Albert menatap laporan rekening itu dengan wajah tidak percaya. Nama lengkapnya tercetak jelas di kolom paling atas sebagai pemilik rekening yang mengirim uang ke luar negeri beberapa jam sebelum Damian ditangkap.
Ia membaca ulang deretan huruf itu dua kali, seolah hurufnya bisa berubah.
“Itu bukan rekeningku,” katanya.
Pak Surya membuka dokumen tambahan dan meletakkannya bersebelahan. “Rekening ini dibuat tujuh tahun lalu menggunakan salinan identitasmu. Namun tanda tangan pembukaannya berbeda. Lihat huruf pertamanya, terlalu bulat.”
Akira mencondongkan badan, memandang kedua kertas bergantian. “Damian mungkin menggunakan identitasmu untuk menyamarkan aliran uang.”
“Tapi kenapa transaksi terakhir dilakukan sebelum dia ditangkap?” Albert mengetuk meja dengan jari. “Dia sudah di gedung opera malam itu. Dia tidak mungkin memindahkan uang sambil menodongkan senjata kepada kita.”
Penyidik menghubungi bank dan meminta penelusuran. Jawabannya datang dua jam kemudian, dan jawabannya membuat semua orang di ruangan itu terdiam. Rekening tersebut ternyata masih memiliki akses aktif dari sebuah perangkat di kota lain. Seseorang sedang memindahkan sisa uang jaringan, bahkan saat mereka duduk membaca laporan.
Albert meminta lokasi perangkat dilacak. Sinyalnya mengarah ke sebuah hotel di pinggir kota, hotel yang pernah digunakan keluarganya untuk menampung tamu perusahaan bertahun-tahun lalu.
Mereka berangkat sore itu juga. Di meja depan, Albert meminta daftar tamu dengan surat perintah polisi. Nama yang muncul membuatnya terdiam.
Bibi Lastri. Pengasuh Akira, perempuan yang selama ini dipercaya keluarga.
Akira menggeleng cepat. “Bibi Lastri tidak mungkin terlibat. Dia yang mengurusku sejak kecil. Dia yang menungguiku setiap kali aku sakit.”
“Kita lihat dulu,” kata Albert, tetapi ia menggenggam tangan istrinya erat-erat sepanjang lorong.
Mereka menemukan Bibi Lastri di kamar nomor dua belas. Perempuan itu sedang duduk di tepi ranjang dengan laptop terbuka di pangkuannya. Ketika pintu dibuka dan ia melihat Akira berdiri di sana, wajahnya langsung runtuh.
“Non Akira...”
Ia menutup laptop dan menangis.
“Bibi tidak mencuri uang,” katanya. “Bibi hanya menjalankan perintah seseorang.”
“Siapa?” tanya Albert.
Bibi Lastri membuka tasnya dan menyerahkan surat yang sudah kusut di lipatannya. Surat itu dikirim Damian. Ia diperintahkan menggunakan identitas Albert karena dahulu bekerja sebagai pengurus rumah keluarga Sofia dan memiliki akses terhadap dokumen Akira.
“Damian mengancam akan membunuh anak saya jika saya menolak,” katanya. “Anak saya baru dua belas tahun waktu itu, Non. Bibi tidak berani lapor. Bibi tidak tahu harus lapor kepada siapa.”
Akira berlutut di depan perempuan tua itu dan memeluknya. Kemarahannya ada, tetapi ia tahu persis ke mana kemarahan itu harus diarahkan, dan bukan kepada seseorang yang dipaksa memilih antara majikan dan anaknya sendiri.
Namun, pemeriksaan malam itu membuka hal lain. Rekening tersebut tidak hanya digunakan untuk uang Damian. Ada transaksi lama, jauh lebih tua, yang berasal dari perusahaan ayah Albert.
Pak Surya membolak-balik lembar mutasi dengan alis berkerut, lalu berhenti.
“Rekening ini dibuat atas permintaan ayah Anda sebelum kematiannya,” katanya. “Kemungkinan besar untuk menyimpan uang yang ingin beliau kembalikan kepada keluarga Sofia.”
Albert membuka catatan transfer satu per satu. Pada setiap transaksi terdapat kode empat huruf yang sama. Ia menatap kode itu lama sebelum menyadari bahwa itu adalah huruf awal nama ibunya.
“Ayah saya mungkin menyimpan uang itu untuk mengungkap Damian,” katanya pelan. “Dia meninggalkan tanda.”
Damian yang sedang ditahan dipanggil untuk pemeriksaan tambahan keesokan harinya. Ia duduk dengan borgol di pergelangan tangan, tetapi sikapnya tetap seperti orang yang merasa lebih pintar dari semua orang di ruangan itu. Ia akhirnya mengaku menggunakan rekening tersebut, tetapi menyangkal membuatnya.
“Ayahmu sendiri yang membuka rekening itu. Saya hanya menemukan aksesnya setelah kematiannya.”
“Siapa yang memberi tahu Anda?”
Damian menatap Albert lurus-lurus, menikmati jeda sebelum menjawab.
“Ibumu.”
Albert tidak mampu berbicara. Ia keluar dari ruangan itu tanpa pamit.
Sore harinya ia mengunjungi Mama Richard di rumah tahanan. Perempuan itu tampak lelah, kulitnya kusam di bawah lampu neon, tetapi ia tetap duduk tenang dengan punggung tegak.
“Mama membuka rekening itu bersama Ayah?”
Perempuan itu mengangguk tanpa ragu. “Ayahmu ingin mengembalikan uang kepada Sofia secara diam-diam. Tapi Damian memergoki kami. Dia mengancam akan menggunakan rekening itu untuk menyalahkanmu jika kami melawannya.”
“Kenapa Mama tidak memberi tahu saya?”
“Karena saat itu kamu masih terlalu muda dan mudah dikuasai amarah.”
Albert menunduk menatap meja. Selalu itu jawabannya. Semua orang selama ini memutuskan sesuatu atas namanya, lalu mengira itu sebagai bentuk perlindungan, sementara ia tumbuh besar dengan kebencian yang mereka tanam tanpa sengaja.
“Uang itu masih ada?”
Mama Richard menuliskan sesuatu di secarik kertas dan mendorongnya ke seberang meja. Kode tambahan.
“Sebagian sudah dipindahkan ke rekening aman. Gunakan untuk mengembalikan hak keluarga Sofia dan memperbaiki kerugian para korban.”
Akira, yang datang bersama Albert dan sejak tadi diam di kursi sebelah, akhirnya berbicara.
“Mama tidak perlu menanggung semua kesalahan sendirian,” katanya. “Tetapi kami juga tidak bisa pura-pura semuanya baik-baik saja.”
Mama Richard menatapnya lama, lalu mengangguk. “Saya mengerti.”
Bank membuka rekening tersebut dua hari kemudian, setelah Pak Surya menyerahkan kode dan surat pengadilan. Di dalam ruang brankas yang dingin, petugas menyerahkan berkas isi rekening.
Di dalamnya terdapat sejumlah dana besar dan satu dokumen terakhir dari ayah Albert, ditulis tangan dan ditandatangani di atas meterai.
Dokumen itu menyatakan bahwa uang tersebut bukan milik keluarga Albert, melainkan milik korban penggelapan, dan harus dikembalikan setelah kebenaran terbongkar.
Albert membacanya dua kali. Lalu ia meminta pena.
Ia menandatangani pemindahan dana kepada yayasan bantuan korban hari itu juga. Akira menyetujui tanpa ragu karena sebagian dana juga digunakan untuk memulihkan keluarga Sofia.
“Akhirnya uang ini kembali kepada orang-orang yang berhak,” kata Akira.
Setelah urusan bank selesai, mereka duduk di taman hotel. Hari mulai sore, angin membawa bau rumput yang baru dipotong, dan udara terasa jauh lebih ringan daripada seminggu terakhir.
“Aku lelah menemukan rahasia keluargaku,” kata Albert. Ia menyandarkan kepala ke sandaran bangku dan memejamkan mata.
Akira menyandarkan kepala di bahunya. “Mungkin sekarang sudah hampir habis.”
Albert tersenyum tanpa membuka mata. “Aku berharap begitu.”
Mereka duduk seperti itu beberapa menit, hanya mendengar suara burung dan air mancur, sampai langkah tergesa terdengar di jalan setapak.
Pak Surya datang membawa tablet di tangan dan napas yang belum teratur.
“Pengadilan sudah menetapkan Damian sebagai dalang utama,” katanya. “Tapi penyidik masih mencari satu orang lagi. Orang yang membantu memalsukan identitas Anda saat rekening itu dibuka.”
“Namanya ada?” tanya Albert.
“Baru ditemukan satu jam lalu. Tercatat di file digital terakhir.”
Pak Surya memutar layar tablet itu ke arah mereka.
Namanya Akira Sofia.
Akira memandang layar dengan wajah pucat. Seseorang telah menggunakan identitasnya juga.