Pemakaman Rina berlangsung cepat dan sepi. Hanya ada belasan orang, kebanyakan tetangga. Albert berdiri di barisan paling belakang, memegang payung untuk Akira meski hari tidak hujan, hanya mendung yang menggantung sejak pagi.
Seusai doa, seorang laki-laki muda mendekat. Wajahnya sembap, matanya merah.
“Saya anaknya,” katanya. “Ibu pernah cerita tentang Anda. Katanya kalau suatu hari ada laki-laki datang menanyakan masa lalu, saya harus memberikan ini.”
Ia menyodorkan bungkusan plastik. Di dalamnya sebuah buku harian bersampul kain bunga, sudah pudar dan berjamur di sudutnya.
“Ibu menulis hampir tiap malam,” katanya. “Saya tidak pernah berani membacanya.”
Albert menerimanya dengan dua tangan. “Terima kasih.”
“Pak.” Laki-laki itu menahan lengannya sebentar. “Ibu saya bukan orang jahat. Dia cuma takut. Seumur hidup dia takut.”
“Saya tahu,” kata Albert. Dan ia betul-betul tahu, karena ia sendiri sudah terlalu lama hidup dengan perasaan yang sama, hanya dengan nama lain: dendam.
Mereka membaca buku itu malam harinya, di meja makan, dengan lampu gantung menyala terlalu terang. Akira membalik halaman satu per satu sementara Albert membaca dari sisi lain meja.
Sebagian besar isinya biasa saja. Harga cabai. Anak yang demam. Kerinduan pada suami yang sudah meninggal. Lalu, menjelang tengah buku, tulisannya berubah. Hurufnya lebih kecil, lebih rapat, seperti ditulis tergesa.
Akira berhenti pada satu halaman.
“Albert.”
Ia memutar buku itu.
Uang datang lagi hari ini. Bukan dari D. langsung. Dari orang yang menyebut dirinya Nona B. Aku tidak pernah melihat wajahnya. Suaranya tenang sekali, seperti orang yang tidak pernah kekurangan apa pun.
Albert membaca kalimat itu dua kali.
“Nona B,” katanya. “Bukan Damian.”
“Berarti ada yang di atas Damian,” kata Akira. Ia menyandarkan punggung, satu tangannya spontan turun ke perutnya yang mulai membulat. “Atau di sampingnya.”
Pak Surya butuh empat hari. Ia menelusuri semua transfer yang tercatat di buku Darto, mencocokkannya dengan rekening yang sudah dibuka penyidik, lalu mengejar satu perusahaan kecil yang mengirim uang paling sering.
Ia datang ke rumah pada Jumat pagi, meletakkan map di meja, dan tidak duduk.
“Saya sudah dapat nama di balik inisial itu,” katanya.
“Siapa?” tanya Albert.
Pak Surya menatapnya sebentar, seolah menimbang apakah orang di depannya siap.
“Beatrice.”
Albert tidak bergerak. Akira yang menoleh cepat kepadanya.
“Beatrice siapa?”
“Saudara perempuan ayahku,” jawab Albert. Suaranya terdengar jauh. “Tante Bea. Dia yang membelikan aku sepeda waktu ulang tahun kesepuluh.”
Beatrice sudah lama tidak menginjak Indonesia. Ia tinggal di Singapura, memiliki perusahaan investasi yang namanya sering muncul di berita keuangan, dan menolak tiga panggilan pertama dari pengacara Albert.
Panggilan keempat diangkat.
Layar menyala, menampilkan perempuan berusia enam puluhan dengan rambut disanggul rapi, duduk di depan rak buku yang tertata seperti etalase. Ia tidak terkejut. Itu yang paling mengganggu Albert: perempuan itu sama sekali tidak terkejut.
“Kenzi,” katanya. “Aku sudah menunggu telepon ini selama tujuh belas tahun.”
“Tante mengirim uang kepada Rina.”
“Ya.”
Jawaban itu datang tanpa jeda. Akira menegakkan duduknya.
“Kenapa?” tanya Albert.
“Karena waktu itu semua orang di keluarga kita sedang membeli sesuatu,” kata Beatrice. “Ayahmu membeli waktu. Damian membeli orang. Dan aku membeli keamanan.”
“Keamanan untuk siapa?”
“Untuk perusahaan. Untuk namamu, kalau kamu mau tahu. Untuk warisan yang sekarang kamu pakai membiayai pengacara-pengacara ini.” Ia mengatupkan tangannya di atas meja. “Saya takut Damian menghancurkan keluarga kami,” katanya. “Kamu tidak pernah lihat orang itu di ruang rapat, Kenzi. Dia bisa membuat satu perusahaan lenyap dalam dua minggu.”
“Jadi Tante membayar dia?”
“Aku membayar supaya dia tidak menyentuh apa yang kami punya.” Suaranya tetap tenang, dan justru itu yang membuat Albert marah. “Rina hanya perantara. Aku tidak pernah bertemu dengannya.”
Akira mencondongkan badan ke arah kamera.
“Tante tahu ibu Albert sedang menyelidiki panti itu?”
Untuk pertama kalinya, Beatrice berhenti sejenak.
“Tahu,” katanya. “Semua orang di rumah itu tahu. Kakakku dan istrinya bertengkar hampir setiap malam karena hal itu.”
“Bertengkar soal apa?” tanya Albert.
“Soal anak-anak.” Beatrice menghela napas panjang. “Ibumu ingin semuanya dibuka. Dilaporkan, disiarkan, biar hancur sekalian. Ayahmu setengah setuju, setengah takut. Dan aku... aku bilang jangan.”
“Kenapa jangan?”
“Karena kalau jaringan itu jatuh, semua yang menempel padanya ikut jatuh. Termasuk kami. Termasuk kamu yang waktu itu masih sekolah.” Ia menatap lurus ke kamera. “Aku memilih menyelamatkan aset keluarga. Aku tidak akan berpura-pura itu keputusan mulia.”
Ruang kerja itu sunyi. Albert merasa ada sesuatu yang retak pelan-pelan di dadanya, bukan karena kejutan, tetapi karena kejujuran yang datang terlambat belasan tahun.
“Tante yang menyuruh Darto menembak ibu saya?”
Beatrice memejamkan mata.
“Saya tidak memerintahkan penembakan,” katanya. “Namun, saya mungkin memberi Damian akses kepada Darto.”
“Mungkin?”
“Aku yang memperkenalkan mereka. Aku yang bilang Darto orang yang bisa dipakai untuk urusan sulit.” Suaranya akhirnya bergetar sedikit. “Aku tidak pernah menyebut kata bunuh, Kenzi. Tapi aku menyerahkan kuncinya. Itu yang tidak bisa aku cuci sampai sekarang.”
Percakapan itu direkam, disalin, dan diserahkan ke penyidik sore itu juga.
Tiga hari kemudian, Beatrice terbang ke Jakarta atas kemauannya sendiri. Ia turun dari pesawat, menemui penyidik, dan memberikan keterangan selama enam jam. Polisi menetapkannya sebagai saksi kunci.
Di ruang pemeriksaan yang berbeda, di gedung yang sama, Damian membaca berita acara itu dengan wajah yang mulai kehilangan bentuk sombongnya.
Ia diam lama. Lalu tertawa pendek, tanpa suara.
“Bea memang selalu pintar menyelamatkan diri,” katanya.
“Jadi keterangannya benar?” tanya Pak Surya.
“Sebagian.” Damian mengangkat bahu. “Ya, dia yang mematikan alarm pintu belakang malam itu. Ya, dia yang memastikan tidak ada penjaga di lantai dua. Tanpa dia, tidak akan ada yang bisa masuk.”
“Dan Anda yang menembak.”
“Saya tidak pernah memegang senjata itu,” kata Damian. “Cari orang lain untuk itu.”
Albert mendengar rekamannya malam itu di rumah, dengan Akira duduk di sampingnya dan tangan mereka bertaut di atas sandaran sofa.
Ia menyadari sesuatu yang membuat dadanya terasa lapang sekaligus perih.
Selama tujuh belas tahun ia mengejar satu pertanyaan: siapa yang menarik pelatuk. Ternyata pertanyaan itu terlalu kecil. Ibunya tidak mati hanya karena satu jari di pelatuk, tetapi karena begitu banyak orang memilih diam, membuka pintu, mengalihkan perhatian, dan berkata pada diri sendiri bahwa mereka hanya sedang menyelamatkan sesuatu.
Kebenaran bukan hanya tentang siapa yang menarik pelatuk, melainkan siapa yang membiarkan kejahatan itu terjadi.