Marcus tidak pergi sampai malam. Ia duduk di ruang tunggu kantor polisi selama tiga jam, menolak kopi yang ditawarkan, lalu meminta satu hal yang membuat semua orang di ruangan itu terdiam.
“Periksa sidik jari saya,” katanya. “Bandingkan dengan apa pun yang kalian temukan di rumah itu. Termasuk senjatanya.”
“Anda tidak wajib,” kata Pak Surya.
“Saya tahu,” jawab Marcus. “Tapi selama saya masih jadi bayangan di rekaman itu, anak saya akan hidup seperti Albert. Membenci orang yang salah.”
Hasilnya keluar dua hari kemudian, dibacakan di ruang rapat kecil dengan Albert, Akira, dan Harlan duduk berhadapan dengan Marcus.
Sidik jari Marcus memang ditemukan di rumah itu. Di gagang pintu samping, di sandaran kursi, di satu gelas yang tidak pernah dicuci. Ia memang berada di sana malam itu.
Tetapi pada senjata, sidik jarinya tidak ada sama sekali.
Albert meletakkan berkas itu perlahan. Rasanya seperti menurunkan sesuatu yang sudah terlalu lama ia panggul.
“Ceritakan,” katanya. “Dari awal. Jangan ada yang dilewati.”
Marcus mengangguk. Ia memutar cincin di jarinya sekali, kebiasaan lama yang selalu muncul kalau ia gugup.
“Malam itu ayahmu menelepon saya,” katanya. “Jam sembilan lewat. Suaranya kacau. Dia bilang, ‘Datang sekarang, saya tidak bisa percaya siapa pun di rumah ini.’ Cuma itu. Telepon langsung ditutup.”
“Dan kamu datang.”
“Saya datang. Tiga puluh menit dari rumah saya ke sana. Di jalan saya menelepon balik empat kali, tidak diangkat.” Marcus menelan ludah. “Waktu saya sampai, pintu depan terkunci. Saya lewat samping. Lampu ruang kerja menyala.”
Akira menggeser duduknya sedikit. Ia tahu bagian ini akan sulit didengar Albert.
“Ibumu sudah tergeletak,” kata Marcus pelan. “Saya periksa napasnya. Tidak ada. Tangan saya penuh darah, Albert. Saya tidak tahu harus apa.”
Ruangan itu hening. Albert menatap meja, rahangnya mengeras.
“Lalu?”
“Lalu saya dengar suara di ruang sebelah. Laci ditarik, kertas dilempar. Saya kira ayahmu.” Marcus menggeleng. “Bukan. Damian. Dia sedang membongkar lemari arsip. Buru-buru, tapi tidak panik. Seperti orang yang sudah tahu di mana harus mencari.”
“Dia melihatmu?”
“Dia melihat saya, lalu tersenyum,” kata Marcus. “Itu yang tidak pernah bisa saya lupakan. Orang itu baru saja berdiri beberapa meter dari mayat, dan dia tersenyum.”
Marcus berhenti sebentar untuk menenangkan napasnya.
“Saya melihat Damian mengambil koper,” katanya. “Namun, saya tidak sempat menghentikannya.”
“Kenapa?” suara Albert hampir tidak terdengar.
“Karena dia bilang, kalau saya bergerak, dia akan bilang ke polisi bahwa saya yang menembak.” Marcus menunjukkan telapak tangannya, seolah darah itu masih di sana. “Dan waktu itu, dengan tangan saya seperti itu, siapa yang akan percaya saya?”
Pak Surya mencatat cepat. Ia mengangkat kepala.
“Koper seperti apa?”
“Kulit cokelat, gagangnya logam. Berat. Dia menyeretnya, bukan mengangkat.”
Pencarian dimulai keesokan harinya. Berkas-berkas lama perusahaan dibuka kembali, dan dari catatan bank yang ditinggalkan Damian di brankas kantor, mereka mulai memahami isi koper itu.
Bukti aliran uang. Rekening-rekening yang berputar dari perusahaan cangkang ke yayasan, lalu ke panti. Dan foto-foto. Puluhan foto anak-anak yang dikumpulkan jaringan, lengkap dengan nama dan usia di baliknya.
Akira meletakkan satu foto dan tidak mau menyentuh yang lain. Tangannya dingin.
“Dia menyimpan semuanya,” katanya. “Kenapa? Kalau dia pelakunya, kenapa buktinya tidak dimusnahkan?”
Albert menatap kosong ke tumpukan itu. Jawabannya datang sendiri, dan membuat perutnya mual.
“Karena bukti ini bukan beban buat Damian,” katanya. “Ini modal. Selama dia pegang koper itu, keluargaku tidak bisa bicara, dan keluarga ibumu juga tidak. Dia bisa memeras dua keluarga sekaligus sampai mati.”
Rumah lama itu didatangi sore harinya. Rumah yang sudah belasan tahun tidak ditinggali, dengan kain penutup di atas perabot dan bau kayu lembap yang menusuk. Albert berjalan pelan, menghindari ruang kerja, sampai Akira menariknya berhenti di dekat tangga.
“Dengar,” katanya.
Ia mengetuk dinding di bawah tangga. Bunyinya kosong.
Butuh dua puluh menit untuk membuka panel itu. Di baliknya ada ruang sempit setinggi orang menunduk. Di dalamnya, tergeletak di lantai berdebu: sebuah koper kulit cokelat dengan gagang logam.
Kosong.
Dan di sampingnya, satu kaset suara kecil.
Mereka memutarnya malam itu juga di kantor polisi. Kualitasnya buruk. Ada dengung, ada suara kursi digeser. Lalu terdengar suara laki-laki yang membuat bulu kuduk Albert berdiri.
Damian. Lebih muda, lebih cepat bicara, tetapi tidak salah lagi.
“...jangan di luar. Di ruang kerja. Pastikan dia sendirian.”
Suara kedua, lebih berat, menjawab pendek. Darto.
“Kalau ada orang lain?”
“Tidak akan ada. Sudah diatur.”
“Uangnya?”
“Sudah dikirim. Yang membayar tidak mau namanya—”
Rekaman itu terputus. Hanya desis pita kosong yang tersisa.
Semua orang di ruangan itu menunggu, seolah suara itu akan kembali kalau mereka cukup sabar. Tidak kembali.
“Sialan,” gumam Harlan.
“Tiga detik,” kata Pak Surya. “Tiga detik lagi dan kita punya semuanya.”
“Berarti Damian bukan yang paling atas,” kata Albert.
“Atau dia ingin kita mengira begitu,” sahut Akira pelan.
Mereka pulang lewat tengah malam. Akira tertidur di mobil dengan kepala bersandar ke bahu Albert, dan untuk pertama kalinya dalam seminggu, Albert merasa mereka bergerak ke arah yang benar.
Telepon itu berdering pukul enam pagi.
Pak Surya tidak basa-basi.
“Rina meninggal.”
Albert berdiri terlalu cepat sampai kursinya jatuh.
“Apa?”
“Ditemukan pembantunya pagi ini. Di ruang tamu. Tidak ada bekas paksa masuk, tidak ada barang hilang.” Suara di seberang terdengar berat. “Dokter bilang serangan jantung. Tapi kotak biskuit kalengnya terbuka dan isinya berantakan.”
Akira sudah berdiri di ambang pintu dengan tangan menutup mulut. Ia mendengar semuanya.
“Dia dibungkam,” kata Akira setelah telepon ditutup. Suaranya bergetar. “Kemarin dia masih bicara dengan kita, Albert. Kemarin.”
Albert menariknya mendekat. Ia merasakan tubuh Akira gemetar dan tangannya sendiri ikut dingin, tetapi ia menahan itu jauh di dalam.
“Aku takut,” bisik Akira. “Semua orang yang bicara, mati.”
“Aku tahu.”
“Aku takut yang berikutnya kamu.”
Albert mengangkat wajah Akira supaya perempuan itu menatapnya.
“Dengarkan aku baik-baik,” katanya. “Mereka membunuh orang yang bicara sendirian. Rina sendirian selama belasan tahun. Kita tidak. Ada polisi, ada Harlan, ada Marcus, ada bukti yang sudah masuk berkas dan tidak bisa dihilangkan lagi.”
Akira mengangguk kecil, meski matanya masih basah.
“Kita tidak akan berhenti,” kata Albert. “Sampai semua yang terlibat punya nama dan nomor perkara. Semuanya.”