Kalau manusia sedang terdesak, maka ia akan mengeluarkan sebuah kemampuan yang di luar akal sehat. Scarlett pernah membaca kutipan itu, namun ia tidak tahu di mana. Gadis itu melangkahkan kaki keluar kelas, ingin bertemu Oliver untuk berdiskusi. Ketika melihat rekannya itu, Scarlett langsung berlari dan menepuknya. "Sudah menemukan sesuatu?" tanya Scarlett.
"Belum. TKP agak penuh tadi, jadi aku hanya mendapatkan sedikit," jelas Oliver. "Kau?"
"Cuma tangan tanpa pemilik. Menyebalkan sekali." Scarlett ikut menyender di tembok sama seperti Oliver, ia lalu berkata, "aku ingin menginterogasi Emilia si guru. Tapi sebelum itu, aku harus membujuk teman kita Emilia untuk mengatakan sesuatu yang berguna."
"Kita interogasi guru kita bersama-sama saja, supaya dia terpojok. Siapa tahu dia bisa mengeluarkan rahasia-rahasia lain dalam dirinya," saran Oliver.
"Aku juga berpikir demikian. Tetapi aku harus menginterogasi teman kita si Emilia dulu. Aku punya firasat yang mencurigakan padanya, meskipun aku tidak tahu hal itu," kata Scarlett sambil menyilangkan kedua lengannya di depan d**a, menatap mayat Aries yang dilingkari oleh tali tipis. "Tentang rekaman kamera pengawas tadi, nampaknya memang harus kucari tahu lebih dalam lagi."
"Aku tidak tahu kenapa kau begitu terobsesi pada kamera pengawas, padahal TKP saja belum selesai," ucap Oliver.
"..."
Keduanya terdiam, larut dalam pikiran masing-masing. Scarlett menundukkan kepalanya, membuat helai-helai rambut cokelat gelapnya jatuh ke depan, menutupi sebagian wajahnya. Ia ingin kembali ke Bumi dengan segera, namun tampaknya nasib berkata lain. Gadis itu terkurung di kelas F-81 bersama satu mayat untuk diselidiki. Scarlett kembali berdiri tegak, menoleh menatap Oliver tepat pada kedua mata biru elektriknya yang seolah bersinar dalam gelap. Pemuda itu juga sedikit menunduk, mendadak tertarik menatap sepatunya sendiri. Scarlett berhenti menyender pada tembok, meregangkan tubuh sebentar, lalu berpaling dari Oliver. "Aku akan kembali pada Emilia si murid," kata Scarlett, "aku mungkin akan sedikit memaksa."
"Aku akan tetap di sini kalau begitu, temui aku kalau kau punya petunjuk lain."
"Kau juga." Scarlett meninggalkan Oliver, dan mereka kembali berpisah jalan.
~•••~
"Emilia, aku mau bertanya," kata Scarlett pada gurunya, dan tanpa menunggu persetujuan wanita itu, Scarlett sudah kembali bicara, "ada ruang kosong untuk urusan ini itu?"
Emilia tersenyum licik seperti biasa dan menjawab, "ada ruang kelas K-09 yang bisa kau gunakan."
"Di mana?"
"Tepat di depan kelas ini," jawab Emilia. "Nih, kuberikan kuncinya."
Scarlett menerima sebuah kunci perak dengan gantungan bulu ayam dari Emilia, bergegas mengucapkan 'terima kasih' dan pergi begitu saja, enggan dikomentari apa pun. Sambil membayangkan ekspresi wajah Emilia di belakangnya, Scarlett segera mendatangi Emilia yang lain. Gadis kambing itu masih duduk di kursinya, entah sedang melakukan apa. Herannya, Emilia si gadis kambing tidak berusaha mencari pembunuh Aries, padahal dia adalah teman baiknya. Didasari hal ini, Scarlett semakin curiga pada Emilia. Ia jadi kurang memercayai sikap lembut nan polos Emilia. "Hai," sapa Scarlett. "Boleh ikut aku sebentar?"
Emilia terlihat kaget, namun ia tersenyum mengiyakan dan berdiri mengikuti Scarlett. "Baik."
Scarlett memutar kunci pintu kelas K-09, dengan Emilia di sebelahnya. Gadis kambing itu lebih tinggi beberapa senti dibanding Scarlett, tidak seperti dugaan gadis itu sebelumnya. Sepertinya ini akan jadi sulit, pikir Scarlett. Suara kerit pintu yang terbuka sangat keras, membuat Scarlett menutup matanya dan berpikir, betapa kerasnya suara tadi. Mereka berdua masuk begitu saja, bahkan Emilia sama sekali tidak bertanya-tanya.
Ruang kelas itu besar dan kosong, dengan meja dan kursi yang semuanya disingkirkan ke pinggir, menyisakan satu meja dan dua kursi yang saling berhadapan di tengah-tengah, tepat di bawah lampu temaram. Scarlett yang menatanya tadi—dengan terburu-buru, jadi hasilnya tidak begitu bagus. Ada beberapa poster mata yang ditempel di hampir semua dinding, menciptakan ilusi tentang banyaknya mata yang sedang mengawasi. Scarlett membuat Emilia duduk di salah satu kursinya, sedangkan ia duduk di hadapannya.
"Scarlett, sebenarnya ada apa, ya?" tanya Emilia dengan nada takut, meskipun ekspresinya masih sama, ia tidak bisa menyembunyikan perasaannya.
Bagus, pikir Scarlett sambil tersenyum dalam hati, sudah dimulai, ya. Wajah Scarlett masih sedatar biasanya, gadis itu menyilangkan kedua lengannya di atas meja, menatap Emilia lurus-lurus. "Aku masih ingin bertanya soal Aries tadi."
"Kenapa tidak kau tanyakan di kelas saja tadi?" tanya Emilia, suaranya agak bergetar, entah karena menahan embikan atau memang ketakutan.
"Tidak apa-apa, di sini tidak akan ada yang tahu." Mengabaikan pertanyaan Emilia, Scarlett sudah memulai perbincangannya. "Jujur saja, aku tidak mengerti kenapa kau begitu bersusah payah menahan kebenaran keluar dari mulutmu."
"Aku tidak mengerti apa maksudmu," kata Emilia sambil tersenyum seperti biasa, namun gerak-geriknya tampak gelisah.
Scarlett menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, lalu menyilangkan tangan di depan dadanya dan mengawasi gerak-gerik Emilia. Aku tidak mengerti apa arti dari pandangan binatang, pikir Scarlett, sekarang hanya gerak-geriknya yang tersisa. Scarlett tersenyum tipis dan berkata, "aku sudah tahu kebenarannya. Bagaimana kalau kau bagi rahasiamu sedikit saja supaya aku bisa mengecek teoriku?"
Emilia meneguk ludahnya kasar, Scarlett bisa melihatnya. Kedua kaki kambingnya tidak berhenti bergerak, dengan arah yang tidak menuju Scarlett. Kedua tangan Emilia juga bergerak-gerak terus, apalagi sepasang mata kambingnya yang jarang sekali melihat ke arah Scarlett, membuat gadis itu semakin curiga. "Aku tetap tidak tahu apa maksudmu," jawab Emilia gugup. "Apa maksudmu?" Memasang tampang heran, gadis kambing itu juga memaksakan seulas senyum.
Suara detik jam terdengar begitu jelas, Scarlett tidak menyangka ada jam di belakangnya, tetapi karena ada di sana, Scarlett sangat senang. Mulai tahap kedua, komando otak Scarlett. Gadis itu menggerakkan kedua tangan dan kakinya sama persis seperti Emilia, menutupi sebelah tangannya, tidak menatap mata persegi panjang itu, serta terlihat enggan menjawab apa pun. "Menurutmu ... Aries itu bagaimana?" tanya Scarlett hati-hati.
"Dia teman ... baikku," jawab Emilia agak ragu.
"Lalu kenapa kau tidak mencari tahu masalah pembunuhannya? Bukankah sebagai sahabat Aries kau seharusnya memedulikannya?" tanya Scarlett. Sikapnya yang tadi sudah selesai. Ia sekarang berdiri, menatap Emilia angkuh dengan dagu terangkat, terlihat sangat mendominasi.
"A ... aku, aku ... aku tidak mengerti," cicit Emilia, ia mengepalkan kedua tangannya di depan d**a, terlihat sangat terintimidasi. Matanya mondar-mandir melihat Scarlett dan sekelilingnya. Sedangkan kedua kakinya terlihat gemetar.
Scarlett menaikkan sebelah alisnya, lalu berkata, "baiklah. Terima kasih atas kerja samanya."
"Eh?" Emilia tampak sangat keheranan. Ia masih duduk termangu di kursinya, Scarlett bisa melihat bulir-bulir keringat menetesi dahi gadis kambing itu.
"Sudahlah." Scarlett kembali duduk, kali ini sambil menatap tajam Emilia. "Pergi saja, aku tidak mendapatkan apa yang kubutuhkan."
"Maaf. Sungguh," kata Emilia sambil berdiri. Ia melangkahkan kaki kambingnya hati-hati seolah takut terkena pecahan beling tak kasat mata di lantai.
Scarlett menelengkan kepalanya sedikit lalu tersenyum tipis, "sejak kapan luka itu ada, Emilia?"
"Oh ini ... sudah lama," jawab Emilia dengan suara yang semakin mengecil di setiap kata, refleks lengannya langsung bergerak menutupi luka di tangan sebelahnya. "Aku duluan, ya."
Suara pintu kelas K-09 yang berderit kencang terdengar begitu bergema di dalam kelas yang menyisakan satu manusia sendirian di sana. Bisa dibilang aku tidak mendapatkan apa pun, pikir Scarlett sambil tersenyum tipis, tapi sebetulnya aku mendapat kunci kasus ini. Ia berdiri dan berjalan keluar kelas.
Saat Scarlett kembali melihat Emilia si guru di kelas F-81, di saat yang sama ia juga melihat Oliver, duduk tenang dengan mata menatap kosong pada sesuatu yang tidak ia ketahui. Scarlett berjalan cepat dan menepuk bahu Oliver, "dapat sesuatu?"
"Sedikit lagi. Aku sedang menunggumu," jawab Oliver. "Kita akan bertanya beberapa hal pada Emilia, kan?"
Scarlett tahu Emilia yang dimaksud adalah guru mereka—yang kini malah sibuk mengecat ulang kukunya. Gadis itu mengambil tempat duduk di samping Oliver dan mulai menjelaskan apa yang tadi ia dapatkan. "Emilia nampaknya memang tidak bisa dipercaya."
"Oh, ya? Bukankah aku sudah bilang?"
"Aku sedikit memprovokasinya, dan mendapatkan sebuah asumsi yang ... belum ada buktinya, tapi begitulah," ucap Scarlett dengan nada meragu.
"Apa yang kau bicarakan?"
Scarlett terdiam sesaat dan menarik nafas sebelum akhirnya menjawab, "kurasa memang benar Emilia teman kita yang membunuh Aries."
"Karena provokasi tadi?"
Scarlett mengangguk. "Aku ingin menginterogasi Emilia guru kita sekarang. Kau bisa menemaniku?"
"Tentu saja. Di ruang kelas tempatmu tadi bersama si kambing?" tanya Oliver, terang-terangan menyebut Emilia sebagai si kambing dengan tenang. Scarlett langsung memukul lengan Oliver sambil melirik ke arah bangku belakang tempat Emilia duduk dengan tenang.
"Kenapa?" protes Oliver.
"Kalau dia dengar bagaimana?"
"Ya tidak apa-apa. Dia, kan, seharusnya tahu bagaimana rupanya."
Scarlett menepuk dahinya dan kemudian menarik tangan Oliver untuk berdiri. "Sudahlah," kata Scarlett. "Ayo temani aku."
"Iya, iya," jawab Oliver.
Kini Emilia masih sibuk mengecat ulang kuku-kukunya dengan kuteks merah baru. Wanita itu tampak tidak terkejut melihat Oliver dan Scarlett di depannya. "Oh, hai!" serunya. Ia mendadak melompat turun ke lantai dan bertanya, "ada yang ingin ditanyakan?"
"Sebetulnya ada," jawab Scarlett.
"Bisa ikut kami ke ruang kelas K-09?" tanya Oliver, melanjutkan perkataan Scarlett.
"Oho, kalian mencurigaiku, ya?" Emilia tertawa, ia lalu berjalan keluar kelas sambil tertawa-tawa dan berkata, "ayo, Anak-anak. Waktu kita tidak lama."
Scarlett paham betul hal itu. Ia segera menyusul Emilia dan setelah sampai di kelas K-09, langsung menutup pintunya yang sudah tua itu dan berkata, "silahkan duduk." Pada Emilia.
Scarlett ikut duduk di kursi, dan mengisyaratkan Oliver untuk tetap berdiri. Gadis itu menyilangkan kaki dan tangannya, menatap Emilia kedua yang diinterogasi di sini dengan sama angkuh seperti sebelumnya. "Apa kau tahu siapa pembunuh Aries sebenarnya?" tanya Scarlett sebagai pembuka.
"Kalau aku tahu sekalipun, tidak akan kuberitahukan pada siapa pun apalagi kalian," jawab Emilia, sama sekali tidak merasa terintimidasi bahkan dengan berbagai properti yang Scarlett gunakan.
"Jadi, kau tahu?"
"Hm, bagaimana, ya. Aku tidak akan menjawab hal itu," jawab Emilia dengan senyum sadis nan licik di wajahnya. Tangan Emilia yang memegang tongkat komando juga tidak membantu.
"Kalau begitu kuganti pertanyaannya," ucap Scarlett. "Bagaimana kau bisa tahu jawaban mana yang benar kalau kau tidak tahu siapa pembunuhnya?"
"Aku akan membunuh siapa pun yang melanggar peraturan," kata Emilia, sama sekali tidak menjawab pertanyaan Scarlett. "Tetapi penilaianku tak pernah salah. Karena aku tahu siapa pembunuhnya."
Wajah Oliver dan Scarlett tampak kaget. Berdirinya Oliver di sana dimaksudkan untuk membuat Emilia terintimidasi, namun nyatanya tidak terlalu berhasil untuk wanita itu. "Kenapa kau repot-repot membuat kami mencari tahu siapa pembunuhnya kalau kau sudah tahu dan bisa membunuhnya sekarang juga?" tanya Oliver tidak mengerti.
Emilia tertawa, padahal tidak ada yang lucu. "Karena tidak seru tahu," jawabnya, membuat Scarlett merinding. "Aku suka saja, membuat orang-orang menderita."
"..."
"Begini, Sayang. Bukannya aku sengaja membuatmu melakukan hal-hal ini," tambah Emilia. "Aku memang suka, mau bagaimana lagi."
Scarlett menyipitkan matanya sebelum membalas, "baiklah, kita sudah selesai."
"Eh, sudah?" tanya Emilia. Ia lalu tertawa lagi tanpa sebab, "aku benar-benar suka melihat kinerja murid-murid yang pintar." Emilia berdiri dan keluar ruangan. Meninggalkan Scarlett dan Oliver berdua saja.
Selama beberapa saat, yang ada dalan ruangan bercahaya temaram itu hanyalah keheningan. Scarlett berpikir keras, apa yang ia lewatkan dari kasus ini? Kamera pengawas? Sepertinya aku terlalu terobsesi padanya. Apa yang terlewat? Fakta apa lagi?
Oliver mengambil tempat duduk yang tadi ditempati Emilia, lalu berkata, "cuma itu saja?"
"Memangnya apa lagi yang bisa kita kerok darinya? Dia menyembunyikan segalanya dengan baik," jelas Scarlett, menyuarakan pemikirannya. "Ruangan ini tidak mampu memprovokasinya."
"Apa yang kau lakukan di ruang kelas ini?" tanya Oliver.
"Aku sudah sengaja membuat ruangan bercahaya minim, memasang poster-poster mata yang banyak, serta membuat gestur yang mendominasi. Tetapi ternyata beberapa orang kebal akan hal itu," jelas Scarlett panjang lebar, lebih banyak kata-kata keluar dari bibirnya.
"Itu ... berguna untuk provokasi?"
"Tentu saja," bentak Scarlett sambil memijat pelipisnya. "Sudahlah. Aku pesimis. Asalkan matinya cepat aku tidak apa-apa."
"Hei, jangan begitu," balas Oliver. "Jangan pesimis. Kita pasti bisa melakukannya."
Scarlett diam saja, tiba-tiba tertarik memandangi kedua tangannya sendiri. "Kau sudah mendapat apa di mayat Aries tadi?"
"Oh, tentang itu." Oliver menyandarkan tubuhnya pada kursi dan bersikap lebih rileks. "Aku ingin kau melihatnya sendiri saja. Ada sesuatu, tapi lihatlah sendiri."
"Kenapa kau tidak bilang sebelumnya?" tanya Scarlett, langsung berdiri dan meninggalkan Oliver. "Ayo."
Keduanya berjalan lagi ke TKP, melihat mayat Aries yang sudah mulai terlihat berbeda dari saat pertama kali mereka melihatnya. "Apa yang ingin kau tunjukkan padaku?" tanya Scarlett.
"Kau lihat kuku Aries?" Oliver merangsek maju ke dalam lingkaran tali tipis dan menunjuk kuku-kuku jari Aries. "Di sini ada bekas-bekas kulit dan darah. Dan juga ada potongan bando di bawah kepala mayat."
"Mana?" Scarlett ikut masuk, ia mengangkat kepala mayat Aries dan melihat potongan bando, sebuah kelopak bunga yang patah. Warnanya sudah samar, sudah lengket terkena darah juga. Tetapi jelas terlihat jika itu adalah potongan hiasan bando milik seseorang. Scarlett juga mengangkat tangan Aries dan melihat kuku-kuku jarinya yang di dalamnya ternoda darah dan kulit yang sepertinya adalah kulit manusia. "Artinya ... si pembunuh punya luka. Barangkali di tangan atau di kaki. Dan dia punya bando di kepalanya."
"Benar," balas Oliver.
"Emilia punya luka di tangannya tadi, dia bilang itu luka lama," kata Scarlett, mendongak menatap Oliver. "Dia juga memakai bando di kepalanya. Tapi aku tidak tahu apa hiasan bandonya."
"Kita bisa mengeceknya."
"Aku tahu. Tapi aku tidak ingin membuat Emilia si guru tidak memercayai ucapan kita," kata Scarlett. "Bagaimana cara kita mengungkapkan kebenaran ini?"
"Aku punya ide ... tapi kurasa ini ide buruk," saran Oliver.
"Apa?" Mata Scarlett berbinar mendengar pernyataan Oliver tadi. "Coba katakan padaku."
"Begini...."
~•••~
Ketika melihat Emilia si gadis kambing di kelas, gadis itu masih duduk di kursinya seolah tidak terjadi apa-apa. Sepasang mata persegi panjangnya masih menatap seisi kelas dengan ceria, serta senyum yang terkembang. Seandainya sahabat Scarlett yang tiba-tiba mati dibunuh, gadis itu barangkali akan berpikir untuk melakukan hal yang sama, karena dia benci dikasihani. Tetapi tentu saja gesturnya akan berbeda. Tindak-tanduk Emilia nampak ... ceria dan bahagia di saat bersamaan, membuat Scarlett dan siapa saja heran. Tidak, pikir Scarlett, dia bukannya benci dikasihani, dia memang senang sahabatnya mati.
"Hai, Emilia," sapa Scarlett dengan suara keras, yang meskipun kata-katanya terdengar bersahabat, nada suaranya mengatakan hal sebaliknya.
"Scarlett? Hai!" balas Emilia dengan ceria.
"Tidak usah basa-basi," kata Scarlett, memotong perkataan Emilia yang baru ingin membuka mulut. "Aku tahu kau yang membunuh Aries."
"Euh ... sepertinya kau salah sangka, Scarlett," kata Emilia, sepertinya sudah lebih menguasai dirinya serta situasi dibandingkan dengan saat di ruang kelas K-09. "Aku tidak membunuh Aries. Bagaimana bisa kau berpikir demikian? Dia sahabat terbaikku."
"Lalu kenapa kau tidak berusaha mencari pembunuhnya dan malah senyum-senyum di kelas?" tanya Oliver sinis.
"Aku ... hanya merelakan kematian sahabatku," jawab Emilia dengan nada monoton yang tampak lain dari nada bicara biasanya, seperti sudah diulang-ulang ratusan kali.
"Luka itu kau dapat dari mana, sejak kapan, dan bagaimana?" tanya Scarlett, matanya yang memang selalu menatap tajam segala hal kini difokuskan hanya untuk Emilia. Ia seolah sedang menginterogasi Emilia lagi.
"Euh ... sejak dua hari yang lalu, saat terjatuh dari sepeda, bersama Aries," jawab Emilia, terdengar asal dan sekenanya, membuat Scarlett dan Oliver semakin curiga. Keduanya saling bertatapan secara bersamaan, entah bagaimana saling mengerti maksud satu sama lain, lalu kembali fokus pada Emilia.
"Hiasan bandomu itu rusak, lho," kata Scarlett. "Kenapa tidak diganti saja?"
"Begitu, ya," balas Emilia diiringi tawa canggung, ia langsung melepas bando berwarna ungu pastel itu dan menyembunyikannya di dalam laci meja. "Terima kasih sudah mengingatkan."
"Kami menemukan salah satu bagian hiasan bandomu, lho," ucap Oliver sambil menyeringai, tampak sangat menikmati membuat Emilia tertekan. Bulir-bulir keringat dingin yang melewati dahi Emilia dapat dilihat Scarlett dan Oliver, membuat keduanya semakin yakin pada asumsi mereka. "Tahu tidak, dimana kami menemukannya?"
"Di bawah kepala mayat Aries," kata Scarlett dan Oliver bersamaan. Keduanya saling menatap satu sama lain, lalu mengernyit tidak mengerti kenapa bisa mengatakan hal yang sama berbarengan. Tetapi Scarlett kembali menguasai situasi ketika menyadari bahwa ia sedang membuka rahasia seseorang, dilihatnya tubuh Emilia yang terlihat bergetar.
"Bagaimana bisa potongan bandomu ada di bawah mayat seseorang?" tanya Scarlett dengan nada menuntut.
"Bagaimana bisa luka itu sudah dua hari, padahal masih segar seperti itu?" tanya Oliver, menggunakan sihirnya untuk menghilangkan perban di tangan Emilia secara tiba-tiba, membuat luka cakaran yang cukup dalam itu terekspos, memperlihatkan diri pada dunia.
"Di mana kau saat pembunuhan Aries?" tanya Scarlett sambil menaikkan satu alisnya dengan sinis.
"Kan sudah kubilang, aku bersama Sheryl di sini," jawab Emilia, mencoba tenang meskipun yang terjadi adalah sebaliknya.
"Lebih tepatnya, di mana Sheryl sekarang?" tanya Oliver. "Dalam daftar nama murid dan pertanyaan untuk guru kita, Sheryl mengundurkan diri dan keluar sekolah sejak lima jam yang lalu, jauh sebelum kau masuk ke kelas ini."
Emilia tertawa sumbang, ia benar-benar menemui jalan buntu sekarang. Ia terdiam, menundukkan kepalanya, dan tiba-tiba mencicit, "memang aku pelakunya, terus kenapa?"
Suara Emilia sangat kecil, dan bibirnya tidak terlihat bergerak sama sekali. Tetapi Scarlett tetap mendengar kalimat itu. "Nah, yang seperti itu yang ingin kami dengar," kata Scarlett.
"Memang aku pelakunya, terus kenapa?" bentak Emilia, tiba-tiba tidak lagi terlihat tenang dan lemah lembut. Mata persegi panjangnya terlihat berapi-api. "Dia bilang dia tidak ingin melanjutkan sekolah ini lagi! Katanya dia ingin menjadi manusia di Bumi saja!"
Scarlett tidak mengerti apa yang diocehkan Emilia, tetapi ia tetap mendengarkan.
"Aku tidak terima. Setelah segala hal yang kulakukan untuknya...." Kalimat itu tidak diteruskan, karena Emilia malah berteriak seperti orang gila. "Aku tidak bisa melakukan apa pun tanpanya!"
Oke, ini mulai terdengar berlebihan, pikir Scarlett. Tepat setelah ia mengatakan hal itu dalam pikirannya, seseorang tiba-tiba melompat ke belakang Emilia dan menebas kepalanya. Darah menciprat kemana-mana, tetapi yang paling banyak jelas-jelas Scarlett dan Oliver. Gadis itu refleks menutup matanya agar tidak terkena cipratan darah, dan saat ia membuka mata, kepala Emilia dan rambut cokelat terangnya yang panjang sudah menggelinding di bawah kakinya. Masih menampilkan ekspresi marah di wajahnya, namun kali ini ditambah dengan ekspresi kaget. Scarlett juga melihat Emilia lain yang berdiri dengan sepasang mata tajamnya yang sadis, tersenyum saat melakukan pemenggalan kepala secara mendadak itu.
Tanpa mengelap darah yang tercoreng di sana, Emilia memasukkan pedang pendeknya ke dalam tongkat komando, rupanya alat itu berasal dari sana. Wanita itu terkekeh sambil mengelap darah yang menciprati wajahnya dan berkata, "nah, aku paling malas mendengar pembelaan pelaku pembunuhan."
Scarlett dan Oliver terdiam di tempat mereka berdiri, begitu juga dengan seisi kelas kecuali Emilia si guru mereka. Wanita itu berjalan mondar-mandir dan berkata, "selamat pada Scarlett dan Oliver. Mereka sudah menjawab dengan benar. Memang Emilia yang membunuh Aries, dan karena hal itu ... yang maju ke kelas selanjutnya hanya mereka berdua."
"Lalu nasib kami bagaimana?" tanya salah satu murid dengan berani.
"Yah, menurutmu bagaimana?" tanya Emilia balik, ia lalu tertawa keji tanpa sebab. "Tenang saja, aku ada hal lain yang lebih spesial untuk kalian"—ia menoleh pada Scarlett dan Oliver lalu melanjutkan kata-katanya—"dan untuk kalian berdua, silahkan pergi ke kelas L-09. Kerja tim yang sangat bagus, dan kurasa kalian memang cocok satu sama lain."
Karena Scarlett masih terbawa suasana, Oliver-lah yang bergerak dan menarik tangan rekannya keluar kelas. Sebelum keluar, Emilia kembali berseru, "selamat menjalani permainan selanjutnya!"
~•••~
"Kenapa?" tanya Oliver, melihat wajah Scarlett yang tampak tidak terlalu baik. Meskipun tertutup darah, eskpresi wajah Scarlett tetap terlihat lain dari biasanya.
"Aku cuma merasa nasib Emilia tadi tidak adil," jawab Scarlett. "Kuharap aku bisa menyelamatkannya tadi. Meskipun dia memang membunuh Aries, kurasa nasibnya tidak pantas berakhir begitu."
"..."
"Kenapa? Kau tidak peduli, ya?" Scarlett tertawa hambar. "Oh iya, kau juga berasal dari dunia ini. Hal remeh seperti ini pasti bukan apa-apa bagimu."
"Yah, aku tidak menyangkal hal itu."
Langkah Scarlett terhenti karena ditahan Oliver, gadis itu menoleh dan bertanya dengan dingin, "kenapa?"
"Aku memang tidak peduli, tapi bukan berarti aku tidak punya perasaan," jelas Oliver, sepasang matanya memandang langsung pada mata Scarlett.
"Aku tidak meminta penjelasan," kata Scarlett. "Aku hanya memberitahu pandanganku tentang kedua Emilia tadi."
"Aku juga hanya memberitahu pemikiranku," balas Oliver. "Tidak usah terlalu dipikirkan, lagipula Emilia yang mati itu tidak akan lagi merasakan penderitaan yang dirasakan siswa-siswi sekolah ini, kan?"
Scarlett sepertinya sudah teralihkan dan melupakan kalimat-kalimatnya tadi. "Hm, itu juga membuatku bertanya-tanya," kata Scarlett. "Kalau kau adalah muridnya pemilik sekolah ini, bukankah seharusnya kau pernah menjalani kehidupan di sekolah ini?"
"Ah, hal itu." Oliver menggaruk kepalanya entah gatal atau tidak, ia lalu berkata, "kalau itu ... aku bisa menjawab tidak."
"Kenapa?"
Oliver menunduk mensejajarkan tingginya dengan Scarlett dan menyeringai, lalu menempelkan jari telunjuknya di bibir Scarlett seraya berkata, "rahasia." []