabat dengan pria menyebalkan seperti Riley.
“Bagaimana kau bisa tau aku disini?”
Pria itu bertingkah seakan ia tidak tahu apapun,”Mungkin takdir?”
Pia tertawa renyah. Takdir? Tentu saja Pia tidak memercayai hal yang semacam itu karena baginya kehidupan merupakan keputusan.
“Baiklah, terima kasih telah membantuku,”
Julian mengangguk,”Sama-sama,”
Pia mengangguk kecil lalu masuk ke mobilnya. Raut muka pria itu berubah ketika Pia benar-benar sudah pergi. Dalam hati ia juga meremehkan Pia yang menurutnya dengan mudah untuk ia taklukkan. Dengan cepat ia beralih ke mobilnya dan ikut pergi mengikuti Pia.
Pria itu tetap mengikuti Pia dan mendapati gadis itu tengah menepikan mobilnya karena bannya bocor. Dengan penuh pencitraan, Julian keluar dari mobilnya dan bertingkah seolah keduanya sangat kebetulan bertemu untuk kedua kalinya.
“Aku rasa ini takdir,”
“Takdir jika ban ku bermasalah, begitu?” ujarnya tanpa menatap Julian karena terus menatap ban bocornya.
“Sini, biar kubantu untuk mengganti bannya,” ujarnya yang digelengkan Pia,
“Biar aku yang melakukannya,”
Julian tercengang dan merasa tidak percaya dengan apa yang ia dengar dari Pia. Mengganti ban? Seorang gadis mengganti ban mobil sendirian?
“You must be kidding me,”
Pia bergerak cepat mengambil peralatan-peralatan yang ia butuhkan. Yang benar saja, Julian takjub melihat kelihaian gadis itu ketika ia mengendurkan baut ban yang nantinya ia akan memasang dongkrak mobil. Melihat gadis itu hendak mengangkat mobil menggunakan dongkrak, Julian dengan cepat menghampirinya dan melakukannya untuk Pia.
Pia sedikit kebingungan ketika Julian turut ikut campur dalam pekerjaannya. Ia bahkan berusaha untuk menggantikan posisi Julian tapi pria itu menolak. Jadilah Pia menunggu Julian menggantikan ban mobilnya dengan ban cadangan miliknya.
“Oke siap,” kata pria itu setelah ia menurunkan mobil tersebut menggunakan dongkrak. Pia tersenyum kecil lalu menunduk kecil atas rasa terima kasihnya pada Julian. Ia kemudian membereskan peralatannya dan memasukkannya ke mobilnya,
“Terima kasih untuk hari ini,” katanya dibarengi dengan tundukkan kecil lagi dari Pia. Julian mengganguk dan tersenyum padanya. Tak lupa ia melambaikan tangannya ketika Pia memberinya lambaian tangan di jendela mobilnya.
Julian menghela nafas berat menatap kepergian Pia. Ia menyesal karena sudah meremehkan gadis itu sedari awal. Setelah melihat apa yang terjadi, ia dapat simpulkan wanita itu memiliki pesonanya yang berbeda dengan wanita yang ia temui diluar sana. Semakin lama, Julian semakin penasaran bagaimana gadis itu tersenyum, bagaimana gadis itu tertawa dan bahkan bagaimana jika gadis itu menyukainya,
“Kuakui kau sangat bodoh telah melepasnya, tapi terima kasih telah memberikan gadis itu untukku, Riley,”