"Kalau pikiranku balon, barusan talinya putus.
Entah ke mana isinya pergi, tapi rasanya ringan dan menyenangkan."
~ Nozomi Hoshiko
*•̩̩͙✩•̩̩͙˚˚•̩̩͙✩•̩̩͙˚*
Aku menelan sisa terakhir sate kelinci.
Perutku terasa penuh. Hangat. Nyaman. Tapi anehnya, kepalaku tidak jadi lebih jernih seperti yang kukatakan tadi. Justru rasanya… kosong. Ringan. Seperti balon yang dilepas talinya.
“Oh,” gumamku.
“Sepertinya aku asal bicara tadi.”
Aku mengedip pelan, lalu kembali menatap sosok besar di depanku.
Raja Kaelvorn.
Ia berdiri diam, tinggi menjulang, bayangannya menutupi hampir seluruh tubuhku. Bau darah masih melekat kuat padanya. Tangannya—kalau itu bisa disebut tangan—masih berlumuran merah gelap.
Aku mendongak, lalu memiringkan kepala.
“…kalau dilihat dari dekat, kamu lebih besar lagi.”
Tidak ada yang terjadi.
Ia tidak bergerak. Tidak mengaum. Tidak menyerang. Hanya menatapku dengan mata tajam yang sulit k****a.
Karena tidak ada yang melarang, aku melangkah maju satu langkah.
Lalu satu lagi.
Dan satu lagi.
Kawanan Kaelvorn di belakangnya bergerak sedikit. Aku bisa merasakan tatapan mereka—bingung, waspada, dan mungkin… ragu. Biasanya manusia akan berteriak, lari, atau pingsan.
Aku malah mendekat.
Aku berjalan mengitari sang raja, kepalaku mendongak terus seperti anak kecil yang melihat patung raksasa di alun-alun.
“Ooooh…”
Aku mengelilinginya pelan, memperhatikan dari samping, dari belakang, lalu ke sisi lainnya.
“Kamu benar-benar tinggi. Kalau aku berdiri di pundakmu, aku bisa melihat seluruh hutan, ya?”
Tidak ada jawaban.
Aku berhenti tepat di depan tangannya.
Tangannya besar. Sangat besar. Satu jarinya saja lebih panjang dari lenganku. Dan darah yang menempel di sana… masih hangat.
Aku ragu sejenak.
Lalu… menggenggamnya.
Jari raja Kaelvorn sepenuhnya masuk ke dalam satu genggaman tanganku. Bahkan aku harus menggunakan kedua tanganku agar bisa memegangnya dengan benar.
“…wah.”
Aku menatap tanganku sendiri, lalu jarinya.
“Ukuranmu aneh sekali,” kataku jujur, sambil sedikit menekan dan melepas genggamanku. “Aku seperti memegang… batang kayu yang masih hidup.”
Aku tidak sadar bahwa beberapa Kaelvorn di belakangnya menegang. Ada yang menggeram pelan. Ada yang bersiap melangkah.
Aku sama sekali tidak memperhatikan itu.
Aku justru melepaskan jarinya dan melangkah ke sisi lain, menatap kukunya.
Kukunya panjang, melengkung, tajam—seperti pisau yang diasah dengan sabar.
“Ini tajam sekali,” gumamku.
“Kamu memotong daging pakai ini?”
Aku mengulurkan tangan, menyentuh ujung kuku itu dengan hati-hati. Lalu ekornya. Lalu cincin besar di jarinya—cincin logam dengan ukiran rumit, ukurannya lebih besar dari kepalaku.
“Cincinnya juga besar,” kataku antusias. “Apa ini jatuh kalau kamu lari?”
Aku terkikik sendiri.
Ini menyenangkan. Aku tidak tahu kenapa, tapi rasa takut tidak muncul sama sekali. Rasanya seperti melihat sesuatu yang baru dan menarik—seperti pertama kali melihat rusa atau air terjun.
Akhirnya, suara itu datang.
“Siapa… kau?”
Suaranya rendah. Berat. Getarannya terasa sampai ke tulang.
Aku mendongak.
Raja Kaelvorn menatapku—bukan dengan amarah, tapi dengan kebingungan yang nyata.
“Dan,” lanjutnya pelan, “kenapa kau tidak takut?”
Aku berkedip.
Lalu mataku justru tertuju ke atas kepalanya.
“…itu tanduk?”
Aku menunjuk.
“Boleh aku sentuh?”
Aku tidak menjawab pertanyaannya sama sekali. Kata-katanya hanya lewat begitu saja di telingaku, kalah oleh rasa penasaran yang tiba-tiba membuncah.
Mataku berbinar.
Raja Kaelvorn terdiam.
Beberapa detik berlalu.
Lalu ia… menghela napas.
“Jika kau menyentuhnya sembarangan,” katanya pelan, “kau bisa terluka. Tandukku tajam.”
Ia merunduk sedikit, kepalanya mendekat ke arahku. Mungkin untuk menakuti. Mungkin untuk memperingatkan.
Aku malah tersenyum lebar.
“Tidak apa-apa,” kataku cepat. “Aku hati-hati.”
Aku mengangkat tangan, ujung jariku menyentuh tanduknya.
Dingin.
Keras.
Tapi halus di beberapa bagian, seperti batu yang diasah oleh waktu.
“…indah,” bisikku tulus.
Aku menyentuhnya dengan sangat pelan, seolah takut tanduk itu akan menghilang kalau kusentuh terlalu keras. Mataku terbuka lebar, penuh takjub.
Saat itu, suara berat itu kembali terdengar.
“Jawab pertanyaanku.”
Aku menoleh.
“Oh.” Aku tersenyum kecil, baru ingat.
“Namaku Nozomi Hoshiko.”
Aku menurunkan tanganku dari tanduknya, lalu mengulurkan tangan ke depan—seperti yang biasa dilakukan manusia saat berkenalan.
“Senang bertemu denganmu.”
Aku mendongak lagi, menatap wajah besarnya.
“Kalau kamu raja,” tanyaku polos, “nama kamu siapa?”
Raja Kaelvorn menatap tanganku.
Lalu… ia mengulurkan satu jarinya.
Hanya satu.
Ia menyentuhkan ujung jarinya ke telapak tanganku—seperti jabat tangan versi raksasa.
“Ogami Akihiro.”
Namanya jatuh di udara seperti gema.
Ogami Akihiro.
Dan untuk alasan yang bahkan tidak kumengerti, dadaku terasa bergetar pelan—seolah dunia baru saja mencatat sesuatu yang penting, meski aku sendiri belum tahu apa artinya.
*•̩̩͙✩•̩̩͙˚˚•̩̩͙✩•̩̩͙˚*
Aku tidak tahu apakah hari ini aku menemukan raja,
atau raja yang menemukan kesalahan terbesar dalam hidupnya.
Perutku kenyang, kepalaku kosong, dan dunia terasa terlalu tenang
untuk pertemuan yang seharusnya berakhir dengan kematian.
Jika ini mimpi, aku belum ingin bangun.
Jika ini awal dari sesuatu, aku bahkan belum tahu apa pertanyaannya.
Menurutmu, apa yang akan terjadi selanjutnya?
Aku tetap hidup karena nasib—atau karena raja itu belum memutuskan?
Kalau kau punya teori, simpanlah di benak… atau tuliskan.
Dan kalau kau penasaran sepertiku—
jangan pergi dulu.
Karena aku juga belum tahu
apa yang baru saja kupanggil dengan satu jabat tangan kecil.