Happy Reading!
Banyu menghentikan motornya tepat di halaman rumah Keana.
Keana turun dari motor, menyerahkan helm milik Banyu lalu akan masuk ke dalam.
“Na, tunggu!” Banyu mencekal tangannya, membuat Keana menoleh pada lelaki itu.
“Apa?”
“Em, itu, lo jangan terlalu banyak pikiran.” Ujar Banyu.
Keana mengangguk pelan. “Gue masuk!”
“Eh bentar!” Banyu mencekal tangan Keana lagi, membuat gadis itu menoleh pada Banyu kembali.
“Apalagi?”
“Kata cowok tadi, lo nangis? Kapan?”
Keana menarik tangannya lebih dulu. “Siang.”
“Siang?” Keana mengangguk pelan. “Jangan bilang setelah lo keluar kelas? Karena gue?” tebak Banyu, setengah benar.
“Bukan.” bantah Keana langsung.
“Jujur Na!” pinta Banyu. “Kalau memang benar karena itu, gue benar-benar minta maaf.”
“Bukan Bay!”
Banyu menggeleng tak percaya, “Gue baru kali loh ini Na, dengar kalau lo nangis. Dari orang lain lagi! Karena omongan orang-orang sekolah, ya?”
Keana menghembuskan napasnya, menepuk bahu Banyu pelan. “Bay, gue nggak papa.”
“Na, jangan pernah pendam apa yang lo rasa sekarang. Gue selalu bilang itu kan?”
“Gue selalu kasih tahu.”
“Tapi nggak semuanya!” balas Banyu.
Keana bersedekap. “Yang penting gue kasih tahu kan?”
“Tapi-“
“Udah lah Bay, gue masuk! Lo hati-hati!” Keana langsung masuk ke dalam rumah.
Banyu yang melihat itu menghembuskan napasnya kasar. Memakai helmnya cepat, lalu melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.
Dari dalam, tepatnya di kamar Keana, gadis itu menatap datar motor Banyu yang sudah menjauh, lalu dia menutup gorden kembali dan merebahkan tubuhnya di kasur.
Lelah, satu kata yang Keana rasa saat ini.
***
“Gue akan bantu lo cari tante Rianti, apa pun caranya.” Janji Banyu.
“Sebenarnya, gue udah punya cara.”
“Bagus dong, apa?”
Keana mendongak, menatap Banyu. “Pakai camera Mamah.”
“Hm?”
“Ini agak nggak masuk akal sebenarnya. Tapi dengan camera itu kita mungkin aja bisa cari keberadaan Mamah.”
“Tunggu dulu, gue nggak mengerti maksud lo apa.”
“Mamah punya camera yang bisa lihat masa lalu orang lain Bay.” ulang Keana.
“Keana kenapa jadi melantur gitu, ya?” gumamnya pelan. “Pasti memang berat banget buat dia...”
Banyu merebahkan tubuhnya di kasur, menatap langit-langit kamar sambil terus memikirkan perkataan Keana.
Sebenarnya memang tidak seharusnya Banyu menganggap serius perkataan Keana tadi siang, bisa saja Keana hanya melantur dan berandai.
Tapi balik lagi, ini Keana.
Keana yang Banyu kenal tidak akan berbicara tak masuk akal seperti itu, meski masalah berat menghampirinya.
Banyu menghembuskan napasnya, duduk kembali di samping kasur, mengacak rambutnya pusing. Dia menoleh ke arah ponselnya yang tergeletak di atas kasur, lalu Banyu mengambilnya dan mencari kontak Keana.
Apa gue pastikan lagi? Siapa tahu kan, gue tadi mengayal atau nggak salah dengar?
Banyu mengangguk, langsung medial nomor Keana.
Beberapa menit memanggil, Keana tak lama menjawabnya.
“Halo, Na?” sapa Banyu membuka pembicaraan.
“Hm?”
“Em, lo udah makan?” tanya Banyu basa-basi.
Beberapa detik tak ada jawaban, lalu terdengar embusan napas.
“Pembahasan tadi?”
“Hah?” Banyu menggaruk tengkuknya pelan. “Enggak kok, gue Cuma mau tahu kabar lo aja.”
“Gue baik.”
Banyu mengangguk, “Syukur kalau gitu. Jangan lupa makan Na.”
“Iya.”
“Ya udah, gue tutup.”
Banyu tersenyum manis. “Night Na!”
“Night.”
Lalu sambungan telepon pun terputus.
Banyu menatap sang ponsel, dia memejamkan matanya. Sepertinya, Banyu benar-benar tidak salah dengar. Keana benar-benar mengatakan hal yang tak masuk akal itu.
***
“Hahaha! Apa gue bilang? Ajeng tuh pasti terima lo!”
Bais memainkan anak rambutnya dengan senyum miring menghiasi. Dia menatap ke layar laptop yang menampilkan video call dari teman-teman satu gengnya itu.
Tadi itu, sebenarnya mereka baru selesai mabar. Eh, pas udah selesai pembahasannya malah merembet ke Bais yang berhasil menyabet gelar playboy cap badak lagi.
Ya, betul sekali!
Tadi siang, Bais baru aja menyatakan cinta palsunya pada Ajeng yang notabenenya good girl di SMA Bineka Bangsa. Sekolah baru Bais.
“Eh udah-udah! Jangan Cuma pada ketawa lo!” Bais memajukan kursinya. “Ingat janji nggak? Besok gue tunggu uang tunai seratus ribu dari kalian!”
“Ah elah!” Ketiga teman Bais, Bisma yang tadi tertawa paling kencang dan dua lainnya Lintang dan Agus berdecak kesal, seketika mereka menyesal ikut bertaruh dengan Bais.
“Awas aja lo besok nggak sekolah, ya!” Bais menatap tajam teman-temannya. “Gue datangi rumah lo pada!”
“Ck, Bais lo kayak nggak tahu kita aja. Kita mana punya uang seratus ribu gitu Is! Lima puluh aja deh, ya?” Lintang mencoba untuk bernegosiasi dengan mengeluarkan pupil eyes andalannya.
“Heh gue bukan cewek alay yang bisa ke hipnotis mata b***k lo!”
Lintang menghembuskan napasnya. “Apes amat gue!”
Bisma dan Agus tertawa terbahak-bahak melihat itu.
“Lagian lo kasih jurus buaya lo ke Bais! Ya kagak mempanlah b**o!” seru Agus, masih tertawa bersama Bisma.
“Heh lo berdua juga jangan ketawa! Ingat besok seratus ribu harus ada!” peringat Bais.
“Kalem Is gue mah!” ujar Bisma enteng.
Agus dan Lintang menatap Bisma datar. “Anak sultan memang beda!”
Bais terkekeh. “Mangkanya lo pada jadi sultan juga! Biar kayak Bisma nah!”
Lintang langsung menoleh pada Bais. “Memang bisa? Cara cepatnya gimana?” tanya anak itu polos.
“Ngepet lo sana!” jawab ketiga temannya serempak dengan nada datar.
Kadang bingung sama Lintang, dari mereka berteman di bangku SMP, Cuma dia doang yang otaknya agak pending! Tapi herannya, masih banyak aja yang suka sama Lintang.
“Ekhem!” Bais berdeham pelan, membuat yang lain kembali mengalihkan perhatian padanya. “Gue mau tanya.”
“Tanya aja kali! Ngapain bilang-bilang segala?” Bisma menatap Bais heran.
“Tahu lo! Gue pikir apa tadi!” Agus berdecak, membereskan sisa-sisa snack di depannya.
“Ini gue serius!” kesal Bais. “woy dengar nggak!”
Bisma, Agus dan lintang menoleh kembali. “Kenapa sih lo?”
Agus dan Lintang ikut menatap Bais aneh. Raut Bais benar-benar serius saat ini.
“Tanya apa?” Akhirnya Lintang yang bertanya.
“Lo pada kenal anak kelas sepuluh nggak?”
“Hah?” Bisma tidak mengerti dengan pertanyaan Bais.
“Ya lo kenal anak kelas sepuluh Ipa nggak?” ulang Bais.
“Maksudnya semua anak sepuluh Ipa? Apa gimana sih?” Lintang dan Agus bertanya tidak mengerti.
“Ck! Enggaklah! Cuma kelas sepuluh Ipa...” Bais mencoba mengingat kelas sepuluh IPA berapa yang dia masuki tadi. “Ipa berapa, ya?” gumamnya.
“Bang!” Klara tiba-tiba masuk ke dalam kamar Bais, membuat Bais menoleh dan teman-teman Bais ikut menatap mereka dari layar.
Bais menaikkan sebelas alisnya. “Kenapa?”
“Earphone lo dong! Gue pinjam!” Klara langsung menjulurkan tangannya..
Bais menghembuskan napasnya, membuka laci untuk mengambil earphone. Saat akan memberikan pada Klara Bais menahan.
Klara mengernyit. “Ih kenapa sih, kok ditahan?”
Bais tersenyum samar, mendongak menatap adiknya. “Dek, tadi pagi gue salah masuk ke kelas berapa, ya?”
Klara menaikkan sebelah alisnya. “Kelas berapa, ya? Ah mana gue tahu!”
Bais berdecak, menarik earphonenya. “Ingat-ingat dulu, baru gue kasih!”
Klara menatap kakaknya itu kesal. Dia menghembuskan napasnya, mencoba sabar. “Oke, gue ingat-ingat!”
Beberapa menit berlalu, mereka masih diam menunggu Klara mengingat. Bahkan Lintang sudah kesepuluh kalinya menguap. Agus juga sudah menghabiskan tiga camilan barunya, saking lamanya menunggu Klara.
“Ah gue ingat!” seru Klara, membuat Bais juga teman-temannya di rumah masing-masing tersengit kaget.
“Jadi?” Bais menunggu jawaban.
“Ipa 2 kayaknya.” jawab Klara ragu.
“Kayaknya?” tanya Bisma di seberang sana.
Klara mengangguk, langsung mengambil earphone Bais. “Thanks Bang!” Lalu berlari keluar kamar.
Bais berdecak, menatap ke layar kembali dengan wajah keruh.
“Lo sebenarnya cari siapa sih memang?” tanya Agus bingung.
“Keana.”
Brak!
“Mamah ampun! Eh Mamah ampun!” latah Lintang kaget. Bisma dan Agus ikut menatap marah Bais.
“Lo kenapa sih Nyet?!” kesal Bisma.
“Bisa-bisanya gue lupa dia sebut nama!” gumam Bais, lelaki langsung menatap teman-temannya. “Carikan gue info soal anak kelas X IPA 2 namanya Keana!”
“Eh bentar dulu nih-“
“Kalau lo pada bisa kasih gue info soal dia, kalian nggak perlu kasih uang taruhan!” kata Bais serius.
-TBC-
01 Okt 2021