Hari ini jadwal pelajaran di SMA Cahaya Nusa dipadatkan karena guru- guru akan melakukan rapat di sekolahan lain. Pukul 10 pagi semua murid dapat melanjutkan aktivitas masing- masing di luar maupun dalam sekolahan.
Nana menghampiri Kael yang sudah menunggunya di depan sekolahan. Teman- teman satu sekolahan Nana banyak yang menatap interaksinya dengan adiknya, mungkin mereka berpikir kalau Kael adalah pacarnya. Bagaimana tidak, wajah adiknya ini terlihat sangat tampan, dan lagi sekarang Kael sama sekali tidak terlihat seperti murid SMP, kesannya terlihat sangat dewasa.
"Ke resto dulu, laper gue," ucap Nana yang kemudian naik ke atas motor Kael setelah memakai helm yang diberikan adiknya itu.
Kael hanya mengangguk singkat, lalu mulai menjalankan motornya melewati anak- anak SMA Cahaya Nusa yang berlalu- lalang di luar sekolahan itu.
Kemarin, setelah sangat larut Nana tetap tidak bisa tidur dengan tenang. Akhirnya ia memilih untuk pergi ke kamar Kael untuk memastikan kalau adiknya itu sudah tertidur. Tapi, ternyata Kael masih belum tidur, adiknya itu malah menangis di atas karpet tanpa menyadari kehadirannya. Tentu saja Nana terkejut melihatnya. Nana menenangkan Kael, dan Kael mau menceritakan semuanya kepada Nana, tanpa ada satupun kisah yang ia sembunyikan.
Kisah Kael dengannya hampir sama, bahkan bisa dibilang sama persis. Karena di hari yang sama dengannya, Kael juga mengetahui tentang penghianatan dari sahabat dan kekasihnya. Kael sudah mengatakannya, tapi Nana masih ragu untuk berkata jujur pada Kael.
Motor Kael berhenti di sebuah tempat makan yang tempatnya lumayan dekat dengan sekolahannya. Mereka masuk dan langsung memilih tempat duduk.
"Lo mau pesen apa?"
"Emm..." Saat Nana sedang memikirkan jawaban dari pertanyaan Kael, matanya tanpa sengaja melihat seorang cowok dan wanita duduk di seberangnya.
"Pantes aja tadi bolos, ada cabe-nya ternyata," batin Nana kesal.
"Kak?" tanya Kael saat menyadari kakaknya melamun.
"Ah...gue, samain sama Lo aja," ucap Nana, dan Kael mengangguk lalu pergi.
Nana dengan tatapan tajamnya masih setia menatap kedua orang itu, yang tak lain adalah Darrel dan wanitanya. Hingga Darrel juga menatapnya, barulah Nana langsung mengalihkan tatapannya ke arah lain.
Tak lama kemudian Nana merasakan kursi yang tadi diduduki Kael bergerak,
"Lo ngapain di sini?" tanya Darrel dengan senyuman buayanya.
Nana menoleh, "Ya makan lah. Emang Lo pikir cuma Lo sama cewek Lo aja yang bisa ke sini?" cibir Nana kesal.
Darrel terkekeh pelan, lalu mengacak rambut Nana gemas.
"Ihh apaan sih?" ucap Nana geram sambil merapikan rambutnya, berusaha menghilangkan jejak tangan Darrel dari rambutnya.
"Kenapa Lo? Cemburu?" tanya Darrel sambil menaikkan alisnya.
"Apa Lo bilang? Gue? Gue cemburu?" Nana mengibaskan rambutnya, "No!" lanjutnya.
Darrel mengangkat sebelah alisnya curiga, "Lo beneran cemburu Na?"
Luka lebam di pipi kiri Darrel menarik perhatian Nana. Belum sempat Nana menanyakan soal luka itu pada Darrel, tiba- tiba sebuah suara muncul menginterupsinya.
"Ngapain Lo di sini?" tanya Kael yang baru tiba.
Mereka berdua menatap Kael yang sekarang berdiri di samping kursi yang diduduki Darrel.
"Eh calon adik ipar, ngapain Lo di sini? Bukannya Lo harusnya masih di sekolah ya?" tanya Darrel.
"Ya suka-suka gue lah. Minggir!" ucap Kael sambil mendorong tubuh Darrel agar pergi dari sana.
Darrel hanya terkekeh kecil, lalu pergi menghampiri wanita yang tadi bersamanya. Kemudian mereka pergi dari sana.
Kael menatap Nana yang terus memperhatikan Darrel, bergantian dengan Darrel yang juga menatap kakaknya dengan tatapan buaya andalan para playboy.
"Udah ganti aja tuh orang. Untung Kak Fian beda," ucap Kael.
"Hm?"
"Heran gue. Bisa ya, adek sama kakak kepribadiannya beda gitu," ucap Kael lagi.
"Ngapain heran? Lo sama gue aja juga beda kan?" tanya Nana balik. Ia tahu arah pembicaraan Kael, adiknya itu pasti sedang membandingkan Fian yang terlihat baik dan Darrel yang terlihat nakal. Entah mengapa, ia tidak suka saat ada yang mengagungkan nama Fian, dan menjelekkan nama Darrel. Sifat mereka memang berbeda, Nana mengakuinya. Fian yang pura-pura terlihat baik padahal aslinya bangs*t, dan Darrel yang terlihat playboy padahal aslinya memang playboy.
Nana menggelengkan kepalanya, mengusir pikiran kotor yang menguasai kepalanya.
"Lo bukan lagi bela Bang Darrel kan?" tanya Kael curiga.
Nana memukul pelan kepalanya, ia benar-benar lupa kalau adiknya itu memiliki tingkat kepekaan yang sangat tinggi, yang hampir setara dengan orang yang mendalami ilmu psikologi.
"Nga...ngapain bela Darrel. Nggak ada gunanya," ucap Nana gugup.
"Makanannya mana sih, gue laper!" ucap Nana mengalihkan pembicaraan.
.
.
.
Hari ini Kana dan Lisya pergi ke rumah Nana setelah pulang sekolah. Seperti biasanya, mereka bertiga menghabiskan waktu untuk mengobrol, menonton film, ataupun mengerjakan tugas di kamar Nana. Walaupun biasanya mereka berempat dengan Klara,
Tadi setelah makan dengan Kael, ia pergi ke minimarket, sekalian untuk membeli banyak makanan ringan untuk kedua temannya itu. Untuk kali ini mereka datang untuk mengerjakan tugas, tentunya diawali dengan mengobrol hingga menghabiskan banyak waktu, lalu Kana akan marah dan barulah mereka akan memulai mengerjakan tugas itu.
"Ini jawabannya di halaman berapa sih? Dari tadi gue bolak-balik nggak nemu-nemu," ucap Lisya geregetan sambil membolak-balikkan buku sesuai ucapannya.
Nana melihat soal yang Lisya kerjakan, "Ini, yang ini," ucap Nana sambil menunjukkan sebuah paragraf di dalam buku itu.
"Unch, makacihh," Lisya mengelus pelan dagu Nana, lalu melanjutkan pekerjaannya.
Hanya butuh beberapa menit Kana mengerjakannya, lalu gadis itu mengambil ponselnya dan bermain game.
"Enak banget sih jadi Kana, udah cantik, pinter, gamer lagi. Lah gue? Cuma hamparan debu yang tak terlihat," ucap Lisya dramatis.
Kana menatap Lisya, lalu menarik buku Lisya. Kana sudah sangat hapal kalah Lisya memujinya seperti ini. Minta jawaban tentunya,
"Nih!" Kana masih mengingat jawabannya, jadi ia hanya mencoret jawaban yang benar saja di buku Lisya.
"Lo tau aja sih!" kekeh Lisya, lalu menarik bukunya senang.
Tak lama kemudian Nana juga menyelesaikan tugasnya.
"Kuy nonton!" ucap Nana senang,
Nana dan Lisya menonton drama di laptop Nana, sedangkan Kana masih sibuk dengan game-nya. Kana tidak terlalu menyukai drama, ia lebih suka menghabiskan waktu luangnya untuk bermain game atau membaca, itu lebih menarik untuknya.
Kana menoleh saat merasakan getaran di sampingnya,
"Na, Darrel nelfon," ucap Kana lalu kembali fokus dengan ponselnya.
"Eh cie, pacar tuh!" ucap Lisya jahil.
Nana mengambil ponselnya cepat, lalu pergi sedikit menjauh dari teman- temannya. Ia mengangkat panggilan dari Darrel.
"Ngapain Lo nelfon?" tanya Nana sarkas, ia masih kesal dengan kejadian di restoran tadi.
"Judes amat neng, gue kangen elah. Masa pacaran nggak pernah telfonan sih, emang Lo nggak kangen gue? Gue kesepian tau," ucap Darrel dari seberang.
"Dasar buaya nyasar," batin Nana.
"Emang cabe simpanan Lo ke mana? Udah diuleg dia?" tanya Nana tanpa sadar.
"Eh...dia punya nama kali Na, namanya Cantika. Cantik kan? Kayak orangnya, hehe,"
"Lo ngapain sih sebenarnya?" tanya Nana semakin kesal setelah mendengar Darrel memuji wanita itu.
"Kan gue udah bilang, gue kesepian Na,"
"Oh, gue cuma jadi pelarian gara-gara cewek Lo pergi?"
"Sensi amat sih. Kan sama, gue cuma pelarian Lo juga kan waktu Fian ninggalin lo,?"
Skak mat! Nana tidak berkutik, ucapan Darrel langsung tepat sasaran. Namun Nana memilih diam tidak menanggapi, entah mengapa ia jadi kurang nyaman mendengar kalimat nyata yang Darrel ucapkan.
"Eh Na," panggil Darrel membuat Nana berdehem singkat sebagai tanggapan.
"Kemarin mantan Lo mukulin gue, nih pipi gue yang mulus jadi bonyok," adu Darrel dengan suara memelas.
Tiba- tiba Nana teringat luka lebam yang tadi ia lihat, apa benar Fian yang melakukannya?
"Beneran Kak Fian yang ngelakuin?" tanya Nana hati- hati.
Permintaan untuk video call terlihat, tanpa berpikir panjang Nana langsung menerimanya, karena sudah terlanjur kepo dengan jawaban Darrel.
Wajah julid Darrel langsung terlihat di layar ponselnya setelah video call tersambung, "Nih coba liat. Masa kemarin mantan Lo datang ke basecamp gue, terus langsung nonjok gue gitu aja lagi. Untuk temen-temen gue pada misahin, kalau nggak, mungkin tuh orang dah masuk ICU sekarang," karang Darrel semaunya. Orang Kemarin dirinya mabuk, dah gitu pake acara ngigo lagi, mana sempet bikin Fian ke ICU. Palingan kalau nggak ada temen-temennya, malah dirinya sendiri yang sudah terbaring di ICU sekarang.
Nana terlihat geram sembari mendengarkan penjelasan Darrel. Dan Darrel benar- benar saat Nana menunjukkan ekspresi itu karena dirinya. Entahlah, ia hanya merasa senang.
"Kemarin bengkak banget, udah gitu sakit banget lagi, gue sampai susah makannya, makanya gue nggak sekolah tadi ya gara- gara ini," ujar Darrel seperti anak kecil yang tengah mengadu pada ibunya. Ia menunjukkan bagian wajahnya yang terluka agar bisa Nana lihat.
Nana terlihat marah, "Kak Fian kenapa lagi sih sebenarnya?" gumam Nana.
"Halo, apa Na? Nggak kedengaran," ujar Darrel karena ia memang hanya mendengarkan gumaman saja dari gadis itu.
Nana menatap layar ponselnya, "Gue tutup dulu,"
Nana mematikan panggilannya secara sepihak. Lalu ia langsung menelepon ke nomor Fian yang sebelumnya sudah ia blokir. Cukup lama ia menunggu, tapi untungnya pemilik nomor itu mau mengangkat panggilannya.
"Ngapain Lo nelfonin cowok gue lagi, ha? Masih naksir Lo sama cowok gue?" Nana tahu jelas itu suara siapa. Ya Klara lah! Siapa lagi pacar Fian saat ini kalau bukan si penghianat itu. Rasanya Nana benar- benar kesal saat ia mengingat kalau ia pernah mempunyai sahabat seperti Klara, yang berani menusuk temannya dari belakang dengan terang- terangan tanpa mengucapkan kata 'maaf' sekalipun.
Dan lagi, kenapa ponsel Fian bisa ada pada Klara? Bukankah seharusnya Fian ada di kampus? Namun secepat mungkin Nana menggelengkan kepalanya kesal. Terserahlah! Ngapain juga ia mengurus hal tidak penting seperti ini.
"Ngapain cowok Lo mukulin cowok gue ha? Ingetin dia dong! Kalau ada apa- apa itu diomongin baik- baik bukan langsung main tonjok anak orang aja!" ujar Nana nggak sabaran.
"Apa maksud Lo, hah?" tanya Klara terdengar tidak terima.
"Lo tanya sendiri aja sama cowok Lo. Kalau alasan cowok Lo mukulin Darrel gara- gara gue...." Nana menjeda ucapannya dengan salah satu sudut bibir terangkat tipis, "...berarti cowok Lo yang nggak bisa move on dari gue. Atau mungkin dia udah sadar mana yang seharusnya dia perjuangkan sama yang seharusnya dia bu--"
"Bangs*t!"
Tuuut! Tuuu!
Panggilan terputus begitu saja. Akhirnya Nana bisa tertawa puas sekarang. Seenak jidat merebut pacarnya, udah gitu malah sana yang suaranya paling gede lagi. Dikiranya dirinya siapa?
Sedangkan dari pinggiran tembok, Kana dan Lisya saling tatap dengan raut muka tidak percaya. Ya, mereka menguping semua pembicaraan Nana dengan Darrel maupun dengan Klara. Karena Nana memang tipe orang yang selalu me- loud speaker saat sedang berbicara via telepon dengan seseorang.
"Na? Itu beneran temen kita?" tanya Lisya berbisik. Dan Kana hanya menggelengkan kepalanya tidak tahu, ia juga terkejut kalau Nana dapat bersikap se-savage ini. Karena sudah diketahui jika image imut dan menggemaskan Nana-lah yang selama ini ia lihat.
Menakjubkan!
.
.
.
"Jelaskan perubahan sosial menurut Kingsley Davis!" tanya Iko yang tengah memegang selembar kertas soal. Cowok itu terlihat berbeda sembilan puluh derajat dari biasanya. Cowok yang biasanya terlihat serius saat bermain game itu terlihat dengan penampilan serius lainnya saat tengah mengajari teman- temannya yang akan mengikuti ujian besok.
"Perubahan sosial adalah proses perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat," jawab Darrel kaku.
"Jojo, gue bakal suruh ngerjain 10 soal dalam waktu lima detik kalau tuh hp masih Lo pegang," ujar Iko tajam tanpa menolehkan kepalanya.
Jojo yang memang memegang ponsel yang berisi jawaban atas pertanyaan yang diberikan kepada Darrel, sontak ia langsung menyimpan ponselnya di atas karpet karena takut akan ancaman Iko.
"Nggak Ko. Udah nggak gue pegang kok, serius," ujar Jojo takut. Ini semua salahnya yang bercanda meminta Iko untuk mengajarinya dan Darrel karena tidak ingin bersih- bersih basecamp, tapi Iko malah menanggapinya dengan sangat serius, dan memaksa dirinya dan Darrel untuk belajar untuk ujian besok.
Sedangkan Darrel hanya bisa meneguk salivanya lamat- lamat, ia tidak pernah seberdebar ini sebelumnya. Iko benar- benar terlihat sangat menakutkan jika sudah memegang buku tebal dan kertas- kertas soal itu.
"Sebutkan perubahan struktur sosial menurut Haper!" tanya Iko lagi.
Tatapan tajam Iko benar- benar berhasil membuat Darrel berdebar kencang, aneh, padahal ia tidak pernah sampai seperti ini bahkan ketika berhadapan dengan kepala sekolah karena kenakalannya.
Beberapa detik berlalu, tapi Darrel tetap diam saja. Darrel mendongakkan kepalanya takut- takut, "Gu-- gue lupa awalannya," jawab Darrel jujur. Tadi ia sempat membacanya. Tapi, ia tidak menyangka jika Iko akan benar- benar serius mengajarinya seperti sekarang.
"Menurut Harper, perubahan tersebut mengandung beberapa perubahan struktur sosial. Perubahan dalam personal yang berhubungan dengan perubahan peran dan indovidu-individu baru dalam sejarah kehidupan manusia, perubahan dalam cara berhubungan antarbagian struktur sosial, dan perubahan dalam fungsi-fungsi struktur yang berkaitan dengan apa yang dilakukan masyarakat dan bagaimana melakukannya," Tiba- tiba Kevin menyahut pertanyaan tersebut, "Masa gitu aja Lo nggak tau sih bang," ujarnya mengejek.
Darrel memberikan pelototan tajam pada Kevin yang juga tengah belajar dengan Riko. Sedangkan Kevin hanya menanggapinya dengan mengendikkan bahunya.
Iko menganggukkan kepalanya beberapa kali, menyetujui ejekan yang Kevin tujukan kepada Darrel, membuat Darrel menatap cowok itu dengan tatapan tidak percaya karena merasa disudutkan, "Gue masih inget kok, walaupun nggak semua," ujar Darrel membela diri.
"Satu soal yang masih Lo inget, sama jawabannya juga," tantang Iko.
"Di bawah ini bentuk- bentuk akomodasi kecuali," ucap Darrel dengan percaya dirinya, "disorganisasi," ujar Darrel menjawab pertanyaan tersebut.
"Bhahahaha!" Sam yang memang berada di sana langsung tertawa terbahak- bahak mendengar ucapan Darrel, begitu juga dengan Kevin.
"Itu mah gampang, Lo beneran b**o ya bang? Hahaha!" ejek Kevin.
"Diem Lo!" sungut Darrel kesal.
"Kalau yang termasuk akomodasi?" tanya Iko setelah itu.
"Lah, kan gue cuma hapalin jawabannya aja," ujar Darrel tidak terima.
"Kalau pertanyaannya kebalikannya gimana? Hah! Lo tuh udah kelas 12, Lo bilang kalau Lo mau satu kampus sama Fian kan?" ujar Iko dengan suara rendah.
Suasana tiba- tiba hening. Pembicaraan yang menyinggung tentang keluarga Darrel merupakan suatu yang sakral. Raut wajah Darrel seketika langsung datar, ia jadi merasa dibandingkan sekarang.
Iko menghela napas rendah, ia merasa bersalah karena sudah membuat suasana jadi seperti ini. Sebenarnya ia hanya ingin membuat Darrel benar- benar membalaskan dendam ya kepada keluarganya dengan cara yang bisa membuat mereka terperangah karena keberhasilan Darrel. Ia sudah menganggap cowok itu sebagai saudaranya sendiri.
"Gue minta maaf. Gue nggak bermaksud--"
Darrel mendongakkan kepalanya, menepuk bahu Iko, "Gue nggak bakal bisa nyaingin Fian untuk masalah otak. Sebenernya gue juga udah nggak peduli sama pendapat nyokap, bokap atau siapapun. Gue cuma butuh kalian, sahabat- sahabat gue, karena gue mungkin udah mati kalau nggak ketemu kalian," ujar Darrel penuh rasa terima kasih.
Jojo yang mendengar ucapan Darrel langsung berkaca- kaca. Ia menarik Sam yang berada di sampingnya ke dalam pelukannya. Dan Sam yang sudah mulai terbawa perasaan hanya bisa pasrah dan membalas pelukan Jojo, tanpa menyadari kegiatannya.
"Anjir, geli gue," ujar Riko berbisik saat melihat interaksi Sam dan Jojo.
Kevin langsung menggeplak lengan Riko menanggapi. Tadinya ia sudah mulai berkaca- kaca mendengar ucapan Darrel, tapi semuanya pecah karena melihat Sam dan Jojo yang biasanya tidak bisa akur itu.
"Yodah, gue mau balapan aja ya Ko? Gue nggak bidang sama nih mapel," ujar Darrel dengan wajah menyebalkannya.
Dan satu detik setelahnya Iko langsung melemparkan bantal yang berada di sampingnya ke arah Darrel.
"Serah Rel! Serah!"
.
.
.