"Kau akan mengajakku kemana ?" tanya Lea dengan menatap ke pemandangan diluar mobil yang menunjukkan kemacetan jalan di siang hari. Aiden seakan tak berniat menjawabnya sama sekali. Sedangkan Lea merasa jengah kelakukan pria itu yang lain daripada yang lainnya.
Selalu diabaikan dan tak pernah mendapatkan jawaban. Sepertinya Lea harus berusaha menyesuaikan diri dengan apa yang akan di rasakan di setiap harinya maupun di setiap detik yang menunggunya di depan sana.
"Ayolah jawab pertanyaanku, Mr. Anderson" ucap Lea yang membuat Aiden meliriknya sebentar.
"Kesana" ucap Aiden dengan menunjuk salah satu mall di kota ini yang membuat Lea segera menatap pria itu.
"Kau sudah tau bukan ? Jadi diamlah dulu" ucap Aiden dengan menatap Lea yang hendak bertanya kembali.
Lea langsung bungkam dan melipat tangannya di depan d**a dengan perasaan kesalnya. Aiden yang melihat hal itu hanya tersenyum kecil.
Mobil yang dikendarai Aiden berhenti di basement dengan mulusnya. Aiden langsung keluar mobil tanpa mengatakan apapun kepada Lea yang membuat perempuan itu makin kesal.
"Kita mau ngapain ? Aku sudah lapar, Aiden" rengek Lea yang membuat Aiden membalikkan badannya.
"Memangnya di dalam tidak ada yang menjual makanan hm ?" Ucapan Aiden seketika membuat Lea mengatupkan bibirnya.
Tiba-tiba sebuah tangan menggenggam tangan mungil Lea dan menariknya untuk berjalan berjajar. Lea merasakan hawa panas yang seketika menjalar di kedua bibirnya bahkan badannya.
Tangan Lea terasa dingin seakan tidak ada darah yang mengalir di sana. Namun pria yang menggenggam tangannya itu hanya berjalan dan terus menggandengnya.
Seakan pria itu tidak terganggu dengan tangan Lea yang mungkin saat ini sedang berkeringat dingin. Mereka berdua masuk ke dalam Mall dan seketika menjadi pusat perhatian.
Apa yang membuat mereka semua menatapnya? Jawabannya adalah pakaian yang kami kenakan begitu kontras. Aiden menggunakan setelan jas rapi dan Lea memakai baju santai khas anak muda.
Rasa malu Lea seakan makin bertambah bahkan hampir mencapai akarnya. Aiden yang memang peka dengan situasi yang ada di sekelilingnya melirik Lea yang sejak tadi menunduk.
"Angkat kepalamu atau aku akan menciummu di sini" ucap Aiden yang sukses membuat Lea melototinya.
"Good girl!" ucap Aiden dengan masih menariknya.
Lea yang merasa takut jika Aiden melakukan hal yang dikatakannya itu mempertahankan agar kepalanya terus menatap ke depan.
Sedangkan Aiden merasa gemas sendiri menatap wajah Lea yang terlihat kaku dan sedikit ekpresi takut.
Mereka berdua sampai di sebuah stand baju dan sepatu yang bisa dikatakan yang membelinya hanya orang kalangan atas yang berduit. Lea segera menatap Aiden yang memang lebih menjulang tinggi darinya.
"Kenapa kau kemari ?" Bisik Lea ketika seorang pegawai menghampiri mereka.
"Ada yang bisa saja bantu ?" tanya pegawai itu dengan senyuman manisnya.
Lea hanya membalasnya dengan senyuman kaku tanda menghormati. Sedangkan pria yang disampingnya yang memang tidak memiliki rasa hormat hanya menampilkan wajah datarnya.
"Tolong cari beberapa sepatu yang modelnya sama seperti itu atau cari sepatu yang sesuai keinginannya" ucap Aiden dengan menunjuk Lea.
Pegawai itu mengangguk mengerti sedangkan Lea melotot tanda tak setuju dengan ucapan Aiden itu. Sepatu ? Memang kenapa dengan sepatunya ?
"Silahkan ke sini, Mrs" ucap pegawai itu yang membuat Lea menatap Aiden.
"Kau kemana ?" tanya Lea yang membuat Aiden tersenyum kecil.
"Aku akan melakukan sesuatu, pilihlah sesukamu"
Aiden langsung berjalan menjauh dan meninggalkan Lea yang hanya melongo menatap punggung pria itu yang menjauh.
Mau tidak mau Lea harus mengikuti pegawai karena tidak mungkin Lea pergi melarikan diri. Alhasil Lea mengikuti pegawai itu.
*-*-*
Sejak tadi Lea seakan tak bisa mengalihkan pandangannya dari seseorang yang duduk di depannya saat ini. Pria itu entah bagaimana bisa berubah.
Ketika dia kembali semua setelan jasnya sudah menghilang digantikan dengan setelan baju yang casual yang sangat cocok untuknya.
Seakan-akan bajunya semakin menambah nilai plus untuk pria tampan itu. Lea yang ingin sekali menatapnya dengan secara terang-terangan merasa takut.
Alhasil dia hanya mampu melirik beberapa kali kearah pria itu. Entah kenapa makanan di depannya seakan tak menarik dibandingkan dengan Aiden saat ini.
"Makananmu akan menjamur jika tidak kau makan sekarang hanya karena memandangiku" ucap Aiden yang sukses membuat Lea tersedak air liurnya sendiri.
"Kau tidak mengunyah apapun tapi kau tersedak" ucap Aiden dengan menyodorkan minumannya.
Lea menerimanya dan meminumnya dengan perasaan malu yang seakan mengalir di wajahnya yang mengubah warna wajahnya.
Aiden saat ini menatapnya dengan senyuman maut yang mampu meluluhkan siapapun yang ada di sini. Termasuk segerombolan siswa di belakang mereka.
*-*-*
Lea menata peralatan makan dengan hati-hati dan menyiapkan segala persiapan makan malam. Entah gerangan apa tiba-tiba Aiden yang menyuruhnya menyiapkan semuanya.
Semua pelayan di suruh kembali ke rumah mereka masing-masing lebih cepat. Rumah semua pelayan ada di samping rumah.
Sebagai istri yang patuh dan takut akan api neraka. Lea menyiapkan segalanya tanpa berkomentar maupun mengoceh.
Karena baginya menolak Aiden tidak ada gunanya apalagi dengan sikap keras kepala pria itu yang melebihi perempuan. Lea hanya harus bersabar dengan cobaan ini semua.
"Sudah selesai ?" tanya Aiden yang masuk ke dalam ruang makan.
Pria itu sejak tadi berada di ruang keluarga yang memang tidak terlalu jauh dari ruang makan ini. Pria itu duduk di depannya dan mengambil makanannya sendiri.
Lea menatap bingung dengan hal yang ada di depannya. Pria itu menatap Lea yang sejak tadi hanya diam dan menatapnya.
"Apa yang sedang kau lakukan ? Cepat ambil makananmu"
Lea dengan cepat langsung mengambil makanan untuknya sendiri dan segera melahapnya bersamaan dengan Aiden.
Anehnya lagi malam ini adalah Aiden yang hanya diam saja sejak tadi tanpa mengatakan apapun. Pria itu terlihat serius dengan makanannya.
Setelah mereka makan dan menghabiskan makanannya. Lea berdiri dan mengambil piring makan Aiden hendak mencucinya.
"Taruh di mesin saja. Biarkan pelayan yang membereskannya nanti" Lea hanya mengangguk dan mengikuti perintah pria itu.
Entah kenapa suasana malam ini terasa berbeda. Lebih tepatnya aura suaminya itu yang sangat berbeda dari biasanya.
"Duduklah aku ingin berbicara sesuatu" ucap Aiden yang suskes menambah rasa penasaran serta rasa takut di hati Lea.
Sejak tadi pria itu menatapnya seakan ingin melahapnya. Hal itu membuat Lea merasa aneh atau lebih tepatnya takut.
Dengan perlahan Lea duduk di kursinya lagi dan menatap pria yang notabene adalah suaminya itu. Pria itu tersenyum kecil seakan mencairkan suasana.
"Kau mengatakan kita tidak saling mengenal bukan ?" ucap Aiden
"Maka dari itu kita mulai dari awal. Namaku Chaiden Arthur Darlan, Presdir Darlan Company dan aku adalah suamimu"
*-*-*