Akan selalu ada hal tak masuk akal di dunia ini, entah itu akan membawa bahagia atau kesengsaraan.
-DarkMemory
Happy Reading!
Tin! Tin!
Keana menoleh ke gorden, melihat Banyu sudah menunggunya di depan gerbang.
Keana dengan segera memakai tas ranselnya, tidak mau terlalu membuat Banyu menunggu lama. Setelah selesai memakai sepatu, tanpa kata Keana langsung menutup pintu kamar dan berlalu keluar rumah, tanpa menyapa asisten rumah tangannya, seperti biasa.
Banyu yang melihat Keana, tersenyum. Berdiri dan menyodorkan helmnya.
Keana menerimanya, memakai helm itu sebentar lalu naik ke atas motor Banyu.
“Udah siap?”
Keana mengangguk, memegang erat jaket kulit lelaki itu.
Setelah itu, motor Banyu melaju kencang.
Beberapa menit kemudian, mereka sampai. Banyu langsung memarkirkan motornya di tempat parkir biasa.
Saat Keana akan turun, Banyu menarik tangannya kembali tiba-tiba membuat Keana yang tidak siap hampir saja terhuyung. Untung Banyu menahan.
“Kalau mau parkit kira-kira dong lo!” bentak Banyu pada seorang siswa yang hampir menyerempet Keana.
Semua siswa-siswi yang tengah berada di sekitar sana ikut menoleh karena suara Banyu, termasuk Bais dan teman-temannya yang baru keluar mobil.
“Itu Keana yang lo maksud kan?” tanya Bisma, yang memang lumayan hafal anak-anak InKa. (Internasional Jakarta).
Bais dan yang lain menoleh. “Kok lo langsung tahu?”
Bisma tersenyum miring. “Kayak nggak tahu gue aja!”
“Bagus! Berarti lo yang cari tahu soal dia!” ujar Bais.
“Lah enggak bisa gitu dong!” seru Agus. “Kalau Cuma Bisma nanti gue tetep harus bayar!”
“Yeu kan gue yang tahu lebih dulu k*****t!” Bisma menimpuk kepala Agus dengan topinya.
“Tapi anaknya cantik juga, ya? Putih lagi..” gumam Lintang.
Semua menoleh pada bocil lemot itu. Bais langsung melayangkan tatapan tajamnya. “Sekali lagi menatap dia terpesona gitu, gue colok tuh mata!” ancamnya.
Lintang mengerjap langsung menyengir kuda. “Kan wajar Is, terpesona ke cewek cantik.”
“Enggak ada!”
“Tapi tumben banget lo penasaran sama cewek?” celetuk Agus, menatap Bais aneh.
“Ya gue ingin tahu aja dia kayak gimana. Salah memang?”
“Salah!” seru ketiga temannya. “Itu bukan Bais banget!”
Bais mengibaskan tangannya. “Ah udah, terserah gue lah! Yang penting lo Bis, jangan lupa cari!”
Bisma memberi hormat. “Aiy, aiy captain kapten!”
Bais berjalan lebih dulu, sebelum benar-benar keluar parkiran dia melirik ke arah Keana dan Banyu yang masih memarahi siswa tadi.
Aneh juga sih, kenapa gue penasaran sama tuh cewek, ya? Batinnya bertanya.
Keana yang menyadari ada yang menatapnya, menoleh. Membuat Bais yang tertangkap basah memperhatikan Keana tersengit, namun tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari gadis dengan tatapan datar itu.
Keana mengalihkan tatapannya kembali, menarik pelan tangan Banyu. “Udah Bay.”
Banyu menoleh, “Tapi Na-“
“Gue nggak papa.”
“Maaf, Kak, tadi buru-buru.” Kata lelaki itu merunduk.
Banyu menghela napas. “Ya udah, lain kali hati-hati!” Lelaki itu mengangguk, langsung pergi dari sana.
“Lo beneran enggak kenapa serempet kan?” tanya Banyu, memastikan keadaan Keana.
Keana hanya menggeleng pelan. Banyu mengangguk percaya. “Ya udah, gue anter ke kelas, ya?”
Keana mengangguk pelan, Banyu menggenggam tangannya, membawa Keana keluar dari tempat parkir.
Saat mereka melewati Bais, Bais hanya bisa menatap datar tangan mereka lalu ikut berjalan mengikuti dari belakang.
***
Keana
Gue tunggu di taman
Banyu sedikit mengernyit membaca pesan Keana. Setelah mengetikkan balasan, dia langsung beranjak dari duduknya keluar dari kelas.
“Eh tunggu!”
Saat akan menuruni anak tangga, Banyu terpaksa harus menghentikan langkahnya karena seseorang menghalangi.
Banyu menoleh ke kiri, melihat Bais yang tengah berdiri santai di sana, dengan tangan bersedekap d**a.
Banyu bertanya dengan menaikkan sebelah alisnya.
Bais berdeham, merapikan bajunya yang acak-acakan itu lebih dulu. “Gue nggak langsung ke intinya aja, gue suka teman lo!”
Banyu makin menaikkan alis. “Teman? Yang mana?” tanyanya bingung. “Lagi pula, memang gue kenal lo?”
Bais menganga, berdecak pelan. “Keana. Gue mau dekati dia!”
Banyu yang mendengar itu langsung mengubah raut wajahnya datar. “Lo kenal Keana dari mana?”
“Nggak salah pertanyaan tuh? Gue kan sekolah di sini, ya kenalah!”
“Tapi Keana kayaknya enggak kenal lo.” Balas Banyu. “Dan buat apa juga lo kasih tahu itu ke gue?”
Bais tersenyum miring. “Karena gue mau lo tahu batasan. Gue mau dekati dia, jadi lo nggak usah pegang-pegang tangannya kayak tadi!”
Banyu terkekeh, emosinya sedikit tak tertahan mendengar perkataan dari laki-laki asing itu. “Kayaknya lo yang harus tahu batasan deh. Gue sama Keana bahkan enggak kenal lo, lo jangan cari masalah!”
“Gue yang ajak Keana kenalan di danau!”
Banyu diam, mencoba mengingat. Setelahnya dia menatap Bais lagi. “Gue udah duga, lo bukan cuma ingin ajak dia kenalan.”
Bais mengangguk membenarkan. “Tahu kan sekarang? Mangkanya-“
“Sayangnya gue nggak akan biarin lo dekati Keana. Lo Bais Bayanaka? Siswa baru yang paling dikenal playboy di sini.” sela Banyu. “Benar kan?”
Bais menegakkan tubuhnya. “Lo nggak ada hak buat larang gue!”
Banyu refleks berdesis, membuat Bais menatapnya tak suka. “Terserah lo deh, toh Keana juga pasti udah lupa sama lo! Cowok asing nggak jelas.”
Bais akan membalas perkataan Banyu, namun Banyu sudah berlalu pergi dengan gaya kalemnya seperti biasa.
***
Jam sudah menunjukkan pukul 14.15 WIB.
Sudah hampir 15 menit sejak bel istirahat kedua terdengar, dan sudah 15 menit pula Keana menunggu Banyu di taman samping sekolah.
Keana menghela napas untuk kesekian kalinya, dia terus mengusap-usap camera ditangannya untuk sekedar membersihkan debu, lalu melirik ke arah koridor kembali.
“Ke mana sih?” Keana berdecak kesal. Dia melirik jam tangannya, 15 menit lagi istirahat berakhir tapi Banyu belum kelihatan.
Apa entar aja kasih tahunya? Batin Keana.
Keana berdecak, berdiri dari kursi taman, akan keluar dari sana sebelum Banyu tiba-tiba muncul dari arah koridor dengan sedikit berlari.
Keana menatap datar lelaki itu, lalu duduk kembali.
“Na tunggu lama, ya?” tanya Banyu dengan napas terengah-engah, duduk di hadapan Keana. “Sorry, ya, tadi ada masalah sedikit.”
Keana mengangguk, terus melirik ke arah Banyu dan kameranya.
“Btw, lo mau ngomong apa?” tanya Banyu saat Keana hanya diam tidak bersuara.
“Gue..” Keana menggigit bibirnya, ragu untuk berbicara. Dia langsung saja menyodorkan camera itu kehadapan Banyu membuat Banyu merunduk melihat itu.
“Camera?” bingung Banyu. “Buat gue?”
“Ck!” Keana menatap Banyu kesal. “Itu camera Mamah.”
“Hah?” Banyu mengambil camera itu pelan, melihat ke sekeliling camera itu mencari apa yang membuat camera itu berbeda. “Ini beneran camera ajaib?”
Keana mengangguk.
Banyu menoleh pada Keana. “Tapi.. ini kayak camera jaman dulu biasa Na. Ya, bedanya lumayan antik aja.”
“Camera itu memang nggak kelihatan bedanya, tapi kalau lo pakai bakal ada yang beda.”
“Na, maksud lo bawa camera ini apa?” tanya Banyu pelan.
Keana menatap Banyu lurus. “Gue memutuskan untuk cari Mamah dibantu camera itu.”
“Na,” Banyu menatap Keana agak geram.
“Bay, gue kasih tahu lo ini, bukan buat dengar omelan. Gue butuh bantuan lo.” Kata Keana serius.
“Tapi-“
“Bay please, percaya sama gue kali ini.” sela Keana. “Kalau lo mau buktikan, lo.. bisa pakai camera ini untuk coba.”
Banyu menatap Keana masih tidak percaya, Keana mengangguk, lebih menyodorkan camera itu.
“Lo yakin?”
Keana mengangguk mantap. “Cari satu orang yang ada di sini, yang benar-benar lo pikirin dan ingin lo tahu masa lalunya. Lo bisa pilih tahun, lima tahun ke belakang. Setelah benar-benar yakin, lo bisa foto dia.”
Banyu menarik napasnya, lalu membuangnya pelan. Kali ini dia ingin mencoba untuk percaya pada hal tak masuk akal yang gadis di depannya ini katakan.
Banyu berdiri, mengambil camera itu, dan melihat sekeliling koridor, mencari siapa yang pas untuk dia jadikan uji coba.
Kebetulan Vira- teman sekelas Keana muncul di koridor atas, membuat Banyu mencoba memikirkan gadis itu dengan mata terpejam, jari telunjuk dari tangan kanannya sudah siap menekan tombol foto, setelah yakin Banyu langsung menekan tombol itu.
Cekrek!
Seketika semuanya hitam, Banyu seperti di tarik oleh sebuah angin besar.
“Anak orang miskin!”
“Anak orang miskin!”
Banyu mengernyit mendengar itu, perlahan dia membuka matanya kembali. Dan betapa terkejutnya dia kala Banyu menyadari dia sudah ada di tempat yang berbeda.
Banyu melihat gerbang didepanya. Di sana terpampang jelas nama SMP ADI GUNA.
“Gue tadi kan di sekolah,” gumamnya bingung.
Banyu buru-buru menatap sekeliling, siapa tahu dirinya sedang berhalusinasi sekarang. Namun setelah memutar-mutar tubuhnya, keadaan sama sekali tidak berubah. Dia benar-benar berada di tempat berbeda.
“Berhenti! Hiks.. hiks..”
Banyu membalikkan tubuhnya, melihat sekumpulan siswa yang tengah berkerumun di taman sekolah itu. Dia mencoba mendekat, melihat apa yang tengah terjadi.
“Vira?” gumam Banyu saat melihat Vira- teman sekelas Keanalah yang tengah dikerumuni.
Banyu menatap teman-teman Vira yang terus meledek gadis itu, padahal jelas-jelas Vira sudah menangis kejar.
“Ini... Masa SMP-nya Vira?” Banyu terdiam, masih tidak percaya dengan yang dia lihat. Banyu mencoba memastikan kembali, namun tetap saja nyatanya Banyu benar-benar berada disekolah Vira saat SMP.
Gadis yang masih menangis itu benar-benar Vira, Banyu tidak mungkin tidak ingat wajah Vira. Karena perubahan Vira tidak begitu mencolok.
“Huh bisanya nangis doang!”
Banyu menoleh pada teman-teman Vira kembali, lalu beralih pada Vira. Baru akan menyentuh gadis itu namun satu hal aneh terjadi.
Banyu tidak bisa menyentuh Vira. Seketika sadar kamera Keana sedari tadi tidak ada di genggamannya. “Kok?”
Bush!
Angin yang sangat kencang tiba-tiba menerpa membuat membuat Banyu refleks memejamkan matanya.
“Bay!”
“Bay!”
“Hah?” Banyu membuka mata, menoleh ke samping kanan.
Keana di sana sudah menatap Banyu dengan raut khawatir. “Lo nggak papa kan?”
“Keana?” Banyu melihat ke sekeliling, dia berada di taman sekolah kembali. “Gue di sekolah lagi.”
“Lo berhasil masuk ke masa lalu Vira.”
Banyu menoleh pada Keana. “Tadi gue halusinasi, ya?”
Keana menggeleng. “Lo baru aja melalui perjalanan waktu singkat ke masa lalu Vira.”
Banyu menyugar rambutnya, merunduk melihat kamera Keana di tangan kirinya. “Camera ini..”
“Lo udah percaya sekarang?”
Banyu hanya bisa terdiam, ingin tidak percaya namun dia baru saja mengalaminya tadi, tapi ini benar-benar tidak masuk akal.
-TBC-
Kerasa nggak sih fantasinya?
maaf klo kurang feelnya ???
02 Okt 2021