Tok ...Tok ...Tok
"Masuk! Eh, kamu Vin. Ada apa malam-malam gini ke kamar kakak?" tanya Cayn yang melihat Gavin masuk ke kamarnya setelah mengetuk pintu.
"Aku pengen tidur sama kakak malam ini, boleh?"
"Kok tiba-tiba, kenapa?" tanya Cayn agak curiga.
"Gapapa, kakak ganteng. Cuma kangen aja tidur bareng kakak kaya dulu." Gavin menempatkan posisinya di samping kakaknya.
"Tumben, Gavin bersikap seperti ini?"
◑◑◑◑◑◑
Gavin melamun di jendela kamarnya. Entah apa yang dipikirkan-nya. Ia sungguh sedih sekarang.
"Kenapa aku merasakan ada sesuatu yang disembunyikan oleh kak Cayn. Tapi apa?"
Pikirannya berkecamuk.
"Gavin!"
"Iya kak," balas Gavin setelah menoleh ke arah suara yang memanggilnya.
"Kamu kenapa pagi-pagi begini masih disitu? Yuk, kita sarapan pagi!" ajak Cayn.
"Iya kak." Gavin mengangguk setuju dan berjalan mengikuti kakak-nya.
◑◑◑◑◑◑
Waktu tak terasa telah berlalu begitu cepat. Kini sekolah-sekolah, baik tingkat SD, SMP, maupun SMA telah membuka pendaftaran bagi siswa baru, dan sudah saatnya Pak Darren memutuskan apakah Gavin dapat bersekolah di kota atau tidak.
Ya, dilema kembali datang kepadanya. Ia takut mengambil keputusan yang salah. Di satu sisi, ia tak mau jadi penghalang Gavin untuk mencapai impiannya, tapi di sisi lain ia sangat takut akan kehilangan anaknya tersebut.
"Ayah!" panggil Gavin tiba-tiba. Ia tahu ayahnya sedang melamun.
"Iya, Gavin. Ada perlu apa kamu menemui Ayah?" tanya Pak Darren dilema.
"Sampai kapan ayah akan memikirkan keputusan Ayah? Kapan aku akan sekolah lagi? Apakah ayah tidak ingin Gavin melanjutkan sekolah ke SMA?" Pertanyaan Gavin membuat Pak Darren benar-benar bingung. Ia takut Gavin akan menanyakan hal itu.
"Ayah!!" panggil Gavin sekali lagi.
"Apakah kamu benar-benar yakin ingin sekolah di kota?" tanya Pak Darren memastikan.
"Berapa kali lagi aku harus mengatakan kepada Ayah, aku sangat-sangat yakin. Aku ingin seperti teman-temanku yang melanjutkan SMA-nya di kota. Kota yang besar, di mana fasilitasnya lengkap, ada perpustakaan, kantin yang besar, lapangan olahraga, dan lain-lain. Lagipula kan sekolah di sana menyediakan asrama bagi murid-murid yang rumahnya jauh dari sekolah, jadi Ayah tidak usah khawatir dengan tempat tinggalku nanti," ucap Gavin yakin sambil menatap penuh harap kepada Pak Darren.
"Ayah!" panggil Gavin tiba-tiba. Ia tahu ayahnya sedang melamun.
"Iya, Gavin. Ada perlu apa kamu menemui Ayah?" tanya Pak Darren dilema.
"Sampai kapan ayah akan memikirkan keputusan Ayah? Kapan aku akan sekolah lagi? Apakah ayah tidak ingin Gavin melanjutkan sekolah ke SMA?" Pertanyaan Gavin membuat Pak Darren benar-benar bingung. Ia takut Gavin akan menanyakan hal itu.
"Ayah!!" panggil Gavin sekali lagi.
"Apakah kamu benar-benar yakin ingin sekolah di kota?" tanya Pak Darren memastikan.
"Berapa kali lagi aku harus mengatakan kepada Ayah, aku sangat-sangat yakin. Aku ingin seperti teman-temanku yang melanjutkan SMA-nya di kota. Kota yang besar, di mana fasilitasnya lengkap, ada perpustakaan, kantin yang besar, lapangan olahraga, dan lain-lain. Lagipula kan sekolah di sana menyediakan asrama bagi murid-murid yang rumahnya jauh dari sekolah, jadi Ayah tidak usah khawatir dengan tempat tinggalku nanti," ucap Gavin yakin sambil menatap penuh harap kepada Pak Darren.
"Baiklah, ayah mengizinkan kamu bersekolah di kota," ucap Pak Darren yang tidak mau Gavin kecewa akan keputusannya jika tidak mengizinkan Gavin bersekolah di kota mencapai impiannya.
"Horeeeee!! Akhirnya aku bisa bersekolah di kota." Gavin meloncat-loncat kegirangan. Ia pun kemudian bergegas pergi untuk memberitahu kabar gembira itu kepada kakaknya.
"Kakak ... Kakak!!"
Terdengar suara Gavin berteriak memanggil nama kakaknya sambil terus berlari, seperti anak kecil yang habis mendapatkan permen.
"Ada apa denganmu, Gavin?" tanya Cayn penasaran dan segera menghampiri adiknya itu.
"Ciiee, kepo ya?" goda Gavin ketika melihat wajah kakaknya yang begitu penasaran tersebut.
"Halah, katakan saja!" sembur Cayn seketika.
"Eehh, kok malah marah sih?" Gavin memanyunkan bibirnya.
"Gak mau jujur, " ucap Cayn menatap tajam ke arah Gavin.
"Iya-iya, aku jujur deh, " balas Gavin yang masih membuat Cayn penasaran.
"Ayah mengizinkan aku untuk bersekolah di kota!" seru Gavin yang berhasil membuat Cayn melongo.
"Ayah mengizinkan Gavin bersekolah di kota?"
"Tuh, 'kan malah bengong," sembur Gavin yang melihat kakaknya tidak senang dengan kabar itu.
"Ee ... Eeh ... Iya," jawab Cayn terbata.
"Cuma gitu responnya? Mana ucapan selamat-nya? Kakak nggak senang ya denger kabar itu?" tanya Gavin. Ia kecewa dengan respon yang diberikan kakaknya tersebut.
"Eh, bukan gitu ...." (Ucapan Cayn terpotong)
"Udahlah, bilang aja Kakak nggak mau impianku terwujud. Aku nggak suka sama Kakak!"
Dengan wajah sendu Gavin meninggalkan kakaknya yang masih terbengong di tempat.
"Apakah Ayah tidak punya pilihan lain, sehingga mengizinkan Gavin ke kota?"
"Gavin! Gavin tunggu!" Cayn berniat mengejar adiknya yang sedang marah kepadanya. Namun, sebuah tangan berhasil menghentikan langkahnya.
"Ayah," ucap Cayn setelah mengetahui siapa pemilik tangan tersebut. Ia menatap wajah ayahnya yang terlihat serius.
"Ayah ingin ngomong sesuatu sama kamu, Nak. Ayo ikut Ayah!" ucap Pak Darren.
"Ke mana?"
"Kita ngobrol di ruang kerja Ayah saja."
Mereka berdua pun pergi menuju ruang yang dimaksud. Pak Darren pun kemudian duduk di kursinya, begitu pula Cayn. Wajah mereka terlihat sangat serius.
"Ca ...."
Belum selesai Pak Darren mengucapkan satu kata, Cayn dengan rasa penasarannya pun berbicara.
"Ayah kenapa mengizinkan Gavin bersekolah di kota?" tanyanya sambil menatap mata ayahnya dengan serius.
"Dengarkan Ayah dulu, Cayn. Ayah akan memberi alasan kenapa Ayah mengizinkan adikmu bersekolah di kota," ucap lembut Pak Darren untuk meyakinkan Cayn.
"Baik, Yah."
"Jadi, tadi pagi ...."
To Be Continued ..
A Story Written by Alexiarischa feat. Aflcky22_