“Aku tidak tahu kenapa semua orang tampak takut padanya.
Bagiku, dia hanya seperti gunung besar yang lupa cara berjalan.
Diam, tinggi, dan… hangat jika disentuh.”
~ Nozomi Hoshiko
*•̩̩͙✩•̩̩͙˚˚•̩̩͙✩•̩̩͙˚*
“Ogami… Akihiro.”
Aku mengulang namanya pelan, mencicipi bunyinya di lidahku seperti mencoba rasa baru.
Nama itu panjang.
Terlalu panjang.
Aku memiringkan kepala, lalu tersenyum kecil.
“…kalau begitu, aku panggil kamu Hiro saja, ya?”
Udara langsung berubah.
Aku tidak tahu kenapa. Tapi rasanya seperti saat angin berhenti berhembus di tengah hutan—sunyi yang tiba-tiba.
Kaelvorn di belakangnya menegang. Aku bisa mendengar suara kuku mereka menggesek tanah. Beberapa mata membelalak, beberapa yang lain menyipit, seolah baru saja menyaksikan sesuatu yang… tidak seharusnya terjadi.
Raja Kaelvorn—Hiro—tidak bergerak.
Tidak ada perubahan di wajahnya. Tidak ada amarah. Tidak ada senyum.
Tapi matanya… sesaat, sangat singkat… seperti bergetar.
Hanya sesaat.
“Jangan,” katanya akhirnya, suaranya rendah dan datar.
“Itu bukan panggilan yang pantas.”
Aku berkedip.
“Eh?”
Aku menatap wajahnya, lalu menunjuk ke dirinya sendiri.
“Kenapa? Hiro kedengarannya bagus.”
Ia terdiam sejenak. Lalu berkata, sedikit lebih pelan dari sebelumnya, “Itu… panggilan yang bersifat intim.”
Aku mengernyit.
“…intim?”
Aku mengulang kata itu seperti anak kecil yang baru mendengar kata sulit.
“Apa itu?”
Beberapa Kaelvorn tampak semakin bingung. Ada yang menghela napas berat. Ada yang menoleh ke sesamanya, seolah mencari penjelasan yang sama sekali tidak ada.
Hiro menatapku lama.
Lalu akhirnya berkata, singkat, tanpa nada berlebihan, “Itu panggilan untuk mereka yang memiliki kedekatan. Pasangan. Atau keluarga.”
“Oh.”
Aku mengangguk cepat.
Aku tidak benar-benar mengerti, tapi aku merasa ini saat yang tepat untuk mengangguk. Seperti ketika orang dewasa menjelaskan sesuatu yang terdengar penting, meski otakku tidak menangkap isinya.
“Jadi… dekat,” gumamku.
“Pasangan…”
Aku mengulangnya pelan di kepalaku.
Pasangan.
Kata itu… aneh. Aku membayangkan dua orang berdiri berdampingan. Atau mungkin seperti dua sepatu yang selalu sepasang. Atau dua burung yang terbang bersama.
Aku tidak yakin.
“Tapi,” lanjutku ceria, “Hiro tetap cocok.”
Ia menatapku lagi.
Aku tersenyum lebar.
“Soalnya mirip kata Hero,” jelasku antusias. “Pahlawan. Dan kamu besar. Kuat. Jadi cocok.”
Aku mengangguk puas pada kesimpulanku sendiri.
Beberapa detik berlalu.
Tidak ada yang berbicara.
Hiro tetap diam, tapi aku bisa merasakan sesuatu yang berbeda. Seperti batu besar yang dilempar ke danau yang tenang—permukaannya terlihat sama, tapi di dalamnya pasti ada gelombang.
Aku, tentu saja, tidak memikirkan itu lama-lama.
Mataku justru tertarik pada kalung besar yang menggantung di lehernya. Ukirannya rumit, berbentuk simbol yang tidak kukenal.
“Ini apa?” tanyaku, sambil berdiri jinjit sedikit dan menyentuhnya.
Hiro tidak menghentikanku.
Aku menyentuh logamnya, lalu kain di baliknya, lalu kulitnya yang hangat.
“Banyak sekali hal aneh di tubuhmu,” kataku kagum. “Tapi bagus.”
Aku berjalan sedikit ke samping, mengamati punggungnya, lalu ekornya lagi. Aku bahkan sempat menepuknya pelan—sekadar ingin tahu apakah teksturnya keras atau lembut.
Ia tidak bergerak.
Ia hanya… berdiri.
Diam.
Seperti patung raksasa yang sedang memikirkan sesuatu yang sangat jauh.
Aku tidak tahu apa yang ia pikirkan. Tapi ada saat di mana aku merasa tatapannya tidak lagi sepenuhnya tertuju padaku—melainkan ke dalam dirinya sendiri.
Aku kembali ke depannya, mendongak.
“Hiro?” panggilku ringan.
Ia menoleh.
Aku tersenyum.
“Kamu baik, ya.”
Aku tidak tahu kenapa aku berkata begitu. Kata-kata itu keluar begitu saja.
Ia tidak menjawab.
Di sekeliling kami, pemukiman manusia yang hancur masih mengeluarkan suara api kecil yang menyala dan kayu yang runtuh. Bau darah masih pekat. Dunia ini seharusnya terasa menakutkan.
Tapi aku… sibuk memperhatikan hal-hal kecil.
Bentuk tanduknya. Ukiran cincinnya. Cara rambut ikalnya bergerak saat angin lewat.
Dan di saat aku sibuk dengan rasa takjubku sendiri, Hiro berdiri di sana—raja para pemangsa—diam, tegak, dengan mata yang kini tidak lagi hanya menilaiku sebagai mangsa atau ancaman.
Melainkan sebagai sesuatu yang tidak ia mengerti.
Dan entah kenapa, aku merasa… itu lebih berbahaya daripada taring atau kuku mana pun.
*•̩̩͙✩•̩̩͙˚˚•̩̩͙✩•̩̩͙˚*
Aku tidak tahu apakah aku sedang memasuki sarang pemangsa,
atau hanya memanggil sesuatu yang seharusnya tidak kupanggil.
Jika ini berbahaya, kenapa aku ingin melangkah lebih dekat?
Menurutmu, aku mangsa… atau awal dari kesalahan besar?
Tulis tebakanmu, beri suaramu,
dan ikut aku masuk lebih dalam.