"SEMUANYA MASUK KELAS MASING-MASING! KAEL BERHENTI!!" teriakan menggelegar dari seorang guru itu membuat semua orang berhamburan pergi, kecuali dua orang pemeran utama yang terlibat dalam perkelahian tersebut. Begitupun dengan Kael yang hendak berlari setelah melihat guru BK di sana. Kael tidak bisa melarikan diri karena ada guru BK lain yang menahan tangannya.
Dan akhirnya hanya Kael yang diinterogasi, karena siswa yang tadi dipukulinya sudah terkapar lemah
tidak sadarkan diri.
Ia dibawa ke ruang BK, ini kali pertamanya berada di ruangan itu karena kesalahannya. Karena selama bersekolah di sekolahan ini, ia hanya akan ke ruangan ini karena melaporkan anak- anak yang sudah melanggar aturan. Namun, kini malah ia yang datang ke ruangan itu karena kesalahan fatal yang sudah ia lakukan barusan.
.
.
.
Setelah pulang sekolah Nana memutuskan untuk menunggu Darrel yang sedang berlatih futsal di gedung olahraga sekolahan. Ia tidak sendiri, di sana ada banyak siswi yang juga melakukan hal yang sama dengannya. Bedanya, Nana hanya duduk sambil memainkan ponselnya, sedangkan yang lainnya terus berteriak meneriakkan nama para pemain yang saat ini sedang menguasai lapangan futsal. Padahal ini hanya latihan saja, tapi mereka sudah menggila sampai seperti ini. Ada juga tim pemandu sorak yang juga sedang berlatih di lapangan lain, tepat di samping lapangan basket.
Sebenarnya Nana cukup tidak nyaman, selain karena suara teriakan para siswi itu, ia juga tidak ada teman di sana. Andai saja ia tadi mengajak Lisya, pasti setidaknya sekarang ia ada teman untuk diajaknya bicara. Tapi, tadi Lisya bercerita kalau gadis itu akan kencan dengan Gavin, dan akhirnya ia pun tidak jadi mengajak Lisya karena tidak ingin mengganggu kesenangan gadis itu. Nana cukup sadar diri akan hal itu.
Hari sudah semakin sore, awan berubah menjadi hitam dan mulai meneteskan setetes demi setetes air hujan, lalu diikuti dengan tiupan peluit yang menandakan berakhirnya latihan hari ini. Nana pun langsung berdiri saat Darrel menghampirinya. Layaknya pacar sungguhan, Nana memberikan botol minumannya kepada Darrel yang pasti sudah sangat lelah sekarang.
"Capek ya?" tanya Nana membuka suara.
"Biasa," ucap Darrel setelah menegak habis air dalam botol itu. Darrel mengembalikan botol itu pada Nana. Lalu membuka kaosnya, membuat semua gadis di sana terpekik senang melihat tubuh atletis Darrel.
Berbeda dengan para gadis itu, Nana malah hanya membelalakkan matanya, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Lalu seperkian detik kemudian Nana membalikkan badannya sambil menutupi wajahnya dengan tangan, ia memekik tertahan akibat dari fenomena langka itu. Wajahnya sudah sangat memerah sekarang.
Dasar Darrel gila!
Darrel menatap tingkah aneh Nana, ia membalikkan badan Nana agar berhadapan dengannya. Gadis itu berteriak dengan menutupi wajahnya dengan tangan, menyembunyikan semburat merah di kedua pipinya itu.
Tangan Darrel terangkat menyingkap poni Nana, lalu ia mendekatkan kepalanya dan mencium kening gadis itu tanpa aba-aba untuk kedua kalinya. Perbuatan Darrel membuat para gadis dan teman- temannya takjub. Itu bukan yang pertama kalinya Darrel memperlakukan wanita seperti itu, tapi menakjubkan saja jika Darrel melakukan skinship dengan gadis tak tersentuh seperti Nana, apalagi di depan umum seperti ini. Seolah sedang menegaskan kalau Nana hanya miliknya, milik Darrel seorang.
Nana hanya menatap Darrel tidak percaya. Dengan tubuh lemas Darrel menarik tangannya untuk pergi dari kerumunan itu. Sesekali Darrel melirik Nana yang terlihat gugup di sampingnya, tanpa sadar kedua ujung bibirnya terangkat.
Darrel pergi ke kamar mandi untuk berganti pakaian, sedangkan Nana hanya menunggu di luar. Tidak mungkinkan ia ikut masuk ke dalam, walaupun otaknya berkata lain.
Tidak lama kemudian, Darrel keluar dengan pakaian biasa. Wajah tegas dengan rambut basahnya itu menambah kesan tampan tersendiri untuknya. Nana segera mengalihkan pandangannya, ia tidak ingin terlalu mengagumi pria itu. Lagipula mereka tidak benar-benar pacaran, akan sangat memalukan jika ia jatuh cinta lebih dulu pada pria itu.
"Darrel,"
"Hm?" Darrel menyugar rambutnya yang basah,
"Emm... Lo nggak suka kan sama gue?"
"Ha?"
"Ma...maksud gue, kita ini kan cuma pacaran dengan sebatas kepura- puraan aja, jadi kita nggak boleh saling suka kan?" tanya Nana gugup.
"Ya iyalah, ngapain juga gue suka sama cewek kayak Lo?" tanya Darrel balik membuat Nana terdiam. Entah kenapa seperti ada yang mengganjal di jantungnya, tapi ia tidak tahu apa itu. Ucapan Darrel terlalu menusuk.
Darrel menatap Nana sekilas, lalu melangkahkan kakinya pergi. Benar kata Nana, ia tidak boleh suka sama gadis itu. Selama ini ia hanya sekadar pengganti untuk mengisi kekosongan Nana. Ya hanya sekadar itu saja, tidak lebih.
Sial! Hatinya sedang tidak bisa diajak kompromi.
.
.
.
Nana masih menunggu Kael di ruang keluarga, ditemani dengan tv menyala, namun dengan fokusnya hanya pada benda persegi panjang di tangannya.
Merasa sudah terlalu lama menunggu, Nana beralih untuk melihat jam dinding, sekarang sudah jam sepuluh malam lebih, tapi tetap tidak ada tanda- tanda adiknya itu sudah masuk ke dalam kawasan rumah. Nana rasa, beberapa hari ini Kael seperti bukan Kael yang biasanya. Kael jadi sering sekali pulang malam, dengan alasan ada acara di sekolahan, ada tugas lah, OSIS lah, dan lain sebagainya. Tapi ini terlalu aneh menurutnya, karena sekarang Kael sudah kelas 9. Artinya, seharusnya Kael sudah lepas dari acara- acara sekolahan, apalagi yang berhubungan dengan OSIS atau organisasi apapun, dan fokus belajar untuk ujian- ujian yang akan dihadapinya beberapa bulan kedepannya. Sebenarnya Nana ingin bertanya, tapi Kael seperti menghindarinya. Kael selalu berangkat pagi- pagi sekali, lalu setelah pulang pasti akan langsung masuk kamar. Bahkan Kael tidak mau mengantar ataupun menjemputnya dari sekolah. Entah mengapa sekarang Ia merasa jauh dari adiknya.
Panjang umur lah Kael. Baru saja Nana memikirkannya, sekarang adiknya itu sudah masuk saja ke dalam rumah.
"Dek!" panggil Nana saat Kael melewatinya begitu saja.
"Gue capek Kak," ucap Kael seperti biasanya. Lalu berlalu pergi begitu saja tanpa berbicara lagi.
Nana mendengus kesal, lalu mengikuti langkah Kael dari belakang.
"Kamu udah makan belum?" tanya Nana membuka pembicaraan.
"Udah," jawab Kael singkat lalu masuk ke dalam kamar.
Nana melotot tidak percaya. Sedingin- dinginnya Kael, dia pasti tidak akan mengacuhkannya sampai seperti ini. Apa dirinya ada membuat kesalahan, sampai- sampai Kael menjauhinya seperti ini? Nana menggelengkan kepalanya, ia harus berpikir jernih. Kalau ia ada salah, Kael pasti akan menegurnya, bukan mendiaminya seperti ini. Ia tahu betul siapa adiknya.
Nana kembali ke ruang keluarga untuk mematikan tv dan lampu, lalu pergi ke kamarnya. Di kamarnya, ia tidak langsung tidur. Seperti biasanya, maraton drama kesukaannya sampai tamat sesuai jadwalnya hari ini.
Tapi sepertinya rencananya menonton harus gagal hari ini. Baru saja Nana akan membuka laptopnya, tiba- tiba pintu kamarnya terbuka menampilkan Kael dengan wajah lesu dan lelahnya.
Spontan Nana menutup laptopnya, dan langsung berbaring di tempat tidur. Lalu setelah itu Kael menutup pintu kamarnya. Nana menghela napas panjang, sepertinya hanya ia yang berpikir terlalu banyak. Kael- nya masih peduli padanya.
"Thanks dek,"
Nana menaruh laptopnya di atas nakas, lalu kembali merebahkan tubuhnya, dan memejamkan matanya mengejar mimpi. Ia berharap adiknya akan kembali lagi setelah ia bangun pagi nanti.
.
.
.
Suara deru motor yang berhenti di depan basecamp mengalihkan perhatian beberapa cowok di dalam ruangan itu. Mereka menatap pintu utama yang terbuka, lalu tak lama kemudian datanglah Gavin dengan seorang wanita yang digandengnya.
"Lah, Lo pada di sini? Gue pikir nongkrong," ujar Gavin sedikit terkejut.
"Cewek Lo bang?" tanya Kevin, si cowok cantik dengan mata indah dan kulit putih bersih yang sangat diidamkan oleh para kaum hawa itu.
"Haah, Nita," jawab Gavin.
"Duduk dulu Nit, mereka sohib- sohib gue," ujar Gavin, lalu setelah itu ia pergi ke belakang. Nita tersenyum canggung menatap para manusia yang hanya berisi para kaum Adam itu.
"Gu-- gue Nita," ujar Nita gugup.
"Santai aja elah, kita nggak gigit kok," ujar Elang dengan wajah genitnya.
"Lo yang minggir g****k, Lo suruh duduk di mana ogeb!" sarkas Sam kasar.
Elang menggaruk tengkuknya malu, "Ya maap. Silahkan atuh Cici duduk dulu," ujar Elang yang langsung berdiri dan mempersilahkan gadis C-Indo itu duduk.
"Eh iya, makasih," Cici mendudukkan dirinya di sofa bagian ujung.
Iko yang sedang bermain game di ponselnya menoleh menatap Nita, lalu ia pergi ke belakang untuk menghampiri Gavin.
"Beneran cewek Lo?" tanya Iko yang sedang mengambil air dingin dari kulkas.
Gavin yang tengah mencuci tangan menoleh, "Haah," jawabnya seadanya.
"Terus Lisya?" tanya Iko lagi. Entahlah, ia hanya kepo saja dengan masalah percintaan sahabat- sahabatnya, tetapi malah ia yang tidak pernah memiliki kisah percintaannya sendiri.
"Gue cuma nganggep dia adek. Dia kan seumuran sama Meira," Meira adalah adik kandung Gavin yang berusia satu tahun di bawahnya, tapi Meira tidak satu sekolah dengannya, karena gadis itu ingin sekolah di sekolahan yang ada asramanya.
"Tapi gue nggak nganggep Meira adek tuh Vin," sahut Jojo yang baru saja datang.
"Meira yang kagak mau sama Lo. Gue juga ogah punya adek ipar kek Lo," sahut Gavin bercanda.
"Ah elah. Kalau dah jodoh emang Lo mau bilang apa?" tanya Jojo dengan percaya dirinya. Sedangkan Gavin hanya memutar bola matanya malah. Entah sejak kapan Jojo benar- benar menyukai Meira. Padahal dulu ia hanya bercanda saja untuk menjodoh- jodohkan Meira dengan Jojo, tapi Jojo malah baper beneran.
"Jo," panggil Iko, membuat Jojo menoleh.
"Kenapa Oppa? Eh, Onee-chan deh," ujar Jojo reflek.
"Onii-san g****k. Ya kan Ko?" ujar Gavin merevisi.
"Meira sukanya sama gue, Jo," ujar Iko tiba- tiba. Membuat Jojo langsung kena mental. Benar, Meira memang menyukai Iko. Bahkan dulu Meira menolaknya dengan alasan Iko. Tapi Iko mengatakan dengan tegas jika ia tidak menyukai Meira, makanya Jojo masih berani memperjuangkan perasaannya sampai sekarang.
"Jangan diingetin elah, bikin bad mood aja Lo," ujar Jojo sebal.
Suara tawa terdengar dari Sam dan Elang yang berdiri di ambang pintu dapur.
Jojo memutar tubuhnya, "Bangs*t Lo pada!"
Di luar, Darrel baru saja datang setelah bertengkar dengan ayahnya tercinta, tidak deh. Tadi ia mampir ke klub sebentar sebelum ke sini. Darrel berjalan sempoyongan masuk ke dalam basecamp, ia menoleh saat ujung matanya tanpa sengaja melihat sesuatu berkilauan.
"Lo siapa?" tanya Darrel dengan wajah lesunya pada seorang wanita cantik yang menyilaukan matanya.
"Gu-- gue Nita," ujar gadis itu gugup. Sekejap ia langsung terpesona dengan ketampanan Darrel yang menurutnya sangat tidak wajar itu.
"Oh," Lalu Darrel langsung berjalan ke suara- suara berisik yang berasal dari dapur. Kedatangan Darrel membuat keadaan dapur itu seketika hening.
"Lo mabuk Rel?" tanya Sam sedikit terkejut.
Darrel tidak menjawab, ia terus berjalan sampai berhenti di depan Iko, "Puk- puk," ujar Darrel sembari menepuk dahinya beberapa kali.
Cowok- cowok itu langsung saling tatap satu sama lain, seolah paham dengan apa yang baru saja Darrel alami.
Iko menatap Darrel lamat- lamat, lalu mengangkat kepalanya untuk menyentil dahi cowok itu sedikit keras sesuai yang Darrel inginkan.
Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, Darrel berjalan keluar dari dapur menuju ke kamarnya. Pria itu langsung terlelap di ranjangnya.
Sekilas info. Jika Darrel menyuruh Iko untuk menyentil dahinya, artinya kondisi hati cowok itu sedang tidak baik- baik saja. Alasan Darrel selalu menyuruh Iko menyentil dahinya dengan keras adalah agar dirinya tersadar akan kenyataan dan melupakan hal yang membuat mood-nya buruk.
"CK, emang tuh orang tua Bangka nyusain aja. Banding- Bandingin anak aja bisanya," ujar Elang kesal saat mengingat perlakuan ayah Darrel pada Darrel.
"Andai aja tuh tua Bangka tau kelakukan anak kesayangannya, langsung koit paling," sembur Gavin menyahut.
"Ada ya orang tua kek gitu. Amit- amit dah. Untung gua kagak punya," sahut Jojo membuat suasana kembali hening.
"Dark banget anjeng!" Gavin menoyor kepala Jojo keras.
"Lah kan emang bener. Tuh orang emang kagak ada syukur-syukurnya. Punya anak cakep, jago balapan, jago gaet cewek, jago mabok, apa coba yang kurang," ujar Jojo lagi.
"Anjeng Babi! Itumah aib gobl*k!" sarkas Gavin.
"Cewek Lo," ujar Iko pada Gavin.
"Eh iya Nita! Gue lupa As*"
Iko berjalan keluar dari dapur ke kamarnya. Ia menatap Darrel yang sudah terlelap di atas sofa.
Bruk!
Iko terkejut saat Darrel dengan tiba- tiba mendudukkan dirinya. Dengan kesadaran masih di awang- awang cowok itu mengambil ponselnya dari dalam saku celana, lalu menelepon nomor secara random di kontaknya.
"Datang ke basecamp gue. I lop yu,"
Tut! Bruk!
Darrel langsung kembali tepar setelah mengakhiri panggilan tersebut. Membuat Iko geleng- geleng kepala dibuatnya.
Iko membantu Darrel untuk merebahkan diri di ranjang bagian bawah, lalu ia pergi keluar karena tidak ingin mengganggu waktu istirahat sahabatnya itu. Tiba- tiba amarahnya membludak ketika melihat luka lebam di tangan dan leher Darrel. Dan ia tahu betul siapa pelaku yang sudah melakukan itu kepada sahabatnya,
"Bangs*t!"
.
.
.