The Little Red Riding Hood. The Wolf. The Forest.
The Forest was the only witness from the Red Riding Hood tale, who was very easy to be tricked by the sly Wolf.
The Forest saw, how the Wolf start to unsure about his own feeling, and the Red Riding Hood, who was too naive and know nothing about animal forest's sly.
The inncocent Red Riding Hood that completely trusted with the Wolf.
And the sly Wolf, who was wondering his own feeling cause affected with the Red Riding Hood's trust.
The Forest curious and saw carefully, trying to figure out how will the story end. The Forest laugh cause of their drama.
But when the Forest bored, the Forest whispered some magic word to the Wolf, it's just the perfect time to prey on the Red Riding Hood isn't?
~•••~
Tangan pucat itu kini dihiasi darah merah. Pisau daging raksasa di sana terus melakukan gerakan vertikal yang sama, mencacah gumpalan daging berbulu di atas meja kayu secara acak, kecuali bagian leher ke atas. Tidak ada ekspresi di wajahnya yang ber-make up badut sederhana, selain terciprat oleh darah makhluk di bawah tekanan tangannya. Namun ia sama sekali tidak repot-repot membersihkan cairan itu. Suara teriakan penonton terdengar begitu histeris di dalam ruangan tertutup itu, teriakan ngeri bercampur ketakutan yang terdengar begitu manis di telinganya. Di bawahnya, si korban menangis pasrah tanpa suara karena pita suara yang sudah dipotong. Tubuhnya terasa dibelah-belah, meskipun sebenarnya belum ada yang terpotong sepenuhnya. Seluruh bagian yang dicacah masih menempel pada satu bagian kulit yang rebah di atas meja, sengaja tidak dipotong supaya terlihat hampir-putus.
Merahnya darah terciprat sampai dua baris meja di depan tempat eksekusi, menempel pada wajah-wajah histeria penonton. Di salah satu meja barisan kedua, telinga gadis itu berdenging keras, mata kirinya berputar antara buram dan jelas. Gerakan di sekitarnya berubah menjadi slow motion, dan suara-suara hilang timbul di telinganya. Tubuhnya sedikit limbung karena syok. Rasa sakit di mata kanannya kembali menjadi-jadi, dan darah yang sudah berhenti kini mengalir lagi.
"Scarlett?" tanya sebuah suara. Tangannya menepuk bahu gadis itu, lalu mendadak segalanya kembali normal bagi Scarlett. "Kau tidak apa-apa?"
Suara dan adegan sadis cacahan lebih menarik perhatian Scarlett, meskipun suara pemuda di sebelahnya yang telah menarik kembali kesadarannya. Gadis itu mengernyit menahan sakit, memegangi mata kanan yang sakitnya luar biasa, lalu mengusap darahnya dan berkata, "aku baik. Jangan khawatirkan aku."
Teriakan masih menggema, dan satu gerakan vertikal yang paling keras terdengar, mengakhiri eksekusi publik ini.
Sebuah kepala berbulu menggelinding di lantai, dengan mata kosong yang menampilkan kengerian luar biasa menjelang maut. Sorot hampa tanpa rasa yang hanya bisa ada karena sakitnya meregang nyawa.
Di belakang meja, pria yang memegang pisau daging raksasa meletakkan benda itu di atas tubuh makhluk yang tercincang. Dengan senyum sinting menghiasi wajahnya, ia berkata, "baiklah, siapa selanjutnya?"
~•••~
Sebelum memasuki 'sekolah itu' sekalipun, bagi Scarlett hari ini sudah sangat payah.
Beberapa waktu sebelum memasuki 'sekolah itu', Scarlett terbangun di atas gumpalan benda basah yang lengket dan bau. Matanya bertatapan langsung dengan langit, dengan bulan purnama berwarna biru terang dan bintang-bintang yang berkilau. Pikirannya kosong, Scarlett tidak memikirkan apapun. Selama beberapa saat, yang dilakukan gadis itu hanyalah menatap langit malam yang gelap, tidak berpikir apapun, bahkan untuk sekedar ingat cara bernafas dengan alam sadarnya. Bibirnya terkatup rapat, dan tubuhnya tidak bergerak sama sekali. Sampai kemudian sebuah suara mencapai gendang telinganya.
"Sedang apa kau disana?" tanya sebuah suara yang berada di luar jangkauan penglihatan Scarlett.
Dan untuk pertama kalinya, gadis itu ingat cara bernafas dengan alam sadarnya. Scarlett megap-megap menghirup udara segar, tidak sadar bahwa pernafasannya semakin melambat dari tadi. Pertanyaan pertamanya adalah: dimana aku? Scarlett menelan ludahnya kasar, ia baru saja menyadari kalau beberapa ingatannya hilang secara acak. Ia melongo lagi, mencoba mengingat dengan keras segala ingatan yang hilang. Namaku Scarlett, pikirnya. Dia ingat namanya. Umurku...tujuh belas? Enam belas? Delapan belas? Tanyanya lagi. Hari ulang tahun...ah, ulang tahun itu apa?
"Hoi!" seru suara yang sama tadi. "Kau tidak apa-apa?"
Suara ini lagi, pikir Scarlett sebal. Siapa dia?
"Aduh, jangan mati dulu. Biar aku menolongmu," kata suara itu dengan nada khawatir yang cukup dibuat-buat, namun tidak disadari Scarlett.
Gadis itu ingin membantah ucapan si pemilik suara, mengatakan tidak sekeras-kerasnya, namun ia bahkan tidak bisa membuka mulut dan mengeluarkan suara. Scarlett merasa tubuhnya diangkat sesuatu yang terasa seperti angin, lalu mendarat di tanah. Tubuhnya kelewat lemas untuk sekadar menumpukan bobot tubuhnya di kedua kaki. Scarlett jatuh terduduk di atas tanah, menyadari bahwa punggung dan lengannya berlumuran lumpur busuk. Dengan susah payah, kepala Scarlett menoleh ke belakang, melihat kolam lumpur tempatnya rebah tadi. Dan dengan susah payah pula, ia menolehkan kepalanya kembali. Melihat si pemilik suara. Seorang pemuda yang terlihat seusia dengannya, barangkali satu atau dua tahun lebih tua maupun lebih muda. Rambutnya hitam gelap, dengan model seakan ditata oleh stylist rambut ternama, serta highlight biru elektrik di rambut depannya. Matanya yang juga berwarna biru elektrik tampak sedikit kontras dengan warna kulit zaitunnya, namun entah bagaimana terlihat cocok saja dengan pembawaan pemuda itu. Ia memakai jaket kulit motor warna hitam mengkilap dengan kancing perak berukir dan kaus abu-abu sebagai dalaman, celana jeans hitam kusam yang berbanding terbalik dengan jaketnya, serta sepatu bot motor hitam. Senyum di wajahnya tampak ceria dan juga misterius di waktu bersamaan, namun tidak satu pun dari penampilan pemuda itu yang menarik perhatian Scarlett.
"Kasihan," gumam pemuda itu dengan ekspresi wajah agak kaget.
Hembusan angin menerpa keduanya, membuat Scarlett merasakan sensasi aneh pada mata kanannya. Tunggu—
"Mata kananmu hilang, kau tahu itu, kan?" tanya pemuda itu tanpa tedeng aling-aling.
Pikiran Scarlett hampa setelah menyadari dan bahkan mendengarnya dari orang di depannya. Akal sehat Scarlett mencoba keras memproses informasi yang baru saja memasuki kepalanya, kembali memasuki mode alam bawah sadar seperti sebelumnya. Di depannya, pemuda itu menjentikkan jari untuk menyadarkan Scarlett kembali. "Halo?" tanyanya sambil menelengkan kepalanya agak bingung. "Kau tidak apa-apa? Kau tidak tahu soal matamu, ya? Maaf."
Meskipun dalam suaranya tidak ada rasa sesal sedikit pun, Scarlett melewatkan informasi ini. Ia kembali sadar, lalu berkata dengan suara ragu, "aku baru tahu."
"Kau membuatku takut," kata pemuda itu. "Katakan dimana tempat tinggalmu, aku akan mengantarmu pulang."
Tidak ke suatu tempat bernama...ah, aku lupa, pikir Scarlett dalam hati tanpa bisa ditahan. Dengan linglung ia berpikir keras dimana tempat tinggalnya. "Manhattan," kata gadis itu, "Upper East Side..." Sungguh, Scarlett tidak tahu kelanjutannya. Ia hanya mampu mengingat empat kata itu.
"Kau berasal dari Bumi? Aku tidak perlu mengantarmu pulang kalau begitu," kata pemuda itu. "Setelah tubuh aslimu terbangun di Bumi, kau juga akan kembali kesana."
"..."
"Tunggu," seru si pemuda tiba-tiba. "Kenapa aku bisa menyentuhmu kalau begitu?"
Anak ini bicara apa dari tadi? Tanya Scarlett tidak mengerti, mengernyit menatap pemuda seusianya itu. Sejak tadi pikirannya tampak kacau dan tidak beraturan. "Kau ini bicara apa?" tanya Scarlett. Pemuda di depannya diam saja, lalu bibirnya mulai bergerak. Hanya saja segalanya terlihat seperti slow motion di mata dan telinga Scarlett. Telinganya berdenging, dan gerakan-gerakan berubah menjadi slow motion. Kepala Scarlett mendadak pening, dan gadis itu bisa saja jatuh jika tidak dipegangi pemuda di depannya.
"Halo? Nona?"
Sebuah tepukan menyadarkan Scarlett. Gadis itu menatap pemuda di depannya yang terlihat cukup khawatir, sambil bertanya-tanya apa yang tadi dibicarakannya. "Kau bilang apa barusan?"
"Kubilang, namaku Oliver," jawab si pemuda sambil memutar kedua bola matanya, malas mengulangi kata-katanya lagi. "Dan aku juga bilang akan mencarikanmu solusi untuk keluar dari sini."
"Memangnya ini tempat apa?"
"Ugh, ini akan menjadi hari yang panjang," bisik Oliver sambil memalingkan muka, namun masih cukup keras didengar Scarlett. "Tempat ini adalah alam sebelum Bumi. Kuulangi, alam sebelum Bumi. Sudah jelas?"
Scarlett mengangguk tanpa dosa. Di depannya, Oliver menatapnya malas dan kembali menjelaskan, "biasanya yang bisa masuk kesini hanya arwah manusia yang keluar saat tidur. Tapi kau masuk kesini dengan tubuh fisikmu sekalian."
"Lalu bagaimana caranya aku kembali?"
"Makanya, aku bilang akan membantumu. Aku akan membantumu mencarikan solusinya," kata Oliver sebal.
Scarlett mengernyit heran. "Kenapa kau membantuku? Bukankah kita baru saja kenal?" tanya Scarlett ragu. Ia merasa laki-laki ini telah ia kenal, namun di saat yang sama juga terasa sangat asing. "Apa aku melupakan pertemuan kita?"
"Astaga. Tidak, Nona," jawab Oliver buru-buru. "Aku baru saja menemukanmu disini, tergeletak di atas lumpur."
Bagaimana caranya aku bisa jatuh kesana? Tanya Scarlett dalam hati. Tanpa sadar, gadis itu kembali melamun. Tiba-tiba Oliver berkata, "kalau kau bertanya bagaimana caramu ada di sana, aku tidak tahu."
Aku juga tidak akan bertanya padamu tahu, pikir Scarlett sinis.
"Aku akan menemui guruku, mencari bantuan," kata Oliver. "Siapa tahu beliau bisa memulangkanmu."
"Oh ya, satu lagi," sela Scarlett sebelum Oliver berdiri. "Aku kehilangan beberapa ingatan dan selalu sakit kepala jika mencoba mengingatnya, apakah itu wajar?"
"Entahlah," jawab Oliver dengan pandangan jujur. Mimiknya yang senantiasa tidak serius seketika berubah, "kau terkena amnesia?"
Jujur saja, Scarlett tidak tahu apa arti kata amnesia. Tapi aku pernah mendengarnya...dimana, ya? Karena tidak tahu dan berpura-pura mengerti, Scarlett mengangguk sekenanya. Ia mengawasi Oliver yang mendadak menghilang diiringi bunyi pop pelan. Tunggu...apakah itu normal? Gadis itu memutuskan untuk menganggapnya normal meskipun dalam hatinya ada perasaan aneh yang hinggap. Pertanyaannya hanya berputar antara normal dan tidak sejak tadi, sedangkan akal sehatnya mencoba mencerna apa saja yang baru dialaminya. Mungkin aku tidak mendengar beberapa hal yang dikatakan Oliver, pikir Scarlett lesu.
~•••~
"Jadi bagaimana?" tanya Scarlett sekembalinya Oliver—secara mendadak dengan bunyi pop pelan seperti tadi—masih bertanya-tanya bagaimana pemuda itu melakukannya.
"Guruku bilang kalau kau ingin dipulangkan, maka kau harus membayarnya—atau lebih tepatnya membuktikan sesuatu."
"Hah?"
"Yah...intinya, kau harus masuk ke sekolah yang dikelola guruku, membuktikan kalau kau pantas dibantu," jelas Oliver. "Atau lebih tepatnya membayar apa yang akan dilakukan beliau."
"Tunggu, jadi gurumu itu kepala sekolah atau kepala yayasan?" tanya Scarlett—yang bahkan tidak tahu apa arti dari kata-katanya sendiri.
Oliver mengabaikan pertanyaan Scarlett, "kau disuruh menemuinya di lantai teratas sekolah, dan kau pasti akan langsung membuka mata di Bumi. Guruku itu penyihir yang paling hebat disini."
Penyihir? "Tunggu...apa?"
"Aku tadi sudah menyebutkan kalau aku dan guruku adalah penyihir, kan?" kata Oliver ringan. "Yah, meskipun aku masih pemula."
Kepala Scarlett kembali berputar antara normal dan tidak. "Aku tidak dengar," jawab gadis itu sambil menunduk.
Oliver mendengus kasar, "baiklah, sudah cukup penjelasannya. Kau mau atau tidak?"
"Dibantu gurumu? Boleh saja," jawab Scarlett sekenanya, tanpa berpikir panjang.
Oliver menggerutu pelan seolah menyesali jawaban Scarlett. "Masalahnya, aku diperintahkan untuk menemanimu ke sana," katanya dengan nada sangat kesal.
Aku tidak mau ditemani olehmu, pikir Scarlett tanpa bisa ditahan. Mimik mukanya berubah kesal juga, namun ia tidak tahu sedang berada di mana dan menuju ke mana, jadi kini ia sangat bergantung pada Oliver. Gadis itu mendengus kesal, namun ia tetap menjawab dengan nada stabil, "baiklah, terserah kamu saja."
~•••~
"Selamat datang!" seru seorang wanita dengan kisaran usia sekitar awal dua puluhan, dengan rambut pirang pendek berombre biru di bagian bawah. Ekspresinya tampak...liar dan gila, kurang cocok dengan jas hitam dan rok span pendek yang cukup ketat serta sepatu hak tinggi warna hitam dengan motif ukiran unik di sana. Ia menarik nafas dan kembali berseru, "semoga kalian betah disini. Namaku Bianca Clarke, dan aku serta orang-orang yang ada di atas panggung adalah guru-guru kalian nanti. Kami akan memberi ujian-ujian sederhana yang akan membuat kalian menjadi murid resmi dari sang guru di lantai paling atas setelah melewati semuanya. Ujiannya sangat mudah sampai kalian bisa mengerjakannya dengan mata tertutup. Berusahalah jadi yang paling terakhir bertahan disini, dan semoga guliran dadunya berpihak pada kalian!"
Di sebelahnya, guru-guru yang dimaksud serta seluruh makhluk di bawah panggung bertepuk tangan untuk pidato singkat tersebut. Di bawah panggung, Scarlett dan Oliver ikut bertepuk tangan sopan sembari menatap deretan guru-guru berpenampilan mirip manusia di atas panggung. Memang beda, sih, pikir Scarlett. Murid-muridnya bahkan tidak bisa diketahui jenis kelaminnya. Di sekitar Scarlett dan Oliver, ada makhluk yang mirip manusia, ada beberapa yang manusia sepenuhnya, banyak di antara mereka yang berbentuk aneh dengan kulit diselimuti bulu, duri, atau malah tidak diselimuti apapun kecuali lapisan kulit tipis berlendir. Berbeda dengan guru-guru di atas panggung yang memakai pakaian 'beragam', hampir keseluruhan dari mereka mengenakan pakaian aneh yang terdiri dari paduan warna kontras, model yang tidak sama, ukuran yang besar-kecil tidak karuan, atau perpaduan dari semua itu. Biarpun sedikit jijik pada murid-murid dan kesadaran yang masih berputar antara normal dan tidak, Scarlett tetap menahan isi perutnya supaya tidak keluar. Gadis itu beringsut dekat-dekat Oliver—yang notabene mirip manusia—supaya tidak bersentuhan dengan makhluk-makhluk berpenampilan beragam di sekitarnya.
"Sebegitu tidak sukanya bersentuhan dengan mereka?" tanya Oliver dalam bisikan sinis setelah didorong Scarlett ke kanan lagi karena hampir bersentuhan dengan salah satu makhluk berlendir kuning di sebelahnya.
"Memangnya kau suka?" balas Scarlett sewot dengan pandangan mata jingga yang tajam di bawah rambut cokelat terangnya. Ia memilih untuk tidak mengindahkan perkataan Oliver selanjutnya bila pemuda itu akan mengatakan sesuatu lagi. Rupanya Oliver diam saja.
"Sekarang silahkan cek tangan kanan kalian, di sana ada sebuah kertas yang bertuliskan huruf kelas kalian. Masuki kelas sesuai kertas, dan semoga beruntung untuk kalian semua!" Tirai panggung yang berwarna merah darah menutup secara tiba-tiba, membuat seluruh murid langsung mengecek tangan masing-masing. Scarlett sudah mengangkat tangan kanannya yang tiba-tiba mengepal berisikan kertas—secara ajaib—sebelum ditarik Oliver terlebih dahulu. Gadis itu berjengit kaget kala tangannya langsung ditarik tanpa aba-aba, lalu menatap Oliver kesal sambil mendengus keras.
"B-3, sama sepertiku," kata Oliver diiringi seringai di wajahnya. "Baguslah, tugasku semakin mudah kalau kita terus bersama."
Kata-kata itu mungkin ambigu bagi beberapa orang, namun Scarlett mengabaikan hal ini. Seluruh murid membentuk arus yang saling bergerak berlainan arah, dan tanpa aba-aba lagi, Scarlett ditarik oleh Oliver entah kemana. Tubuh gadis itu bertubrukan dengan banyak makhluk tidak dikenal yang seringnya berbentuk menjijikkan. Scarlett yakin dan ikut saja pada langkah Oliver yang menariknya, karena tahu bahwa laki-laki bertubuh tinggi itu akan mencari arah yang benar. Namun Scarlett juga kewalahan dengan langkah kaki lebar Oliver, sehingga membuat gadis itu lelah berlari mengikutinya. "Hei!" seru Scarlett agak keras, "jangan terlalu cepat!" Tetapi Oliver mendadak tuli dan tidak mendengar seruan Scarlett. Ah, menyebalkan sekali, pikir Scarlett sembari berlari-lari kecil.
Mereka berhenti di depan sebuah pintu berwarna cokelat dengan plat kuningan bertuliskan B-3. "Lain kali..." kata Scarlett dengan nafas tersengal, "jangan...main tarik..."
"Oh, ya? Maaf kalau begitu," jawab Oliver tanpa nada menyesal sedikit pun dalam suaranya. Namun lagi-lagi Scarlett mengabaikan hal ini.
Mereka memasuki kelas dan mendapati sudah banyak murid yang ada di dalam. Keduanya baru saja menduduki kursi masing-masing yang tersisa, dan seseorang muncul dari pintu kelas. Menampilkan sesosok pria muda dengan ekspresi sinting di wajahnya. Ia berusia sekitar pertengahan dua puluhan, dengan make up badut sederhana nan tipis, topi pesulap warna hitam, jas berekor ganda warna biru gelap bermotif bintang-bintang kuning cerah besar, celana panjang sewarna jas, serta sepatu pantofel tidak sewarna—yakni merah dan hijau. Benar-benar selera fashion yang buruk, pikir Scarlett sinis. Pria itu membawa beberapa alat, namun yang paling mencolok adalah pisau daging raksasa di tangannya. Membuat nyali Scarlett yang tadi mengoloknya mendadak menciut seketika. Ia berhenti di meja guru, meletakkan alat-alatnya, lalu tersenyum sinting sambil menepuk tangannya satu kali.
"Hai, kenalkan Henry. Aku adalah guru kalian, tentu saja," kata pria itu dengan tubuh yang seolah tidak bisa berhenti bergerak. Senyuman di wajahnya meresahkan seluruh hadirin, sedangkan tatapan matanya tampak sangat licik. "Tugas kalian bersamaku hanya satu, yaitu menebak bagaimana aku bisa melakukan trik sulap."
Terdengar suara ribut-ribut dari para murid, yang langsung ditangani dengan satu tepuk tangan nyaring dari Henry. "Perhatikan baik-baik." Segera setelah ia mengatakan hal itu, Henry menunjukkan satu pak kartu remi, mengocoknya dengan santai. Suara-suara di dalam kelas terhenti, hanya terdengar suara kocokan kartu. Beberapa saat kemudian, Henry menampilkan satu kartu King of Spades, mengibaskan kartu itu, dan seketika kartu King of Spades berubah menjadi Queen of Hearts. Ia lalu mengambil kartu Nine of Diamonds dan mengangkatnya tinggi-tinggi, tangannya bergerak ke depan dan ke belakang dengan cepat, membuat kartu itu hilang seketika.
Henry tersenyum dan berkata, "ayo tebak, bagaimana aku melakukannya? Tebak keduanya, lagipula ini hanya tipuan yang sangat sederhana. Bila benar, bisa langsung mengikuti ujian selanjutnya."
Salah satu murid dengan tubuh penuh bulu mengangkat tangannya ragu-ragu, Scarlett bisa melihat keraguan dalam getaran tangan teman sekelasnya. "Bagus, Nak," kata Henry dengan seringai seram nan licik di wajahnya yang ber-make up badut. "Jelaskan triknya."
"Anda menggunakan sihir," kata makhluk itu dengan suara bergetar. Entah suaranya demikian atau ia sedang gugup. Scarlett jelas berpikir bahwa yang dilakukan Henry adalah sulap, namun anggapan teman sekelasnya ini bisa juga tidak salah, karena orang yang menemaninya kemari juga seorang penyihir. Gadis itu mendongak menatap Oliver di sebelahnya yang tampak tenang-tenang saja di atas kursinya, seolah sedang menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Henry tersenyum sadis, lalu menyuruh murid itu ke depan. "Tidurlah di atas meja guru," titah Henry dengan nada yang tidak bisa ditolak. Murid itu menurut, dan dengan segera jari-jari Henry yang kurus panjang membelai lehernya yang berbulu dan berkata, "salah, Nak. Coba lagi lain kali, oke?"
Tangan Henry mengambil pisau daging raksasanya dan mendekatkan benda itu ke leher murid tidak bersalah yang menggeliat mencoba melepaskan diri. Anehnya, tenaga Henry lebih kuat dari makhluk berbulu yang notabene terlihat lebih besar dan kuat. "Coba lagi lain kali," katanya dingin. Lalu mengangkat pisau daging setinggi-tingginya, serta merta jatuh menimpa leher murid tak bersalah itu. Suara teriakan kaget dan ngeri bercampur jadi satu. Darah terciprat kemana-mana, termasuk ke wajah Scarlett.
Tangan pucat itu kini dihiasi darah merah. Pisau daging raksasa di sana terus melakukan gerakan vertikal yang sama, mencacah gumpalan daging berbulu di atas meja kayu secara acak, kecuali bagian leher ke atas. Tidak ada ekspresi di wajahnya yang ber-make up badut sederhana, selain terciprat oleh darah makhluk di bawah tekanan tangannya. Namun ia sama sekali tidak repot-repot membersihkan cairan itu. Suara teriakan penonton terdengar begitu histeris di dalam ruangan tertutup itu, teriakan ngeri bercampur ketakutan yang terdengar begitu manis di telinganya. Di bawahnya, si korban menangis pasrah tanpa suara karena pita suara yang sudah dipotong. Tubuhnya terasa dibelah dua, meskipun sebenarnya belum ada yang terpotong sepenuhnya. Seluruh bagian yang dicacah masih menempel pada satu bagian kulit yang rebah di atas meja, sengaja tidak dipotong supaya terlihat hampir-putus.
Merahnya darah terciprat sampai dua baris meja di depan tempat eksekusi, menempel pada wajah-wajah histeria penonton. Di salah satu meja barisan kedua, telinga gadis itu berdenging keras, mata kirinya berputar antara buram dan jelas. Gerakan di sekitarnya berubah menjadi slow motion, dan suara-suara hilang timbul di telinganya. Tubuhnya sedikit limbung karena syok. Rasa sakit di mata kanannya kembali menjadi-jadi, dan darah yang sudah berhenti kini mengalir lagi.
"Scarlett?" tanya sebuah suara. Tangannya menepuk bahu gadis itu, lalu mendadak segalanya kembali normal bagi Scarlett. "Kau tidak apa-apa?"
Suara dan adegan sadis cacahan lebih menarik perhatian Scarlett, meskipun suara pemuda di sebelahnya yang telah menarik kembali kesadarannya. Gadis itu mengernyit menahan sakit, memegangi mata kanan yang sakitnya luar biasa, lalu mengusap darahnya dan berkata, "aku baik. Jangan khawatirkan aku."
Teriakan masih menggema, dan satu gerakan vertikal yang paling keras terdengar, mengakhiri eksekusi publik ini.
Sebuah kepala berbulu menggelinding di lantai, dengan mata kosong yang menampilkan kengerian luar biasa menjelang maut. Sorot hampa yang hanya bisa ada karena sakitnya meregang nyawa.
Di belakang meja, pria yang memegang pisau daging raksasa meletakkan benda itu di atas tubuh makhluk yang tercincang. Dengan senyum sinting menghiasi wajahnya, ia berkata, "baiklah, siapa selanjutnya?" []
~•••~
/Ahlersmeyer:/
A sadistic teacher who has no amount of human empathy or understanding of fault.