Albert masih berdiri di sisi ranjang.
Jam dinding sudah lewat pukul dua pagi, tetapi matanya sama sekali tidak mau diajak tidur. Tatapannya tidak beranjak dari wajah Akira yang tertidur pulas di bawah cahaya lampu tidur yang kuning dan redup.
Rambut gadis itu masih sedikit lembap meski Albert sudah mengeringkannya dengan handuk. Beberapa helai menempel di pelipis dan tidak sempat dirapikan. Napas Akira terdengar teratur, naik turun pelan, tetapi sesekali dahinya mengernyit seperti merasa tidak nyaman, lalu tenang lagi.
Di luar, hujan sudah berhenti. Yang tersisa hanya bunyi air menetes dari talang, jatuh satu-satu ke halaman.
Albert mengulurkan tangan dan menyentuh kening Akira. Hangat. Sedikit lebih hangat dari biasanya.
“Jangan-jangan dia demam?” gumam Albert cemas.
Laki-laki itu segera membuka laci meja dan mengambil termometer, lalu menempelkannya dengan hati-hati. Beberapa detik terasa lebih lama dari seharusnya. Ketika angka muncul di layar kecil itu, ia menarik napas lega.
Akira belum demam. Tubuhnya hanya masih beradaptasi setelah kehujanan.
“Syukurlah,” bisiknya.
Albert mengambil selimut tambahan dan menyelimuti Akira sampai bahu. Ia hampir kembali ke sofa ketika Akira tiba-tiba mengigau.
“Jangan tinggalkan aku, Albert...” bisiknya.
Langkah Albert terhenti di tengah kamar.
Ia menoleh perlahan. Mata Akira tetap terpejam, tetapi tidak ada kalimat lain yang keluar. Albert menatapnya dengan perasaan aneh.
Dalam keadaan sadar, Akira sering bersikap keras kepala. Gadis itu selalu berusaha menunjukkan bahwa dirinya tidak membutuhkan Albert. Namun, ketika tertidur, ia justru memanggil nama laki-laki itu dengan suara penuh ketakutan, seperti anak kecil yang ditinggal di tempat asing.
“Aku tidak akan pergi,” jawab Albert pelan, meski tahu Akira mungkin tidak mendengarnya.
Albert duduk di tepi ranjang. Tangannya bergerak tanpa ia perintahkan, menggenggam tangan Akira yang tergeletak di atas selimut. Jemari gadis itu terasa dingin, sehingga Albert mengusapnya perlahan, menggosok punggung tangan itu dengan ibu jarinya sampai terasa hangat.
Selama ini Albert selalu mengatakan bahwa pernikahan mereka hanyalah bagian dari rencana balas dendam. Ia menikahi Akira untuk menghancurkan keluarga Sofia. Ia ingin gadis itu merasakan sakit yang sama seperti yang pernah dirasakan ibunya.
Namun, malam ini rencana itu mulai terdengar tidak masuk akal bahkan di kepalanya sendiri.
Bagaimana mungkin ia masih menyimpan kebencian ketika Akira tidak pernah tahu apa pun tentang kesalahan orang tuanya? Bagaimana mungkin ia tega menyakiti perempuan yang selalu berusaha bersikap jujur kepadanya?
Albert teringat malam ketika Akira membangunkannya pukul satu dini hari hanya karena ingin makan mi ayam. Ia mengomel sepanjang jalan, tetapi tetap keluar mencari warung yang masih buka dan membawa pulang semangkuk mi yang kuahnya tumpah sedikit di kursi mobil.
Dulu ia meyakinkan diri bahwa semua itu dilakukan demi bayi dalam kandungan Akira.
Albert menyadari hal itu dengan perasaan terkejut.
Bukan. Ia melakukannya karena tidak tega melihat Akira menangis.
Pagi harinya, cahaya matahari masuk melalui celah tirai dan jatuh tepat di atas bantal. Akira membuka mata dengan tubuh terasa pegal.
Ia menoleh ke samping dan menemukan Albert tertidur dalam posisi duduk di kursi. Kepala laki-laki itu miring ke bahu, kemejanya kusut, dan tangannya masih menggenggam tangan Akira.
Akira menatap tangan mereka cukup lama.
Seingatnya, Albert tidak pernah menunjukkan perhatian seperti itu. Bahkan ketika mereka sedang berada dalam satu kamar, laki-laki itu selalu menjaga jarak dan berbicara seperlunya dengan sikap dingin yang membuat Akira belajar untuk tidak berharap.
Akira berusaha melepaskan tangannya perlahan, tetapi gerakan kecil itu membangunkan Albert.
“Kamu sudah bangun?” tanya Albert dengan suara serak.
“Sejak kapan kamu tidur di sini?”
“Aku tidak tidur. Hanya memejamkan mata sebentar.”
Akira memperhatikan wajahnya. Ada lingkaran gelap di bawah matanya. “Kamu berbohong. Matamu terlihat sangat lelah.”
“Itu karena cahaya.”
“Sekarang belum pukul tujuh dan tirainya masih tertutup.”
Albert bangkit dan merapikan rambutnya yang berantakan, lalu berdeham. “Bagaimana keadaanmu? Apakah masih pusing atau menggigil?”
Akira menggeleng. “Aku baik-baik saja. Hanya sedikit pegal.”
“Kita harus memeriksakan kandunganmu hari ini. Kamu kehujanan tengah malam dan tidak seharusnya bermain-main seperti itu.”
“Tapi kamu juga ikut bermain hujan.”
“Aku hanya mengawasimu.”
Akira tersenyum kecil. “Kamu bahkan menari denganku.”
Albert langsung mengalihkan pandangan ke arah jendela. “Itu karena kamu memaksaku.”
“Tapi kamu menikmatinya.”
Albert tidak membalas, dan diamnya itu justru membuat senyum Akira melebar. Laki-laki itu berjalan menuju lemari, mengambil pakaian bersih, lalu meletakkannya di atas sofa dengan rapi. Terlalu rapi untuk orang yang mengaku tidak peduli.
“Dewi sudah menyiapkan sarapan. Segera mandi dan turunlah. Jangan terlalu lama berdiri di kamar mandi.”
Akira mengangguk. Saat Albert hendak keluar, ia memanggilnya.
“Albert.”
Laki-laki itu berhenti di ambang pintu dan menoleh.
“Terima kasih sudah mengganti pakaianku semalam.”
Wajah Albert berubah canggung. “Aku hanya tidak ingin kamu sakit.”
“Tetap saja, terima kasih.”
Akira turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi. Namun, baru beberapa langkah, lantai terasa miring dan pandangannya berkunang-kunang. Tubuhnya oleng dan hampir jatuh.
“Akira!”
Albert bergerak cepat menangkap pinggangnya.
“Aku tidak apa-apa,” jawabnya berusaha menenangkan, meski tangannya mencengkeram lengan Albert erat-erat.
“Kamu terlihat pucat. Duduklah.”
Albert membantu Akira kembali ke ranjang. Ia mengambil gelas dari nakas dan menyodorkannya. “Minum pelan-pelan.”
Akira menurut. “Mungkin aku hanya belum terbiasa bangun pagi.”
“Tidak ada alasan untuk menganggap remeh keadaanmu. Kita pergi ke dokter sekarang.”
“Tapi kamu ada rapat.”
“Rapat bisa ditunda.”
Akira menatap Albert. “Kamu benar-benar membatalkan rapat hanya karena aku merasa pusing?”
“Kamu adalah istriku.”
Kalimat itu keluar begitu saja. Akira terdiam. Albert sendiri juga terlihat terkejut setelah mendengar ucapannya. Ia biasanya tidak pernah mengucapkan kata tersebut dengan nada yang begitu lembut.
Akira menunduk, pura-pura merapikan selimut, berusaha menyembunyikan senyum kecil yang muncul di wajahnya.
Di rumah sakit, dokter memeriksa kondisi Akira dan kandungannya. Alat perekam detak jantung berbunyi cepat dan teratur, mengisi ruangan dingin itu dengan suara yang membuat dada Akira menghangat. Hasil pemeriksaan menunjukkan bayi mereka sehat, tetapi Akira harus mengurangi aktivitas dan tidak boleh kehujanan lagi.
“Kalian harus lebih berhati-hati,” kata dokter. “Kehamilan Akira memasuki masa penting. Jangan terlalu sering membiarkan dirinya kelelahan.”
Albert mengangguk serius. “Saya akan memastikan dia beristirahat.”
Akira menatap Albert dengan perasaan hangat. Laki-laki itu bahkan mencatat semua nasihat dokter di ponselnya satu per satu.
Sesampainya di rumah, Albert meminta Dewi menyiapkan makanan bergizi dan melarang Akira membantu pekerjaan rumah. Ia juga menghubungi asistennya untuk memindahkan semua rapat ke rumah.
“Kamu tidak harus melakukan semua itu,” kata Akira.
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa kamu melakukannya?”
Albert menatapnya lama. Ia ingin mengatakan bahwa perasaannya telah berubah, tetapi lidahnya belum mampu menyusun kalimat yang tepat.
“Karena aku tidak ingin kehilanganmu,” jawabnya akhirnya.
Akira membeku. Untuk pertama kalinya, ia mendengar pengakuan yang begitu jujur dari Albert.
Namun, sebelum Akira sempat menjawab, ponsel Albert berdering. Wajahnya berubah saat melihat nama penelepon.
Itu adalah pengacara keluarga Sofia.
“Tuan Albert, kami menemukan bukti baru tentang kematian ibu Anda. Tapi bukti itu menunjukkan bahwa keluarga Akira mungkin tidak bersalah.”
Albert menatap Akira dengan perasaan kacau.
Rencana balas dendam yang selama ini ia jalankan mulai runtuh di depan matanya sendiri.
Albert menutup panggilan itu dengan tangan kaku. Akira tidak bertanya lebih jauh, tetapi tatapannya meminta penjelasan. Laki-laki itu sadar bahwa hari tersebut mungkin menjadi awal berakhirnya kebencian yang selama ini menguasai hidupnya.