Kau tak sadar mereka sengaja mempermainkanmu?
Jangan mempercayainya, mereka hanya bicara omong kosong...
Sepertinya kau harus membungkam mulut pria busuk itu, Dustin...
Bunuh. Lenyapkan tua bangka itu!
“Tuan Reagan?”
Napas Dustin tersengal. Ia membuka mata, keringat membasahi pelipisnya. Tangannya menekan kepala yang terasa nyeri, sisa suara-suara itu masih menggema di telinganya. Pandangannya sempat kabur sebelum perlahan kembali fokus.
Martin, asisten pribadinya, menatapnya cemas dari seberang meja. Beberapa orang lain di ruangan itu juga menunjukkan kebingungan yang sama ketika Dustin tiba-tiba berhenti di tengah pembicaraan.
Dustin menarik napas berat, menahan denyut di pelipisnya yang tak juga mereda. “Cukup. Kita lanjutkan besok,” katanya singkat. Ia melonggarkan kerah kemejanya, lalu berdiri tanpa menunggu tanggapan siapa pun.
Ia keluar ruangan dan berjalan menyusuri koridor panjang lantai eksekutif, melewati dinding kaca dan deretan ruang kerja. Pikirannya kacau. Suara-suara itu kembali muncul, berisik dan mengganggu konsentrasinya. Semenjak ibunya meninggal, suara-suara itu sering datang tiba-tiba, menekan dan memutarbalikkan pikirannya, hingga membuatnya hampir mencelakai seseorang karena mengikuti suara itu.
Dustin tidak ingin hal itu terulang.
Ia menarik dasinya, membuka beberapa kancing kemeja, lalu mempercepat langkah menuju ruangannya, dan mendapati seorang wanita berdiri di depan pintu ruang kerja itu.
“Tuan Reag—”
Dustin mengangkat tangan, memberi isyarat agar ia diam, lalu langsung membuka pintu ruangannya tanpa menoleh.
“Tapi, Tu—”
Brak!
Pintu tertutup keras di belakangnya. Suara wanita yang merupakan sekretaris itu menghilang, menyisakan keheningan didalam ruangan.
Dustin sekarang tak ingin diganggu siapa pun.
Yang ia butuhkan hanya diam, tenang, dan sedikit cairan dingin. Rutinitas yang selalu menenangkannya di saat seperti ini.
“Selamat siang, Tuan Reagan.”
Suara lembut itu memecah keheningan. Dustin menoleh, baru sadar bahwa ada rang lain di ruangan ini.
Wanita itu lalu berdiri, menyambutnya dengan senyum menawan, lebih lembut, namun entah kenapa terasa berbeda hari ini.
Pakaiannya lebih sopan dari biasanya, tapi justru di situlah letak pesonanya. Ada sesuatu yang membuat tatapan Dustin terhenti sedikit lebih lama.
Jadi ini yang disiapkan Martin untuknya?
Tanpa banyak bicara, Dustin menatapnya datar lalu berbalik, memutar kunci pintu di belakangnya.
Ia melepaskan jasnya dan melemparkannya sembarangan ke meja, lalu duduk disofa tanpa menghiraukan tatapan bingung wanita itu.
Beberapa detik kemudian, wanita itu mendekat dan duduk di sampingnya. Jarak mereka cukup dekat hingga aroma parfum lembutnya tercium samar, dan entah kenapa hal itu justru membuat kepala Dustin terasa semakin berat.
“Tuan Reagan, perkenalkan saya Al—”
“Tidak perlu perkenalan. Langsung saja.” Suara Dustin terdengar berat dan pendek. Matanya terpejam, napasnya masih belum stabil, bahunya naik-turun menahan sisa amarah dan tekanan di kepalanya.
“Apa sekarang ada hal yang mengganggu Anda, Tuan?” suara lembut itu terdengar hati-hati.
Dustin mengernyit, lalu membuka mata dan menatapnya tajam. “Apa aku harus menjawab pertanyaan konyol itu?” geramnya.
Wanita itu hanya tersenyum tipis dan menunduk sopan.
“Jangan banyak bicara. Mulai saja”
Dustin menyandarkan kepala ke sofa, dan memejamkan matanya.
Beberapa detik hening. Hingga ia kembali menoleh pelan, merasakan sentuhan di pergelangan tangannya, lalu menekan nadinya.
“Apa yang kau lakukan sekarang?”
Wanita itu tetap tenang, melepas tekanan di nadinya lalu menatap Dustin.
“Bukankah Anda meminta saya untuk tidak banyak bicara? Jadi saya observasi… dengan mengecek denyut nadi Anda. Karena Anda terlih—”
“Observasi, katamu?” Dustin menahan nada suaranya, tapi matanya berkilat tajam. Tangannya terangkat cepat, mencengkeram pergelangan wanita itu.
Dustin menggeser mendekat, membuat bisa menghirup aroma leher wanita itu. Satu alisnya terangkat saat tatapan mereka bertemu.
“Kau menggoda atau mempermainkanku?”
Wanita itu tampak tenang, tidak menantang, tidak juga takut. Ada sesuatu dalam tatapan matanya yang justru menenangkan, dan itu membuatnya semakin gusar.
Dustin terdiam, matanya menelusuri garis wajah itu hingga berhenti di bibirnya. Sekilas ia lupa bernapas, sebelum akhirnya mengalihkan tatapannya, seperti baru sadar dirinya hampir terpikat.
"Tidak keduanya, Tuan. Justru saya ingin memberi Anda ruang un—mpphh"
Kalimat wanita itu terhenti. Dustin menariknya tiba-tiba dan menutup jarak di antara mereka.
Tanpa sempat berpikir, bibirnya sudah menekan bibir wanita itu, kasar, seolah ingin membungkam setiap kata yang keluar. Ia memiringkan kepalanya, melumat bibir wanita itu dan menggeram seakan ciuman ini tidak cukup untuknya.
Biasanya, bukan Dustin yang lebih dulu mendekat, wanita selalu datang padanya, bahkan memuja paras tampannya. Namun kali ini, entah kenapa, justru ia yang tak mampu menahan diri.
Dan anehnya, wanita itu malah meronta, memukulnya, menolak seolah ciumannya, dan berusaha melepaskan diri, bahkan menendangnya. Tapi Dustin tak bergeming kedua tangan besarnya sudah cukup untuk menghalau penolakan kecil itu. Ciumannya tetap menekan, dalam, seolah sedang melampiaskan dahaga yang lama terpendam.
Satu tangannya mulai menelusup ke blouse wanita itu, membuatnya semakin keras memukul dan mencakar, bahkan menjambak rambut Dustin.
Dustin akhirnya melepaskan ciuman itu, napasnya memburu, matanya berkilat marah, antara gairah dan tak percaya dengan perlawanan yang baru saja diterimanya.
Plak!
Tamparan itu mengenai pipinya. Tidak sakit, tapi cukup membuat Dustin terdiam, dan kembali menatap wanita itu dengan pandangan gelap.
Apa lagi ini?
“Apa yang Anda lakukan, Tuan!? Kenapa Anda melakukan ini pada saya?!” serunya marah. Bibirnya berkilat basah, dan sudut bibirnya berdarah karena Dustin menggigitnya tadi.
Dustin mengusap pipinya, lalu menatap wanita itu yang kini beringsut menjauh darinya. Tatapan matanya tajam, bukan hanya karena marah, ada sesuatu lain yang ia sendiri tak mau akui.
“Bukankah kau datang untuk ini?” suaranya rendah, nyaris seperti geraman. Ia melangkah mendekat, menarik tangan wanita terlalu kuat hingga membuat tubuh wanita itu menabrak d**a bidangnya Tanpa menunggu lama dustin menjatuhkan wanita ke sofa dan langsung menindihnya.
"Apa maksud anda?! Lepas! Jangan sentuh saya!” teriak wanita itu panik, tapi Dustin lebih cepat, menangkap kedua pergelangan tangannya dan menekannya di atas kepala.
“Saya datang sebagai dokter, Tuan.. bukan...bukan untuk seperti ini!” seru wanita itu, suaranya bergetar.
Dustin terdiam sejenah lalu tertawa.
“Dokter, ya?” ujarnya dengan senyum miring. “Menarik. Jadi kau mau main peran, hm?”
Dustin berdecih.
“Kau tahu, aku jarang menolak permainan yang dimulai dengan cara sekreatif ini.”
Wanita itu menggeleng panik. “T-tidak, Anda salah paham—”
Namun Dustin sudah lebih dulu mendekat, dan berbisik.
“Tenang saja... Aku akan jadi pasien yang baik hari ini.”