Klinik itu berdiri di belakang deretan ruko tua, dengan pintu besi dan jendela yang ditutup stiker buram. Dari luar, tempat itu terlihat seperti gudang yang lupa dibongkar.
Polisi masuk pukul enam pagi. Tidak ada perlawanan, tidak ada yang lari.
Dr. Rudi sedang duduk di ruang periksa, memakai kemeja rapi dan kacamata baca, dengan tumpukan map di depannya. Ia bahkan tidak berdiri ketika pintu terbuka.
“Saya sudah menunggu sejak kemarin,” katanya.
Map-map itu berisi berkas kehamilan. Puluhan. Nama ibu, usia kandungan, hasil pemeriksaan, tanggal perkiraan lahir. Sebagian sudah berumur bertahun-tahun, kertasnya menguning. Sebagian masih baru.
Albert membuka satu map yang terletak paling atas, dan berhenti bernapas sebentar.
Nama Akira ada di sampulnya.
“Anda menyimpan data istri saya,” katanya. Suaranya pelan, dan justru itu yang membuat semua orang di ruangan menegang.
“Ya,” jawab Dr. Rudi.
“Sejak kapan?”
“Sejak minggu keenam.”
Akira, yang berdiri di belakang dengan Leon menjaga di sisinya, memegang pinggiran meja. Minggu keenam. Waktu itu ia bahkan belum memberi tahu Sofia.
“Saya tidak berniat menculik anak Anda,” kata dokter tua itu. “Saya hanya memberikan informasi perkembangan kehamilan.”
Albert bergerak begitu cepat sampai kursi di belakangnya jatuh. Ia sudah berdiri di depan meja, satu tangan mencengkeram kerah kemeja Dr. Rudi, sebelum siapa pun sempat mencegah.
“Albert!”
Suara Akira.
Bukan teriakan. Justru karena tenang, suara itu menembus.
Albert berhenti. Napasnya berat, buku-buku jarinya memutih, dan dokter itu tidak melawan sama sekali—hanya menutup mata seperti orang yang menerima sesuatu yang sudah lama ia tunggu.
“Lepaskan dia,” kata Akira. Ia berjalan mendekat, pelan karena perutnya. “Kalau kamu pukul dia sekarang, kita cuma dapat satu orang tua babak belur. Aku mau nama-nama.”
Albert melepaskan cengkeramannya. Ia mundur selangkah, lalu dua langkah, dan menegakkan kursi yang jatuh tadi.
Akira duduk di kursi itu, tepat di depan Dr. Rudi.
“Dokter kenal saya waktu saya lahir,” katanya. “Mama bilang Dokter yang pertama menggendong saya.”
Dr. Rudi menunduk. “Betul.”
“Lalu kenapa?”
Butuh waktu lama sebelum laki-laki itu menjawab.
“Karena mereka punya anak saya,” katanya akhirnya. “Bukan disandera dengan tali dan senjata. Lebih rapi dari itu. Anak saya besar di dalam sistem mereka, sekolah dengan uang mereka, kerja dengan nama mereka. Kalau saya berhenti, dia yang hilang.”
Ia membuka laci, mengeluarkan buku kas kecil dan satu amplop cokelat, lalu meletakkannya di meja.
“Ini semua pembayaran yang saya terima. Tanggal, jumlah, dari rekening mana.” Ia mendorongnya ke tengah. “Dan di dalam amplop itu ada satu nama. Nama orang yang memerintahkan semuanya.”
Pak Surya mengambil amplop itu dan membukanya dengan sarung tangan.
Selembar kertas. Satu nama.
Clara.
Pak Surya mengangkat kepala. “Clara yang mana?”
“Yang dulu menjadi asisten Tuan Damian,” kata Dr. Rudi.
“Clara sudah meninggal,” kata Pak Surya. “Kebakaran gudang. Tiga tahun lalu. Saya sendiri yang menutup berkasnya.”
“Yang terbakar di gudang itu bukan dia,” jawab dokter itu tenang. “Dia yang menyuruh saya memastikan gigi jenazahnya cocok dengan catatan medis yang saya ubah.”
Ruangan itu hening total.
“Dia yang menciptakan Ordo Baru,” lanjut Dr. Rudi. “Dia bilang jaringan lama gagal karena mengandalkan uang dan ancaman. Yang benar, katanya, adalah membesarkan orangnya sendiri.”
“Anak-anak,” kata Akira pelan.
“Anak-anak dari keluarga korban,” angguk Dr. Rudi. “Dia percaya mereka harus dikendalikan sejak lahir. Kalau dibiarkan tumbuh sendiri, katanya, mereka akan mengulangi kesalahan orang tua mereka—membalas dendam, saling menghancurkan, persis seperti generasi sebelumnya.”
Albert mengepalkan tangan di sisi tubuhnya.
“Dan anak saya?”
“Anak Anda adalah lambang yang dia tunggu-tunggu,” kata Dr. Rudi. “Darah Erdinata dan darah keluarga Sofia dalam satu tubuh. Dua keluarga yang saling membunuh selama tujuh belas tahun. Buat Clara, bayi itu bukti bahwa lingkarannya bisa disambung.”
“Itu gila,” bisik Akira.
“Ya,” kata dokter itu. “Tapi orang-orangnya percaya.”
Rekening klinik membawa mereka ke sebuah rumah dua lantai di kawasan perumahan lama, tiga jam dari kota.
Polisi bergerak malam itu juga. Albert menunggu di mobil, lima ratus meter dari lokasi, dengan radio di tangan dan jantung yang berdetak terlalu cepat.
Radio itu berbunyi empat puluh menit kemudian.
“Kosong.”
Rumah itu ditinggalkan. Tidak ada perabot yang dibawa, tidak ada tanda terburu-buru. Lemari es masih menyala, tempat tidur masih rapi. Hanya orangnya yang tidak ada.
Di lantai dua, mereka menemukan ruang pemeriksaan lengkap: meja periksa, alat USG, lemari obat, dan dinding yang dicat putih bersih.
Di dinding itu tergantung satu gambar.
Bukan foto. Gambar tangan, dibuat dengan tinta hitam, memperlihatkan janin yang meringkuk dalam lingkaran. Lingkaran itu tidak utuh—ada celah di bagian atasnya, seperti cincin yang belum selesai disambung.
Di bawahnya tertulis satu baris angka.
Albert membacanya, dan darahnya terasa dingin.
Tanggal perkiraan kelahiran bayi Akira.
Mereka pulang ke rumah aman lewat tengah malam. Akira masih terjaga, menunggu di ruang tengah dengan selimut di pangkuan, dan ia tahu dari wajah suaminya bahwa hasilnya buruk.
Albert tidak menceritakannya dengan halus. Ia sudah berhenti melakukan itu sejak lama.
Ketika selesai, Akira diam cukup lama.
“Dia tahu tanggalnya,” katanya.
“Dia tahu tanggalnya.”
Albert duduk di sampingnya, lalu menariknya ke dalam pelukan. Ia mencium puncak kepala Akira dan menahannya di sana.
“Kita akan menghadapi Clara bersama,” katanya.
Akira mengangguk di dadanya.
Lalu tubuhnya menegang.
Albert langsung menjauhkan bahunya sedikit. “Kenapa?”
“Tidak apa-apa.” Akira menekan sisi perutnya dengan telapak tangan. Napasnya pendek-pendek. “Cuma... kencang sebentar.”
“Kira.”
“Sudah hilang,” katanya. Tapi dua menit kemudian datang lagi.
Dokter jaga dipanggil ke rumah aman pukul dua pagi. Ia memeriksa dengan tenang, mengukur, mendengarkan, menanyakan beberapa hal, lalu melepas stetoskopnya.
“Belum masuk fase aktif,” katanya. “Tapi kontraksinya nyata, bukan palsu. Dan lehernya sudah mulai melunak.”
“Artinya?” tanya Albert.
“Artinya persalinan mungkin datang lebih cepat dari perkiraan,” kata dokter itu. “Siapkan semuanya dari sekarang. Jangan tunggu tanggal di buku.”
Sofia langsung berdiri mengemasi tas. Leon menelepon rumah sakit. Sera memeriksa jalur mobil.
Dan pada malam yang sama, pukul 03.11, ponsel Akira bergetar di atas meja.
Nomor tidak dikenal. Satu baris.
“Ketika anak itu lahir, kalian akan memahami mengapa semua orang takut kepadanya.”