Sofia datang ke rumah aman dua hari setelah mereka pulang dari kota pegunungan. Ia membawa rantang, dua kantong buah, dan wajah orang yang sudah menyiapkan kalimatnya sejak di jalan.
Ia menunggu sampai Akira selesai makan, sampai piring diangkat, sampai Albert pamit ke ruang sebelah untuk menerima telepon. Baru setelah itu ia bicara.
“Kira,” katanya. “Tinggallah sama Mama sampai kamu melahirkan.”
Akira mengangkat wajahnya.
“Ma—”
“Dengar dulu.” Sofia meletakkan kedua tangannya di meja. Jemarinya bertaut, dan buku-bukunya memutih. “Mama tahu Mama tidak berhak minta apa-apa. Mama yang membiarkan kamu tumbuh tanpa tahu apa-apa. Mama diam waktu kamu bertanya kenapa orang-orang menatap kita seperti itu. Mama kira dengan menyembunyikan semuanya, kamu jadi aman.”
“Mama—”
“Ternyata tidak,” potong Sofia. Matanya mulai basah. “Yang terjadi malah kamu masuk ke rumah orang yang membenci kita tanpa tahu kenapa dia membencimu. Kamu berjalan masuk sendiri, Kira, karena Mama tidak pernah memberimu peta.”
Akira diam lama. Di luar jendela, angin sore menggoyang pucuk-pucuk pohon di kebun.
“Kalau aku ikut Mama,” katanya akhirnya, “Albert ikut.”
Sofia mengatupkan bibir. Butuh beberapa detik sebelum ia mengangguk.
“Ya sudah,” katanya. “Dia ikut.”
Rumah aman itu akhirnya diisi lima orang dewasa, satu perempuan hamil delapan bulan, dan jadwal jaga yang ditempel di pintu dapur.
Sera mengambil giliran malam. Perempuan itu bertubuh kecil, bicaranya sedikit, dan punya kebiasaan berdiri di ujung lorong selama berjam-jam tanpa terlihat bosan. Leon mengambil pagi sampai sore, sekaligus mengatur siapa boleh masuk gerbang dan siapa tidak.
Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, hari-hari berjalan pelan.
Albert dan Sofia belum sepenuhnya bisa duduk berdua tanpa canggung. Tapi ada sore ketika Sofia menemukan Albert mencoba memasang boks bayi dengan obeng yang salah ukuran, dan perempuan itu mengambil alih tanpa berkata apa-apa. Dan ada pagi ketika Albert menyodorkan kopi ke Sofia sebelum ia sempat minta.
Perubahan kecil. Tetapi di rumah itu, hal kecil terasa besar.
Akira memperhatikan semuanya dari kursi malasnya di dekat jendela, tempat ia menghabiskan sebagian besar hari karena punggungnya sudah tidak mau diajak kompromi. Ia melihat ibunya mengajari Albert cara melipat popok kain, dan melihat Albert mendengarkan dengan serius seperti sedang menerima laporan keuangan.
“Kalian aneh,” katanya suatu kali.
“Kenapa?” tanya Sofia.
“Dulu kalian tidak mau berada di ruangan yang sama.”
Sofia mengangkat bahu. “Sekarang kami punya urusan yang sama.”
Suatu malam, ketika Akira sudah tidur dan hanya tersisa mereka berdua di ruang tengah, Sofia bicara lebih dulu.
“Aku pernah bertemu ibumu,” katanya.
Albert menoleh cepat. “Kapan?”
“Enam hari sebelum dia meninggal.”
Ruangan itu terasa mengecil.
“Dia yang mencariku,” lanjut Sofia. “Datang sendiri, tanpa sopir, ke rumah lamaku di Bandung. Kami duduk di teras seperti dua orang yang sedang bertengkar diam-diam, karena waktu itu keluarga kami memang sedang saling menyalahkan soal banyak hal.”
“Dia bilang apa?”
“Dia bilang, ‘Sofia, aku tidak peduli lagi siapa yang benar di antara kita. Yang aku peduli anak-anak kita masih kecil.’” Sofia menunduk. “Lalu dia minta satu hal. Kalau sesuatu terjadi padanya, aku harus melindungi anak-anak. Anakku dan anaknya. Dia menyebut namamu, Albert. Kenzi.”
Albert menunduk, kedua tangannya saling menggenggam di antara lutut.
“Dan aku berjanji,” kata Sofia. Suaranya pecah di ujung. “Aku berjanji, lalu enam hari kemudian dia mati, dan aku ketakutan setengah mati, dan aku lari. Aku bawa Akira, aku ganti sekolahnya, aku berhenti menyebut nama keluarga kalian di rumahku sendiri.”
“Mama.”
Suara itu datang dari ambang pintu. Akira berdiri di sana, memegang gagang pintu, rambutnya berantakan.
Sofia menghapus matanya buru-buru, tetapi sudah terlambat.
Akira berjalan mendekat, duduk di samping ibunya, dan tidak berkata apa-apa selama beberapa saat.
“Aku gagal melindungimu dari Albert,” kata Sofia akhirnya. Ia tidak berani menoleh ke arah menantunya sendiri saat mengucapkannya.
Akira menggenggam tangannya.
“Kita semua membuat pilihan karena takut,” katanya. “Yang penting sekarang kita tidak lagi berbohong.”
Sofia menangis di bahu putrinya. Albert berdiri, pindah ke jendela, dan membiarkan mereka.
Paket itu datang Rabu pagi.
Kurirnya berhenti di gerbang, menyerahkan kotak berukuran sedang kepada Leon, lalu pergi sebelum sempat ditanya banyak. Tidak ada nama pengirim. Hanya alamat rumah aman itu, ditulis dengan huruf cetak yang rapi.
Leon memeriksanya lebih dulu di luar rumah. Tidak ada kabel, tidak ada logam, tidak ada bau aneh. Baru setelah itu ia membawanya masuk dan membukanya di meja dapur dengan Albert dan Akira menonton dari jarak dua meter.
Di dalamnya ada pakaian bayi.
Bukan barang murah. Katun halus berwarna gading, tiga setel, dilipat rapi dengan kertas tipis di antaranya. Ukuran nol sampai tiga bulan. Di sudut kotak, sepasang kaus kaki kecil dan satu topi rajut.
Akira menutup mulut dengan tangan.
“Siapa yang tahu alamat ini?” tanyanya.
Tidak ada yang menjawab.
Di bawah lapisan pakaian, ada amplop putih. Leon membukanya dengan pinset, mengeluarkan selembar kertas, lalu meletakkannya di meja supaya semua bisa membaca.
Tulisannya singkat.
“Kami tidak ingin menyakitimu. Kami ingin menyelamatkan anakmu dari orang-orang yang akan menggunakannya.”
Di bawahnya, bukan tanda tangan, melainkan dua kata yang dicetak dengan huruf lebih kecil.
Ordo Baru.
Sofia berdiri dari kursinya. “Apa itu?”
“Belum pernah muncul di berkas mana pun,” kata Leon pelan. “Tidak di dokumen Damian, tidak di daftar yayasan, tidak di catatan Darto. Ini nama baru.”
“Atau nama lama yang baru dipakai,” kata Albert.
Akira mundur selangkah dari meja, tangannya menopang perutnya.
“Mereka mengirim baju,” katanya. Suaranya bergetar antara marah dan ngeri. “Mereka tahu ukurannya. Mereka tahu tanggalnya. Mereka mengirim baju untuk anakku seperti keluarga yang menunggu kelahiran.”
“Kira, duduk dulu,” kata Sofia.
“Aku tidak mau anakku memakai apa pun dari mereka.”
“Tidak akan,” kata Albert. Ia mengambil kotak itu dan menyerahkannya kepada Leon. “Bawa. Periksa semuanya.”
Butuh dua hari bagi Leon untuk mendapatkan jawaban.
Ia melacak nomor resi ke agen pengiriman di kota sebelah, lalu ke rekening yang membayar ongkos kirimnya, lalu ke satu alamat penjemputan yang tercatat di sistem mereka.
Alamat itu bukan rumah, bukan kantor, bukan gudang.
“Sebuah klinik,” katanya sambil meletakkan hasil cetaknya di meja, di depan Albert, Akira, dan Pak Surya. “Klinik kecil, tertutup, tidak menerima pasien umum. Tidak ada papan nama, tidak terdaftar di direktori kesehatan mana pun.”
Pak Surya menarik kertas itu mendekat. Matanya menyipit membaca kolom paling bawah.
“Ada nama penanggung jawabnya?” tanya Albert.
Leon mengangguk sekali.
“Ada,” katanya. “Dr. Rudi.”