Notaris itu sudah berumur tujuh puluh dua tahun dan tinggal di rumah bergaya lama di pinggir kota, dengan kantor kecil di bagian depan yang sudah tidak menerima klien sejak lima tahun lalu.
Pak Surya menemukannya setelah menelusuri kop surat di lembar yang diselipkan ke dalam dokumen keluarga Sofia. Lambangnya sudah tidak dipakai lagi, tetapi nomor registrasinya masih terdaftar.
Mereka datang bertiga: Pak Surya, Albert, dan Akira yang bersikeras ikut meski Leon sudah menyarankan sebaliknya.
“Saya sudah menunggu seseorang datang menanyakan berkas itu,” kata notaris tua itu sambil menuang teh yang tidak diminum siapa pun. Tangannya bergetar karena usia, bukan karena takut. “Sudah lama sekali.”
“Bapak ingat dokumennya?” tanya Pak Surya.
“Saya ingat semua dokumen yang membuat saya tidak bisa tidur,” katanya. “Yang itu salah satunya.”
Ia berdiri, berjalan pelan ke lemari besi di sudut ruangan, membuka gembok dengan kunci yang digantungkan di lehernya sendiri, lalu mengeluarkan map berwarna hijau lumut.
“Dibuat tiga bulan setelah Nyonya Erdinata meninggal,” katanya sambil meletakkan map itu. “Tuan Damian yang datang. Bukan lewat janji, bukan lewat sekretaris. Dia datang sendiri, malam hari, membawa naskah yang sudah jadi. Saya hanya diminta mengesahkan.”
“Bapak sahkan?” tanya Albert. Suaranya lebih tajam dari yang ia niatkan.
Notaris itu menatapnya lama.
“Saya membubuhkan nomor,” katanya. “Saya tidak menyelesaikannya.”
“Apa bedanya?”
“Bedanya ada di halaman terakhir, Nak.”
Ia membuka map itu, membalik sampai lembar penutup, lalu menggeserkannya ke tengah meja.
Kolom tanda tangan saksi kosong. Dua kotak, dua garis, keduanya bersih tanpa coretan apa pun.
“Perjanjian seperti ini wajib disaksikan,” katanya. “Tanpa saksi, dia tidak punya kekuatan hukum apa-apa. Bukan cacat kecil—dia memang tidak pernah lahir sebagai dokumen sah.”
Akira mencondongkan badan. “Lalu kenapa Bapak simpan?”
“Karena Tuan Damian tidak butuh dokumen yang sah,” jawab notaris itu. “Dia butuh dokumen yang kelihatan sah. Dia menyalinnya, menunjukkannya ke orang-orang, dan orang-orang itu percaya. Saya menyimpan aslinya supaya suatu hari ada yang bisa membuktikan bahwa kertas itu kosong di belakangnya.”
Pak Surya membaca cepat, jarinya mengikuti baris demi baris.
“Isinya menyebut anak pertama dari garis Erdinata sebagai pemegang saham atas nama pihak-pihak dalam lampiran,” katanya. “Lampirannya tidak ada.”
“Tidak pernah ada,” kata notaris itu.
Akira menyandarkan punggung ke kursi. Ia menekan perutnya pelan dengan telapak tangan, seolah memastikan yang di dalam sana ikut mendengar.
“Jadi bayi kami tidak pernah menjadi pewaris jaringan,” katanya.
“Tidak,” jawab Pak Surya. “Ini hanya dokumen palsu yang dibuat agar keluarga terus berkonflik.”
Kalimat itu jatuh ke ruangan kecil berbau kertas tua, dan untuk beberapa detik tidak ada yang bergerak.
Lalu Akira menangis. Tanpa suara, tanpa isak, hanya air mata yang jatuh dan tidak ia usap.
Albert mengambil satu salinan dari map itu—bukan yang asli, salinan yang memang dibuat untuk arsip. Ia berdiri, memegang kertas itu di depan Akira, dan menatap istrinya.
“Lihat aku,” katanya.
Akira mengangkat wajahnya.
Albert merobek kertas itu jadi dua. Lalu empat. Lalu terus, sampai potongan-potongannya jatuh ke lantai kayu yang mengilap.
“Tidak ada kertas,” katanya, “yang boleh menentukan siapa anak kita nanti. Tidak surat perjanjian, tidak akta, tidak marga, tidak nama keluargaku. Dia akan jadi siapa pun yang dia mau.”
Notaris tua itu memperhatikan dari balik meja, lalu mengangguk pelan, seperti orang yang baru saja selesai membayar sesuatu.
Mereka pulang dengan perasaan yang paling ringan sejak berminggu-minggu. Di mobil, Akira tertidur dengan kepala di bahu Albert, dan Albert membiarkan tangannya mati rasa daripada menggeser posisi sedikit pun.
Kelegaan itu bertahan sampai pukul sembilan malam.
Leon menelepon dari kantor notaris. Ia masih di sana, memotret seluruh isi map bersama tim penyidik.
“Ada yang harus Anda lihat,” katanya. “Bukan di perjanjiannya. Di buku tamunya.”
“Buku tamu?”
“Notaris lama selalu punya buku hadir. Siapa datang, jam berapa, tanda tangan.” Terdengar suara halaman dibalik. “Malam ketika Damian datang, ada dua nama. Damian dan satu orang lagi. Orang itu menandatangani kolom saksi di buku, meski di dokumennya dia tidak pernah ikut tanda tangan.”
Albert menyalakan lampu ruang kerja. “Siapa?”
“Namanya Rudi,” kata Leon. “Ditulis lengkap dengan gelar. Dokter.”
Akira, yang berdiri di ambang pintu dengan segelas susu di tangan, berhenti bergerak.
“Dokter Rudi?” katanya.
Albert menoleh cepat. “Kamu kenal?”
Gelas itu diletakkannya di meja, terlalu keras sampai isinya tumpah sedikit.
“Dia dokter kandungan Mama,” kata Akira. “Dulu. Yang membantu kelahiranku.”
Rumah itu berada di kota pegunungan, empat jam perjalanan, di jalan yang menyempit setiap kali naik.
Polisi menelepon lebih dulu. Dr. Rudi mengangkat, mendengarkan tiga kalimat, lalu berkata dengan tenang bahwa ia tidak punya keterangan apa pun untuk diberikan.
“Saya sudah tua,” katanya. “Saya tidak ingat.”
“Dokter, ini soal—”
“Saya tidak ingat,” ulangnya, lalu menutup telepon.
“Orang yang tidak ingat tidak perlu buru-buru menutup telepon,” kata Pak Surya sambil memasukkan ponselnya ke saku. “Dia ingat semuanya.”
Akira tidak bisa tidur malam itu. Ia duduk di tepi ranjang sampai lewat pukul dua, memutar satu pertanyaan yang tidak mau pergi: kalau dokter yang membantu kelahirannya sendiri ada di ruangan itu malam Damian datang, sejak kapan sebenarnya hidupnya diawasi? Sejak ia bekerja untuk Albert? Sejak ia lahir?
Mereka berangkat pagi-pagi sekali. Kabut masih menggantung rendah di antara pohon-pohon pinus ketika mobil berhenti di depan rumah kayu bercat hijau dengan pagar rendah.
Pintunya tidak terkunci.
Leon masuk lebih dulu, Albert di belakangnya, Pak Surya menahan Akira di teras.
Rumah itu kosong.
Bukan kosong seperti ditinggalkan pemiliknya untuk berlibur—kosong seperti ditinggalkan orang yang berkemas dalam waktu kurang dari satu jam. Lemari terbuka, gantungan baju berayun, satu laci masih setengah keluar. Di dapur, cerek masih hangat.
“Baru saja,” kata Leon sambil menyentuh sisi cerek itu. “Setengah jam, mungkin kurang.”
Albert berjalan ke ruang tengah. Di sana ada meja kerja dengan lampu yang masih menyala, kertas-kertas yang sudah dibakar setengah di asbak besar, dan aroma kertas hangus yang menusuk.
Ia berdiri di depan meja itu.
Di tengahnya, satu-satunya benda yang diletakkan rapi, menghadap ke atas, seolah memang disiapkan untuk ditemukan.
Sebuah foto.
Albert mengangkatnya perlahan, dan ia mengenalinya sebelum matanya selesai membaca.
Hitam putih, berbutir, dengan angka dan tanggal tercetak di sudut kanan atas.
Foto USG bayi Akira. Pemeriksaan pertama.