"Aku tidak ingin mengganggumu, aku hanya ingin tau kenapa sikapmu berubah secepat ini," jawab Cayn.
"Tolong kak, untuk saat ini biarkan aku sendiri," pinta Gavin kedua kalinya.
Cayn melepas kenop pintu kamar Gavin yang sebelumnya ia pegang. Perasaannya campur aduk antara khawatir dan marah.
"Kenapa kamu jadi seperti ini Gavin?
"Tuan Cayn," panggil seseorang yang ternyata Bibi Cayn.
"Eh, iya Bi?" jawab Cayn sedikit terkejut dengan kedatangannya.
"Tuan Darren memanggil Anda, katanya ada sesuatu yang ingin Beliau bicarakan dengan Anda," ucap Bibi.
"Baiklah, Bi." Cayn pun kemudian memutuskan untuk meninggalkan kamar Gavin dan menemui ayahnya.
"Ayah ingin bicara tentang apa?" tanya Cayn setibanya di ruang makan kembali.
"Ayah pengen tau apa yang sebenarnya terjadi dengan adikmu, Cayn. Kenapa dia tiba-tiba ingin bersekolah di kota. Ayah tidak mau terjadi sesuatu sama dia lagi," ucap Pak Darren.
"Emang dulu Gavin mengalami apa, Yah?" tanya balik Cayn penasaran.
"Kau ingat saat pertama kali Ayah membawa Gavin ke rumah ini?"
"Iya, Yah. Tapi itu terjadi 7 tahun yang lalu saat aku masih duduk di bangku 4 SD dan aku sudah hampir melupakan apa yang terjadi pada saat itu." Cayn mencoba mengingat-ingat kembali masa itu.
"Waktu itu, saat Ayah sedang mencari kayu, Ayah temukan bocah SD dengan keadaan yang mengenaskan dan hampir kehilangan nyawa. Ia berada di antara berpuluh mayat yang tergeletak tak beraturan. Sepertinya ia merupakan salah satu korban p***************l salah satu sekolah di kota," ucap Pak Darren.
"Lalu?" tanya Cayn lagi semakin penasaran.
"Ayah kemudian membawanya ke rumah sakit dan ia divonis mengalami amnesia. Kemudian Ayah-nya pun membawanya pulang dan memberi nama baru, dialah Gavin." Pak Darren menjelaskan peristiwa itu dengan detail.
"Bukannya Ayah nggak mau dia mengetahui dirinya yang asli, tapi Ayah sudah terlanjur sayang sama dia. Ayah tidak mau kehilangan dia. Dan, satu lagi, pelaku pembunuhan itu sampai sekarang belum ditemukan, Ayah takut nanti nyawa Gavin dapat terancam kedua kalinya," sambungnya.
Cayn melongok, ia tercengang mendengar cerita dari ayahnya tersebut.
"Ayah jangan khawatir, Gavin pasti baik-baik saja dan aku akan selalu menjaganya." Cayn mencoba meyakinkan ayahnya.
"Ayah minta tolong sama kamu Cayn, jaga adikmu baik-baik. Kalau perlu, halang dia agar tidak pergi ke kota," pinta Pak Darren kemudian.
Permintaan Ayah Cayn membuat Cayn bingung, ia tidak tau harus memulai dari mana untuk membujuk adiknya, Gavin.
"Apa yang harus aku lakukan ya? Haruskah ...." Belum selesai Cayn berpikir, tiba-tiba Ayahnya pergi dari ruangan tersebut.
"Ah, sudahlah. Nanti malam saja ku bicara sama Gavin," putus Cayn. Hari ini hari Minggu, jadi sekolah libur dan Cayn pun memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar.
◑◑◑◑◑◑
Gavin melamun memandangi jendela luar kamarnya. Pemandangan yang begitu indah membuat-nya kembali tersenyum.
"Kenapa tadi aku harus marah sama Ayah dan kak Cayn. Padahal, selama ini mereka selalu menyayangiku," bisik Gavin dalam batinnya.
Tanpa Gavin sadari, ada seseorang yang sedari tadi memanggil-manggil namanya dari jauh.
"Gavin! Gavin!" (Suara dari kejauhan)
"Kak Cayn," gumam Gavin.
Cayn melambaikan tangannya ke arah Gavin dan memberi isyarat agar ia keluar. Gavin pun yang sepertinya sudah bosan di kamar dan memutuskan untuk memenuhi panggilan Cayn. Ia pun segera bersiap dan menghampiri kakaknya tersebut.
"Akhirnya kau keluar juga. Ku kira kau masih marah. Dasar adek kecil," ucap Cayn sambil mencubit hidung Gavin.
"Iissh, Kakak. Sakit tau," ucap Gavin sambil berusaha melepaskan tangan Cayn dari hidungnya.
"Btw, kakak habis dari mana?"
"Habis jalan-jalan lihat rumput bergoyang," lawak Cayn. Tapi sayangnya, lawakan tersebut nggak mempan sama Gavin, bisa dibilang "garing".
"Kak, aku ikut jalan-jalan dong sama kakak," ucap Gavin mencoba menghibur dirinya.
"Boleh saja, ayo!" ajak Cayn.
Di jalan, Gavin sangat senang melihat pemandangan hijau nan asri persawahan, hingga tak sadar bahwa senyumannya telah menghias indah di wajahnya. Senyuman yang membuatnya tenang sekaligus tentunya membuat Cayn sebagai kakaknya ikut merasakan kebahagiaan adiknya.
"Kenapa nih senyum-senyum sendiri, bahagia sekali sepertinya," ucap Cayn sambil menyenggol sedikit lengan Gavin.
Gavin tersenyum lebar dan menjawab, "Tidak! Aku tidak kenapa-kenapa."
Walaupun begitu, Gavin tak berhenti tersenyum dan semakin membuat Cayn merasa senang.
Setelah lama berjalan, merekapun sampai di sebuah danau di ujung desa. Gavin meminta kakaknya untuk istirahat sebentar di sana, melepas penat perjalanan tadi. Dan, Cayn pun tidak bisa menolak.
Kemudian, Gavin mulai bermain dengan air danau. Ia menyelamkan kakinya dan menggerakkannya naik-turun sehingga membentuk percikan air yang cukup menarik.
"Kak, ayo main sini!" ajak Gavin kepada Cayn.Tidak ada respon.
Cayn sepertinya teringat akan permintaan ayahnya tadi.
"Ayah minta tolong sama kamu Cayn, jaga adikmu baik-baik. Kalau perlu, halang dia untuk tidak pergi ke kota."
Ia memikirkan bagaimana cara yang tepat untuk itu.
"Kakak..kakak..kakak.." panggil Gavin agak nge-gas karena sudah dikacangin.
"Ah, iya. Ada apa?" tanya Cayn karena bingung.
"Aku ingin mengajakmu bermain air. Tetapi, sepertinya kakak sedang memikirkan sesuatu yang lain." Dugaan Gavin membuat Cayn terbelalak.
Ia sudah melamun terlalu lama sekaligus membuat adiknya itu curiga. Bahkan, Gavin mulai cemberut karena Cayn tidak memandangnya dan malah terdiam.
"Eh, adik manis jangan cemberut lagi dong, nanti gantengnya ilang lo," goda Cayn
"Apa'an sih," jawab singkat Gavin makin memanyunkan bibirnya.
Cayn kembali terdiam dan melamun. Gavin yang melihat hal itu pun mulai khawatir. Ia memutuskan untuk bertanya apa yang dipikirkan oleh kakaknya tersebut.
"Kakk!" panggil Gavin.
"Gavin!" ucap Cayn kemudian menyela perkataan adiknya.
"Pulang aja yuk!" ajak Gavin tiba-tiba.
"Ya sudah, ayo!"
"Gagal lagi," batin Cayn. Sepanjang perjalanan, Gavin terus memperhatikan kakaknya yang masih melamun.
◑◑◑◑◑◑
Hari sudah larut malam. Setelah makan malam bersama, Cayn pergi terburu-buru dari ruang makan ke kamarnya.
Sedangkan Gavin, ia menjadi semakin penasaran dengan tingkah aneh kakaknya sejak sore tadi.
Ia pun kemudian memutuskan untuk segera menghabiskan makanannya dan kemudian pergi menyusul Cayn.
To Be Continued ..
A Story Written by Alexiarischa feat. Aflcky22_