Author’s POV
Pia sedang menonton televisi sembari mengemil popcorn yang ia beli kemarin. Di tengah serunya acara, tiba-tiba Riley memberikannya sebuah amplop putih sembari pria itu duduk di sofa lain yang berjarak tidak jauh dari Pia,“Apa ini, Riley?” Tanya Pia setelah Riley melemparnya sebuah amplop putih
“Rei, panggil saja Rei,” ujarnya dengan jutek. Pia tidak ingin kalah, ia pun bersikap menyebalkan kepada pria itu,
“Aku kan sedang tidak menanyakan nama panggilanmu, kau tahu kan?” balas Pia sembari menyipitkan matanya kepada Riley,
“Aku tidak nyaman jika kau memanggilku Riley,”
“Ada apa dengan pria menyebalkan ini?”
Pia dapat melihat pria itu tampak tidak senang dengan amplop itu, ia juga enggan untuk bercakap banyak mengenainya. Pia mengalihkan tatapannya ke amplop itu dan membukanya. Matanya juga terlihat tidak senang melihat tiket pesawat yang tengah ia pegang,
“Kita akan berangkat lusa,” ujarnya yang membuat Pia kaget,
“Lusa?! Kenapa mendadak sekali?”
“Tanyakan hal itu kepada ibumu,” Pia tercengang mendengarnya. Setelah pernikahan terpaksa mereka dilangsungkan, Riley memang sangat sibuk dengan pekerjaannya hingga ia pulang larut malam, bahkan terkadang ia tidak pulang. Terkadang Pia penasaran dengan pekerjaan pria itu jika ia sampai tidak pulang seharian.
“Aku rasa dia ingin kita secepatnya punya anak,” ujar Riley dengan raut muka yang tidak iklas dan geli. Tak hanya dia, Pia juga menunjukkan raut yang sama dengannya.
“Aku tidak ingin melakukannya denganmu,” ujar Riley tanpa menatap Pia yang semakin geli mendengar perkataannya barusan. “Apa dia pikir dia saja yang berpikiran demikian?!”, begitulah batin Pia menanggapi Riley barusan. Pia menyilangkan tangan di dadanya begitu Riley menatapnya, seakan Pia memberi penolakan untuk seorang Riley,
“Memangnya siapa juga yang ingin melakukannya denganmu! Bahkan aku tidak ingin kita pergi berdua ke New Zealand. Kalaupun pergi, akan lebih baik mengajak orang lain. Menghabiskan waktu berdua bersama mu pasti akan membosankan,” Pia mengambil ponselnya lalu mencari nama kontak Ellyn yang merupakan sahabatnya untuk ia ajak. Riley sedikit mengintip karena ia penasaran siapa yang akan gadis itu ajak,
“Kau membawa temanmu?” ujar pria itu yang juga senang karena rencananya cukup mulus. Tiket itu memang bukan ulahnya, tapi pria itu punya rencana lain yang akan ia lakukan disana,
“Ya, kuharap kau tidak keberatan” ujarnya tanpa melihat Riley yang sudah tersenyum penuh kemenangan.
“Baiklah aku akan mengajak Julian,”
“Julian? Kau mengajaknya?”
Riley mengangkat alisnya, berpura-pura untuk tidak mengetahui jika gadis itu mengenal Julian. Padahal, ia sendirilah yang sengaja membuat pertemuan mereka terkesan tanpa disengaja. Tujuan Riley mempertemukan keduanya karena ia harap Julian dapat membantunya.
Ia harap semuanya berjalan lancar dan ia harap dapat Pia jatuh cinta kepada Julian dan membuat Pia menceraikannya merupakan tujuan utama dari Riley. Ia tidak mungkin menceraikan Pia, karena Rico, ayahnya pasti akan turun tangan jika hal itu terjadi. Tentu saja, pria licik itu juga tidak ingin terlihat jahat di mata keluarganya dan keluarga Pia.
“Kau mengenal Julian?”
“Kami bertemu tadi, bukankah dia sahabatmu?”
Riley mengangguk, ”Ya,”
“Bukankah dia tampan?” Riley mengintip gadis itu yang sedang mengetik pesan kepada sahabatnya. Ia sangat penasaran mengenai kesannya terhadap Julian, hanya saja rasa penasarannya itu dibalas dengan tatapan jijik Pia, ketika ia berbalik menatap Rai seakan pria itu telah melakukan hal yang sangat menjijikkan kepadanya,
“Apa.. apa!? Kenapa kau menatapku begitu!!” ujar Riley, karena tidak terima ditatap jijik oleh Pia. Pia tidak melepaskan tatapannya jijiknya pada Riley, bahkan ia melihat dari ujung kaki hingga ujung kepala pria itu hingga pria itu merasa risih padanya,
“Apa kau gay?”
“Kau gila?!”
“Tentu saja tidak. Bukankah aneh jika seorang pria berkata seperti itu? Setauku seorang pria tulen tidak suka memuji pria lain,” ujar Pia, setelah ia mengangkat alisnya seolah-olah menilai reaksi pria itu selanjutnya. Riley tampak bersabar dengan helaan nafas beratnya, ia tidak menyangka Pia bisa mempermalukannya.
“Jadi kau tidak tertarik dengannya?”
“Untuk apa kau tau?” ujar gadis itu dengan cuek. Baiklah, kali ini Riley benar-benar dipermainkan oleh Pia. Terlebih saat Pia kembali melihat ponselnya dan mengabaikan kekesalan Riley yang mencuat padanya. Ia merasa bodoh telah bertanya hal seperti itu pada Pia. Riley yakin, jika ada seseorang diruangan ini yang menyimak percakapan mereka, orang itu pasti akan tertawa dan merendahkannya,
“Tampangnya bukan tipeku,” ujar Pia tanpa melepaskan pandangan dan tatapannya terhadap ponselnya,
“Lalu, apa tampangku ini tipemu?” tanya Riley lagi, melupakan jika dirinya sudah dipermalukan tadi.
“Kuakui, ya,” batin gadis itu.
“Kau tidak perlu tau,”
“Apa itu artinya ‘ya’ ”? goda Riley yang tidak digubris Pia. Riley terlihat kesal karena kejutekkan gadis itu padanya. Dengan kesal, Riley menarik ponsel gadis itu dan menyembunyikannya di balik punggungnya.
Pia mencebik kesal karena Riley sangat menyebalkan hari ini. Pia melangkah mendekat padanya dan berusaha untuk mengambil ponselnya dibalik tubuh Riley. Riley terus mempermainkannya dan mengoper-oper ponsel gadis itu dari tangannya ke tangan lainnya.
Riley membawa ponsel gadis itu ke hadapannya dan melihat wallpaper gadis itu seorang pria. Sementara itu Pia masih berusaha untuk menggapai ponselnya dari tangan Riley,
“Siapa pria ini? Apa dia kekasihmu?”
“Oh ternyata ini kekasihmu ya? Kau bermain nakal dibelakangku ya…”
“Itu Ji Chang Wook, bodoh!”
“Cangguk?”
“Berhentilah mencampuri urusanku dan kembalikan ponselku!” ujar Pia, sebelum pria itu kembali menyembunyikan ponsel Pia dibelakangnya. Riley tersenyum bangga karena sedari tadi gadis itu belum juga mendapati ponselnya. Hanya saja, karena kekesalan Pia meningkat dan sofa yang Riley duduki tidak memiliki bantalan, Pia tidak sadar jika ia terlalu menggunakan banyak tenaga hingga keduanya jatuh bertimpaan dengan posisi bibir keduanya yang menempel.
Pia melebarkan matanya dan menarik tubuhnya ketika Riley dengan nakal mengemut bibirnya. Tak lupa ia merampas kembali ponselnya dari tangan pria itu. Pia buru-buru memegang bibirnya dan mengusapnya dengan tangannya,
“Apa yang kau lakukan!?” ujar Pia, sembari menggosok keras bibirnya,
“Apa aku harus mengatakannya dengan gamblang padamu?” katanya sembari mendudukkan dirinya di sofa.
“Maksudku kenapa kau melakukannya!” bentak Pia dengan kesal. Riley tersenyum miring melihat wajah gadis itu memerah karena malu. Riley puas sudah membalas harga dirinya yang dipermalukan tadi oleh Pia, dan sekarang gantian, Riley lah yang akan mempermalukannya,
“Kalau aku tidak melakukannya, aku yakin kau tidak akan bangun dari posisi kita tadi,”
Pia mengambil tisu dan mengusap kasar bibirnya di depan Riley. Pria itu bergidik ngeri melihat kekasaran gadis seakan ia tengah membersihkan noda baret di lantai. Dengan cepat pria itu berdiri dan mengenggam tangan Pia agar ia berhenti,
“Berhentilah, bibirmu bisa berdarah.”
Pia menggigit kecil bibirnya dan mendorong pria itu dengan kesal. Riley tersenyum samar saat gadis itu membuang wajahnya dan melenggang pergi dengan cepat. Senyuman pria itu memudar ketika ia memegang bibirnya. Pikirannya melayang jauh ke belakang, mengingat kembali saat bibir nya menyentuh bibir tipis Pia.
Khayalan pria itu semakin jauh hingga ia hampir tidak sadar untuk kembali menghadapi kenyataan, bahwa gadis itu tidak akan lagi bersamanya nanti.
Membayangkan wajah gadis itu yang tengah memerah menambah senyuman pria itu. Tetapi, tak berapa lama kemudian, Riley menelan ludahnya untuk menelan pesona Pia yang sudah menghantui pikirannya. Tangannya memijat pelipisnya dengan frustasi, karena entah kenapa ia mulai merasa tidak rela jika keluguan gadis itu dapat dimiliki pria lain.
***
“Kau terlihat pucat,” Dari Jakarta ke Cook Island memakan waktu 20 jam, tak heran jika Pia terlihat pucat, karena ia sangat susah untuk tidur didalam pesawat. Sementara itu, ia juga memiliki anemia, yang membuatnya cepat lemas jika terlalu lelah.
Pia mengabaikan Julian dan terus menarik kopernya untuk ia masukkan ke bagasi. Secara inisiatif, Julian mengambil koper Pia dengan cepat sebelum gadis itu menggapainya. Riley hanya diam menatap keduanya, ia tidak banyak berkomentar dan memilih untuk diam. Ellyn mendekat pada Pia, karena ia tahu jika sahabatnya itu tengah tidak enak badan.
“Julian, lebih baik kau duduk didepan,” Julian menurutinya dan benar, pria itu langsung duduk didepan bersama dengan Riley. Selama perjalanan mereka ke villa, Pia tertidur dibahu Ellyn. Ellyn bersyukur jika Pia dapat tidur walaupun hanya sebentar. Sementara Riley hanya diam menatap Pia dari kaca penumpang mobilnya.
“Apa kita perlu ke apotek?” tanya Riley, memecah keheningan yang tercipta sedari tadi.
“Aku rasa iya,” ujar Ellyn. Riley mengangguk mengerti dan kebetulan tidak lama kemudian mereka menemukan apotek untuk membeli beberapa obat dan suplemen untuk Pia. Julian memutuskan untuk keluar dari mobil dan membelinya, sementara Ellyn dan Riley masih tetap ditempatnya, bersama dengan Pia yang masih tertidur dibahu Ellyn.
“Kenapa kau mengajak pria itu?”
“Maksudmu Julian?”
Ellyn mengangguk,”Ya,”
“Tidak ada alasan yang berarti. Dia sahabatku dan itu saja, seperti kau dengan Pia,” kilah Riley tanpa melepas tatapannya ke Julian yang tengah mengantri untuk membeli obat.
“Aku yakin kau tau jika dia menyukai Pia, lalu mengapa kau masih mengajaknya?” ujar gadis itu tanpa membiarkan satu ruang pun untuk Riley bernafas. Ellyn menyadari semuanya, karena ia memerhatikan gerak-gerik Julian sedari awal mereka bertemu.
Riley sempat tertegun sejenak. Ellyn benar-benar cermat melihat situasi, Maupun Riley ataupun Julian, keduanya salah jika mereka meremehkan Ellyn.
“Setauku Julian memiliki kekasih, tapi aku sudah tidak tau lagi apa mereka masih bersama atau tidak,”
Gadis itu menaikkan salah satu alisnya, merasakan keganjalan dari gerak gerik pria itu yang terlihat tidak menyakinkan. Hanya saja, ia memutuskan untuk diam dan membungkam mulutnya. Karena ia yakin, berapa kalipun ia bertanya, pria itu tidak akan jujur padanya.