"Menurutmu apa lagi yang akan kita hadapi di kelas selanjutnya?" tanya Oliver. "Guru-guru di sekolah ini terlalu kreatif."
"Mungkin sesuatu yang melibatkan rasa sakit dan nyawa, seperti biasa," jawab Scarlett. "Aku ingin segera menyelesaikan permainan-permainan ini."
"Ah, aku juga."
Scarlett menoleh sebentar pada Oliver dan berkata, "aku mau membersihkan semua noda darah ini. Kau tahu di mana kamar mandi dekat sini?"
"Aku juga akan bersih-bersih," kata Oliver. "Kurasa di dekat sini ada kamar mandi."
Setelah mencari-cari beberapa kali, akhirnya ada dua pintu kamar mandi yang mereka temukan. "Kita tidak akan terlambat, kan?" tanya Scarlett. Bagian dalam dirinya membenci keterlambatan tanpa alasan yang bisa ia ingat.
"Kurasa tidak. Bukankah guru selalu masuk kelas setelah kita masuk?" Oliver menjentikkan jarinya dan keluarlah baju dan celana yang sama persis dengan yang sedang dipakai Scarlett, jatuh ke lantai dengan bunyi puk ringan. "Baju yang sama persis, kan? Ambillah kalau sudah bersih."
"Terima kasih," kata Scarlett, merasa tidak perlu lagi memberitahu permintaannya. Ia segera memasuki pintu kamar mandi perempuan, dan lagi-lagi membersihkan dirinya dari darah yang bukan miliknya sendiri. Bau anyir membuat tubuhnya tidak enak, sehingga membuat Scarlett mencari-cari sabun untuk mandi. Oliver tidak akan marah kalau aku mandi dulu, kan? Tanyanya dalam hati. Kelas juga pasti bisa menunggu sebentar saja. Maka ia mengambil sabun batangan yang tinggal sedikit itu dan mulai mandi.
~•••~
"Kenapa kau sedikit lebih lama daripada tadi?" tanya Oliver. Namun ketika mencium bau sabun dan rambut basah Scarlett, ia langsung mengetahui jawabannya. "Oh, baiklah."
"Kau tidak mau mandi dulu?" tanya Scarlett. "Aku menemukan sabun di sana."
"Mandimu cepat juga, ya," komentar Oliver. "Tapi aku tidak perlu. Sudah, ayo pergi ke kelas."
"Oke."
Keduanya kembali berjalan mencari kelas. "Ngomong-ngomong, di sana kelasnya," kata Scarlett lagi. Kali ini pintunya berwarna hijau limau dengan plakat berwarna perak. Scarlett bisa mencium bau yang sangat tajam dari dalam. Ah, aku mengenali bau ini di mana pun juga, pikir Scarlett tanpa bisa ia tahan. Amonium hidroksida.
"Hm, bau apa ini ... cairan kimia?" tebak Oliver. "Apa, ya ... amonium hidroksida?"
Scarlett langsung menyenggol Oliver dan menahan pemuda itu masuk. "Apa kau lupa? Amonium hidroksida akan membuat kita keracunan!" seru Scarlett. "Kau punya pelindung atau apalah?"
Oliver menepuk dahinya dan berbisik 'lupa', lalu menjentikkan jari. Dua pasang jaket tebal berlengan panjang, sarung tangan, dengan masker dan penutup kepala, serta sepatu bot tebal, muncul di tangan Oliver secara tiba-tiba. "Ini cukup?" tanya Oliver.
"Kurasa untuk saat ini sudah cukup," jawab Scarlett. "Pakai cepat, atau kita akan keracunan." Scarlett tidak bisa mengira-ngira kenapa amonium hidroksida digunakan dalam permainan ini. Itu sangat berbahaya, pikir Scarlett.
Keduanya membuka kenop pintu dan melihat sudah banyak murid-murid di dalam sana berkumpul tanpa meja dan kursi. Di tengah-tengah kelas, ada tujuh tong raksasa yang terlihat sangat mencurigakan. Kelas itu benar-benar besar, dan sepertinya guru mereka sudah datang ke kelas. "Terlambat, hm?" tanya suara rendah yang terdengar malas, tetapi berbahaya dan licik. Suara itu kecil, tapi keheningan kelas yang begitu murni membuat suara itu terdengar begitu keras. "Baiklah. Kalian giliran paling akhir."
Seluruh murid mulai berbisik-bisik gugup.
"Namaku Hartz, dan aku adalah guru kalian untuk permainan ini," kata guru itu. Sosoknya tidak terlihat, namun sepertinya dia laki-laki, terdengar dari suaranya saja yang menggema seantero kelas. "Kalian mungkin bertanya-tanya apakah yang mesti kalian lakukan di sini. Jujur saja, aku punya metode berbeda dalam menjalankan permainanku. Pertama, ada kesenangan dalam diriku ketika melihat kalian para makhluk lemah pikiran, menjadi gila karena kebingungan, jatuh karena terburu-buru, tersesat karena tidak berlogika. Kedua, karena hal itulah, permainanku biasanya melibatkan logika. Terakhir, aku hanya bisa memberikan teks berisi kode untuk kalian pecahkan. Selamat gila dengan pikiran masing-masing." Terdengar suara tawa rendah nan dingin sebelum Hartz melanjutkan kata-katanya, "nah, sekarang aku akan menjelaskan apa yang akan menjadi permainan kita kali ini. Tugas kalian mudah, hanya menceburkan diri ke dalam satu dari tujuh tong ini. Namun biar kujelaskan isi dari masing-masing tong. Tiga di antaranya adalah amonium hidroksida. Tiga yang lain adalah asam sulfat, sedangkan satu di antaranya adalah air biasa. Tong berisi air biasa itu sudah diberi sihir pelindung di mana airnya tidak akan tercemar oleh cairan lain. Silahkan menceburkan diri ke dalam tong yang berisi air biasa. Kalau tidak ... tentu kalian tahu apa artinya."
Scarlett bisa merasakan tubuhnya merinding di balik jaket tebal yang ia kenakan.
"Nah, di tangan kalian sudah ada kertas berisi petunjuk untuk kalian ikuti. Silahkan memilih tong yang tepat," jelas Hartz. "Karena wajib berjumlah genap, silahkan masuk dengan rekan-rekan sekelompok. Jawaban kalian menentukan nasib seluruh anggota kelompok."
Suara tawa sinis berbahaya terdengar lagi dari Hartz, begitu ikonik, apalagi suaranya yang rendah nan dingin, tetapi anehnya menguarkan aura berwibawa yang kental.
Scarlett melihat tangannya yang dilapisi sarung tangan itu, tiba-tiba menggenggam secarik kertas yang bertuliskan:
Tiga kolam berisi asam sulfat, satu air biasa, dan sisanya berisi amonium hidroksida. Ada di antara asam sulfat dan amonium hidroksida. Airnya ada di sebelah asam sulfat. Kalau tercebur pasti mati, jadi pilihlah dengan bijak. Nomor enam dari sebelah kanan dan kiri. Di antara dua pilihan, jangan bingung memutuskan. Pilihlah sesuai keinginanmu, jangan goyah sedikit pun, karena keyakinanmu adalah yang utama.
Scarlett bisa melihat tujuh tong yang hampir seluruhnya berisi cairan kimia berbahaya yang rinciannya lebih ia hafal dibandingkan ingatan pribadinya sendiri. Bau amonium hidroksida yang sangat tajam membuat Scarlett khawatir akan masker yang ia kenakan. Meskipun bagus, ia tidak yakin bisa melewati ini semua tanpa ada sedikit komplikasi dalam tubuhnya.
"Nah, kepada peserta pertama, silahkan memilih tong yang akan kalian masuki," kata Hartz. "Silahkan ambil waktu kalian sebanyak mungkin, aku rasa semua orang membutuhkannya. Haha, tapi ingat, cairan amonium hidroksida bisa mempengaruhi fisik kalian jika sampai keracunan. Jadi jangan terlalu lama memutuskan atau kalian justru mati sebelum menceburkan diri ke dalam tong."
Scarlett tahu itu. Ia sudah tahu bahaya amonium hidroksida dan asam sulfat yang ada di dalam tong. Selain bisa mempengaruhi seluruh organ tubuh, amonium hidroksida juga bisa membuat kulit terkena dampaknya juga. Sembari menunggu gilirannya yang terakhir, Scarlett berharap baju yang diberikan Oliver cukup kuat untuk menahan amonium hidroksida menyentuh seluruh permukaan kulitnya.
"Oh, kawan kita yang satu ini sudah mau menceburkan diri ke dalam tong," seru Hartz, jika bisa dibilang berseru. Guru itu masih berkata datar dengan sedikit penambahan nada saja di dalamnya. "Mari kita melihat video siaran langsungnya."
Scarlett bahkan tidak menyadari bahwa ada layar televisi raksasa di setiap dinding, menampilkan empat makhluk beragam bentuk yang berdiri di samping sebuah tong dengan mata saling berpandangan. Kesemuanya tampak ragu dengan pilihan mereka, dan Scarlett tidak bisa menyalahkan mereka. Ia juga tidak ingin mati konyol karena menceburkan diri sendiri ke dalam cairan kimia berbahaya. Keempat makhluk itu tampaknya sangat terganggu dengan bau tajam amonium hidroksida, apalagi berada dalam jarak terdekatnya. Scarlett tidak mengerti kenapa mereka tidak segera terjun. Jika tidak, maka mereka mungkin akan mati keracunan bahkan sebelum menyentuh isi air tong.
Keempatnya saling berpegangan tangan dan tersenyum (?) satu sama lain. Mereka kemudian melompat bersamaan ke dalam tong kedua dari sisi Scarlett, di bawah kaki mereka. Kamera menyorot keempat makhluk itu dari atas, memperlihatkan empat makhluk itu terurai di dalam cairan kimia di dalam tong. Entah mereka jatuh ke mana, asam sulfat atau amonium hidroksida, keduanya juga sama-sama berbahaya. Suara cipakan air di mana mereka berjuang mempertahankan hidup mereka terdengar begitu keras dalam kesunyian kelas, tanpa suara teriakan sama sekali, karena kulit mereka sudah hancur di dalam cairan kimia itu. Anehnya, pembunuhan tanpa suara itu justru terdengar lebih menakutkan dari pembunuhan mana pun. Hal itu bahkan membuat Scarlett merinding. Ia tidak bisa membayangkan kematian konyolnya karena jatuh ke cairan kimia dengan keinginannya sendiri. Tanpa sadar gadis itu mengepalkan kedua tangannya. Sementara di dalam tong, suara kecipak air mulai mereda, dan warna air di dalam tong berubah.
"Haha, sudah selesai, ya," kata Hartz. Sosoknya yang tidak kelihatan dan tiba-tiba bicara langsung membuat kaget semua orang. "Akhir hidup yang sempurna. Kalau aku mati suatu hari nanti, aku juga akan masuk ke dalam asam sulfat."
Oh, jadi itu asam sulfat, pikir Scarlett. Yang mana pun tetap saja buruk, kasihan sekali tim tadi.
"Oh, mungkin aku juga bisa mandi dengan air amonium hidroksida untuk mati. Kedengarannya menyenangkan," kata Hartz, suaranya yang tanpa emosi sesaat terdengar sangat emosional. Suara yang masih membuat Scarlett terkagum-kagum. "Kurasa sudah saatnya mengganti air tong."
Sebuah tutup raksasa dari atap turun dan menutupi seluruh tong raksasa itu. Dan tidak ada yang tahu, apa yang terjadi di dalam sana. Mungkin seperti kata Hartz tadi, pikir Scarlett, mengganti air di dalam tong. Sesaat kemudian, tutup itu kembali naik ke atap, dan tong-tong di sana sudah kembali seperti sediakala. Suara Hartz kembali terdengar, "baiklah, sudah selesai. Untuk kelompok kedua, silahkan maju dan memasuki tong."
Scarlett bisa melihat enam makhluk lain yang beragam bentuk, naik dan berjalan ke pinggir tong. Keenamnya tampak sangat gugup dan ragu dengan satu sama lain. Masing-masing nampaknya ingin memasuki enam tong yang berbeda, tidak ada yang percaya pada satu sama lain. Meskipun dari jauh saja, Scarlett seolah bisa tahu apa yang mereka perdebatkan. Menyatukan pikiran dari sekian orang menjadi satu adalah salah satu hal yang paling sulit menurut Scarlett. Dalam hati ia merasa bersyukur karena hanya satu kelompok dengan satu orang saja. Selama beberapa waktu, yang dilakukan kelompok itu hanya saling berdebat satu sama lain.
"Oh, kurasa kelompok kedua kita akan masuk ke dalam sana." Hartz bertepuk tangan ketika wajah setiap anggota kelompok terlihat yakin pada pilihan mereka. "Ingat, ya. Keyakinan itu yang paling utama."
Di sisi lain, layar televisi kembali menampilkan siaran langsung kelompok kedua. Scarlett bisa melihat semua kelompok kembali memperdebatkan siapa yang masuk pertama dan paling akhir.
"Kurasa akan lebih baik jika kalian masuk bersama-sama," saran Hartz, yang kedengaran lelah menunggu kapan mereka masuk ke dalam tong. "Seperti kelompok sebelumnya, bukankah itu lebih baik? Kalian akan untung bersama, atau rugi bersama." Suara tawa Hartz yang rendah dan membuat orang merinding kembali terdengar.
Scarlett bisa melihat seluruh anggota kelompok yang saling berpegangan tangan dan melompat ke dalam tong kelima dari sisi Scarlett. Sebetulnya hanya satu orang yang melompat, namun masing-masing dari mereka menggenggam tangan satu sama lain begitu erat sehingga mereka jatuh bersama-sama pada akhirnya. Scarlett bisa mendengar teriakan akhir mereka sebelum suara kecipak air terdengar. Sama seperti sebelumnya, di dalam tong sudah tidak ada suara teriakan sama sekali. Kamera kembali menyorot ke dalam tong, memberikan tontonan kulit dan daging yang melebur menjadi satu dengan air. Tanpa teriakan, hanya ada suara air yang berderak mengikuti gerakan-gerakan terakhir dari keenam anggota kelompok itu. Keheningan benar-benar menyelimuti kelas. Bahkan sejak awal, tidak ada yang mendengar suara satu sama lain kecuali suara Hartz.
Permainan ini benar-benar menegangkan, pikir Scarlett. Hartz ... dia pintar memainkan suasana. Bersamaan dengan hal itu, suara tawa Hartz kembali terdengar.
"Lagi-lagi makhluk yang terjebak dalam ilusi keyakinan pada insting," kata Hartz. "Keyakinan yang salah. Itulah permainanku. Yang dibutuhkan adalah logika dan kecerdasan. Jika tidak ada satu pun dari kalian yang memilikinya, silahkan larut dalam salah satu dari dua cairan kimia mematikan."
Tutup dari langit-langit kembali turun, menutupi ketujuh tong raksasa selama beberapa saat sebelum kembali ke atas lagi. "Nah ... silahkan maju untuk kelompok ketiga."
Ada empat orang yang naik dan berjalan di pinggiran tong-tong raksasa itu. Saat mereka naik, Scarlett bisa mencium bau ketakutan yang semakin kuat menguar di ruangan itu, lebih tajam dibandingkan dengan bau amonium hidroksida. Kelompok ketiga ini cukup lama berpikir. Suara mereka yang cukup keras terdengar sayup-sayup dalam keheningan kelas yang tegang.
"... ada saatnya untuk memecahkan teka-teki ini," kata salah satu dari mereka, sayup-sayup terdengar oleh Scarlett.
"Tapi di sini tertulis yakin, dasar bodoh," bentak yang lain. "Keyakinan kita yang lebih penting."
"b******k. Sudah sejauh ini masa kita akan mati konyol?"
Scarlett menyetujui ucapannya. Perdebatan mereka nampaknya masih akan berbuntut panjang, sementara mereka tahu konsekuensi jika tidak segera melompat. Scarlett bisa merasakan waktu yang berjalan sangat cepat, dan kemudian kelompok ketiga itu sudah sepakat untuk melompat ke tong yang mana. Mereka saling berpegangan tangan juga, lalu melompat ke dalam tong ketujuh dari sisi Scarlett bersama-sama. Hati Scarlett merasa pesimis ketika siaran langsung dari televisi raksasa menampilkan adegan pelarutan empat orang itu. Gadis itu menyipitkan matanya sambil menghela nafas lelah. Tadinya ia berharap waktu yang dihabiskannya untuk menunggu kelompok ketiga itu bertengkar akan membuatnya menyaksikan akhir bahagia. Namun ternyata tidak juga. Tidak ada akhir bahagia.
"Ck, sayang sekali," komentar Hartz, "jujur saja aku berharap banyak pada mereka. Tapi ternyata harapanku tidak terwujud. Bagaimana, ya, kenapa kalian payah seperti ini, sih? Kalau kalian sedikit lebih pintar, empat belas orang sebelum saat ini akan selamat dan lulus dari permainan ini."
Bisik-bisik mulai terdengar, membuat kelas yang hening sejak tadi mulai bersuara. Tutup dari langit-langit turun kembali, menutupi seluruh tong untuk beberapa menit sebelum naik kembali. "Nah, sepertinya sudah giliran dari kelompok keempat. Silahkan naik dan pilih salah satu dari cara bodoh untuk mati ini."
Kali ini ada delapan orang yang maju dan berjalan di pinggiran tong. Setelah tiga kelompok berturut-turut mengalami kematian tanpa suara yang menyedihkan dan tentu saja menyakitkan, kelompok keempat nampaknya mulai berpikir bahwa tong berisi air itu tidak ada. Scarlett juga pesimis dan mulai berpikir demikian. Ah, apakah itu sakit? Tanya Scarlett dalam hati. Kurasa tidak apa-apa jika mati karena cairan kimia. Toh tidak ada yang akan tahu. Bahkan di sini tidak ada yang tahu namaku. Ya. Kurasa memang benar begitu.
Kelompok keempat tampak sudah pasrah dengan nasib mereka, kedelapan makhluk berbagai macam bentuk itu sepertinya sudah siap mati. Mereka tidak lagi membuang waktu dan sepertinya juga sudah gila akan pikiran mereka sendiri. Tatapan mata mereka yang terlihat lewat televisi raksasa itu menunjukkan kepasrahan dan kepedihan satu sama lain. Kedelapan orang itu nampaknya sudah membuat kesepakatan bulat sebelum naik ke sana. Karena tidak ada jalan keluar, mereka lebih memilih menjadi satu dengan cairan kimia itu. Ketika mereka jatuh ke dalam tong ketiga dari sisi Scarlett itu, bunyi kecipak air yang keras beserta kamera yang menyorot ke dalam isi tong menampilkan bagian di mana mereka semua melebur menjadi satu ke dalam cairan kimia itu. Entah yang mana, karena baik asam sulfat, amonium hidroksida, serta air, ketiganya sama-sama berwarna bening.
Scarlett mengawasi televisi raksasa di mana satu-satunya adegan yang ada hanyalah pelarutan dari delapan makhluk yang memilih pasrah dan mati dibandingkan dengan berjuang dan mendapatkan hasil yang sia-sia.
"Wah, sepertinya ada lagi yang bodoh," komentar Hartz. "Mereka yang memilih pasrah tidak cocok dalam permainanku. Mereka yang tenggelam dalam kegilaan sesaat akibat kebingungan yang merasuk. Nah, apa yang akan terjadi pada kelompok selanjutnya?"
Tutup di atas langit-langit kembali turun selama beberapa menit lalu naik ke atas lagi. "Nah, silahkan bagi kelompok kelima."[]