Aiden keluar dari kamar dan tidak menemukan Lea duduk di tempatnya tadi. Diusapnya rambut yang masih basah dengan sehelai handuk kecil.
Aiden berdiri di depan cermin dan menatap meja rias yang masih sama seperti biasanya. Hingga sebuah benda asing membuatnya tertarik.
Dibalikkan badannya dan menemukan satu setelan baju santai di atas ranjang. Sebuah senyuman terukir di sudut bibir Aiden.
Diambilnya baju itu dan segera dikenakannya. Bukannya seorang suami harus menghormati usaha seorang istri ? Baiklah Aiden akan melakukannya.
*-*-*
Lea menaruh piring di atas meja dan menatanya di samping gelas. Mama naik ke kamarnya dan mengatakan akan sarapan di dalam kamar dengan Papa.
Alhasil Lea sendiri disini dan menyiapkan alat makan di atas meja. Mama sudah menyiapkan makanan untuk sarapan semuanya.
Aroma harum masuk ke dalam indra penciumannya dan dengan refleks Lea menoleh ke pintu. Benar saja Aiden masuk ke ruang makan dengan wajah segarnya.
Pria itu menggunakan baju yang telah disiapkannya. Aiden menatapnya sekilas sebelum duduk di tempatnya sendiri. Pria itu melihat makanan di atas meja terlihat berpikir.
"Kau ingin teh atau kopi ?" tanya Lea berusaha beradaptasi dengan semuanya.
"Teh please" ucap Aiden yang membuat Lea mengangguk dan beranjak pergi.
Dengan ilmu yang telah dipelajarinya sejak kecil Lea membuat teh yang baginya terasa enak. Dari dulu Lea senang sekali dengan teh.
Tidak hanya membuat minuman teh hasil seduhan sendiri. Tapi Lea juga senang memasak dan belajar sejak kecil tentang masak memasak.
Setelah minuman siap Lea kembali ke meja makan dan menuangkan teh kedalam cangkir Aiden serta cangkirnya sendiri.
Pria itu belum memulai makannya sama sekali. Lea heran dengan sikap pria itu yang tidak langsung makan saja.
"Kenapa kau belum makan ?" tanya Lea dengan duduk di tempatnya sendiri.
"Kau belum menyediakannya" ucap Aiden dengan mengangkat piringnya.
Lea segera berdiri dan mengambilkan makanan untuk Aiden. Pria itu sejak tadi menatapnya dengan meminum tehnya sedikit dengan sedikit.
"Ehm... Lea" ucap Aiden yang membuat Lea menoleh dan menaruh piring itu.
"Ya ada apa ?" tanya Lea dengan duduk ditempatnya sendiri.
"Sebenarnya aku ingin membebaskan dirimu dari tugas seorang istri hari ini. Tapi kau melakukannya" ucap Aiden yang membuat Lea mengangkat alisnya.
"Lalu ?" ucapnya dengan meminum air putih terlebih dahulu.
"Bagaimana kalau kita melakukannya sekarang ?"
Lea tersedak dengan minumannya sendiri dan menatap Aiden dengan tatapan kaget.
"Apa ?" tanya Lea tajam dengan mengambil tisu yang di atas meja.
Aiden memangku wajahnya di atas tangannya. Dengan wajah yang bagi Lea begitu kurang ajar. Namun sukses membuat wajahnya terasa panas. Ucapan pria itu terlalu ambigu baginya.
"Tugas suami adalah membahagiakan istrinya jadi aku akan melakukannya. Habiskan makananmu"
*-*-*
Lea tetap diam ketika mobil keluar dari halaman rumah dengan mulusnya. Pria di sampingnya makin tampan dengan jaket kulit yang saat ini dikenakannya. Apalagi dengan wajah seriusnya saat menyetir.
"Jangan bilang kalau kau baru sadar jika suamimu ini tampan" ucap Aiden tiba-tiba yang langsung membuat Lea mengalihkan pandangannya.
"Ehm... Kita akan kemana ?" tanya Lea mengalihkan pembicaraan sedangkan Aiden tersenyum melihat hal itu.
"Ketempat dimana aku bisa membahagiakan istriku" ucap Aiden yang membuat Lea semakin penasaran dengan maksud pria di sampingnya ini.
Lea memilih diam dan menikmati pemandangan diluar mobil. Lalu lntas hari ini cukup padat. Entahlah seakan mereka berlomba-lomba ingin keluar rumah dan menikmati hari yang memang sedang cerah.
Setelah beberapa menit diperjalanan mereka memasuki sebuah basement sebuah mall. Lea sangat tau jika mall ini berisi barang-barang yang begitu mahal.
Atau bisa dikatakan mall orang-orang kalangan atas. Awalnya Lea terlihat kaget dan segera menatap pria yang dengan tenangnya dan mencari parkir.
"Kita kesini ngapain ?" tanya Lea yang membuat Aiden meliriknya sekilas.
"Membawamu belanja dan mencarikan kado untuk salah satu teman bisnisku" ucap Aiden dan memarkirkan mobilnya dengan mulus.
"Kenapa harus disini ? Aku tau tempat yang lebih murah untuk berbelanja" ucap Lea yang membuat Aiden yang baru saja keluar dari mobil menoleh padanya.
"Memangnya kenapa disini ?" tanyanya heran.
"Mahal semua mending ditabung" sebuah senyuman muncul disudut bibir Aiden mendengar penuturan Lea.
Lea yang dengan harap-harap cemas menunggu respon apa yang akan diberikan pria di depannya. Hingga tiba-tiba pria itu mendekatinya dan merangkulnya.
Hal itu sukses membuat tubuh Lea terasa kaku dengan sendiri. Pria itu menariknya untuk ikut ke tempat lift berada.
"Ini hari pertama kau menjadi istriku jadi hanya ikuti aku saja oke ?" ucap Aiden dengan menutup pintu lift
*-*-*
"Kita ambil yang ini" ucap Aiden dengan menyerahkan setumpuk baju yang baru saja dicoba oleh Lea. Petugas toko itu segera beranjak pergi dan meninggalkan mereka berdua.
"What? Kau membeli semuanya ?" tanya Lea yang membuat Aiden menatapnya dan mengangguk.
"Ya memang kenapa ?"
"Satu saja cukup, Aiden. Dirumah bajuku sudah banyak untuk apa beli-beli banyak lagi" ucap Lea
"Itu beli dengan uang orang tuamu bukan uangku jadi beda urusan" ucap Aiden yang masih kukuh dengan keputusannya.
Lea menghela nafas melihat tingkah laku Aiden yang mulai terlihat tidak normal. Entahlah apa yang dipikirkan pria di depannyaa
Lea bukanlah perempuan yang suka berbelanja. Mungkin dia akan berbelanja banyak jika dengan kakaknya yang memang suka sekali berbelanja berbagai jenis baju.
Sedangkan baju-baju yang Lea gunakan adalah pilihan kakaknya yang menurutnya memang bagus. Daripada mendengar kakaknya mengoceh Lea mau tidak mau mengiyakan semuanya itu.
Dia kira ketika menikah dengan Aiden semuanya akan terasa bebas. Namun ternyata dugaannya semua salah. Pria itu terlihat suka sekali mengintimidasi dan mengatur segalanya.
Seperti pria yang tidak suka perintahnya tidak dijalankan dengan benar. Lea menghela nafas pelan baginya menebak sikap seseorang sangat muda apalagi pria di depannya.
Tidak perlu menebak tapi pria itu sendiri yang memberitahunya tentang sikap yang mendominasinya ini. Sebuah sentilan dikening membuat Lea mengadu kesakitan dan menatap pria yang sudah jadi suaminya dengan tajam.
"Sakit tau! Kau ini kenapa ?" ucap Lea dengan rasa kesalnya.
"Apa yang sedangkan kau pikirkan ? Aku sedang berbicara denganmu padahal" ucap Aiden dingin yang membuat Lea menatap pria itu.
"Baju tadi ada yang tidak kusukai. Bagaimana jika kita membeli baju yang kusuka saja ?" ucap Lea berusaha menawar.
Aiden mengangkat alisnya dan menatapnya dengan tatapan herannya. Hingga Aiden mengusap kepalanya lembut yang tak mampu di tolak oleh Lea sendiri.
"Bagiku kau terlihat cocok dengan baju itu jadi jangan komplen" ucap Aiden yang sukses membuat wajah Lea terasa hangat.
Mereka berdua keuluar dari butik itu dengan tas belanjaan yang begitu banyak. Semua barang itu Aiden yang membawanya terlihat begitu gentle dan tak menghilangkan ketampanannya.
Malah terlihat makin bertambah dan membuat Lea seakan kehilangan arah. Tak jauh beda dengan beberapa perempuan yang melihat Aiden berjalan dengan tenang.
"Setelah ini kita membeli perabotan rumah" ucap Aiden yang membuat Lea menoleh dan menatapnya.
"Perabot rumah ? Bukannya orang sepertimu biasanya menggunakan jasa para desainer interior ya ?" ucap Lea yang membuat Aiden menghentikan langkahnya.
Pria itu menatapnya dan tiba-tiba warna wajahnya berubah menjadi memerah. Lea sedikit terkejut dengan perubahan yang cuku terlihat karena memang pria itu memiliki kulit putih dari pria biasanya.
"Ehm ya, tapi aku ingin kau mendesain sendiri supaya kau nyaman dirumah" ucap Aiden yang langsung melanjutkan langkahnya.
Sedangkan Lea kaget dengan kenyataan yang dia dapatkan. Pria itu memberikan kebebasan untuk Lea mendesain rumah Aiden agar Lea merasa nyaman dirumah.
Apa hal itu yang sedang dipikirkannya tadi hingga wajahnya berubah dan memerah ? Oh tuhan kenapa sangat menggemaskan jika memang seperti itu.