Lea menyandarkan tubuhnya di sofa dengan perasaan jenuh yang luaar biasa. Lea merasa sangat bosan dirumah sendirian. Apalagi semua asisten di sini sangat kaku walaupun mereka ramah. Alhasil Lea serasa sendiri di rumah sebesar ini.
Dengan gusar Lea menyalahkan Televisi dan setelah mengganti-ganti channel. Lea semakin kesal karena baginya tidak ada acara yang menarik.
Rasa kesalnya semakin memuncak ketika mengingat jika Aiden jarang sekali dirumah. Bahkan kadang dia tidak pulang dan menemuinya.
Entah kenapa Lea selalu merasa jika dirinya seperti simpanan seorang Chaiden. Lea segera menegakkan badannya dan berpikir.
'Apa memang dia hanya simpanan ?' Lea segera menggelengkan kepalanya mengusir pikiran jeleknya.
Bukannya di internet tidak pernah ada kabar jika Aiden telah menikah dengan orang lain. Jika berita itu disembunyikan dengan rapi.
Lalu kenapa Aiden mengadakan pesta pernikahan yang begitu megah dengan Lea. Tidak... tidak mungkin jika Aiden memiliki istri simpanan bukan ?
Astaga bisa saja itu terjadi! What! Masa baru tiga minggu menikah dirinya sudah di selingkuhi bahkan Aiden sudah memiliki istri lain.
Big No! Lea harus memastikannya sendiri. Dengan kecepatan yang tiada tara Lea berlari menuju kamarnya dan bersiap-siap. Lea akan melancarkan aksi.
Setelah semua dikiranya siap. Lea turun kebawa dengan memakai sepatu sneakers kesayangannya walaupun sudah buluk.
"Nyonya, makanan sudah siap" ucap salah satu pelayan yang Lea ingat bernama Zara.
"Saya nggak makan disini ya, mau ke kantornya Aiden mau makan hehe. Bolehkan ?" ucap Lea yang membuat Zara mengangguk.
"Tentu saja boleh, Nyonya. Evan akan mengantarkan Nyonya ke perusahaan Tuan" Lea mengangguk semangat dan berjalan pergi.
Namun dia ingat sesuatu dan berhenti lalu membalikkan badannya. Zara masih berdiri di belakangnya seakan menunggu sesuatu.
"Ada yang tertinggal, Nyonya ? Saya akan ambilkan" Lea menggeleng pelan.
"Makan siang yang sudah siap kalian makan saja. Niatnya saya mau mengajak Aiden keluar hingga malam" ucap Lea berlalu pergi.
*-*-*
"Sudah sampai, Nyonya" Lea menatap perusahaan yang terlihat megah padahal baru Lobbynya saja yang terlihat.
Lea menghela nafas, perjalanan ini begitu dekat atau bisa dikatakan sangat dekat. Lalu kenapa dia harus menggunakan mobil ?
Mungkin jika Lea berjalan kaki dalam 15 Menit sudah sampai. Lea jika seperti ini terlihat alay karena menggunakan mobil yang baginya cukup mewah.
Mengundang perhatian banyak orang. Hal inilah yang paling dihindari oleh Lea. Tapi datang ke perusahaan besar dan menggunakan mobil yang begitu mewah sangat mengundang tatapan mata.
Lea berjalan di belakang Evan setelah disuruhnya untuk di depan. Lea merasa heran ketika mereka tidak mendekati resepsionis tapi malah mendekati lift.
"Kita tidak ke resepsionis dulu ?" tanya Lea yang membuat Evan menoleh.
"Tidak, kita langsung saja naik ke atas" ucap Evan yang membuat Lea mengangguk.
"Jadi kita langsung ke ruangan direktur nih ?"
Evan langsung menoleh dan menatapnya bingung. Namun pria itu diam dan tak mengatakan apapun.
"Kenapa ?" tanya Lea yang membuat Evan berdehem terlebih dahulu.
"Mengapa Nyonya ke ruang Direktur ?"
"Tujuanku kesini karena ingin ketemu direktur. Sudahlah, ayo aku sudah lapar" ucap Lea dengan berdiri di depan Lift.
Evan tanpa protes langsung menekan lift dilantai 27 dan pintu terbuka. Lea yang merasa bingung karena baginya ini adalah suasana yang baru hanya menatap perpindahan angka setiap lantai.
Hingga mereka akhirnya sampai dan keluar di lantai yang memang katanya hanya ada ruang rapat dan ruangan Direktur.
Kami disambut oleh seorang sekertaris perempuan yang begitu cantik dan bagi Lea seperti perempuan penggoda. Pakaian perempuan itu begitu ketat dan mencetak bentuk tubuhnya
"Mrs. Anderson ingin bertemu dengan Direktur" ucap Evan yang membuat perempuan itu melirik sekilas kearahnya.
Perempuan yang bertagname Jane seperti menghubungi seseorang menggunakan intercom sebelum menatap kami berdua lagi.
What ? Memangnya jika Lea datang harus menggunakan cara seperti ini ya ? Padahal di novel yang sering di bacanya tidak ada adegan seorang istri harus meminta ijin jika masuk.
"Silahkan masuk. Tuan sudah menunggu di dalam" ucap perempuan itu yang membuat Lea tersenyum dan mengangguk.
Lea masuk ke dalam ruangan yang ternyata tidak di ikuti oleh Evan. Ruangan ini terlihat besar dan sunyi tak terdengar suara apapun.
"Oh ini Mrs. Anderson" sebuah suara yang asing membuat Lea membalikkan badan dan berhadapan dengan pria tinggi yaang tersenyum jail kearahnya.
Siapa pria ini dan kenapa bisa disini ? Lea memundurkan langkahnya ketika merasa jika dirinya dan juga pria itu terlalu dekat.
"Kau siapa ?" ucap Lea yang membuat pria itu tertawa.
"Seharusnya Saya yang bertanya dengan Mrs. Anderson yang terhormat ini" ucap pria itu yang membuat Lea semakin takut.
"Dimana Aiden ?" tanya Lea yang terus memundurkan langkahnya.
Pria itu menghentikan langkahnya mendekatinya dan tertawa kecil atau yang bisa dikatakan sebuah smirk. Lea masih berusaha menjaga jarak aman dengan pria tak dikenalnya itu.
"Kau bisa menemukan jawabannya disana" ucap pria itu dengan menunjuk ke suatu tempat.
Lea menoleh dan menemukan sebuah meja kerja besar di ruangan ini. Disana tertulis jika Direktur di perusahaan ini bernama Altha Agnisyah.
Dengan cepat Lea mengalihkan pandangannya dan menatap pria yang ternyata sudah berada di depannya. Belum sempat menghindar Lea sudah dipeluk oleh pria itu.
"Sudah mengerti ini ruangan siapa, Mrs. Anderson" ucap pria itu yang terasa begitu dekat dengan Lea.
"Jauhkan tanganmu, Agnisyah" suara yang sangat dikenal Lea membuka pelukan itu mengendur.
Lea yang belum siap dilepaskan hampir saja limbung jika tidak ada yang menumpuhnya. Dikiranya Aiden yang memegangnya tapi ternyata masih pria itu.
"Kau tidak mendengarkanku!" ucap Aiden yang tiba-tiba berada di samping kami berdua.
"Aku hanya membantunya" ucap pria itu dengan melangkah mundur serta kedua tangan diangkat.
Sebuah tarikan membuat Lea mau tidak mau mengikuti setiap langkah Aiden yang menariknya. Perempuan itu dan Evan menatap kami berdua sebelum menunduk hormat.
Mungkin lebih tepatnya menunduk hormat untuk pria aneh yang menyeretnya tanpa alasan. Pria itu membawanya masuk ke dalam Lift dan meninggalkan Evan yang masih di lantai itu.
Mereka ternyata menuju lantai 30 di perusahaan ini. Sesampainya mereka berdua di lantai itu Aiden menariknya kembali ke satu-satunya pintu besar di lantai ini.
"Kenapa kau berada ruangan itu ?" Tanya Aiden yang membuat Lea tersadar jika mereka sudah di dalam ruangan.
"Aku mencarimu" Ucap Lea yang memang sesuai kenyataan.
"Apa kau tak tau jabatan suamimu sendiri, Mrs. Anderson" ucap Aiden yang bagi Lea terasa tajam.
Lea menghela nafas pelan dan menatap pria di depannya dengan tatapan kesalnya. Lea baru saja hampir diterkam seorang harimau dan sekarang dia sedang diancam seorang serigala.
Bagi Lea hidup ini begitu menakutkan apalagi jika berhadapan dengan pemegang rantai makanan tertinggi.
"Asal kau tau kita belum mengenal satu sama lain sama sekali. Jadi tentu saja aku tidak tau"