"Dengarkan Ayah dulu, Cayn. Ayah akan memberi alasan kenapa Ayah mengizinkan adikmu bersekolah di kota," ucap lembut Pak Darren untuk meyakinkan Cayn.
"Baik, Yah."
"Jadi, tadi pagi Gavin menemui Ayah dan mengutarakan keinginannya untuk bersekolah di kota. Ayah sudah mencoba membujuk Gavin, tapi kau tahu lah gimana sikap adikmu tersebut. Kalo ia sudah punya keinginan, sangatlah susah untuk menolaknya. Begitupun dengan Ayah, Ayah sudah kehabisan ide untuk melarangnya. Ayah juga nggak tega melihat Gavin terus memohon. Itulah sebabnya Ayah mengizinkan adikmu bersekolah di kota," jelas Pak Darren panjang lebar.
Cayn mendengarkan dengan penuh perhatian. Ia tahu betul bagaimana posisi ayahnya saat itu. Bahkan, kalau dia ada di posisi itu, ia akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh ayahnya.
"Aku mengerti, apa yang dilakukan Ayah sudah benar."
"Cayn, bolehkah Ayah meminta sesuatu?"
"Apa itu Ayah?"
"Ayah ingin kau ikut Gavin ke kota."
"Apa maksud, Ayah?" Cayn bertanya penuh kebingungan. Mana bisa ia mengikuti Gavin, sedangkan di sini ia harus tetap melanjutkan sekolahnya.
"Tolong Ayah, bagaimana dengan sekolahku?"
"Ayah akan pindahkan sekolah kamu ke kota juga."
Cayn terdiam. Ia berpikir tidak ada kata lain untuk menolak. Apalagi, adiknya bersikeras untuk bersekolah di kota. Jadi, mau tidak mau ia juga harus menjaganya.
"Baik, Yah. Cayn akan pergi." Cayn mengangguk setuju walaupun dengan tatapan kecewa.
"Ayah tau kamu kecewa sama Ayah. Minta maaf, ya. Tapi mungkin ini yang terbaik."
"Iya, Yah. Aku paham dengan apa yang Ayah rasakan. Ayah tidak ingin Gavin terluka, tapi di sisi lain Gavin sendiri yang ingin pergi. Aku paham, Yah," ucapnya lembut kemudian sambil memeluk ayahnya dengan hangat.
◑◑◑◑◑◑
Keesokan harinya
"Vin, Ayah akan mengantarkanmu ke kota pagi ini, ke rumah teman ayah. Kamu nggak boleh nakal ya di sana, jaga diri tau," ucap Ayahnya sambil mencubit pipi Gavin. Raut sendu lelaki itu tergambar jelas di wajahnya.
"Iya, Yah, Gavin bakalan jaga diri baik-baik kok," ucap Gavin yang masih merasa geli. Ia tak lupa juga menghampiri Cayn.
"Kak, gavin pergi ya, jaga diri kak Cayn baik-baik." Gavin memeluk tubuh Cayn yang masih terdiam kaku.
"Hmm, adik kecil. Sekolah yang bener, jangan pacaran ya. Awas kalo nanti ketahuan mo mendahului aku!" canda Cayn dengan sikap khasnya, yaitu melipat kedua tangannya di depan d**a. Ia tetap berusaha tertawa, tanpa menghiraukan tetesan bening yang terus jatuh dari matanya.
Gavin pun hanya tersenyum kaku melihat kakaknya tersebut. Ia berusaha menahan air matanya, ia ingin pergi meninggalkan senyum bahagia bukan air mata kesedihan.
Gavin melangkah demi langkah meninggalkan sosok yang berdiri dibelakangnya, ditemani sang Ayah yang sudah siap menghantarkan dirinya. Ia hanya pergi sementara. Seharusnya ia tidak bersedih seperti ini.
Ya, baginya sekarang, ini adalah perpisahan sementara. Namun, siapa yang tahu kedepannya. Mungkinkan ia akan kembali ke keluarga itu? Entahlah.
Keduanya pun kemudian menaiki sebuah mobil yang telah disewa Pak Darren sebelumnya. Sedangkan Cayn, ia hanya termenung melihat kepergian Gavin dan Ayahnya hingga mobilnya hilang dari pandangannya.
◑◑◑◑◑◑
Di dalam mobil, Gavin terlihat begitu gusar. Sepertinya ia ingin mengatakan sesuatu kepada ayahnya.
"Emmm, Yah, Gavin boleh tanya sesuatu?"
"Apa?"
"Ayah tau sesuatu tentang kota? Apakah di kota itu menyenangkan? Atau mungkin Ayah pernah tinggal di kota?" tanya Gavin seperti polisi yang sedang mengintrogasi maling.
"Kau ini bertanya sama Ayahmu atau sama maling, pertanyaannya panjang banget kaya MRT," sindir Pak Darren.
"Hehehe ... Aku kan pengen tau, Yah," jawabnya terkekeh.
Pak Darren kembali tersenyum dan berkata, "Di kota itu menyenangkan. Di tempat teman Ayah, banyak sekali pepohonan yang rimbun dan sejuk sekali tempatnya. Ayah cuma sekali tinggal di kota, di saat Ayah masih magang di Perusahaan di kota," jelasnya lembut.
"Satu lagi, ya meskipun kelihatannya kota itu menyenangkan, tapi kota juga merupakan tempat yang kurang aman. Banyak kejadian kriminal yang terjadi di sana. Harga kebutuhan mahal dan orang-orang lebih cenderung bersikap individualis. Jadi kamu harus hati-hati ya ..." pesannya untuk Gavin.
"Baik, Yah. Gavin akan selalu ingat pesan dari Ayah." Gavin tersenyum bahagia.
Setelah beberapa menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah teman Pak Darren.
Tok ... Tok ... Tok
"Assalamu'alaikum," ucap Pak Darren sambil mengetuk pintu.
"Wa'alaikum salam, siapa?" Terdengar jawaban dari dalam rumah tersebut.
"Ini saya, Darren."
Kemudian, terdengar suara kaki mendekati pintu. Dan pintu pun kemudian terbuka. Pak Darren tersenyum bahagia saat melihat temannya keluar dengan reaksi yang sangat tidak terduga dan langsung memeluk Darren. Mungkin, ini pertama kalinya mereka bertemu kembali.
"Hey, apa kabar?" sambutan hangat dari temannya Pak Darren, Mickey sambil melepaskan pelukan.
"Hey, Key. Lama nggak berjumpa ya. Aku baik-baik saja. Gimana kabarmu?" tanya Pak Darren kemudian.
"Baiklah. Eh, itu siapa yang ada di sampingmu?" tanya Pak Mickey penasaran.
Pak Darren terlihat kebingungan berusaha menutupi kepanikannya dan menjawab, "Ah, tentu saja dia anakku."
"Bukannya anakmu cuma satu sama dia, Ren? Trus ini kamu nikah lagi?"
Pak Darren semakin bingung karena ia tidak bisa jujur di depan Gavin sekarang. ....
To Be Continued ..
A Story by Alexiarischa feat. Aflcky22_