Happy Reading!
Kring! Kring!
Bel sekolah sudah berbunyi nyaring dua kali, pertanda pelajaran pertama telah selesai.
Semua anak murid kelas X IPA 2 sudah berhambur pergi ke kantin, yang tersisa hanya para anak-anak ambis yang memilih memakan bekal mereka sambil belajar dan juga Keana.
Keana tidak masuk salah satu dari mereka. Justru sebaliknya, menurutnya terlalu belajar dapat membuat pikirannya tidak jalan dan berakhir pusing, mangkanya tak jarang Keana dihukum karena selalu tidak membuat pekerjaan rumah dan mencatat pelajaran. Meski begitu tetap saja nama Keana selalu ada di tiga besar.
Maklum, Keana termasuk seorang anak Jenius.
Tok, tok!
“Na, ke kantin yuk!”
“Keana!”
Keana yang tadinya masih menelangkupkan wajah, kini mendongak menatap Banyu yang sudah standby di depan pintu dengan senyum mania khasnya.
Keana kadang heran, Banyu kenapa mau berteman dengan anak anti sosial sepertinya, ya? Pasalnya, Banyu tuh salah satu anak populer di SMA Bina Bangsa, yang suka juga banyak.
“Na!” Banyu berteriak, membuat Keana tersadar dari lamunannya.
“Woy teman lo manggil tuh!”
“Tahu nih, berisik. Gue lagi belajar.”
Keana melirik mereka, tatapan sinisnya mengarah. Membuat mereka mengalihkan tatapannya kembali.
“Eh Kak Banyu? Ngapain di sini?”
Keana melirik ke arah pintu kembali, melihat Banyu yang baru saja di sapa Vira. Ah, gadis itu terkenal ramah dan baik hati, dia juga populer di sekolah.
Banyu tersenyum tipis. “Gue mau ajak Keana makan.”
“Oh gitu,” Vira mengangguk, melirik Keana sekilas. “Tadi sih, Keana bilang nggak mau ke kantin. Gimana kalau sama gue aja?"
Keana refleks berdecih, dikira Keana tidak dapat mendengar perkataan gadis itu apa?
Apa tadi katanya? Keana bilang tidak mau ke kantin? Hi, Keana ingatkan lagi, Keana tidak pernah punya teman apalagi sampai mau mengobrol dan mengajaknya ke kantin!
Jelas sekali, kalau Vira itu berbohong.
Keana menggeleng pelan. Kembali menelangkupkan wajahnya tak mau ikut campur, dan membiarkan Vira caper.
“Em sorry, gue makan di sini aja sama Keana. Maaf, ya, gue ijin masuk!” Tapi Banyu malah masuk ke dalam kelas dan duduk di samping Keana.
“Ah, i-iya.” Vira mengepalkan tangannya, lalu kembali berjalan anggun keluar kelas.
Keana yang melihat Banyu malah masuk, menaikkan sebelah alisnya. Banyu tersenyum menghampiri Keana.
“Makan bareng, yuk? Gue udah bawa bekal.” Banyu menaruh bekalnya di meja.
“Enggak. Lo aja yang makan!” Keana menyodorkan bekal itu pada Banyu kembali.
Banyu menggeleng, menyodorkan bekal itu pada Keana.
Keana menatap kesal Banyu. “Udah lo aja!”
Banyu terus menggeleng. “Kita makan bareng, oke?”
“Enggak mau!”
“Harus mau, nanti kelaparan loh!”
“Enggak mau gue!”
“Harus mau!”
“Enggak Banyu!”
“Dikit aja, nih Aaa!”
Keana menjauh, menatap kesal Banyu. “Jauhin!”
Banyu menggeleng, makin mendekatkan sendoknya pada Keana.
“Gue bilang enggak ya enggak!” Keana refleks menepis sendok itu hingga nasinya jatuh ke celana Banyu.
Semua yang ada di kelas sampai terkejut akibat bentakan Keana.
Hal itu jelas membuat Keana jadi pusat perhatian anak kelas lain yang sudah kembali dari kantin. Bahkan, seperti biasa mereka langsung berbisik tentang Keana.
Banyu yang ikut terkejut mengerjap pelan. “Na..”
Keana menoleh pada Banyu, lalu menatap sekeliling yang masih memerhatikan mereka. Keana memejamkan matanya sebentar, dengan perasaan bersalah langsung berdiri dan berlari keluar kelas.
Malu, Keana sungguh malu saat ini.
Di dalam kelas makin banyak yang terang-terangan membicarakan sikap Keana.
“BISA DIEM NGGAK LO SEMUA?!” marah Banyu menggebrak meja. Dia berdecak, berlari keluar kelas mengejar Keana.
***
Keana berhenti berlari saat sudah di tempat yang sepi, yaitu taman belakang sekolah.
Dengan gontai dia berjalan ke arah kursi di sana, lalu mendudukkan bokongnya pelan.
Pikirannya sekarang berkecamuk, cibiran orang-orang juga kejadian tadi menyatu dalam pikirannya. Keana mengepalkan tangan, mencoba menahan gemuruh dalam d**a. Namun, detik berikutnya, air mata Keana turun lirih. Bahkan bibir gadis itu bergetar hebat.
Keana menutup mulutnya, agar tak mengundang suara. Namun tangisnya semakin menjadi membuat Keana tak mampu menahan lagi.
“Mamah...” lirih gadis itu pelan. “Mamah.. Keana kangen Mamah..”
Keana terus menangis diam, membiarkan sesak yang dia simpan keluar.
Sebenarnya, Keana benar-benar tidak tahu mengapa teman-temannya mengucilkannya seperti ini. Jika alasan mereka mengucilkannya karena keluarga Keana meminta polisi menghentikan pencarian sang mamah, itu memang wajar.
Ya, meski bukan Keana yang meminta polisi untuk menghentikan pencarian mamahnya, tapi tetap saja papah Keana sendiri yang membiarkan itu. Bahkan Keana tak habis pikir pada papahnya, istrinya menghilang tiba-tiba namun khawatirnya malah tergantikan rasa cemburu buta.
Keana mengusap air matanya, dengan napas masih bergemuruh dia merunduk untuk meredakan tangisnya. Sampai tiba-tiba uluran tisu membuat Keana terdiam.
“Nih!”
Keana perlahan mendongak menatap lelaki asing di depannya dengan wajah sembab. Dia hanya menaikkan sebelah alisnya.
Lelaki itu menghela napas, duduk di samping Keana dan menarik lengan gadis itu untuk menerima tisu darinya.
Keana langsung menatap lelaki itu kesal. “Ck, apa sih!"
“Gue Cuma ngasih tisu.” kata lelaki itu. Dari bad sekolahnya, terlihat bahwa dia senior Keana. “Kalau lagi nangis, tiba-tiba ingusnya meler kan nggak lucu.”
Keana menatap lelaki itu sebal, siapa sih dia? Sok akrab banget!
Keana menarik tangannya kasar. “Bekas?”
“Enak aja, gue baru beli tadi!”
Keana tak menanggapi, hanya melihat tisu itu.
Lelaki itu menatap Keana aneh. “Enggak bilang makasih?”
Keana melirik. “Ambil, gue nggak minta.”
“ Nggak usah. “ Lelaki itu berdiri lagi, akan pergi dari sana. “Ah, tisunya jangan lupa dipakai!” serunya sebelum benar-benar menghilang di balik pintu.
Keana menunduk menatap tisu itu lagi, setelah menarik ingusnya sebentar, Keana membuang tisu itu begitu saja, lalu ikut pergi dari taman.
***
“.... Atas kasus pembunuhan berencana, di jatuhkan hukuman mati!”
Tok! Tok! Tok!
Ketukan palu yang sangat mengerikan terdengar lantang.
Suasana di ruang pengadilan menjadi ricuh seketika, bahkan tak ayal banyak yang melempari sampah pada tersangka yang sudah bergetar hebat. Hakim pun perlahan keluar dari ruang persidangan.
“Ayo!”
Tersangka itu menggelengkan kepalanya, “Saya enggak bersalah Pak, saya mohon jangan hukum saya!”
“Pak saya mohon Pak!” Tersangka itu terus memberontak, dengan sekuat tenaga melepaskan diri dari polisi.
“Tersangka kabur!”
Sang tersangka yang sudah berhasil lepas, terus berlari tak tentu arah, dia terus melirik ke belakang. Pihak polisi sudah semakin banyak mengejar.
Dia terus berlari lebih kencang, tak menghiraukan orang-orang yang memperhatikannya sepanjang jalan. Kadang kala, dia mendorong orang yang menghalangi jalannya membuat puluhan orang mengaduh marah.
Tiba di jalan besar, dia melirik ke belakang, sudah tak ada polisi yang menghadang. Namun saat akan melanjutkan lari dua polisi ada di depannya membuatnya refleks berbelok kanan ke arah jalan.
Tin!
Dia menoleh ke arah mobil yang melaju sangat kencang.
“Aaaaaa!”
Brak!
“Woy bangun!”
Gebrakan meja mengagetkan seseorang, dia mengerjapkan matanya menatap layu pri bertubuh kekar di sana.
“Lo udah dari malam di bar! Pulang sana!”
Orang melirik jam tangannya, menghela napas lalu berjalan gontai keluar bar.
Masih terbayang mimpi yang sangat membuatnya ketakutan, dia tidak mau kejadian itu benar-benar terjadi.
Gue harus segera keluar dari kota ini, secepatnya. Seru batinnya.