Lea menatap kesekeliling ruangan yang menampilkan banyak pasang mata yang tengah menatapnya. Atau lebih tepatnya menatap pria yang ada disampingnya.
Dengan cukup keras Lea menghela nafas dengan kesal. Entah mengapa dia merasa bosan dengan posisinya.
Kelakukan Lea membuat pria disampingnya menoleh dan melihatnya. Namun Lea tidak menyadari hal tersebut.
"Kenapa kau menghela nafas ? Apa kau tidak menyukai acara ini ?" tanya pria itu yang membuat Lea menatapnya.
"Kau mengundang berapa orang hah ? Kenapa ruangan ini begitu besar. Sampai aku tidak bisa melihat kerabatku sendiri" ucap Lea sebal.
"2200 mungkin. Aku tidak seberapa ingat" ucap pria itu acuh.
Lea mendelik mendengarkan hal itu. Jelas saja jika banyak sekali tamu undangan yang hadir. Lea kira hanya lima ratus orang saja.
Tangan yang terulur padanya membuat Lea mendongak. Melihat tangan Chaiden terulur untuknya.
"Ada orang yang ingin mengucapkan selamat" ucap Chaiden yang membuat Lea mengangguk dan menerima uluran tangannya.
Dilihatnya segerombolan orang naik dan sepertinya itu adalah kerabat Chaiden. Karena sejak pagi mereka sudah ada di sini.
"Wah... Wah... Keponakanku sudah besar rupanya. Bahkan sampai menikahi perempuan" ucap seorang mungkin bibi dari Chaiden.
"Astaga! Istrimu begitu cantik" ucap salah satu perempuan lagi.
"Yang sabar ya sama Chaiden, dia itu manja banget orangnya" bocor perempuan itu yang membuat Lea tersenyum.
"Ya, tentu saja" ucap Chaiden dengan memeluk Lea sayang.
Mereka semua setelah memberikan selamat dan berfoto ria. Akhirnya turun ke bawah dan menikmati hidangan yang sudah ada.
"Aku akan ke toilet" ucap Chaiden dan melangkah pergi.
Lea memutar kepalanya ketika Chaiden pergi. Entah kenapa disini sendirian lebih terasa aneh daripada bersama Chaiden tadi.
Saat ini Lea seperti pengantin yang ditinggalkan oleh pasangannya dimalam yang indah ini. Lea menatap kedua tangannya dengan rasa lelah di badannya.
"Hai..." sebuah suara membuat Lea mendongak.
Pramu, pria manis dengan senyum memikat berdiri di depannya. Masih dengan senyuman yang sama dan pancaran mata seperti dulu.
Lea berdiri dengan tersenyum kikuk dengan pria itu. Entah apa yang membuatnya naik ke sini sendirian. Apalagi ketika Chaiden tidak bersamaku.
"Congrats, Lee" ucapnya dengan senyum manisnya.
Lee panggilan yang begitu berkesan atau lebih tepatnya begitu spesial. Hanya dia yang memanggilku dengan kata terakhir dalam namaku.
Leandra Abigail Fairlee
Pria itu mengulurkan tangannya untuk berjabatan tangan. Lea dengan ragu ingin mengangkat tangannya.
Namun sebuah sodoran air minum membuat Lea menoleh. Chaiden berdiri di sampingnya dengan menyodorkan segelas minuman.
Lea dengan cepat menerima gelas dari Chaiden. Tak hanya minuman Chaiden juga membawa sepiring kue ringan yang ditaruhnya di kursi.
"Oh, Mr. Darlan" ucap Pramu dengan mengalihkan uluran tangannya ke Chaiden.
Dengan senyum tenang Chaiden menerima uluran tangan Pramu. Mereka berbincang sebentar sebelum mengalihkan pandangannya ke Lea.
"Selamat sekali lagi, Lee" ucap Pramu dengan mengulurkan tangannya.
"Terima kasih, Pram" ucap Lea dengan menjabat tangan itu.
Tatapan mata itu terlihat terluka ketika Lea mengganti nama panggilannya yang tidak seperti biasa. Pria itu berjalan hendak turun.
"Oh ya, tidak lengkap jika tidak mengambil foto bukan ?" ucap Chaiden yang membuat Lea menoleh kaget.
Pramu mau tidak mau mengiyakan. Dengan perasaan kikuk Lea berfoto diantara dua pria itu. Fotografer menyuruh mereka untuk berfoto hingga dua kali.
Setelah mengucapkan selamat sekali lagi. Pramu turun dan ikut bergabung dengan teman-teman sekolah yang memang diundang Lea.
"Segera makan" ucap Chaiden yang membuat Lea kaget.
*-*-*
Lea menyeduh tehnya dengan perlahan. Hari masih pagi dan menunjukkan pukul lima pagi.
Saat ini dirinya dan Chaiden masih menempati rumah orang tua Chaiden. Mereka ingin selama tiga hari ini Lea dan Chaiden tinggal disini sebelum pindah ke tempat baru Chaiden.
Ketika Lea keluar kamar Chaiden masih terlelap tidur. Karena kelelahan mereka berdua langsung tertidur setelah berbenah.
Tidak ada yang dilakukan pria itu. Bukannya Lea mengharapkan hal yang aneh-aneh terjadi. Tapi pria itu memang hanya tidur tanpa melakukan apapun kepadanya.
Jika di novel yang pernah dibaca Lea. Pria yang sudah memiliki hal halal akan langsung melakukannya tanpa pikir panjang. Bahkan sebelum halal banyak yang seperti itu.
Lea menghembuskan nafasnya. Masih diingat dengan jelas tadi ketika Lea bangun dia begitu kaget dengan kehadiran Chaiden tidur di sampingnya.
Seakan dia lupa jika saat ini dia telah menikah. Lea menghirup aroma teh yang baru saja diseduhnya. Begitu menenangkannya dan menghanyutkan.
"Lea... Kok sudah bangun" suara Mama Chaiden membuat Lea menoleh.
Ibu mertuanya itu berjalan mendekatinya. Lea tersenyum lembut dan menaruh secangkir teh itu.
"Iya, Ma. Tadi kebangun" ucap Lea yang membuat Mama Chaiden tersenyum.
"Kamu balik tidur aja dulu. Pasti kamu kecapekan ? Chaiden pasti juga belum bangun" ucapnya lagi.
"Lea udah nggak ngantuk, Ma. Mama mau masak ya ? Lea bantu, Ma" ucap Lea dengan berdiri dari duduknya.
"Udah... Udah... Mama bakalan dibantu sama pelayan aja. Sekarang kamu masuk kamar aja. Nggak baik ketika Chaiden bangun dan nggak melihat istrinya" ucap Mama yang seakan sudah keputusan final.
Lea turun dari kursi seakan ingin berprotes dan merayu Mama Chaiden. Tapi ucapan perempuan itu membuatnya mengurungkan niatnya.
"Oh ya Chaiden selalu suka jika dipilihkan baju. Mama minta tolong pilihkan ya, sayang" ucap Mama Chaiden.
Dengan berat hati Lea kembali ke kamar Chaiden. Ketika pintu kamar terbuka. Punggung kokoh yang dilihatnya tadi masih ditempat yang sama.
Punggung itu terlihat kokoh dan tak terkalahkan. Lea menghela nafas dan mendudukkan tubuhnya di sofa. Dia tidak tau apa yang harus dilakukannya saat ini.
Ketika Lea hendak membaringkan tubuhnya di sofa. Punggung itu bergerak dan berbalik. Lea sempat menahan nafasnya ketika otot di punggung itu ikut bergerak.
Lea membatalkan niatnya dan duduk di tempatnya semula dengan kaku. Benar saja Chaiden terlihat bangun. Pria itu melihat kesampingnya dan terlihat mengernyitkan dahinya.
Sebelum dia mendudukkan tubuhnya dan tatapan mata mereka seketika terkunci satu sama lain. Tempat sofa ini tepat di depan ranjang Chaiden saat ini.
"Sejak kapan kau bangun ?" tanya Chaiden dengan suara serak bangun tidurnya.
Pria itu mengusap kepalanya kebelakang dengan wajah bangun tidurnya. Lea tak tau harus mengatakan apa. Entahlah...
"Kenapa kau tidak menjawabku ?" tanyanya dengan kernyitan dahi yang begitu dalam.
"Tadi setengah lima" ucap Lea menjawabnya dengan kikuk.
"Baiklah, aku mau mandi dulu" ucap Chaiden yang seketika membuat Lea teringat sesuatu.
Pria itu beranjak dari ranjang dan akan berjalan menuju kamar mandi. Pria itu beberapa kali membenarkan posisi rambutnya dengan berjalan.
"Chaiden..." panggil Lea yang membuat pria itu menoleh.
"Apa kau ingin sarapan sesuatu ?" tanya Lea berusaha terlihat tenang.
Cepat atau lambat Lea harus membiasakan diri untuk menyiapkan semua kebutuhan Chaiden.
"Panggil aku Aiden dan aku akan memakan apapun jenis makanan yang dimasakkan orang lain untukku" ucapnya dengan melangkah pergi.
*-*-*