Albert masih memegang ponsel setelah panggilan dari pengacara berakhir. Layarnya sudah gelap, tetapi jarinya tetap menempel di sana, seolah lupa cara meletakkannya.
Wajahnya berubah. Rahangnya mengeras, dan itu membuat Akira semakin cemas.
“Apa yang dikatakan pengacaramu?” tanya Akira.
Albert menatapnya cukup lama sebelum menjawab. “Dia menemukan bukti baru tentang kematian ibuku.”
“Bukti apa?”
“Bukti yang menunjukkan keluargamu mungkin tidak bersalah.”
Akira terdiam. Selama ini laki-laki itu selalu memandang keluarganya sebagai penyebab semua penderitaan, sampai-sampai kata “Sofia” tidak pernah keluar dari mulutnya tanpa nada dingin.
“Mungkin?” ulang Akira pelan.
“Aku belum mengetahui semuanya. Aku harus bertemu dengannya.”
Albert berdiri dan mengambil kunci mobil. Ia meminta Akira menunggu di rumah, tetapi Akira sudah lebih dulu berdiri dan mengambil jaketnya.
“Kamu sedang tidak sehat,” kata Albert.
“Kalau bukti itu menyangkut keluargaku, aku berhak mendengarnya.”
“Akira—”
“Aku sudah bertahun-tahun dituduh tanpa pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Jangan minta aku menunggu lagi.”
Albert menghela napas panjang. Ia tahu tidak akan menang berdebat. “Baiklah, tapi kamu tidak boleh terlalu lelah. Kalau kepalamu pusing lagi, kita pulang.”
Akira mengangguk cepat sebelum laki-laki itu berubah pikiran.
Mereka pergi ke kantor pengacara pada siang hari. Ruangannya sempit, berbau kertas tua, dan penuh lemari arsip yang menjulang sampai langit-langit. Pak Surya, pengacara keluarga Albert, telah menyiapkan beberapa dokumen lama di atas meja. Ia tampak serius ketika melihat Akira datang bersama Albert.
“Tuan Albert, apakah tidak sebaiknya kita berbicara berdua saja?”
“Saya tidak keberatan Akira ikut,” kata Albert. “Tidak ada lagi yang akan saya sembunyikan darinya.”
Pak Surya mengangguk. Ia membuka sebuah map cokelat yang sudah pudar warnanya, lalu mengeluarkan salinan laporan kepolisian, foto dari rekaman kamera, serta surat yang ditulis ibu Albert sebelum meninggal.
“Kami meninjau kembali semua dokumen setelah menemukan rekaman lama dari sebuah bank,” jelas Pak Surya. “Rekaman itu menunjukkan ibu Albert pergi ke bank pada malam sebelum kematiannya. Dia tidak terlihat tertekan, bahkan membawa sebuah koper kecil.”
Albert menarik foto dari kamera keamanan itu ke hadapannya. Gambarnya buram dan berbintik, tetapi wajah perempuan di sana tidak mungkin keliru. Ibunya berjalan dengan tenang, punggung tegak, tangan kanan menjinjing koper.
Selama bertahun-tahun, Albert percaya sang ibu menulis surat terakhir dalam keadaan putus asa. Orang yang putus asa tidak berjalan seperti itu.
“Apa isi koper itu?” tanya Akira.
“Kami tidak tahu. Koper tersebut tidak pernah ditemukan di rumah.”
Pak Surya lalu mengeluarkan pemutar kaset kecil dari laci dan menekan tombolnya. Terdengar suara desis beberapa detik sebelum sebuah suara perempuan mengisi ruangan.
“Jika sesuatu terjadi kepadaku, jangan percaya kepada siapa pun yang mengatakan aku mengakhiri hidupku karena keluarga Sofia. Aku sedang mencari kebenaran tentang uang perusahaan.”
Albert membeku di kursinya. Suara itu. Ia belum pernah mendengar rekaman tersebut seumur hidupnya, tetapi ia mengenali suara ibunya bahkan sebelum kalimat pertama selesai.
Akira menahan napas dan menoleh kepada suaminya. Tangan Albert gemetar di atas meja.
“Kenapa baru sekarang kalian menemukannya?”
“Kaset ini disimpan oleh mantan pegawai bank,” jawab Pak Surya. “Dia baru berani menyerahkannya setelah mengetahui penyelidikan dibuka kembali.”
Akira menatap suaminya dengan dada sesak. Selama bertahun-tahun, Albert hidup dengan kemarahan yang mungkin dibangun di atas kebohongan orang lain.
“Apa ibu Anda memiliki masalah dengan Sofia?” tanya Akira.
Pak Surya membuka dokumen lain dan memutarnya agar menghadap mereka. “Ada transaksi besar dari perusahaan keluarga Albert kepada perusahaan milik Sofia. Namun, transaksi tersebut bukan pembayaran utang. Itu adalah investasi rahasia yang kemudian menghilang.”
Albert mengepalkan tangan di atas meja. “Jadi keluarga kami bekerja sama sebelum semuanya rusak?”
“Kemungkinan besar. Ibu Anda mungkin menemukan bahwa seseorang menggelapkan uang dari kedua perusahaan.”
“Siapa orangnya?”
Pak Surya menggeser laporan lama itu dan menunjuk sebuah nama yang diketik dengan mesin tik, hurufnya sudah memudar.
Nama itu membuat Albert terkejut.
Itu adalah nama paman Akira, lelaki yang selama ini dianggap sebagai penasihat keluarga Sofia.
Akira memucat. Tangannya turun ke perutnya tanpa sadar. “Paman saya?”
“Dia menghilang beberapa bulan setelah ibu Albert meninggal,” jawab Pak Surya. “Kami mengira dia pindah ke luar negeri, tetapi tidak ada catatan imigrasi atas namanya.”
Albert berdiri dan berjalan ke jendela. Dari lantai empat, kota terlihat sibuk seperti biasa, tidak peduli bahwa seluruh alasan hidup seseorang baru saja dijungkirbalikkan di ruangan itu.
Ia mencoba mengingat semua cerita tentang masa lalu. Ibunya pernah mengatakan ada orang yang mengkhianatinya. Albert saat itu terlalu muda untuk memahami, dan setelah perempuan itu meninggal, orang-orang di sekelilingnya sudah menyiapkan satu nama untuk dibenci.
“Aku menghabiskan bertahun-tahun membenci keluargamu karena kesalahan orang yang mungkin bahkan tidak pernah kalian kenal,” katanya tanpa menoleh.
Akira bangkit dan mendekat. “Kamu tidak tahu kebenarannya. Yang penting sekarang kita mencarinya.”
Albert berbalik dan menatapnya. “Aku sudah menyakitimu karena dendam itu.”
“Aku tahu.”
“Aku menjebakmu, memaksamu menikahiku, dan membuatmu percaya bahwa aku hanya memanfaatkanmu.”
Akira menunduk. Ia tidak ingin menangis di ruangan itu, apalagi di depan Pak Surya. Luka dari masa lalu memang belum sembuh; sebagian bahkan masih terasa perih setiap kali ia mengingatnya. Tetapi melihat Albert menyesal seperti sekarang membuat hatinya perlahan melunak.
“Aku juga tidak bisa langsung melupakan semuanya,” katanya akhirnya. “Tapi aku ingin tahu apakah perasaanmu kepadaku benar-benar berubah.”
Albert menggenggam tangannya. Kali ini di depan orang lain, tanpa ragu.
“Aku sudah tidak mampu membedakan kapan balas dendam berhenti dan kapan rasa sayang mulai tumbuh. Tapi sekarang aku tahu satu hal. Aku tidak ingin kehilanganmu.”
Pak Surya berdeham pelan, lalu menyerahkan selembar kertas. Di sana tertulis alamat terakhir paman Akira. Alamat itu berada di sebuah rumah tua yang pernah digunakan sebagai tempat penyimpanan dokumen keluarga.
Mereka pergi bersama dua pengawal sore itu juga. Rumah tersebut berdiri di ujung jalan yang jarang dilewati, catnya mengelupas, halamannya dipenuhi rumput setinggi lutut. Pintunya tidak terkunci.
Di dalam, udara terasa pengap dan berbau debu basah. Rumah itu kosong, tetapi ketika Albert menyalakan lampu ruang kerja, keduanya terdiam.
Dinding ruangan itu penuh foto. Foto Albert keluar dari kantor. Foto Akira berjalan di trotoar. Foto mereka berdua di hari pernikahan, diambil dari kejauhan.
Seseorang telah mengawasi mereka sejak awal pernikahan.
“Ini gila,” bisik Akira.
Albert memeriksa meja kerja dan menemukan sebuah laci terkunci. Ia membukanya paksa dengan pisau lipat salah satu pengawal. Di dalamnya hanya ada satu benda: buku catatan bersampul kulit milik ibunya.
Albert membuka halaman demi halaman dengan tangan yang tidak stabil. Halaman terakhir hanya memuat satu kalimat pendek:
“Orang yang menghancurkan kita bukan Sofia. Dia adalah orang yang paling dipercaya oleh kedua keluarga.”
Tiba-tiba listrik rumah padam. Seluruh ruangan tenggelam dalam gelap.
Dari luar terdengar suara kendaraan berhenti, lalu pintu mobil ditutup. Beberapa detik kemudian, pintu belakang berderit.
Seseorang masuk.
Albert menarik Akira ke balik dinding dan menutup mulut gadis itu dengan telapak tangannya. Salah satu pengawal berlari memeriksa, tetapi yang terdengar kemudian hanya suara benda jatuh dan kemudian sunyi.
Akira menggenggam lengan Albert erat-erat. Jantungnya berdetak begitu keras sampai ia takut suaranya terdengar.
“Siapa yang datang?” bisiknya.
Albert mengeluarkan ponsel, menutupi cahayanya dengan telapak tangan, lalu membuka kamera keamanan yang dipasang pengawalnya di teras. Wajah lelaki yang baru saja masuk ke rumah itu terlihat jelas di layar.
Itu adalah paman Akira.