Akira menatap layar laptop tanpa berkedip. Namanya tercatat di sana sebagai orang yang membantu membuka rekening rahasia, lengkap dengan nomor identitas dan tanda tangan digital yang meniru tulisannya.
“Aku tidak pernah menandatangani dokumen itu,” katanya.
Pak Surya mengangguk. “Kami tahu. Tapi seseorang memiliki salinan identitasmu sejak lama.”
Albert menghubungi bank dan meminta salinan berkas pembukaan rekening dikirim malam itu juga. Ketika dokumen itu sampai, ia langsung memeriksa tanggalnya.
Tahun pembukaan rekening tercatat saat Akira masih duduk di bangku sekolah.
“Umurmu berapa waktu itu?” tanya Albert.
“Lima belas.”
“Tidak mungkin kamu yang melakukannya,” kata Albert. Ia meletakkan kertas itu di meja. “Siapa yang memiliki dokumen keluarga saat itu?”
Akira berpikir. Ia mengingat kotak besi di ruang kerja ayahnya, lalu mengingat siapa yang membawanya pergi setelah pemakaman.
“Paman,” jawabnya. “Setelah Ayah meninggal, semua dokumen perusahaan dan keluarga diurus olehnya.”
Paman Akira masih ditahan, tetapi ia menolak menjawab satu pun pertanyaan tentang rekening tersebut. Ia hanya duduk diam dan tersenyum, seolah menyimpan kartu terakhir.
Penyidik tetap bergerak. Mereka menemukan bahwa sebagian uang dari rekening itu digunakan untuk membayar orang-orang yang bertugas mengawasi Akira, lengkap dengan laporan bulanan tentang ke mana gadis itu pergi.
“Jadi Paman menggunakan identitasmu untuk mengendalikan uang, lalu Damian menggunakan rekening itu untuk menjebak Albert,” kata Pak Surya.
Akira merasa bersalah meskipun tahu bukan dirinya yang melakukan. Perasaan itu tidak masuk akal, tetapi tetap ada, menempel seperti bau asap di baju.
Albert menggenggam tangannya. “Jangan menyalahkan diri sendiri.”
“Namaku dipakai untuk menghancurkan keluargamu.”
“Yang menghancurkan kita adalah orang-orang yang memilih berbohong.”
Pengacara mengajukan permohonan agar Akira tidak ditetapkan sebagai tersangka. Namun, sebelum keputusan keluar, salinan dokumen itu bocor ke media. Judul-judul berita bermunculan dalam satu malam, semuanya menuduh Akira sebagai penggelap dana.
Akira kembali menjadi sasaran. Fotonya dipasang di mana-mana, sebagian diambil dari hari pernikahannya. Perusahaan Albert mengalami tekanan baru dan beberapa klien membatalkan kontrak.
Pagi itu, Akira meletakkan surat di atas meja makan.
“Aku akan mengundurkan diri dari perusahaan.”
Albert langsung menolak. Ia bahkan tidak membaca suratnya. “Kamu tidak perlu kabur setiap kali orang lain menyerang.”
“Aku tidak ingin menjadi bebanmu.”
“Kamu bukan beban.” Albert menatapnya. “Kamu adalah orang yang paling jujur dalam hidupku.”
Akira menunduk, tidak tahu harus menjawab apa.
Mereka mengadakan konferensi pers bersama dua hari kemudian. Ruangan penuh, lampu kamera menyala terus-menerus. Pak Surya memperlihatkan bukti bahwa identitas Akira dicuri ketika ia masih di bawah umur. Paman Akira telah menggunakan dokumen tersebut bertahun-tahun sebelum Albert bahkan mengenal Akira.
Mia dan Sofia memberikan kesaksian bahwa Akira tidak pernah terlibat transaksi apa pun.
Perlahan, nada berita mulai berubah. Namun, di akhir sesi, seorang wartawan mengangkat tangan dan bertanya apakah Albert masih mempertahankan pernikahannya setelah semua skandal ini.
Ruangan hening. Akira menatap meja, bersiap mendengar jawaban diplomatis.
Albert menoleh kepadanya lebih dulu, lalu menjawab ke arah mikrofon.
“Saya mempertahankan istri saya karena saya percaya kepadanya. Tidak ada berita yang bisa mengubah hal itu.”
Akira menunduk dengan mata berkaca-kaca dan tidak mengangkat wajahnya sampai lampu-lampu kamera padam.
Setelah konferensi, penyidik datang membawa temuan baru. File identitas Akira pertama kali diunggah dari sebuah komputer rumah sakit.
Rumah sakit itu adalah tempat ibu Albert meninggal.
Mereka kembali ke sana bersama polisi keesokan paginya. Ruang arsip lama sudah direnovasi menjadi ruang tunggu, tetapi server lama masih tersimpan di gudang bawah tanah, berdebu dan terlupakan di balik tumpukan kursi rusak.
Teknisi menyalakannya dengan susah payah. Dari data yang masih bisa dibaca, mereka menemukan nama seorang administrator: Hilda. Perempuan itu mengundurkan diri tidak lama setelah kematian ibu Albert dan kini tinggal di kota lain.
Hilda menerima mereka di rumah kecilnya dengan tangan gemetar. Ia mengaku menerima dokumen dari paman Akira dan menyerahkannya kepada seseorang yang mengaku sebagai pengacara keluarga Albert.
“Apakah Anda ingat namanya?” tanya penyidik.
Hilda masuk ke kamar dan kembali membawa dompet tua. Dari dalamnya ia mengeluarkan sebuah kartu nama yang sudut-sudutnya sudah menguning.
Nama yang tertulis adalah Damian.
Albert menatap kartu itu lama. Damian ternyata sudah menggunakan identitas Akira sejak sebelum Albert memulai rencana balas dendam. Lelaki itu sengaja menciptakan jejak transaksi agar kelak Akira dapat disalahkan, bertahun-tahun sebelum mereka bertemu.
Akira merasa lega karena namanya akhirnya bisa dibersihkan. Namun ada sedih yang tertinggal: sejak ia masih remaja, begitu banyak orang telah memperlakukannya sebagai alat, dan tidak satu pun dari mereka pernah menganggapnya manusia.
Albert mengajaknya pulang sore itu. Sesampainya di rumah, ia tidak langsung naik ke kamar, melainkan berhenti di depan sebuah pintu di lantai bawah yang selama ini tidak pernah digunakan.
Ia membukanya.
“Aku ingin menjadikannya ruang kerja untukmu,” katanya.
“Kamu tidak perlu memberikan ruang khusus.”
“Aku ingin kamu memiliki sesuatu yang benar-benar milikmu di rumah ini.”
Akira melangkah masuk. Ruangan itu sudah dibersihkan, tirainya diganti, dan ada meja kayu menghadap jendela taman. Di atas meja terdapat dua bingkai foto: foto mereka saat bermain hujan, diambil diam-diam oleh Dewi, dan foto hasil pemeriksaan kandungan mereka.
“Kapan kamu menyiapkan semua ini?”
“Saat kamu menghadiri konferensi pers.”
Akira memeluk Albert, menekan wajahnya ke dada laki-laki itu. Untuk beberapa saat, mereka melupakan semua masalah, wartawan, dan nama-nama yang berkeliaran di kepala.
Namun, malam itu Pak Surya datang lagi, kali ini tanpa mengabari lebih dulu. Ia membawa hasil pemeriksaan rekening yang baru selesai.
Ada satu transfer terakhir dari akun atas nama Akira menuju sebuah panti asuhan di kota lain.
“Berapa lama ini berjalan?” tanya Albert.
“Hampir lima tahun. Setiap bulan.”
Yang lebih aneh lagi, panti tersebut tidak ada dalam catatan pemerintah. Tidak terdaftar, tidak pernah diperiksa. Dan semua anak di dalamnya menggunakan nama keluarga Sofia.
Akira menatap dokumen itu dengan wajah terkejut.
“Aku tidak pernah tahu tempat ini.”
Albert menatapnya. “Mungkin ada orang yang menggunakan identitasmu untuk membangun keluarga baru.”
Mereka memutuskan mendatangi panti itu keesokan hari, sepagi mungkin, sebelum ada yang sempat bergerak lebih dulu.
Sebelum tidur, Akira duduk di tepi ranjang sambil memeriksa ponselnya. Sebuah pesan masuk dari nomor anonim.
“Jika ingin mengetahui kenapa namamu dipakai, datanglah ke panti sebelum orang-orang di dalamnya dipindahkan.”
Akira menunjukkan pesan tersebut kepada Albert.
Laki-laki itu membacanya sekali, lalu meletakkan ponsel dengan hati-hati di atas nakas, seolah benda itu bisa meledak.
Ia langsung tahu bahwa masa lalu mereka belum sepenuhnya berakhir.