Scarlett meneguk ludahnya kasar. Jantungnya berdegup begitu kencang sampai-sampai gadis itu yakin bisa memuntahkannya setelah beberapa menit. Senyum Henry di wajahnya terlihat begitu sinting dan menggelisahkan, lebih menggelisahkan dari sebelumnya. Kalau jawabannya bukan sihir, lantas apa? Otak Scarlett hanya menemukan satu jawaban, sulap betulan. Bukan tipuan. Arau Henry sengaja berbohong demi bisa membunuh seseorang. Artinya Scarlett dan seisi kelas harus menebak bagaimana Henry melakukan sulapnya. Padahal Scarlett baru saja kehilangan ingatannya—dan dia merasa tidak tahu apa-apa. Ingat nama sendiri saja sudah bagus, pikir Scarlett sendu. Ia lagi-lagi tidak memikirkan apa pun, hanya menunggu jawaban orang lain. Selain karena tidak punya bayangan tentang sulap-sulap ini, Scarlett juga merasa asing dengan hal itu. Meskipun demikian, Scarlett tidak bisa menjelaskan adanya sebuah bagian dalam dirinya yang menganggap bisa dan mampu melakukan hal ini. Scarlett membeku di tempatnya duduk, sama dengan seisi kelas. Di sebelahnya, Oliver berbisik pada Scarlett, "kau mau melakukan apa?" Dengan nada yang seolah sedang menguji gadis itu.
Tunggu, begitulah isyarat dari dalam dirinya sendiri, dan Scarlett tidak punya alasan untuk tidak menuruti nalurinya. Gadis itu tidak menjawab, hanya menunggu murid lain menjawab, membiarkan Oliver mengetahui sendiri apa maksudnya. Seisi ruangan senyap, hanya terdengar suara Henry yang bermain-main dengan mayat makhluk berbulu itu, membuat konsentrasi Scarlett ikut terbagi pada tindakan Henry. Suara pisau yang beradu dengan tumpukan daging di atas meja kayu terdengar cukup mengganggu, namun di sisi lain juga begitu teratur untuk membuat Scarlett semakin fokus.
Mata kanan gadis itu berdenyut-denyut sakit beberapa kali, namun ia mengabaikan fakta ini. Suara-suara pisau yang saling bersentuhan dengan daging jelas membuat suasana semakin mencekam. Nada-nada yang teratur itu justru membuat bulu kuduk berdiri. Seisi kelas diam sampai Scarlett mulai bosan. Namun tiba-tiba sebuah suara kursi yang berderak terdengar, membuat Scarlett kaget dan spontan menengok ke sumber suara. Berdiri seorang makhluk berkepala babi namun bertubuh manusia, dengan kemeja lengan pendek warna biru, sandal pantai, dan celana putih yang juga pendek. Karena berkepala hewan, ekspresinya sulit ditebak, membuat Scarlett hanya bisa mengira-ngira apa yang makhluk itu pikirkan. Makhluk berkepala babi itu berdiri dengan kedua tangan terkepal, membuat seringai Henry yang memudar kembali mengerikan.
"Bagus, Nak," puji Henry, meskipun tidak bernada pujian. "Kau sudah tahu jawabannya?"
"I ... iya. Aku...," kata makhluk itu sedikit terbata. Di sekelilingnya, teman satu timnya menyenggol dan mengatakan 'kau pasti bisa' tanpa suara. "Untuk sulap pertama, Anda menggunakan kartu dengan dua sisi yang berbeda. Yang ke ... kedua, Anda menghilangkan kartu dengan membuat kartunya berkamuflase dengan latar belakangnya dan menjatuhkannya ke bawah."
Henry bertepuk tangan dengan ekspresi sinting, sama sekali tidak bisa ditebak apakah si makhluk kepala babi benar atau tidak. "Teori yang bagus, Nak," kata Henry. "Benar-benar khas kaum awam."
Ada jeda yang sangat menegangkan setelah kata-kata terakhir. Henry mencengkeram kepala bagian belakangnya dan melanjutkan, "tapi salah."
Seisi ruangan seolah kehilangan suhunya. Terasa dingin tiba-tiba, dan oksigen yang juga terasa menipis tanpa sebab yang jelas. Atau mungkin hal itu hanya perasaan Scarlett saja. Jantung Scarlett berdegup kencang, kedua tangannya meremas ujung kain baju dengan gugup, sebelah mata jingganya yang seolah bersinar dalam gelap mendadak kehilangan sinarnya, serta wajahnya yang tiba-tiba kehilangan warna.
"Ayo, Nak," kata Henry dengan seringai, melambaikan tangan kanannya sementara yang lain menggenggam erat pisau daging besarnya. "Kemarilah. Tenang saja, ini tidak akan sakit."
Scarlett mengepalkan kedua tangannya di bawah meja, menatap si makhluk berkepala babi dengan tatapan kasihan, begitu pula dengan seisi kelas. Sementara teman-teman satu timnya terlihat lega karena bukan menjadi yang tereliminasi. Meskipun hal itu terlihat tidak adil, Scarlett juga mungkin akan melakukan hal yang sama jika satu kelompok dengan makhluk malang itu. Seisi kelas seolah tahu jika yang mendapat hukuman hanya yang menjawab dengan salah, bukan seisi timnya.
Bahkan dengan kepala babi sekali pun, Scarlett tahu kalau makhluk itu keberatan. Sangat keberatan. Dengan campuran ekspresi dari kengerian dan ketakutan yang sama besar dengan keberatannya. Kepala babinya menggeleng cepat dan terlihat seolah-olah akan kencing di celananya dan lari terbirit-b***t. Scarlett tidak suka melihat pembunuhan frontal ini. Bahkan, ia tidak suka melihat pembunuhan, Scarlett benci. Dia tidak suka nyawa seseorang dibuat seolah-olah barang bekas yang bisa dibuang kapan saja. Namun ... ia tidak bisa mengatakan apa pun, sebab Scarlett sekali pun masih memikirkan nyawanya sendiri. Kalau ada yang bisa kulakukan, pikir Scarlett, lalu ia mendadak menoleh dan menatap Oliver yang juga menyaksikan Henry berjalan ke arah si makhluk berkepala babi dengan wajah penasaran.
Oliver tampak tenang, biasa saja. Membuat Scarlett bertanya-tanya, apakah cara kerja dunia ini memang seperti ini. Apakah pembunuhan adalah hal biasa? Tanya Scarlett dalam hati, lalu apakah di Bumi juga berlaku hal serupa? Oliver bersikap jauh berbeda dibanding Scarlett, meletakkan satu kaki di kaki sebelahnya, tangan merangkul punggung kursi, serta ekspresi santai yang membuat Scarlett merasa harus mengikutinya. Scarlett takut jika dia dianggap bukan berasal dari sana. Ia tidak mau membayangkan kemungkinan-kemungkinan terburuk jika ternyata bukan berasal dari dunia itu adalah kejahatan.
Beberapa kali makhluk berkepala babi dan Henry melewati Scarlett, dan gadis itu tidak bisa menahan ketakutannya. Henry membawa-bawa pisau daging besar dan terlihat tidak peduli bila pisaunya mengenai target yang salah. Sementara makhluk berkepala babi itu berlari terhuyung, membuat Scarlett takut jika makhluk itu bisa saja sekonyong-konyong jatuh dan menimpa dirinya, membuat skenario buruk lainnya.
Namun setitik rasa ketidakadilan di dalam benak Scarlett mendadak berubah menjadi sangat besar. Scarlett tidak bisa terima jika kematian adalah resiko dari sebuah kesalahan menjawab. Gadis itu sama sekali tidak familiar dengan situasi ini. Apa yang bisa kulakukan untuk membantunya? Pikir Scarlett dalam hati. Aku tidak mau hanya sekedar membantunya, aku harus memiliki alasan kuat agar tidak dihukum Henry. Pertama-tama, jawabanku harus benar.
"Oliver, kau tahu sulap?" tanya Scarlett dalam bisikan. Keduanya mendekat supaya saling mendengar suara satu sama lain.
"Tahu."
"Ah, maksudku kau bisa sulap? Mengetahui triknya? Atau kau bahkan bisa menguasainya?" tanya Scarlett, mendadak berubah profesional—yang bahkan kata-katanya sendiri tidak ia pikirkan dahulu. Seolah-olah kata-kata itu biasa ia keluarkan.
"Kalau itu tidak," jawab Oliver. "Tapi aku penyihir. Aku bisa membuat apa saja, tidak perlu menggunakan sulap."
"Oliver, Henry menggunakan sulap betulan," kata Scarlett, mengingatkan hal yang seharusnya Oliver ingat sendiri. "Kalau kita tidak tahu, kita bisa mati."
"Kau sudah memikirkan jawabannya?" tanya Oliver, mengabaikan penjelasan Scarlett tadi.
"Kau sendiri?"
"Entahlah. Aku tidak yakin," jawab Oliver jujur, sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Rasanya aku familiar dengan sulap," aku Scarlett, "apakah aku bisa melakukannya tapi tidak bisa mengingatnya?"
"Mana aku tahu," komentar Oliver yang sama sekali tidak membantu.
"Bisakah kau memberikanku satu pak kartu?" tanya Scarlett, berharap Oliver bisa melakukannya.
"Tentu," kata Oliver. "Satu pak kartu segera datang!"
Scarlett mendesis ketika mendengar seruan Oliver yang cukup keras terdengar. "Cukup berikan saja kartunya, jangan teriak-teriak."
"Itu bukan teriakan," bantah Oliver. Ia menggoyangkan tangannya sejenak dan satu pak kartu muncul begitu saja di sana. "Nih."
Scarlett merasakan sensasi familiar dari kartu-kartu yang sedang dipegangnya sekarang, sensasi yang tidak bisa ia jelaskan alasannya. Ia membolak-balik kartu, melemparnya pelan, menjatuhkan, mengocok, dan lain sebagainya. Semuanya Scarlett lakukan dengan sempurna, sebatas yang ia tahu. Kedua tangannya merespon dengan baik. Sepertinya aku memang pernah belajar sulap, pikir Scarlett senang, kalau begitu seharusnya aku bisa menjelaskan sulap Henry.
Sambil membolak-balik kartu, Scarlett mencoba melakukan trik Henry tadi. Suara-suara juga sudah mulai terdengar di kelas. Beberapa membicarakan tentang jawaban trik, sedangkan yang lainnya membicarakan nasib malang si makhluk berkepala babi. Scarlett sendiri masih berkutat dengan kartu-kartunya, mencoba melakukan beberapa trik lagi.
"Kau mau membantuku?" tanya Scarlett dalam bisikan pada Oliver beberapa saat kemudian. "Kurasa jawabanku benar."
"Tahu dari mana?"
"Sepertinya sebelum kehilangan ingatan aku pernah belajar sulap," jawab Scarlett. "Aku bisa melakukan trik-trik sederhana seperti milik Henry."
"Trik lain?" tanya Oliver tidak yakin pada Scarlett.
"Bisa," jawab gadis itu mantap. Sebelah mata jingganya yang tadi kehilangan warna seolah kembali berpendar dalam cahaya temaram kelas. "Kau hanya perlu membantu di belakang panggung."
Oliver berpikir sejenak sebelum menjawab, "baiklah."
Scarlett kembali fokus pada kartunya, berharap Oliver tidak akan memasang tampang pura-pura mereka tidak pernah satu tim saat jawabannya salah nanti. Sebab Scarlett akan ikut melakukan sebuah trik nantinya. Gadis itu menyenggol Oliver untuk meminta atensinya, laku mendekat dan membisikkan sesuatu, "menurutmu bagaimana kalau begini rencananya...."
~•••~
Terdengar suara tabrakan di belakang, membuat satu kelas langsung menoleh dan mendapati si makhluk berkepala babi yang satu tangannya dikunci di belakang. Ekspresi wajahnya yang terlihat seperti akan disembelih—dan memang benar begitu adanya—membuat Scarlett meringis dalan hati. Tubuhnya meronta-ronta, menendang dan meninju udara kosong. Ia tidak tahu eksekusi macam apa lagi yang akan diberlakukan Henry.
"Awalnya ini menyenangkan," kata Henry dengan nafas tersengal. "Tapi sudah cukup main-mainnya. Waktunya kau dihukum. Dan karena telah mempermainkan gurumu, hukumannya akan jauh lebih berat."
Henry tertawa, suara tawa sumbang yang terdengar seperti berasal dari dasar tenggorokannya, dengan kepala mendongak ke atas dan ekspresi yang tidak jauh lebih gila dari sebelumnya. Meskipun kelihatannya Henry cukup kurus, rupanya guru itu mampu mengunci pergelangan tangan muridnya sambil tertawa-tawa. Henry menyeret makhluk berkepala babi itu, betul-betul menyeret karena makhluk itu sepertinya masih berjuang melarikan diri. Di dalam kelas seolah sedang terjadi pertunjukan penyembelihan babi betulan. Kebetulan mereka berdua lewat tepat di samping meja Scarlett dan Oliver, membuat Scarlett bisa melihat dengan jelas ekspresi menjelang maut dari sebuah makhluk berkepala babi. Teriakan dengan jelas terdengar, jenis yang hanya keluar jika nyawa sudah di ujung tanduk, dengan kaki dan tangan yang menendang udara kosong, sia-sia belaka.
"Tolong! Lepaskan aku! Kumohon lepaskan aku! Jangan bunuh aku!"
Henry menarik kursi guru, lalu menaruhnya tepat di tengah-tengah. Ia mendudukkan makhluk berkepala babi itu dengan paksa, lalu mengambil tali cepat-cepat di atas mejanya. Dengan cekatan, Henry mengikat makhluk malang itu. Seisi kelas tidak bisa berbuat banyak. Entah tidak peduli atau takut nasibnya serupa, mereka semua sama saja. Henry menahan kursi yang diduduki makhluk malang terikat itu dan memulai eksekusi publiknya.
Semuanya dimulai dengan sebuah silet kecil yang ukurannya tidak lebih dari jari manis orang dewasa. Sebuah sayatan kecil dimulai dari wajah. Sayatan-sayatan pendek di pipi, hidung, pelipis, dahi, bibir, dan dagu. Semua bagian kena sama rata. Teriakan penuh kengerian tidak bisa ditahan dari si korban—yang padahal belum diapa-apakan. Sayatan-sayatan kecil dilanjutkan ke leher, namun betul-betul dilakukan perlahan dan hati-hati, seolah menolak mengenai nadi terlebih dahulu. Henry terlihat sedang memberikan demonstrasi cara membunuh seseorang dengan perlahan dan menyiksa. Baju yang menutupi tubuh manusia si makhluk berkepala babi dilepas, membuat lahan baru untuk sayatan kecil lainnya. Darah menetes sesekali dari sayatan-sayatan di atas, namun tidak cukup banyak untuk membuat seseorang—apalagi Henry—terganggu. Celana pendek tidak dilepas, namun sandal pantai makhluk itu dibuang ke sembarang arah. Henry dengan santai melakukan pekerjaannya seolah-olah ia hanya seorang diri di dalam ruangan itu.
Suara siulan Henry terdengar bercampur dengan teriakan makhluk berkepala babi itu. Sayatan sudah dilanjutkan sampai ke dekat mata kaki, dan suara teriakan mulai terdengar sumbang. Nampaknya si korban sudah mulai lelah. Namun penderitaannya sepertinya belum usai.
Henry mengambil sebuah kotak di atas meja guru cepat-cepat dan membukanya perlahan. Jemarinya mengatup di dalam kotak dan keluar dengan bubuk halus berwarna putih. Dari kejauhan maupun dekat, bubuk halus itu akan tetap dikira garam. Dan memang benar adanya.
Dengan santai diiringi siulan, Henry menjatuhkan garam itu tepat di atas luka sayatan yang ia buat sebelumnya. Suara teriakan yang melemah dan mulai sumbang mendadak sekencang sebelumnya. Henry memegangi kepala babi murid itu dan memaksa kelopak matanya membuka, lalu menaburkan sejumput atau dua jumput garam di tangannya. Teriakan permohonan ampunan semakin gencar terdengar. Tubuh makhluk yang terikat itu sama sekali tidak membantu, hanya membuatnya semakin kesakitan setiap kali mencoba melepaskan diri. Garam di dalam kotak itu nampaknya cukup banyak untuk menyiksa makhluk berkepala babi itu sampai mati, namun sepertinya tidak akan berakhir semudah itu.
"Kumohon lepaskan aku! Tolong! Tolong!"
Sementara itu, Henry sama sekali tidak peduli. Ia masih fokus menggarami seluruh luka anak muridnya dengan santai. Teriakan yang memenuhi kelas nampaknya masih bisa lebih keras lagi, karena Henry sengaja memperbanyak garam yang ia jatuhkan. Henry kembali memberikan siksaan lain. Kali ini dengan jari jemarinya sendiri. Henry menekan seluruh sayatan dengan jari-jarinya, lalu menambah dalam sayatan-sayatan itu dengan siletnya lagi. Masih sama, gerakan korban sama sekali tidak berubah. Hanya jerit kesakitan, ekspresi wajah penuh kengerian, kaki yang menendang-nendang udara kosong penuh kesia-siaan, serta tubuh yang meronta-ronta dan membuat tubuhnya yang terikat semakin sakit.
Henry kembali mengambil sesuatu di atas meja guru, kali ini sebuah jarum suntik.
"Apa itu? Jangan suntik aku! Lepaskan aku! Keluarkan aku dari sini! Tolong!"
Masih mengabaikan jejeritan si makhluk berkepala babi, Henry mendekati kepala babi itu dan memeganginya erat-erat. Selama sejenak, tubuh itu bahkan berhenti meronta—mungkin agar suntikannya tepat sasaran dan tidak meleset ke tempat-tempat yang rawan. Jarum suntik nan kecil itu masuk ke dalam kulit leher babi dari makhluk itu, lalu menyuntikkan cairan ke dalamnya.
Setelah cairannya bereaksi, makhluk itu diam. Namun matanya masih terbuka, menampilkan ekspresi liar dengan bola mata yang seolah-olah bisa keluar begitu saja beberapa menit lagi. Henry mengambil pisau dagingnya dan kembali mendekat ke belakang kepala muridnya. Ia memulai dengan sayatan ringan, seperti membuat pola jahitan. Namun lama kelamaan sayatan itu semakin dalam dan seolah sedang menguliti kepala itu.
Bunyi becek kulit yang dipotong-potong bercampur dengan darah yang mengucur kemana-mana. Sementara itu kedua tangan Henry melepas kulit yang tadi ia potong perlahan-lahan dari kepala babi itu, menampilkan tengkorak putih yang berwarna merah terkena darah. Henry mengetuk-ngetuk tengkorak itu dengan gagang pisaunya, mimiknya masih santai dan tenang, bahkan menikmati kegiatan ini. Kulit yang tadi ia lepas menggantung begitu saja, masih menempel pada kulit leher yang menyangganya. Darah menetes tidak terkendali. Namun di atas semua itu, si makhluk berkepala babi nampaknya masih hidup.
Obat yang tadi disuntikkan ke makhluk itu hanya anestesi biasa, sebentar lagi efeknya akan hilang, dan Henry tidak bisa tidak tersenyum ketika membayangkan teriakan kesakitan dari makhluk itu. "Obat tadi adalah anestesi kalau kalian bertanya-tanya," kata Henry tanpa diminta.
Henry berdiri biasa, selesai dengan mahakaryanya. Ia berdiri di depan kelas dan di depan korban dengan wajah terciprat darah yang bukan miliknya, serta baju yang warnanya barangkali sudah hampir berubah menjadi merah. Kedua tangan Henry bertepuk beberapa kali sebelum ia terkikik sebentar dan berkata, "bagaimana? Tontonan yang menarik bukan?"
~•••~
Selama ekseskusi, Scarlett tidak bisa tidak melihat semua itu. Ia sudah mencoba berpaling, atau setidaknya menutup mata, namun tetap saja tidak bisa. Kedua telinganya mendengar segala suara laknat itu, dan Scarlett masih tidak bisa menggerakkan kedua tangannya untuk menutup telinga. Ia hanya duduk begitu saja di kursinya, tidak bisa berbuat apa-apa. Mahakarya Henry sudah selesai, hanya tinggal menunggu efek anestesi itu menghilang dan Scarlett tidak bisa membayangkan teriakan macam apa yang akan dikeluarkan teman sekelasnya itu.
"Scarlett? Kau tidak apa-apa?" tanya Oliver—yang sebenarnya sangat terlambat karena dia menanyakannya setelah Henry berdiri di depan kelas.
"Aku ... aku ...," kata Scarlett terbata. Mata kanannya kembali berdenyut sakit, dan ia juga tidak bisa melupakan adegan pembunuhan nan sadis itu. "Aku ... kurasa aku butuh waktu untuk berpikir."
"Rencana kita tadi bagaimana?" tanya Oliver, mengingatkan Scarlett akan rencananya tadi.
"Tunggu sebentar," kata Scarlett agak ketus. "Aku perlu waktu sebentar."
Tidak perlu dikatakan seberapa syoknya Scarlett ketika melihat adegan tanpa sensor dengan resolusi tinggi itu. Henry betul-betul berniat dalam mengerjakan pembunuhan itu. Benar-benar sukses membuat Scarlett ngeri dan tidak berani macam-macam dengannya. Dan seluruh guru di sekolah ini tentu saja. Scarlett punya firasat buruk pada sekolah ini. Harinya benar-benar sial. Scarlett tidak bisa memikirkan hal lain yang lebih buruk dari ini.
Tapi ... Scarlett menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Gadis itu merapikan rambutnya, membenarkan penutup matanya yang kurang menempel karena darah tadi, serta membersihkan darah yang keluar dari mata kanannya. Scarlett menoleh pada Oliver, memberikan tatapan siap terbaiknya dan berkata, "oke, sekarang aku siap."
Oliver menyeringai, membuat mata biru elektriknya semakin berpendar dalam gelap. "Bagus. Lakukan ini dengan baik. Kita belum pernah berlatih, jadi lakukan betul-betul."
"Aku tahu," kata Scarlett sambil memutar bola matanya. Aku harus bisa, tekadnya dalan hati. Setidaknya kematian teman-teman sekelas yang lain tidak akan sia-sia. Menatap Henry dengan tatapan membunuh plus dingin, Scarlett menyipitkan matanya sebentar sebelum akhirnya memaksakan kakinya yang selemas jeli sejak tadi untuk bangun. Ia memegangi meja erat-erat, merasakan tatapan seisi kelas ditambah Henry yang auranya terasa lebih kejam dan sadis. Scarlett menoleh pada Oliver—yang langsung memberinya dua jempol dan senyuman terbaiknya.
Nah, sebetulnya bukan itu yang Scarlett harapkan—ia lebih berharap Oliver mau membantunya mengingat kalimat yang tadi sudah ia hafalkan bersama pemuda itu sendiri. Scarlett kembali menatap Henry dan menguatkan diri untuk bicara.
"Aku tahu jawaban dari pertanyaanmu tadi," kata Scarlett, suaranya terdengar lebih percaya diri dan mantap melebihi ekspektasinya. "Tapi sebelumnya aku ingin menantangmu terlebih dahulu, sebagai sesama pesulap." []