Happy Reading!
Satu Minggu yang lalu..
“Pemirsa, dikabarkan seorang wanita berinisial R berusia 35 tahun, yang menghilang secara tiba-tiba Kini sudah dua pekan berlalu namun masih tidak ada kabar dari kepolisian. Pihak keluarga pun sudah menyerah serta mengikhlaskan dan meminta polisi menghentikan pencarian....”
Layar tv yang menampilkan berita terkini masih terus menyala, gadis dengan hoodie hitam dengan gelas ditangannya itu hanya menghiraukan, berlalu dari ruang tamu menuju kamar.
Samar, sebelum pintu kamar tertutup terdengar suara lirihan pembantunya.
“Duh, tetap kerja di sini apa jangan, ya?” lirih pembantu itu.
Gadis itu hanya menatap datar, membanting pintu agak keras membuat pembantu tadi tersengit kaget. Lupa kalau majikannya peka suara.
Pintu langsung di tutup rapat, lalu setelah meletakkan gelas di meja belajar, gadis itu menuju kamar mandi untuk membasuh mukanya agar lebih terlihat cerah.
“Keana?!”
Tok, tok!
Gedoran pintu kamar itu membuat gadis dengan handuk di bahunya menoleh, dengan malas membukakan pintu itu.
Langsung terlihat muka garang sang papah dengan tangan di pinggangnya. “Kamu kenapa nggak masuk sekolah?”
“Malas.”
“Keana!” geram papah. “Kamu itu sudah hampir dua Minggu nggak masuk! Besok harus masuk!”
“Buat apa?”
Papah menatap Keana tak habis pikir. “Ya buat masa depan kamulah! Kalau kamu nggak sekolah mau jadi apa kamu di masa depan nanti?!”
“Keana nggak punya masa depan.”
Papah menghela napasnya, akan berbicara namun putrinya itu langsung menyela.
“Papah bisanya Cuma marah-marah, ya?” tanya Keana muak.
“Maksud kamu?”
“Dari pada marah-marah kayak gini, mending Papah cari Mamah!”
Papah Keana mengalihkan perhatiannya. “Ngapain urusi Mamahmu yang tukang selingkuh itu?”
“Bisa, ya, Papah ngomong gitu? Dia istri Papah kalau Papah lupa.”
Setelahnya gadis itu menutup pintu kembali membuat papah menghela napas melihat sikap gadisnya itu.
“Nanti jangan lupa sekolah Keana!” teriak papah dari luar.
Gadis itu hanya menghiraukan. Dia melempar pelan handuk ke kasur, tiba-tiba tatapannya beralih pada sebuah camera yang terlihat tua di nakas samping tempat tidur.
Kakinya mendekat pada nakas, perlahan mengambil camera itu dan mengalungkannya.
Seketika, terbesit percakapannya dengan sang mamah satu bulan lalu tentang camera ini. Hal tak masuk akal yang harus dia dengar.
Gadis itu menggelengkan kepalanya, menaruh lagi camera itu lalu merebahkan tubuhnya yang terasa sangat lelah, entah kenapa.
***
Namanya Keana Xaviera.
Gadis dengan wajah datar nan dingin yang selalu menghiasi. Dia adalah anak tunggal dari pasangan kaya dan berkecukupan. Yang tadi itu papahnya, bernama Duta Kevano dan mamah Keana? Beliau wanita berusia 35 tahun yang berita menghilangnya tersebar ke media beberapa hari lalu.
Ya, kemarin itu berita tetang sang mamah.
“Keana jangan lupa sekolah!” Teriakan dari luar kamar hanya membuat gadis menatap lirih ke arah pintu saja, lalu dirinya melanjutkan bacaan yang tadi tertunda.
Ya, lagi-lagi Keana memutuskan untuk masuk sekolah. Keana lebih memilih berdiam diri dirumah, daripada harus mendengar cibiran-cibiran tak mengenakan dari teman sekolahnya.
Tok, tok, tok!
“Keana, sekolah yuk!”
Tok, tok!
Sepertinya Keana memang tidak ditakdirkan membaca lebih jauh novelnya sekarang, karena lagi-lagi terdengar teriak dari luar kamar beserta ketukan pintu.
Kali ini Keana yakin bukan sang papah, melainkan teman yang Keana punya satu-satunya.
Keana berdecak, saat lagi-lagi suara ketukan lebih keras terdengar. Dengan perasaan kesal berjalan ke arah pintu dan membukanya.
“Apa?” tanya Keana malas.
Lelaki didepannya menampilkan senyum manis. Namanya Abimanyu Pradita. Keana biasa memanggilnya Bay atau Banyu.
“Sekolah, ya? Please!”
“Enggak!” Keana akan menutup pintu kembali, namun Banyu langsung menghadang.
“Ya, Na, lo mau sampai kapan sih diam dirumah gini? Mending sekolah, yuk?” Banyu terus membujuk dengan pupil eyesnya.
“Please! Ada gue kok, tenang aja!”
Keana menatap Banyu, detik berikutnya menghela napas dan menurunkan garis mukanya. “Gue lagi nggak mau dengar soal itu..”
“Tenang aja, gue udah bawa earphone! Tada!”
Banyu mengeluarkan sebuah earphone dari tasnya. “Please, sekolah, ya, ya, ya!”
Keana yang melihat itu mendengus kecil. “Ck, ya udah, tunggu!”
Banyu tersenyum, mengangguk semangat.
Keana lalu menutup pintu kamarnya, beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum berangkat sekolah bersama Banyu.
Beberapa menit kemudian Keana keluar dengan seragamnya. Tanpa berpamitan dengan pembantunya, dia langsung keluar menghampiri Banyu yang sudah menunggu dimotor.
“Ayo!” ajak Keana, menaiki motor Banyu.
Banyu mengangguk, menyalakan mesin lalu melajukan motor itu dengan kecepatan sedang.
***
“Thanks!” Keana menyerahkan helm Banyu pada sang pemilik.
Banyu mengangguk dengan senyum yang selalu terpatri diwajahnya.
Setelahnya, Banyu menggenggam tangan Keana erat. Keana menatap Banyu ragu namun Banyu mengangguk membuat Keana menghela napas dan ikut mengangguk juga.
Mereka berdua berjalan bersama menuju kelas, dan seperti dugaannya dari sepanjang koridor selalu terdengar bisikan-bisikan dari teman-teman mereka, ya, meski Keana sudah memakai earphone tapi tetap saja Keana tidak tuli, samar-samar suara mereka tetap terdengar. Mungkin, saking kencangnya mereka berbicara.
“Masih bisa sekolah?”
“Cih, nggak kasihan sama Mamahnya apa?”
“Gue sih pasti campur aduk, ya, kalau tahu Mamah gue hilang!”
“Keluarga aneh!”
Cibiran-cibiran lainnya terus Keana dengar sepanjang koridor, dia memejamkan matanya, mencoba menahan emosi. Tangannya sudah terkepal erat.
Banyu yang melihat itu langsung menutup kedua telinga Keana yang terbalut earphone, membuat Keana menoleh.
“Biar makin kedengaran lagunya.” ujar Banyu tanpa suara.
Keana tersenyum tipis.
Banyu ikut membalas senyum, mengusap pelan bahu Keana. Lalu setelah mengantar Keana menuju kelas gadis itu, Banyu pamit pergi.
Tersisalah Keana seorang diri di depan pintu kelas. Jujur, Keana tidak berani masuk dan mendengar cemoohan orang lain lagi.
Keana mengeratkan pegangan tasnya, menarik napas berulang kali, lalu berbalik badan untuk membolos. Namun sebelum itu bisa terjadi, tubuhnya malah terhuyung ke dalam kelas akibat tubrukan dari belakang.
Keana meringis pelan, tapi detik berikutnya tersadar tengah diperhatikan membuatnya menatap mereka datar. Meski dalam hati tengah mati-matian menahan malu.
“Sorry, gue nggak sengaja.” Seseorang di belakang Keana meminta maaf.
Keana berbalik, menatap marah orang itu, namun orang itu hanya menatap Keana dengan santai.
“Sorry sekali lagi.” ucap lelaki di depan Keana.
“Kak Bais salah kelas tahu!”
Tiba-tiba gadis berambut pirang dengan bad sama dengannya masuk, menarik lelaki itu keluar kelas.
“Lo nggak bilang sih!”
Keana yang melihat itu berdecak, suasana hatinya sudah buruk dari pagi sekarang malah bertambah buruk. Ingin sekali mengumpat rasanya.
Tidak mau terus diperhatikan, Keana dengan terpaksa memilih berjalan ke mejanya.
Saat akan duduk, lagi-lagi hatinya harus bergemuruh marah. Kenapa tidak? Lihat saja apa yang dilakukan mereka pada mejanya! Berbagai macam k********r dan hinaan tertulis di sana.
Keana menatap anak kelas dengan datar. Tanpa membersihkan itu dia langsung duduk, menambah volume musik dan menelangkupkan wajahnya untuk tidur.
-TBC-
01 Sep 2021