Setelah pulang sekolah, Nana langsung berganti pakaian dan membersihkan rumah. Biasanya ia tidak bersih- bersih rumah setelah pulang sekolah, tapi karena Kael selalu pulang malam, jadilah ia harus mengantikan jatah adiknya itu. Selesai bersih-bersih, Nana pergi ke kamarnya untuk membersihkan dirinya yang sudah kucel itu. Lalu pergi ke dapur untuk melihat persediaan makanan. Rencananya ia akan membuat makan malam hari ini, ia tidak yakin kalau Kael selalu makan malam di sekolahan. Walaupun Kael selalu mengatakan jika ia sudah makan malam di luar, entah ini insting seorang kakak atau bagaimana, tapi Nana tidak yakin akan hal itu.
Nana mendesah pelan, bahan makanan sudah banyak yang habis, hanya ada beberapa mie instan dan pasta saja. Namun, Kael tidak terlalu menyukainya. Alhasil ia harus pergi ke minimarket untuk membeli bahan- bahan makanan untuk persediaan beberapa hari ke depan.
Nana pergi ke kamar untuk mengambil dompet, lalu pergi ke minimarket yang lumayan jauh dari rumahnya dengan naik ojek online pesanannya.
Ia membeli beberapa bahan makanan saja. Sebenarnya ini semua adalah tugas Kael juga, tugasnya hanyalah memasak. Tapi, ia tidak ingin terlalu membebani adiknya yang belakangan ini sibuk dengan urusan sekolahan. Entah sebenarnya apa yang Kael kerjakan di sekolahan.
Tanpa sengaja matanya menatap ke luar minimarket itu. Kalau tidak salah, di sana ada Darrel dengan seorang wanita asing yang berada di rangkulannya. Lalu mereka naik ke atas motor yang Nana yakini adalah milik Darrel. Mata Nana menajam, ia merasa kesal melihat Darrel yang dengan santainya menyuruh wanita itu untuk berpelukan padanya.
Jadi, perlakuan manisnya waktu itu bukan berlaku untuknya saja?! Rasanya Nana benar- benar kesal sekarang, bahkan itu terlihat dari cara kasarnya mengambil kecap asin yang tidak bersalah itu.
"Eh Kak Nana kan?" Sapa seorang gadis membuat Nana terkejut dan reflek menoleh.
"Siapa?" tanya Nana balik,
"Aku Keira kak. Kakak kenapa?" ucap gadis itu sambil terkekeh kecil.
Nana menghela napas pelan, mengingat betapa playboy-nya Darrel, ia tidak berhak untuk marah. Apalagi dengan status mereka yang hanya pacaran pura- pura, benar- benar tidak etis kalau dirinya marah hanya karena masalah sepele seperti ini. Bisa- bisa Darrel menertawakannya karena perasaan cerobohnya ini.
"Keira siapa ya?" tanya Nana ramah.
"Temennya Kael kak. Kakak udah lupa ya? Aku yang waktu itu minta bantuan kakak buat nyuruh Kael supaya mau ikut acara OSIS," ucap Keira menjelaskan.
"Oh, Keira?" tanya Nana seolah ia benar-benar ingat gadis itu, padahal yang aslinya mah.... tidak:)
"Kamu temen OSIS-nya Kael ya berarti?" tanya Nana balik
"Iya kak," jawab Keira dengan senyum manisnya.
"Sebenarnya di sekolahan itu ada acara apa sih? Kok Kael jadi sering banget pulang malem?" Sepertinya ini kesempatan Nana untuk menanyakan tentang kegiatan adiknya yang tidak ada habisnya itu. Bahkan sampai melupakan makan dan pekerjaan rumahnya.
"Ha? Kael? Bukannya Kael nggak sekolah ya kak?" tanya Keira bingung.
"Maksudnya?" Kini ganti Nana yang bingung dengan pertanyaan Keira.
Akhirnya Keira menjelaskan semua pada Nana. Tentang Kael yang bertengkar dengan teman sekelasnya, dan berakhir dengan Kael yang di- skors sekolahan karena sampai membuat teman sekelasnya itu masuk rumah sakit, dan karena Kael yang tidak mau meminta maaf karena kesalahannya itu, Kael sampai harus melunasi biaya rumah sakit. Nana terkejut dengan penjelasan Keira. Tadi ia sudah dibuat kesal saat melihat Darrel jalan dengan wanita lain, lalu sekarang ia malah mendengarkan fakta bahwa adiknya itu ternyata sudah membohonginya selama ini.
"Kamu beneran Kei?" tanya Nana dengan wajah terkejut.
"Iya kak,"
"Kalau nggak sekolah, terus Kael di mana? Dia selalu izin ke sekolah, terus selalu pulang malam. Kamu tahu nggak biasanya dia di mana?" tanya Nana cemas.
"Maaf kak. Aku cuma sekadar kenal aja sama Kael, itupun dari OSIS. Jadi, saya nggak tahu sekarang Kael di mana. Maaf ya Kak aku harus pergi dulu, tadi ke sini sama Mama soalnya," ucap Keira kaget saat ternyata Nana tidak mengetahui tentang yang terjadi dengan Kael. Ia harus segera menghindar sekarang, ia tidak ingin terlalu ikut campur dengan urusan dengan Kael, si cowok es batu yang brutal itu, apalagi sampai menyangkut pautkan keluarganya.
Nana merogoh saku jaketnya, berniat mencari ponselnya, tapi tidak ada.
"Ck gue lupa bawa hp lagi,"
Nana segera pergi ke kasir untuk membayar belanjaannya. Ia tidak jadi belanja banyak, pikirannya sudah sangat tidak tenang sekarang.
Nana memilih untuk berjalan kaki saja, mungkin ia dapat menemukan Kael di jalan. Nana benar- benar cemas dengan keadaan adiknya, ia tidak percaya kalau adiknya dapat menyimpan masalah sebesar ini darinya, dan ia tambah tidak percaya lagi kalau Kael selama ini malah menutupi semua masalahnya dengan kebohongan untuknya. Ia merasa terlalu bodoh sebagai kakak, seharusnya selama ini ia tahu kalau adiknya itu ada masalah, tapi ia malah memilih tutup mata dan menganggap kalau semuanya akan baik-baik saja.
Saat akan berbelok, Nana seperti melihat motor yang biasanya dipakai Kael berada di depan sebuah warnet. Ia berhenti untuk memastikan matanya tidak salah.
Nana masuk ke dalam warnet itu untuk membenarkan dugaannya. Dan raut wajahnya langsung berubah marah saat ia melihat Kael sedang duduk di sebuah bilik dengan sebuah komputer di depannya.
Nana langsung mendekat dan menjewer telinga Kael keras, membuat adiknya itu memekik karena terkejut sekaligus kesakitan akibat jewerannya.
"Kak Nana!"
Nana melepaskan jewerannya, lalu menatap Kael kesal.
"Kita pulang! Jelasin semuanya ke kakak!"
Kael berdecak pasrah, antara malu dan takut karena perbuatan kakaknya ini. Sekarang semua orang yang berada di dalam warnet ini menatap dirinya dengan kakaknya. Ia ingin marah pada Nana, tapi sepertinya ia akan benar- benar merasa bersalah jika ia melakukan hal itu pada kakaknya yang tidak salah apa- apa terhadapnya.
Nana menarik Kael keluar, lalu memaksanya untuk segera naik ke atas motor. Dengan pasrah Kael hanya menuruti permintaan kakaknya itu. Ia tidak ingin bertengkar di muka umum seperti ini.
Setelah sampai di rumah, Nana langsung menaruh bahan- bahan belanjaannya di atas meja. Lalu dengan isyarat mata ia menyuruh Kael untuk duduk di hadapannya. Kael hanya menurut, ia tidak bisa mencari pembelaan sekarang.
Nana memejamkan matanya, ia berusaha meredam amarahnya. Ia tidak ingin mengatasi masalah dengan menggunakan emosi, ia harus mendengarkan penjelasan dari Kael juga. Karena ia tidak bisa memutuskan semuanya secara sepihak sebelum mendengarkan penjelasan pihak lain yang bersangkutan.
Nana membuka matanya, lalu menghela napas berat sambil menatap Kael.
"Kakak minta kamu jelasin semuanya. Tadi kakak denger kalau kamu ada masalah di sekolahan, sekarang bisa kamu jelasin?" tanya Nana serius.
Kael menundukkan wajahnya. Sebenarnya ia tidak ingin Nana tahu masalahnya, ia tidak ingin membebani kakaknya itu, makanya ia memilih menyembunyikan semua ini. Tapi mau tidak mau ia harus membuka suara karena kakaknya itu sudah bertanya kepadanya. Ia tidak punya kesempatan untuk mengelak.
"Gue di-skors gara- gara berantem," jawab Kael pada akhirnya.
"Kamu berantem gara- gara apa? Kakak tahu karakter kamu, kamu nggak akan mau turun tangan kalau kamu marah, kakak bener kan?" tanya Nana langsung.
"Cewek gue selingkuh sama Reno,"
Mata Nana langsung membola,
"Reno sahabat kamu kan? Terus pacar kamu.... maksud kamu Dilla?" tanya Nana terkejut.
Kael mengangguk, "Dia yang mancing gue waktu itu, jadi gue buat dia masuk rumah sakit," jawab Kael se- santai mungkin. Ia tidak ingin terlihat merasa bersalah di depan Nana, karena dirinya memang tidak bersalah. Sama seperti orang lain, ia sangat benci dikhianati, apalagi oleh orang yang sangat ia percayai.
Nana terdiam, ia merasa Dejavu. Kisahnya seperti telah diulang oleh adiknya. Nana tahu betul besar rasa sakit yang dirasakan Kael. Apalagi Kael sudah sangat mencintai pacar dan juga sangat mempercayai sahabatnya itu, sama seperti dirinya yang dulu sangat mencintai dan menyayangi Fian, mempercayai orang itu lebih dari diri sendiri. Rasanya ia ingin marah, tapi ia tidak tahu akan marah pada siapa.
Nana mendekati Kael, lalu memeluk tubuh Kael. Kael terkejut dengan pelukan Nana, ia pikir kakaknya itu akan marah padanya. Tapi sekarang...
"Maafin kakak udah marah sama kamu," ujar Nana tulus.
"Kak..."
Nana melepaskan pelukannya, lalu menatap Kael hangat.
"Sekarang kamu mandi dulu, biar kakak masakin buat kamu hm?" ucap Nana dengan senyuman manisnya, lalu pergi meninggalkan Kael yang masih diam kebingungan dengan sikap kakaknya.
"Kak?" Nana menoleh saat Kael memanggilnya, "Hm?"
"Kesambet?"
.
.
.
Setelah makan malam, Nana membiarkan Kael untuk istirahat. Ia tidak ingin membuat Kael merasa terbebani karenanya. Kali ini ia tidak menonton drama untuk pengalihannya, ia memilih mengerjakan tugas dan belajar karena sebentar lagi akan diadakan ujian semester di sekolahan.
Belajar pun Nana tetap tidak bisa fokus. Ia mengambil ponselnya, lalu membuka media sosialnya. Lama bergelut dengan benda itu, Nana jadi lupa dengan rencana belajarnya. Ya, seperti inilah Nana, niatnya mau istirahat sebentar, tapi malah jadi berjam- jam.
Kadang Nana tertawa kecil melihat Vidio lucu di sana, hingga matanya menyipit saat seseorang menandai akun Darrel di postingan terbarunya.
Nana mengernyitkan dahinya kesal. Itu wanita yang sama dengan yang ia lihat bersama Darrel tadi. Wanita itu memosting foto Darrel dengan caption yang terlihat menyebalkan menurut Nana, "Thanks to your time today. I love you❤️"
"Kenapa harus muncul di beranda sih," ucap Nana kesal lalu langsung mematikan ponselnya.
Ia menarik laptopnya, lalu menonton drama. Yah, begini kalau ia sudah dalam mode bad mood. Belajar? Big No! Mengatur mood-nya adalah yang paling utama.
Nana menonton drama sampai larut malam, bahkan ia sudah melupakan waktu tidurnya. Ia merasa matanya sudah terlalu lelah, lalu menutup laptopnya dan kembali membuka ponselnya kembali. Status dari akun Darrel membuatnya tertarik untuk membukanya.
Ia pikir Darrel sedang memosting fotonya, tapi ia salah besar, itu foto wanita tadi. Dengan kesal Nana melempar ponselnya ke atas ranjang. Ia langsung merebahkan tubuhnya dan menutup mata.
"Dasar F*ck Boy!" Lalu tiba- tiba Nana tersadar akan perbuatannya.
"Gue kenapa sih?!"
.
.
.
Senyuman terukir tipis dari seorang cowok yang sedang scrolling akun mantannya itu. Mengetuk dua kali pada sebuah postingan tersebut dengan perasaan getir.
"Nana, gue kangen," ujar Fian penuh sesal. Menatap salah satu postingan Nana dengan tatapan rindu. Dulu, ia selalu mencari moment yang pas untuk melepaskan Nana, namun ia tidak pernah mendapatkan moment itu. Sampai ia menjadi b***t dengan tetap mempertahankan gadis itu dan memulai hubungan dengan wanita lain. Penyesalan selalu hadir di dalam lubuk hatinya, apalagi setelah mengetahui jika Darrel benar- benar pacaran dengan Nana, si gadis polos itu. Ia tahu betul siapa Darrel yang sekarang, cowok b******k yang hanya bisa mempermainkan perasaan wanita, sifat egois, dan keras kepalanya yang tidak pernah berubah. Ia tidak tahu sejak kapan adiknya itu berubah menjadi seperti ini. Tapi yang Fian tahu pasti, Darrel berubah karena dirinya. Menyesal? Awalnya Fian benar- benar merasa bersalah pada adiknya itu, tapi semuanya berubah ketika Darrel mengetahui jika ia menyukai Klara, dan Darrel menjadikan Klara sebagai bahan taruhan, dari sanalah dimulainya pertengkaran sesungguhnya antara dirinya dan adik kandungnya sendiri.
Back to the topic, hingga terlihat sebuah notifikasi postingan baru dari salah seseorang yang akunnya ia ikuti. Fian mengernyitkan kening saat melihat caption-nya. Itu dari teman satu kampusnya, mungkin. Guratan di pelipisnya terlihat jelas ketika melihat foto postingan itu. Seorang wanita yang merupakan mahasiswi satu kampusnya, dengan adik kandungnya, Darrel.
"Sh*t!" Fian segera keluar dari aplikasi itu, lalu segera menelepon Darrel. Tapi tidak diangkat.
"F*CK!" Fian terus mencoba menghubungi nomor Darrel, tapi tetap tidak diangkat. Sampai di percobaan ke sembilan panggilannya diterima, namun seorang gadis datang dari dalam membuat Fian langsung memutuskan panggilan dan menyimpan ponselnya.
Klara mengernyitkan keningnya bingung melihat tingkah kekasihnya itu. Ia menaruh nampan berisi jus itu di atas meja, "Kenapa?" tanya Klara.
Fian menyembunyikan ponselnya gugup, "Nggak papa. Nggak penting," jawabnya berusaha santai.
"Kamu nyembunyiin apa dari aku?" tanya Klara curiga.
Fian menghela napas rendah, "Bukan apa- apa Ra. Aku cuma nelfon Darrel, tapi nggak diangkat," jawabnya jujur. Walaupun tidak ia jelaskan mengapa dirinya berusaha menghubungi Darrel.
Klara masih menatap Fian menyeluruh dengan tatapan curiga, melihat gelagat aneh Fian yang terlihat tidak meyakinkan, "Kamu nggak lagi coba buat peduli kan sama Nana?"
.
.
.
Setelah dari rumah Klara, Fian langsung pergi menuju tempat di mana adiknya tinggal saat ini.
Kehadiran Fian membuat keterkejutan yang tidak terduga terhadap penghuni yang menempati tempat itu. Mereka yang tadinya asik bergurau langsung memasang wajah terkejut dan datar di saat bersamaan saat melihat kehadiran kakak kandung dari sahabat mereka.
"Eh Bang Fian, tumben ke sini? Lagi cari apa? Cari upilnya Darrel ya?" tanya Gavin dengan tengilnya, yang langsung disambar tawa dari teman-temannya yang lain.
Fian sama sekali tidak menggubris ejekan mereka, ia hendak menyerobot masuk ke dalam, namun dengan segera cowok Blesteran Jepang yang tadinya berada di ruang tamu keluar dan menghadangnya.
"Oi Oi! Main serobot aja sih akang mah," seru Sam.
"Ngapain Lo ke sini?" tanya Iko dengan suara dingin khas- nya. Ia menatap tajam sosok pria yang berdiri di hadapannya itu.
"Darrel mana?" tanya Fian sembari mengedarkan pandangannya ke dalam basecamp itu, berusaha mencari keberadaan Darrel.
"Darrel nggak ada," jawab Iko singkat.
Fian berdecak geram, ia menarik kaos yang Iko kenakan keras, membuat anggota geng Victory yang berada di sana sudah ancang- ancang akan menghabisi cowok itu. Namun dengan segera Iko mengangkat tangannya, memberi isyarat kepada beberapa cowok di sana.
"GUE TANYA DARREL DI MANA?!" tanya Fian lantang.
"Woi! Ngapain Lo di sini?" Suara familiar itu berhasil membuat cengkraman Fian pada Iko mengendur. Ia menoleh dan mendapati Darrel yang sudah berdiri di belakangnya dalam keadaan setengah sadar.
Dengan kemarahan yang sudah tidak bisa ia tahan, tanpa aba- aba Fian langsung memukul sisi kiri kepala Darrel dengan sangat keras hingga membuat Darrel limbung.
"ANJ*NG!"
"B*BI!"
"BAJ*ING!"
"BANGS*T! APA- APAAN MAKSUD LO?!" pekik Johan yang langsung menolong Darrel, begitupun dengan yang lainnya, kecuali Iko yang memilih diam sembari menatap tajam bagian belakang tubuh Fian.
Fian akan kembali memukul Darrel, namun dengan cepat Iko memutar pergelangan tangan Fian ke belakang, "Jangan macem-macem di wilayah kita. Atau mati!" Iko langsung menghempaskan begitu saja Fian sampai tubuhnya tersungkur.
"Gue kenapa sih b*bi! Pusing Anj*ng!" ujar Darrel yang masih dalam efek minuman keras itu.
Sam menoyor kepala Darrel cukup keras, "Lo ditonjok bangke!"
Dengan tatapan polos Darrel menatap Sam yang memang lebih tinggi darinya, "Ooh, pantes sakit," Darrel menyentuh pipinya yang habis ditonjok Fian.
"Otaknya kebawa buwung," ujar Johan sembari menoyor kepala Darrel lagi.
"Sakit, kenapa dipukul terus sih. Entar yang beb nggak suka lagi Ama Abang gimana?" tanya Darrel dengan mata setengah merem.
Benar- benar memuakkan. Fian tak bisa menahan kesabarannya lagi, "BANGS*T! GUE BILANG JANGAN MACEM- MACEM SAMA NANA! KENAPA LO MASIH BEGINI HAH?!"
Darrel menepuk- nepuk telinganya, lalu melangkahkan kakinya mendekati Fian, "Nana yang pacar gue aja diem, lah Lo...." Darrel menunjuk ke arah Fian, "...Lo siapa?"
.
.
.