Albert dan Akira bersembunyi di balik dinding ruang kerja. Hanya cahaya ponsel yang menerangi wajah mereka, itu pun ditutupi telapak tangan Albert agar tidak terlihat dari luar.
Dari layar kamera, mereka melihat paman Akira masuk bersama dua lelaki bertubuh besar. Ketiganya bergerak seperti orang yang sudah hafal isi rumah itu. Salah satu pengawal Albert tergeletak di lantai dekat dapur, sementara pengawal lainnya merunduk di balik lemari sambil menekan-nekan ponselnya, berusaha menghubungi bantuan.
“Kita harus keluar dari sini,” bisik Akira. Suaranya nyaris tidak terdengar.
Albert mengangguk. Ia memasukkan buku catatan milik ibunya ke dalam jaket dan menutup ritsletingnya rapat-rapat.
“Lewat jendela belakang. Jangan membuat suara.”
Mereka bergerak perlahan, menempel di dinding, menghindari tumpukan kardus. Namun lantai kayu rumah tua itu berderit panjang tepat ketika Akira memindahkan berat badannya.
Suara itu terdengar seperti tembakan di ruangan yang sunyi.
Paman Akira langsung menoleh ke arah ruang kerja.
“Aku tahu kalian di sana,” serunya. Nadanya santai, bahkan ramah, dan justru itu yang membuat bulu kuduk Akira berdiri. “Keluarlah, Albert. Kita sudah terlalu lama menyimpan rahasia.”
Albert menggenggam tangan Akira. “Tetap di belakangku.”
Mereka keluar dari persembunyian. Senter di tangan salah satu lelaki itu menyorot wajah mereka, membuat Akira memicingkan mata.
Paman Akira berdiri di tengah ruangan dengan mantel gelap dan rambut yang sudah lebih banyak putihnya. Ia menatap Akira dengan wajah tanpa penyesalan sedikit pun.
“Paman?” ujar Akira. Suaranya bergetar. “Kenapa Paman melakukan semua ini?”
“Karena keluarga kita tidak pernah memberikan apa pun kepadaku selain penghinaan.”
“Paman menghilang setelah Mama dan ayah Albert mengalami masalah. Paman tahu apa yang terjadi?”
Lelaki itu tertawa hambar, suaranya kering seperti kertas diremas. “Aku tahu semuanya. Ibu Albert menemukan bahwa aku memindahkan uang perusahaan untuk membangun usaha sendiri. Sofia mengetahui sebagian dari rencana itu dan berusaha menghentikanku.”
Albert menatapnya tajam. “Jadi ibuku bunuh diri karena ulahmu?”
Jeda sejenak. Paman Akira memiringkan kepala.
“Ibumu tidak bunuh diri. Dia dibunuh.”
Akira menutup mulutnya dengan kedua tangan. Ia merasakan lantai seperti bergeser di bawah kakinya.
Lelaki itu melanjutkan dengan tenang, seolah sedang menceritakan urusan dagang biasa. Ia memaksa ibu Albert menyerahkan dokumen, tetapi perempuan itu menolak. Ia kemudian menyewa seseorang untuk membuat kematiannya terlihat seperti bunuh diri.
“Sofia datang terlambat,” katanya. “Dia mengetahui apa yang kulakukan dan ingin melaporkan aku. Aku mengancam keluarganya. Dia memilih diam demi melindungi Akira.”
Albert merasakan seluruh dunia berputar. Selama bertahun-tahun ia membenci Sofia, padahal perempuan itu mungkin telah berusaha melindungi Akira dari bahaya yang sama. Semua kebencian yang ia rawat dengan begitu telaten ternyata hanya alat di tangan orang lain.
“Kalau begitu, kenapa keluarga kami dibuat saling bermusuhan?” tanya Akira.
“Karena kebencian membuat kalian mudah dikendalikan.” Paman Akira mengangkat bahu. “Albert akan mengejar kalian, sementara keluargamu sibuk melindungi diri. Tidak ada yang akan mencari uang yang hilang.”
Ia menjelaskan bahwa sebagian uang perusahaan disimpan dalam rekening rahasia yang hanya dapat dibuka menggunakan tanda tangan Albert dan Akira. Pernikahan mereka dimanfaatkan untuk menyatukan akses tersebut.
Albert menoleh kepada Akira dengan rasa bersalah yang menusuk. “Jadi pernikahan kita sejak awal adalah bagian dari rencananya?”
“Aku hanya mempercepat sesuatu yang sudah kalian lakukan sendiri,” jawab paman Akira.
Akira maju satu langkah. Untuk pertama kalinya malam itu, suaranya tidak lagi bergetar.
“Paman tidak pernah mencintai keluarga ini. Paman hanya memakai kami.”
Lelaki itu tidak membantah. Ia hanya mengangkat tangan, dan dua orang di sampingnya langsung mengarahkan senjata.
“Serahkan buku itu, Albert. Setelah itu kalian boleh pergi.”
Albert tidak bergerak. “Ibu saya menyimpan bukti. Paman tidak akan lolos.”
“Bukti itu tidak ada artinya jika saksi-saksinya mati.”
Paman Akira memberi isyarat dengan dagunya. Salah satu lelaki melangkah mendekat.
Albert mendorong Akira ke belakang dan menendang meja kerja sekuat tenaga hingga jatuh menimpa kaki lelaki itu. Suara tembakan meledak, memantul di dinding, mengenai rak buku hingga kertas-kertas berhamburan.
“Lari!”
Mereka berlari menuju pintu samping. Albert menarik Akira melewati koridor sempit yang gelap, sementara kedua pengawal berusaha menahan penyerang di belakang. Paman Akira mengejar dengan langkah cepat, teriakannya bergema di lorong.
Di halaman belakang, hujan mulai turun. Rumput tinggi itu licin dan Akira hampir tergelincir, tetapi Albert menangkap pinggangnya tepat waktu.
“Kamu baik-baik saja?”
“Aku takut,” jawab Akira jujur. Air hujan bercampur air mata di wajahnya.
Albert menangkup pipinya sebentar. “Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu.”
Mereka mencapai mobil. Albert memutar kunci, tetapi mesin hanya berbunyi kering. Ia mencoba lagi. Tetap tidak menyala.
“Keluar dari mobil!”
Paman Akira sudah berdiri beberapa langkah di belakang mereka, mengarahkan pistol ke arah kaca.
Albert menatap kaca spion, lalu tanpa memberi tanda apa pun kepada Akira, ia menyalakan lampu jauh secara tiba-tiba. Cahaya putih menyorot ke jalan depan, dan dari sana, dua mobil polisi datang dengan sirene menyala.
Pengawal yang tadi bersembunyi ternyata berhasil mengirim lokasi mereka.
Paman Akira panik. Ia menoleh ke kiri dan kanan, lalu berlari menuju hutan kecil di belakang rumah. Polisi mengejarnya sampai ke batas pepohonan, tetapi lelaki itu berhasil menghilang dalam gelap.
Albert dan Akira dibawa ke kantor polisi untuk memberikan keterangan. Di ruangan yang berbau kopi murahan itu, buku catatan dan rekaman kamera diserahkan kepada penyidik.
“Apakah kalian mengenali identitas kedua orang bersenjata itu?” tanya polisi.
Albert menggeleng. “Tidak, tetapi paman Akira tahu siapa mereka.”
Akira duduk di kursi plastik dengan wajah pucat dan selimut tipis di bahunya. Rambutnya masih basah. Albert meraih tangannya.
“Aku minta maaf,” kata Albert.
“Untuk apa?”
“Karena membiarkan kebencianku membuatmu berada dalam bahaya.”
Akira menatapnya lama. “Kamu tidak tahu kebenarannya. Kita sama-sama korban.”
“Tetap saja, aku pernah berniat menghancurkan hidupmu.”
Akira tidak langsung menjawab. Ia masih mengingat semua luka yang pernah Albert berikan; luka-luka itu tidak hilang hanya karena satu malam yang mengerikan. Namun, ia juga melihat perubahan nyata dalam diri laki-laki itu, dan menolak melihatnya sama saja dengan berbohong pada diri sendiri.
Ia hanya menggenggam tangan Albert lebih erat.
Pagi menjelang ketika seorang petugas masuk membawa kabar. Polisi menemukan mobil paman Akira ditinggalkan di dekat sungai. Di dalamnya ada koper berisi paspor palsu dengan tiga nama berbeda dan sejumlah uang tunai.
Tidak jauh dari sana, di semak-semak tepi jalan, mereka menemukan sebuah telepon yang layarnya masih menyala.
Petugas menyerahkan telepon itu kepada penyidik, dan penyidik membaca pesan terakhirnya keras-keras.
Pesan itu berasal dari seseorang bernama Sofia.
Akira terkejut mendengar nama ibunya. Ia berdiri begitu cepat sampai kursinya hampir jatuh.
Isi pesannya singkat:
“Aku tahu kamu kembali. Jika ingin menyelesaikan semua ini, datanglah ke rumah sakit lama. Jangan membawa Albert.”