“Mereka bilang ini sarang pemangsa. Tapi sejauh ini, yang memangsa aku cuma rasa lapar.”
~ Nozomi Hoshiko
*•̩̩͙✩•̩̩͙˚˚•̩̩͙✩•̩̩͙˚*
Aku tidak tahu sejak kapan kehancuran bisa terdengar begitu… sibuk.
Suara runtuhan kayu yang diangkat, batu yang diseret, dan langkah-langkah berat para Kaelvorn mulai menggantikan jeritan yang sebelumnya mengisi udara. Bau darah masih ada—kental, menempel di tanah dan dinding yang hancur—namun kini bercampur dengan debu dan tanah basah. Rasanya seperti dunia yang baru saja selesai menangis, lalu dipaksa berdiri kembali.
“Aku perintahkan kalian membereskan semuanya.”
Suara itu rendah, berat, dan tenang.
Hiro—tidak, Raja Kaelvorn—berdiri tegak sambil mengamati sekeliling. Tangannya yang besar terangkat sedikit, memberi isyarat. Para prajurit Kaelvorn langsung bergerak, patuh tanpa suara.
Mereka mulai mengangkat puing-puing rumah manusia yang hancur, menyingkirkan balok kayu yang patah, bahkan menggali tanah untuk menutup sesuatu yang… aku memilih tidak menatap terlalu lama.
Butuh waktu lama, itu jelas.
Aku menatap mereka bekerja dengan kepala sedikit miring. Lama-lama, hanya berdiri dan menonton terasa membosankan.
“…Aku bantu, ya.”
Aku tidak yakin siapa yang pertama kali mendengarnya. Mungkin tidak ada. Aku hanya melangkah maju begitu saja.
Beberapa prajurit Kaelvorn langsung berhenti. Kepala-kepala besar itu menoleh ke arahku serempak. Ada yang mengernyit, ada yang terlihat ragu, ada juga yang tampak benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
Aku sudah terbiasa dengan tatapan seperti itu.
Aku menunduk, mengambil potongan kayu kecil yang berserakan, lalu menyusunnya ke pinggir jalan. Kayunya ringan—bahkan terlalu ringan—tapi setidaknya aku melakukan sesuatu.
“…Kau sedang apa.”
Suara Hiro terdengar tepat di belakangku.
“Membantu,” jawabku jujur sambil memungut satu batu lagi. “Kalau dibiarkan, nanti jalannya susah dilewati.”
Kalimat itu keluar begitu saja, tanpa pikir panjang. Seperti fakta sederhana yang tak perlu diperdebatkan.
Hening.
Aku bisa merasakan tatapannya di punggungku. Berat. Membuat udara terasa lebih padat. Tapi aku terlalu sibuk memikirkan batu mana yang harus kupindahkan berikutnya.
“Aku tidak memerintahkanmu.”
“Oh?” Aku menoleh, menatapnya polos. “Tapi aku bosan.”
Itu alasan utamaku.
Aku mencoba mengangkat sebuah papan kayu yang sedikit lebih besar. Aku menariknya. Papan itu tidak bergerak.
Aku menarik lagi.
Tidak bergerak.
Aku mendengus pelan, lalu menatap papan itu dengan ekspresi serius, seolah sedang menantang benda mati.
“…Berat.”
Tentu saja berat. Seember air saja aku sering hampir terjungkal, apalagi ini.
Aku melirik ke salah satu prajurit Kaelvorn yang berdiri tak jauh dariku. Tanpa sadar, aku menunjuk papan itu.
“Yang itu bisa diangkat ke sana?”
Aku tidak bermaksud memerintah. Aku hanya bertanya. Benar-benar bertanya.
Prajurit itu membeku.
Ia menoleh ke arah Hiro, ragu. Tidak bergerak. Tidak menjawab.
Aku sempat berpikir mungkin aku salah bicara.
Lalu aku melihat Hiro mengangguk kecil. Sangat kecil. Hampir tidak terlihat.
Prajurit Kaelvorn itu langsung bergerak. Mengangkat papan itu dengan satu tangan dan memindahkannya ke tempat yang kutunjuk.
“Oh, makasih.”
Aku tersenyum lebar.
Beberapa prajurit lain mulai melirik ke arahku. Aku tidak sadar, tapi sejak saat itu, setiap kali aku menunjuk atau mengucapkan sesuatu dengan nada ringan, mereka selalu menoleh dulu ke arah rajanya. Menunggu satu anggukan kecil itu.
Aku merasa… aneh. Tapi juga biasa saja.
Aku terus berjalan ke sana kemari. Setiap kali menemukan sesuatu yang terlihat asing, aku berhenti.
“Ini apa?”
Aku memegang benda logam aneh yang bentuknya tidak kukenal. Salah satu prajurit menjawab dengan singkat. Aku mengangguk, meski sebenarnya tidak sepenuhnya paham.
Yang lain memilih diam.
“Oh… gitu.”
Aku tetap mengangguk, seolah penjelasan yang tidak ada itu sudah cukup.
Kadang aku menemukan sesuatu yang lebih menarik. Bentuknya aneh. Warnanya berbeda. Aku memutarnya, menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu, lalu lupa dengan apa yang sedang kulakukan sebelumnya.
“…Kau tidak pernah diam?”
Aku mendongak ke arah Hiro yang berdiri tidak jauh dariku.
“Enggak,” jawabku cepat. “Kalau diam, aku lapar.”
Aku tidak tahu kenapa, tapi membersihkan kekacauan ternyata membuat perutku berbunyi. Pelan, tapi jelas. Aku menekan perutku sendiri, cemberut sedikit.
Aku menatap sekeliling. Para Kaelvorn masih bekerja. Matahari sudah bergeser sedikit, meski belum benar-benar tenggelam.
Aku melangkah mendekati Hiro. Aku mendongak, karena perbedaan tinggi kami terlalu tidak adil.
“Hiro.”
Ia menoleh.
“Aku lapar.”
Kalimat itu keluar polos. Tanpa ragu. Tanpa takut. Seolah aku sedang berbicara pada seseorang yang biasa menyiapkan makan malam.
Udara berhenti.
Aku bisa merasakan perubahan itu. Para prajurit Kaelvorn yang sedang bekerja melambat. Beberapa bahkan berhenti bergerak. Tapi aku tidak mengerti kenapa.
“Ada makanan?” tanyaku lagi, tulus. “Sedikit saja nggak apa-apa.”
Aku tidak memikirkan apa yang mereka makan. Aku hanya memikirkan perutku sendiri. Lapar adalah hal yang nyata. Hal lain bisa dipikirkan nanti.
Hiro menatapku.
Wajahnya tetap tenang. Tidak ada perubahan ekspresi. Tidak ada kemarahan. Tidak ada tawa. Tidak ada kejutan yang terlihat.
Namun entah kenapa, untuk pertama kalinya sejak aku bertemu dengannya—
aku merasa…
dia benar-benar terkejut.
*•̩̩͙✩•̩̩͙˚˚•̩̩͙✩•̩̩͙˚*
Di antara reruntuhan dan darah yang belum kering,
seorang gadis hanya bertanya soal makan.
Siapa sebenarnya pemangsa di sini—
yang bertaring, atau yang terlalu polos untuk takut?