Lea menarik koper terakhir yang masuk ke dalam rumah. Hari ini mereka resmi pindah dirumah baru Aiden. Rumah yang cukup dekat dengan kantor milik Aiden. Namun yang membuat Lea kesal adalah.
Rumah ini sangat jauh dari rumah kedua orang tuanya ataupun mertuanya. Lea pasti akan merasa sendirian jika Aiden sedang bekerja. Baru sekarang Lea menyesali tidak menerima tawaran Papa untuk bekerja.
Lea menatap Aiden yang berdiri di depan beberapa wanita paruh baya dan juga seorang pria berusia empat puluhan. Lea mendekati mereka semua dan Aiden menoleh.
"Ini Lea, istriku dan dia juga yang akan jadi nyonya kalian. Perilakukan dia dengan baik" ucap Aiden yang membuat Lea menoleh kearahnya kaget.
"Selamat datang, Mrs. Anderson" ucap mereka serempak.
"Ehm... panggil aku Lea" ucap Lea yang membuat semua bawahan Aiden menatapnya kaget.
Mereka melirik Aiden seakan ingin meminta persetujuan. Lea tidak biasa jika dipanggil tuan maupun nyonya dengan orang yang lebih tua dengannya.
Mungkin semua terasa terhormat dengan panggilan itu. Namun Lea terkadang risih dengan panggilan yang diagung-agungkan seperti itu.
"Jangan turuti dia" ucap Aiden dengan berlalu pergi.
*-*-*
Lea membuka matanya dan menatap kesekeliling kamar yang menunjukkan waktu malam. Dilihat sampingnya yang terasa kosong dan dingin. Dimana Aiden ?
Dengan tangannya Lea mencari ponselnya dan menyalanya. Jam diponselnya menunjukkan pukul delapan malam. Tadi karena kelelahan Lea langsung tertidur dengan nyenyak di sofa.
Tiba-tiba Lea sudah terbaring di kamar ini. Tidak usah ditanya siapa yang menggendongnya. Jawabannya pasti Aiden yang terhormat itu.
Didudukkan tubuhnya dengan perlahan dan berdiri melangkah keluar kamar. Rumah yang masih belum penuh dengan perabotan terasa sepi berbeda dengan rumah Mama Aiden.
Suara lirih yang terdengar membuat Lea berjalan mendekati sumber suara itu. Hal yang dilihat di depannya adalah sosok Aiden yang tengah berbicara dengan para pengurus rumah.
Salah satu perempuan paruh baya yang Lea ingat bernama Zara menatapnya. Dengan cepat Lea menempatkan telunjuknya di depan bibir menyuruh perempuan itu diam.
"Kalian sudah melihat istriku bukan ? Ingat perilakukan dia dengan baik dan tetap panggil dia nyonya jangan ikuti perintahnya itu. Turuti semua keinginannya dan buat dia nyaman di rumah" titah Aiden
Lea merasa kaget dengan perintah Aiden yang menyuruh bawahannya. Pria itu terlihat yakin dan serius dengan ucapannya. Lea masih diam di tempat dan ingin mendengarkan kelanjutannya.
"Evan, kau yang bertanggung jawab mengantarkan kemanapun Lea akan pergi dan Zara, tolong urus kebutuhan Lea jika dia membutuhkannya" ucap Aiden yang segera diiyakan bawahannya.
"Sudah, kalian boleh pergi" ucap Aiden yang membuat Lea segera berlari pergi meninggalkan ruangan itu.
Tanpa sadar Lea berlari menuju dapur. Dengan perasaan lega karena tidak ketahuan Lea mengambil gelas dan mengisinya dengan s**u coklat dingin di dalam kulkas.
Lea menikmati minumannya dengan melihat-lihat isi kulkas yang sangat lengkap dan menarik perhatian siapapun yang melihatnya.
Bahkan tak hanya ada bahan makanan. Tapi di kulkas sebelahnya terlihat berbagai jenis minuman dan cemilan yang sangat menggoda perempuan seakan memanggil-manggil untuk dimakan.
"Kau belum makan malam dan sudah meminum s**u ? Nanti perutmu akan terganggung" suara seseorang yang baru saja masuk ke dalam dapur membuat Lea terperanjat.
Aiden masuk ke dalam dapur dan mendekatinya yang berada di depan kulkas. Dalam diam pria itu mengambil atau lebih tepatnya merampas minumannya yang masih tersisa setengah.
"Milikku!" ucap Lea yang membuat Aiden mengangkat sebelah alisnya.
"Kau akan mendapatkannya setelah kau memakan makan malammu"
*-*-*
Lea membuka matanya dan tersadar jika dia sudah di dalam kamar yang dikatakan kamarnya dan Aiden. Tadi malam dia merasa kesal dengan Aiden karena segelas s**u.
Pria itu memerintahkannya semua bawahannya untuk membuatnya nyaman. Tapi pria itu yang membuatnya tidak nyaman karena dilarang minum minuman favoritnya.
Alhasil tadi malam Lea memilih tidur di kamar tamu di lantai bawah dan menguncinya. Namun sekarang di sinilah Lea berada, di dalam kamar Aiden seorang diri.
Lea mendudukkan tubuhnya dan menatap jam yang menunjukkan pukul enam pagi. Hingga suara pintu di buka membuat Lea menoleh dan menemukan Aiden keluar dari kamar mandi.
"Kau sudah bangun ?"tanya Aiden dengan keluar dari kamar mandi.
Lea memutar matanya dan hendak beranjak pergi. Namun sebuah tangan menahannya dan mencegahnya agar tidak keluar kamar.
"Kau marah karena segelas s**u ?" tanya Aiden yang tidak dijawab oleh Lea.
"Listen! Aku tidak melarangmu minuman apapun yang ada di dapur. Aku hanya tidak ingin kau minum atau makan yang seperti itu sebelum makan oke ? Perutmu bisa sakit"
Lea menghela nafas pelan. Memang benar apa yang dikatakan pria itu tapi entah kenapa Lea merasa sebal karena dilarang-larang oleh pria itu yang merebut gelas susunya.
"Apapun yang ada di rumah ini adalah milikmu juga. Maaf jika aku membuatmu tersinggung masalah kemarin" ucap Aiden yang memang terlihat tulus.
Lea melepaskan genggaman tangan pria itu tanpa menjawab apapun. Hingga sekilas Lea menatap tatapan bersalah dan juga bingung ditatapan Aiden.
"Ehm... kau mau kemana ?" tanya Aiden yang membuat Lea menghela nafas dan membalikkan badannya.
"Menyiapkan sarapan. Kau kerja bukan ?" ucap Lea dengan berlalu pergi.
*-*-*
"Wih pengantin baru akhirnya datang" ucap Davin yang menyambut bosnya datang ke perusahaan untuk pertama kalinya.
Sedangkan Aiden yang disambut hanya memutar matanya jengah dengan sekertarisnya itu dan bisa dikatakan tangan kanannya dalam urusan apapun.
Dengan mantap Aiden kembali duduk di tahtanya yang seminggu sudah ditinggalkan karena cuti setelah menikah. Waktu seminggu itupun Mamanya yang mengambil keputusan.
Selama seminggu semua pekerjaan di handle oleh Davin yang memang orang kepercayaan Aiden sejak bergelut di dunia ini.
"Gimana nih ceritanya ?" goda Davin yang membuat Aiden menatapnya tajam.
Pria itu terkekeh melihat reaksi atasannya. Bukan hal yang besar jika Aiden selalu bersikap dingin karena memang apa adanya atasannya ini yang selalu dingin dan stay cool.
Hal ini yang membuat atasannya ini jauh dari berita miring yang biasanya di dapatkan oleh para petinggi perusahaan apalagi yang masih muda.
"Apa hari ini ada pertemuan ?" tanya Aiden dengan menyalakan laptopnya.
Davin kembali ke posisi yang seharusnya dan berusaha menjernihkan suaranya. Mereka memiliki profesionalitas yang begitu tinggi walaupun sesama teman.
"Hari tidak ada. Tapi besok Anda ada pertemukan dengan Grup Galajaya dan Geraldine Company ketika makan siang" ucap Davin yang membuat Aiden mengangguk kepalanya.
"Saya undur diri jika tidak ada yang anda perlukan" ucap Davin yang diangguki oleh Aiden
Suara pintu ditutup dan Aiden baru menyadari satu hal jika meja kerjanya terasa berbeda dari biasanya. Hingga sebuah figura membuat Aiden menghela nafas.
"Davin sialan!"
*-*-*