“Albert, ayo bangun!” ujar Akira sembari menepuk-nepuk pundak Albert yang sedang tidur pulas di sampingnya. Namun laki-laki itu hanya menggeliat dan tak membuka mata.
“Ayo bangunlah, Albert. Bantu aku,” kata Akira masih terus berusaha.
“Ada apa, Akira? Kenapa kamu mengangguku tengah malam seperti ini?” tanya Albert terpaksa membuka mata dengan malas.
“Aku ingin makan mie ayam,” ucap gadis itu sontak membuat Albert heran.
“Baiklah. Besok aku belikan,” jawab Albert singkat dan kembali menarik selimut berniat meneruskan tidurnya.
“Tapi aku maunya sekarang, Al. Aku lapar,” paksa Akira.
“Bukannya tadi kamu sudah makan banyak saat perayaan,” timpal Albert.
“Ya tidak tahu. Intinya sekarang aku lapar dan ingin makan mie ayam.”
“Tapi jam segini mana ada tempat makan yang buka, Akira” ujar Albert pelan. Dia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul dua dini hari. “Tunggu sampai besok ya. Aku pasti akan membelikannya untukmu,” imbuh laki-laki itu.
Akira tak menjawab. Tidak menolak dan tidak juga mengiyakan. Albert semakin dibuat kebingungan saat gadis itu justru menangis. Albert hanya bisa tepuk jidat menghadapi kelakuan istrinya yang sedang hamil. Dia paham sikap aneh Akira itu adalah bawaan dari kandungannya atau yang lebih dikenal dengan istilah ngidam.
Melihat Akira yang menangis, mau tidak mau Albert pun menuruti keinginannya. Laki-laki itu mulai bangkit dan bersiap dengan mengenakan jaket. Namun tidak sampai di situ, Akira kembali tidak mau ditinggal. Gadis itu merengek ingin ikut keluar bersama Albert.
“Kalau bukan demi anak dalam kandungannya itu, aku tidak akan sudi melayani keinginan gadis ini dan membiarkannya mengganggu waktu tidurku,” gerutu Albert dalam hati.
Akira tetap tidak mau melunak meskipun Albert mengatakan angin malam tidak baik untuk kesehatannya. Albert sungguh dibuat pusing karena hal itu. Akhirnya Albert membawa Akira bersamanya. Mereka pergi mengendarai mobil dengan Albert yang mengemudi.
Mereka mencari tempat makan yang menyediakan mie ayam dan masih buka pada dini hari itu. Setelah berkeliling ternyata tak mudah menemukan apa yang mereka cari. Albert hampir menyerah tapi Akira tetap tidak mau melupakan keinginannya untuk menyantap mie ayam malam itu juga.
Saat melajukan mobil di daerah taman kota, mereka tak sengaja melihat penjual mie ayam keliling yang sedang mendorong gerobaknya. Hanya itu satu-satunya pilihan yang ada. Akira sudah kegirangan dan meminta Albert agar menghentikan mobilnya. Sementara Albert tidak setuju dengan hal itu.
“Ayo turun, Al. Belum tentu kita bisa menemukan penjual mie ayam lagi selain ini,” rengek Akira.
“No, Akira. Kamu tidak boleh mengkonsumsi makanan sembarangan. Apalagi makanan jalanan yang belum tentu bersih dan higienis. Ingat! Kamu juga sedang hamil saat ini,” tolak Albert.
“Ayolah, Al. Aku sangat ingin makan mie ayam. Tidak perlu terlalu khawatir. Aku sudah terbiasa makanan seperti itu sejak dulu,” bujuk Akira tak mau menyerah. Sudah tak tahan mendengar ocehan Akira, Albert pun mengalah dan menghentikan mobilnya. Mereka kemudian mendekati penjual itu dan memesan satu porsi mie ayam.
Mereka berdua duduk di bangku taman. Akira menatap lapar semangkuk mie ayam dengan asap kuah yang masih mengepul. Sementara Albert masih terus berkomentar tak menyenangkan.
Tak peduli dengan Albert yang sesekali masih menggerutu, Akira memilih untuk fokus menyuapkan gulungan mie ayam ke mulutnya. Rasanya begitu enak di lidah Akira. Dia tidak peduli dengan perkataan Albert asal hasratnya terpenuhi.
Belum sampai makanan itu tandas, rintik hujan tiba-tiba turun menetes satu persatu. Tak butuh waktu lama gerimis itu kemudian berubah menjadi deras. Albert menarik tangan Akira untuk pergi dari sana. Mengembalikan mangkuk yang masih berisi setengah mie ayam itu dan membayarnya dengan cepat.
Albert mengajak Akira segera kembali ke mobil. Namun bukannya menurut, gadis itu justru memaku diri dan merentangkan tangan menikmati turunnya air hujan. Kelakuan Akira itu kembali membuat Albert mengeluh.
“Apa yang kau lakukan, Akira? Ayo segera masuk ke mobil. Kita harus berteduh sebelum hujannya semakin deras,” ajak Albert.
“Tidak, Albert. Biarkan aku bermain hujan dulu,” tolak Akira.
“Akira, aku sudah menuruti keinginanmu untuk makan mie ayam. Tapi kali ini aku tidak akan membiarkanmu hujan-hujanan tengah malam. Kamu bisa masuk angin dan jatuh sakit.”
“Aku tidak mau,” ujar Akira ketus.
“Ayolah jangan bersikap seperti anak kecil begini,” kata Albert dengan gelisah. Bulir air hujan yang begitu deras sudah membuat mereka setengah basah.
“Sesekali kamu harus kembali pada masa-masa seperti ini untuk menikmati hidup,” jawab Akira tak mau kalah. Dia justru menarik tangan Albert agar bergabung bersamanya. Lagi-lagi terpaksa Albert menuruti.
Mereka berdua merentangkan tangan dan menengadahkan wajah. Membiarkan air hujan membasahi kulit. Tanpa terduga, Akira merubah posisinya menghadap Albert. Dia mengalungkan kedua tangannya pada leher laki-laki itu. Mengisyaratkan sebuah ajakan untuk berdansa.
Albert ikut terbawa suasana. Ternyata menikmati hujan memang bukan sesuatu yang buruk. Guyuran air itu sedikit membawa ketenangan. Albert pun membalas sikap Akira dengan meletakkan tangannya di pinggang gadis itu. Perlahan kaki keduanya melangkah membentuk pola meski tanpa irama.
Setelah cukup lama terbuai dalam kebersamaan itu, Albert pun mengajak Akira untuk menyudahi kegiatan mereka. Akira tak lagi menolak karena sekujur tubuh mereka sudah basah. Tampak gadis itu juga mulai merasa kedinginan.
Albert mengajak Akira masuk ke dalam mobil. Mereka kemudian menempuh perjalanan pulang menuju rumah. Sesampainya di sana, Albert mendapati Akira sudah terlelap dengan tubuh menggigil di kursi sebelahnya. Wajar saja gadis itu kedinginan karena masih mengenakan pakaian basah.
Albert menggendong Akira ala bridal style saat mengeluarkan tubuh itu dari mobil. Albert membawa Akira ke dalam kamarnya. Dia berpikir tidak mungkin membiarkan Akira tidur semalaman dengan baju basah itu. Dia pun menidurkan Akira di sofa untuk sementara.
Albert mengganti bajunya sendiri terlebih dahulu. Namun setelah itu dia justru mondar mandir di kamarnya karena kebingungan. Melihat Akira menggigil dalam lelap membuatnya merasa harus melakukan sesuatu. Akira harus berganti baju. Tapi baik Dewi maupun Bibi Lastri sudah tidur sejak tadi.
Lagi pula mereka akan berpikir aneh jika Albert meminta pembantunya itu yang menggantikan baju Akira padahal mereka berdua sudah menjadi suami istri. Akhirnya Albert berinisiatif untuk menggantinya sendiri.
“Tenanglah, Albert. Ini bukan hal yang mengejutkan. Mudah saja melakukannya. Bukankah sebelum ini kamu juga sudah pernah melihat semuanya,” ucap laki-laki itu meyakinkan dirinya sendiri atas tindakan yang akan dia lakukan.
Albert mengambil baju tidur milik Akira dari dalam lemari. Perlahan dia mulai membuka kain basah yang melekat di tubuh Akira satu persatu. Meski bukan untuk yang pertama kali, tapi ternyata hal itu membuat perasaan Albert cukup kacau. Dia terus berusaha fokus mengganti pakaian Akira dan menepis pikiran-pikiran anehnya.
Setelah selesai, Albert memindahkan tubuh Akira agar tidur di ranjang. Gadis itu tampak terlelap dengan begitu tenang. Sementara Albert yang sempat menatapnya dari jarak dekat semakin dibuat kalut. Ada sesuatu tak dimengerti yang mulai bergejolak dalam hati.