“Tidak, Tuan! Hentikan!”
Teriakan wanita itu terdengar jauh di telinganya. Perlahan, suaranya menghilang, tergantikan oleh suara lain yang sangat ia kenal.
Lihat, dia menunggumu… Kau tahu apa yang harus kau lakukan..
Dia datang untuk memuaskanmu Dustin..
Wajah wanita itu terlihat samar di matanya, berganti-ganti antara sosok yang terasa akrab dan siluet asing yang sulit ia kenali.
Sentuh dia… wanita ini menginginkanmu Dustin...
Dustin menunduk, menenggelamkan kepalanya, menghisap leher putih itu, lalu melumatnya perlahan seraya menikmati setiap aroma yang sejak tadi seperti mengundangnya.
Wanita itu menjerit merasa kesakitan saat Dustin tanpa sadar menggigit lehernya. Salah satu tangannya menyelusup ke dalam blouse putih wanita itu, tetapi sebelum sentuhannya bergerak lebih jauh, wanita itu menendang selangkangannya, dan membuatnya terdorong menjauh.
Rasa nyeri diselangkangannya membuat Dustin refleks melepas cengkeramannya. Wanita itu segera mendorong dadanya hingga punggungnya membentur sofa.
Belum sempat rasa sakit itu mereda, pukulan bertubi-tubi menghantam kepalanya. Dustin menutup kepala dengan satu tangan, lalu menatap wanita itu dengan sorot mata tajam penuh amarah.
“What the f**k is wrong with you?!” hardiknya.
Wanita itu terdiam napasnya terengah, ia meraba lehernya, menatap tak percaya apa yang Dustin lakukan, terlebih ketika ia mendapati bibir Dustin berdarah.
Bukan, bukan bibir Dustin yang berdarah melainkan lehernya sendiri yang berdarah akibat gigitan Dustin dan darahnya mengenai bibir Dustin.
“Saya di sini sebagai dokter, Tuan. Bukan… bukan jalang yang bisa Anda perlakukan seperti itu.”
Rasa nyeri itu membuat pikiran Dustin sedikit lebih jernih. Ia menatap datar leher wanita itu yang memerah, jejak gigitannya jelas terlihat di sana. Ia tak sadar telah menggigitnya sejauh itu, ia hanya mengikuti dorongan di kepalanya.
Bagaimana rasanya? Manis, bukan? Kau menyukainya, Dustin…
Dustin menyugar rambutnya ke belakang dengan kasar, seolah ingin menarik pikirannya kembali ke tempatnya. Namun suara-suara itu justru berubah menjadi tawa yang terasa menyayat telinganya.
“Kalau kau memang seorang dokter, seharusnya kau tahu bagaimana menghadapi pasien sepertiku,” kata Dustin.
Iris cokelat wanita itu melebar mendengar ucapannya, seolah yang salah justru dia. Dustin menatap bibirnya yang terkena darah wanita itu, lalu menjilatinya dengan santai, menyeringai puas seolah rasa darah itu sesuatu yang lezat di lidahnya.
Wanita itu menggeleng. “You’re f*****g insane,” ucapnya singkat.
Dustin tertawa, ia begitu terhibur dengan umpatan wanita itu. Biasannya dokter yang Martin bawa hanya akan pergi ketakutan tapi kali ini justru marah dan memakinya.
Pintu ruangan terbuka sedikit dari luar. Seorang pria muncul di ambang, matanya langsung membulat melihat Dustin dan wanita itu tampak terlihat berantakan.
Ia buru-buru menutup pintu dan menghampiri keduannya dengan kebingungan.
“Nona Alyssa, apa Anda baik-baik saja?” suara Martin terdengar cemas.
“Tuan Martin,” suara Alyssa bergetar menahan marah, “apa maksud semua ini? Kenapa Tuan Reagan memperlakukan saya seperti… w************n?”
"Maafkan saya Nona, sepertinya ada kesalahpahaman dan—" ucapan Martin, terhenti saat ia melihat ada bekas luka gigitan dilehernya, lalu menoleh ke Dustin yang kini menatapnya tajam, rahangnya mengeras.
“Martin. Kenapa kau membawa jalang gila ini ke si—”
“Saya bukan jalang Tuan! ” potong Alyssa, kedua tangannya terkepal disisi tubuhnya.
Martin langsung menghalangi, tubuhnya setengah membentang di antara mereka.
“Nona Alyssa, tolong tenang. Saya akan jelaskan sebentar,” katanya cepat. Setelah itu ia melangkah menuju laci di meja kerja Dustin dan mengambil sebuah blister obat. Ia memberikannya pada Dustin, yang langsung menyambarnya dan langsung menelannya.
Dustin kemudian berjalan menghadap jendela besar, menyulut rokok yang sebelumnya ia ambil dari meja. Ia mengisapnya perlahan, mengabaikan dua orang di belakangnya, sementara satu tangannya mengepal, meredam amarah.
Martin hanya menghela napas berat, lalu kembali ke arah Alyssa yang kini merapikan blusnya dan mengambil tasnya, bersiap untuk pergi.
“Nona Alyssa, bisa beri saya waktu sebentar sebelum Anda pergi?” pintanya penuh iba.
"Tidak perlu, Tuan Martin. Saya sudah tahu, dan saya rasa tidak ada alasan lagi bagi saya untuk berada di sini,” jawab Alyssa singkat.
“Ini kesalahan saya, Nona, karena saya terlambat ke sini.”
“Bukan,” sahut Alyssa dingin. “Seharusnya ada orang lain yang disalahkan karena tidak menggunakan telinganya dengan benar di ruangan ini.” Namun orang yang dimaksud justru dengan tenang membelakangi mereka, terus mengembuskan asap rokoknya, seolah tak peduli.
Martin melirik ke arah belakangnya sekilas, lalu kembali menatap Alyssa. Ia sebenarnya bingung harus bagaimana, dan situasinya tidak memungkinkan untuk duduk bersama, mengingat tabiat tuannya yang keras kepala.
“Ini bukan sepenuhnya salah Tuan Reagan, Nona. Sepertinya Anda dikira adalah wanita yang biasanya menjadi pelampiasan sesaat sewaktu Tuan Reagan kehilangan kendali seperti ini.”
Alis Alyssa menukik tajam.
“Pelampiasan untuk apa, Tuan? Bukankah morfin yang Anda berikan sudah cukup membantu, seperti saat ini?”
Martin menatap Alyssa dengan tenang, tak kaget jika Alyssa langsung tahu pil apa yang barusan ia berikan pada Dustin.
“Sayangnya Tuan Reagan lebih dulu melihat Anda, Nona. Jadi instingnya langsung mengarah seolah Anda, maaf adalah wanita yang saya siapkan seperti sebelumnya. Saya belum sempat memberi tahu Tuan Reagan mengenai Anda karena terburu beliau mengalami delusi, hingga kesalahpahaman ini terjadi.”
Alyssa mengalihkan pandangnya pada punggung lebar Dustin dan langsung berpaling saat pria itu berbalik menatapnya.
“Saya rasa saya tidak bisa menerima pekerjaan ini, Tuan Martin.”
“Kalau memang kau tidak sanggup,” ucap Dustin dingin, “cukup lihat ke belakang. Pintu itu terbuka lebar.”
Alyssa menatap ke arah Dustin sekilas.
“Bukan karena saya tidak sanggup,” balasnya singkat. “Tapi saya masih punya harga diri di sini.”
Ia menoleh sekilas ke arah Martin, lalu melangkah pergi tanpa menunggu apa pun lagi.
Martin kembali menghela napas kasar, lalu menatap Dustin dengan wajah lelah.
“Tuan, Anda baru saja mengusir seseorang yang mungkin saja menjadi satu-satunya harapan saya.”
Sudut bibir Dustin terangkat ke atas.
“Buang harapan kosongmu itu, Martin. Bukankah aku sudah sering menyuruhmu diam dan menikmati masa tuamu?”
Dustin memejamkan mata, merasakan hangat nikotin di setiap hisapan rokoknya.
“Jangan lagi ikut campur dalam hidupku.”
Martin terdiam beberapa detik.
“Saya tidak ikut campur, Tuan,” ucapnya pelan. “Saya hanya tidak ingin suatu hari nanti… Anda benar-benar kehilangan diri Anda sendiri.”