"Lepaskan aku!" Anak kecil itu memberontak, melepaskan cengkeraman ketiga pria tersebut.
"Kau nggak bisa kemana-mana lagi Bocah tengil, hahaha ..." tukas salah satu pria tersebut.
"Nggak! aku nggak mau mati di tangan kalian!" teriak si kecil.
"Sekarang kau tidak bisa apa-apa lagi, jadi mending kau diam!" Pria itu membungkam mulutnya.
"Aadduuuhh!" Teriak salah satu dari mereka karena kakinya diinjak. Sedangkan, si bocah kecil itu kembali lari.
"Woyy, mau kemana kau! Cepat kejar dia!" teriak ketua kelompok tersebut.
"Bagaimana ini? Aku nggak mau mati sekarang. Aku masih ingin hidup. Aaaaa ...." Anak kecil tersebut terjun dari atas lantai 2 gedung tersebut.
◑◑◑◑◑◑
"Kau kenapa, Vin?" tanya Cayn.
"Ah, aku mimpi hal yang sama lagi," ucap Gavin sambil mengusap keringat di dahinya. Keringatnya tak berhenti bercucuran akibat mimpi tersebut.
"Nih, minum dulu. Coba ceritakan ke aku apa yang barusan kau lihat di mimpimu." Cayn menyodorkan segelas air putih ke Gavin.
Gavin menerima segelas air itu dan meneguknya. Tapi, kemudian Gavin kembali melamun tanpa memperhatikan wajah Cayn yang kelihatan khawatir.
"Gavin!"
Suara Cayn berhasil membuat Gavin tersentak.
Ia pun kembali meletakkan gelas tersebut di atas meja. Ia kembali memandang Cayn dengan gugup.
"Em.. A-aku, aku mimpi hal yang sama seperti sebelumnya. Tapi hari ini sepertinya mimpi itu berlanjut ...," ucap Gavin sambil meletakkan tangannya di bawah dagu. Ia merasa heran dengan mimpinya itu.
"Mimpi melihat anak kecil dikejar 3 orang dengan pisau yang penuh darah?" tanya Cayn menduga.
Ya, Gavin selalu merasa resah akan mimpi itu dan kemudian memutuskan untuk menceritakannya ke Cayn, kakak angkatnya.
"Sudahlah Gavin, lebih baik kau bersiap-siap untuk mandi."
"Kak, aku mau ngomong sesuatu ...." ucap Gavin lirih.
"Apa kau mau mengatakan sesuatu, Vin?" tanya Cayn penasaran.
"Hmm ... nggak jadi deh, kak," ucap Gavin terkekeh.
"Ya sudah kalau begitu. Sekarang kau bersiap-siap untuk mandi, kita akan segera sarapan pagi," ajak Cayn yang tersenyum ke arah Gavin.
Gavin terlihat murung namun segera menuruti perintah kakak angkatnya itu.
"Aku keluar dulu."
Gavin mengangguk saat Cayn keluar dari kamarnya.
◑◑◑◑◑◑
Gavin pun segera pergi ke kamar mandi dan membersihkan badannya.
Setelah 15 menit di dalam kamar mandi, akhirnya Gavin keluar dan berganti pakaian.
"Gimana ya aku mengatakannya? Aku takut ayah tidak mengizinkan," ucap Gavin murung.
Tok..tok..tok
"Vin ... Ayo cepetan. Bibi dah selesai masak sarapannya," panggil Cayn dari luar.
"I-Iya kak," balas Gavin.
Di ruang makan, suasana di sana sangat hening dan hanya dentingan suara sendok yang berbunyi.
"Gavin, kenapa kamu tidak makan? Masakan Bibi tidak enak ya?" tanya sang Bibi yang merasa Gavin tidak menyukai masakannya.
"Bu-bukan begitu bi," Gavin mencoba untuk tenang. Tetapi, dia malah semakin gugup.
"Gavin, makanlah, nanti kamu sakit lo kalo nggak makan. Kamu kan punya sakit maag, nggak boleh telat makan," ucap Darren, ayah Cayn dan Gavin.
"I–iya, Yah."
Gavin pun mulai menyendok nasi dan menyuapkan ke mulutnya. Tapi ....
"Yah ..." ucap Gavin tiba-tiba.
"Hmm," sahut pak Darren singkat karena masih ada makanan di mulutnya.
"Boleh gak aku tanya sesuatu sama Ayah," tanya Gavin terlihat gugup.
"Tanya apa?" Singkat Ayahnya berdehem.
"Kan aku sudah lulus SMP nih, Yah ...."
"Iya, terus?"
"Kalau misalkan aku ingin melanjutkan sekolah SMA di kota, boleh nggak?" tanya Gavin sambil menunduk.
Uhukk..ukhukk
Pak Darren tiba-tiba tersedak.
"Eh, Yah. Minum dulu, Yah," ucap Cayn panik.
"Hmm, kamu yakin?" tanya Darren ragu.
"Iya aku yakin Yah," ucap Gavin meyakinkan.
"Bagaimana jika nanti di kota Gavin menemukan jati dirinya? Kota itu sejarah yang kelam bagi dirinya," batin Pak Darren.
"Ayah?" panggil Gavin mengetahui kalau ayahnya sedang melamun.
"Emang kamu bisa bertahan sendirian hidup di kota? Kota itu keras, semua serba mahal harganya. Apa kamu benar-benar yakin?" tanya Pak Darren sekali lagi.
"Aku yakin Yah, lagi pula aku ingin mandiri. Apakah Ayah mengizinkan aku untuk pergi ke kota?" Gavin mencoba membujuk Ayahnya.
"Berikan Ayah waktu untuk berpikir, bisakah kamu menunggu?"
"Iya, Yah." Gavin terlihat kecewa dengan jawaban ayahnya tersebut.
"Gavin, sabar ya. Ayah pasti mempunyai niat baik dan tentunya tidak mau kamu kenapa-kenapa nanti," ucap Cayn mencoba menenangkan Gavin.
Tanpa menghiraukan ucapan Cayn, Gavin langsung meninggalkan ruang makan dan pergi ke kamarnya.
"M-maaf yah, Cayn susul Gavin dulu yah." Cayn pun langsung beranjak dari tempat duduknya dan berlari ke arah Gavin pergi.
"Gavin!"
Gavin memalingkan wajahnya dan terus berjalan menuju kamarnya. Ia tahu bahwa Cayn akan menyusulnya. Dan ia bersikap bodo amat dengan Cayn yang sudah berkali-kali memanggil namanya.
Setibanya di kamar, Gavin langsung menutup pintu dan menguncinya. Kemudian ia merebahkan tubuhnya di kasur tempat tidurnya.
"Vin ..." panggil Cayn pelan dari balik pintu. Ia khawatir dengan sikap adiknya yang tak seperti biasanya.
"Gavin, kamu dengar kakak, 'kan?" Teriak Cayn di balik pintu kamar Gavin.
"Kak Cayn gak usah ganggu aku dulu kak!" Teriak Gavin dari dalam kamarnya membuat Cayn tertegun.
"Aku tidak ingin mengganggumu, aku hanya ingin tau kenapa sikapmu berubah secepat ini," jawab Cayn.
"Tolong kak, untuk saat ini biarkan aku sendiri," pinta Gavin kedua kalinya.
Cayn melepas kenop pintu kamar Gavin yang sebelumnya ia pegang. Perasaannya campur aduk antara khawatir dan marah.
"Kenapa kamu jadi seperti ini Gavin?"
To Be Continued ..
Senin, 19 Oktober 2020
A Story Written by Alexiarischa feat. Aflcky22_