Kontraksi itu datang lagi pukul lima pagi, lalu pukul enam, lalu setiap dua puluh menit sekali.
Akira mencoba bertahan di rumah aman sampai siang. Ia berjalan bolak-balik di ruang tengah sambil berpegangan pada punggung sofa, menolak duduk, menolak dibawa, sampai satu gelombang membuatnya berhenti di tengah langkah dan mencengkeram lengan Sofia.
“Sekarang,” kata Sofia. “Albert, sekarang.”
Mereka berangkat dengan tiga mobil. Leon di depan, Albert dan Akira di tengah, Sera dan dua petugas di belakang. Jalur sudah dipilih sejak dua hari lalu—bukan yang tercepat, melainkan yang paling sedikit lampu merahnya.
Di dalam mobil, Akira menggenggam tangan Albert setiap kali kontraksi datang, dan melepaskannya lagi ketika mereda.
Ponselnya bergetar dua kali di perjalanan. Albert mengambilnya sebelum Akira sempat melihat layar.
Nomor berbeda, kalimat yang sama gilanya. Semuanya tentang anak yang belum lahir.
“Jangan dibaca,” kata Albert.
“Aku tahu isinya,” jawab Akira lemah. “Dia mau aku ketakutan waktu melahirkan. Supaya aku ingat dia seumur hidup.”
Albert mematikan ponsel itu dan memasukkannya ke saku sendiri.
Dokter memeriksa begitu mereka tiba.
“Pembukaan dua,” katanya. “Belum masuk persalinan aktif. Tapi saya tidak akan memulangkan Ibu. Kita rawat di sini, kita pantau.”
Rumah sakit itu berubah dalam dua jam.
Lantai tempat Akira dirawat ditutup untuk pasien lain. Lift yang menuju ke sana dikunci dengan kartu. Setiap orang yang masuk—perawat, petugas kebersihan, tukang antar makanan—diperiksa dan dicatat namanya oleh polisi yang berdiri di ujung lorong.
Akira berbaring di ranjang, memandangi langit-langit dengan selang infus di punggung tangannya.
“Aku takut,” katanya.
Albert menarik kursi lebih dekat. Ia menggenggam tangan Akira dengan kedua tangannya.
“Aku di sini.”
“Kalau aku tidur, kamu jangan ke mana-mana.”
“Aku tidak ke mana-mana.”
Di luar pintu, Sofia duduk di kursi tunggu dengan tasbih di tangan. Sera berdiri di ujung lorong, punggungnya menempel dinding, matanya mengawasi pintu darurat. Leon berjalan bolak-balik antara pos keamanan dan ruang monitor.
Pukul sebelas malam, lampu padam.
Semuanya sekaligus—lorong, ruang perawatan, papan penunjuk. Gelap total selama tiga detik sebelum genset menyala dan lampu darurat menyala kuning redup.
Akira menjerit tertahan. Albert langsung berdiri, berdiri di antara pintu dan ranjang.
“Sera!”
“Di sini!” suara perempuan itu dari lorong. “Pintu aman!”
Listrik pulih, tetapi ada yang tidak.
Kamera keamanan mati selama dua menit penuh. Dua menit yang tidak terekam di seluruh gedung.
Leon menemukan sebabnya lima belas menit kemudian, di ruang server lantai dasar: seorang petugas administrasi tergeletak pingsan di depan rak, dengan pintu yang dibuka memakai kartunya sendiri.
“Dia dipukul dari belakang,” kata Leon lewat radio. “Masih hidup. Kartunya hilang.”
Nara datang setengah jam kemudian, langsung duduk di depan komputer ruang server dengan rambut masih basah karena buru-buru.
“Ada yang masuk ke sistem rekam medis,” katanya. “Dan bukan cuma membaca. Dia menghapus.”
“Menghapus apa?” tanya Albert dari radio.
“Semua data persalinan Akira. Riwayat, hasil lab, golongan darah, catatan alergi obat.” Jemari Nara bergerak cepat. “Kalau dokter buka berkasnya sekarang, yang muncul halaman kosong.”
Akira menatap Albert dengan wajah putih.
“Kenapa dia menghapus itu?”
Albert tidak menjawab, karena jawabannya terlalu sederhana dan terlalu kejam: supaya ada yang salah. Supaya ada kekacauan di ruang bersalin. Supaya seseorang bisa masuk saat semua orang sibuk.
“Dapat,” kata Nara tiba-tiba. “Sistem ini punya cadangan otomatis tiap enam jam. Saya pulihkan sekarang.”
Ia terus bekerja, lalu berhenti.
“Pak Leon. Akses ini tidak datang dari terminal di gedung. Ada perangkat yang ditempel ke jaringan. Lokasinya... atap.”
Leon sudah berlari sebelum kalimat itu selesai.
Ia naik tujuh lantai lewat tangga darurat, mendobrak pintu atap, dan menemukan angin malam serta antena parabola tua yang berderit.
Penyerangnya sudah tidak ada. Pintu tangga sisi barat terbuka lebar.
Yang tertinggal hanya sebuah tas kain di samping kotak panel.
Leon membukanya dengan hati-hati.
Pakaian bayi. Katun gading, ukuran nol sampai tiga bulan, dilipat rapi—persis seperti yang dikirim ke rumah aman.
Dan di atasnya, satu kartu putih dengan gambar lingkaran yang tidak tersambung.
Pukul 02.40, kontraksi Akira berubah.
Ia mencengkeram seprai dan tidak bisa lagi menahan suaranya. Alat pemantau berbunyi lebih cepat. Dokter masuk, memeriksa, lalu memanggil perawat dengan nada yang tidak lagi santai.
“Detak jantung bayinya turun saat kontraksi,” katanya. “Kita tidak menunggu lagi. Kita lahirkan sekarang, demi ibu dan bayinya.”
“Sekarang?” tanya Albert.
“Sekarang. Bapak mau ikut masuk?”
“Ya.”
Ruang bersalin itu terang menyilaukan dan berbau antiseptik. Albert memakai baju hijau, berdiri di sisi kepala Akira, dan tidak melepaskan tangannya sedetik pun.
Di antara dua gelombang, ketika Akira terengah dan matanya berair karena lelah, Albert mendekatkan bibirnya ke telinga istrinya.
“Maafkan aku,” katanya.
Akira menggeleng lemah. “Jangan sekarang.”
“Justru sekarang. Kalau tidak sekarang, aku takut aku tidak berani lagi.” Suaranya serak. “Maaf untuk malam itu. Maaf karena aku memaksamu bekerja untukku. Maaf karena aku membuatmu menikah dengan orang yang membencimu tanpa alasan.”
Akira memejamkan mata saat kontraksi berikutnya datang, lalu melepaskan napas panjang.
“Aku tidak pernah menyangka akan takut kehilanganmu seperti ini,” kata Albert.
Akira tersenyum lemah. Bibirnya pecah-pecah, rambutnya menempel di dahi.
“Jangan bicara seolah aku akan pergi,” katanya.
“Sekali lagi, Bu,” kata dokter. “Sekali lagi yang panjang. Sekarang.”
Akira menarik napas, mencengkeram tangan Albert sampai kuku-kukunya menancap, dan mendorong.
Lalu suara itu datang.
Tangisan. Keras, marah, hidup.
Menjelang pagi, ketika langit di luar jendela mulai berubah abu-abu muda, putra mereka lahir dengan berat dua koma sembilan kilogram, sepuluh jari tangan, sepuluh jari kaki, dan paru-paru yang tidak mau diam.
“Sehat,” kata dokter. “Sehat sekali.”
Perawat membersihkannya, membungkusnya dengan kain, lalu menyodorkannya kepada Albert.
Albert tidak bergerak selama dua detik penuh.
Lalu ia mengulurkan kedua tangannya, dan tangan yang selama tujuh belas tahun terbiasa memegang kontrak, senjata keputusan, dan dendam itu gemetar hebat ketika menerima bayinya sendiri.
Ia menangis tanpa suara.
Akira menatap mereka dari ranjang, dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, ia tidak takut sama sekali.
Di luar rumah sakit, pukul 05.52, sebuah pesan masuk ke ponsel yang sudah dimatikan dan baru dinyalakan kembali.
“Anak itu sudah lahir. Sekarang permainan dimulai.”