Ujian Semester Pertama di mulai hari ini. Nana, Lisya dan Kana yang biasanya tidak terlalu memikirkan pelajaran itu sekarang masih belajar di kelas mereka. Sama sekali tidak memperdulikan anak-anak kelas lain yang juga sudah berada di kelas. Setelah bel berbunyi barulah Nana keluar dari kelas itu, karena hanya Nana yang beda kelas dengan kedua sahabatnya.
Nana tidak berpikir terlalu berat dengan ujian kali ini, nilai rata-rata KKM saja sudah cukup memuaskannya. Sebenarnya ia ingin berpikir santai saja, tapi karena paksaan dari Kael, jadilah ia yang harus begadang untuk belajar dan nanti pasti nilainya akan cukup baik, walaupun tidak jauh- jauh dari KKM.
Nana melihat denah tempat duduk yang berada di samping papan tulis. Setelah mengetahui tempat duduknya, ia berjalan ke sana. Kursi di sampingnya masih kosong, mungkin penghuninya belum datang.
"Na! Jan lupa contekan," ucap Kevin yang duduk di belakang Nana.
Nana sedikit mendekatkan kepalanya, "Nggak, pasti nanti gue yang nyontek Lo,"
Kevin tertawa kecil. Memang benar yang diucapkan Nana. Ia jarang meminta contekan dari Nana, karena sebelum ia menanyakan jawabannya, Nana pasti akan lebih dulu menanyakan kepadanya. Dan jadilah mereka berdua bertanya pada Si Puput, juara kelas yang tiada tandingannya di kelasnya.
"Ngomongin apa Lo berdua?"
"Kok Lo?" tanya Nana cukup terkejut saat melihat Darrel duduk di sampingnya.
Darrel menguap malas, pasti pria itu begadang semalaman. Terlihat dari kantung matanya yang menghitam, dan raut wajahnya yang terlihat lesu. Nana yakin Darrel pasti begadang bukan karena belajar, melainkan karena balapan motor atau nongkrong bersama dengan teman- temannya, atau mungkin bersama dengan cabe- cabeannya yang bejibun. Nana tahu hal ini dari Fian, dulu Fian cukup sering membicarakan tentang Darrel.
Sepertinya semua tentang Darrel sudah Fian ceritakan kepadanya. Tentang Darrel yang sering balapan, hingga Darrel yang sering tidak pulang karena Fian. Dan hal itu juga yang membuatnya menjadi cukup dekat dengan Darrel sebelum ia memutuskan hubungannya dengan Fian waktu itu.
"Na, jam pertama apa?"
What? Darrel baru menanyakan jadwal ujian? Pasti sudah benar-benar gila pria itu. Sudah kelas dua belas juga, tapi masih bersikap bodo amat seperti ini.
"Bahasa Jerman," jawab Nana asal.
Guru masuk membagikan kertas ujian. Untung guru yang menjadi pengawas kali ini bukan guru killer yang mempunyai prinsip 'senggol bacok'.
Darrel yang terlihat lesu entah sudah hilang ke mana. Sekarang digantikan dengan Darrel yang sangat hiperaktif dalam mencari jawaban dari soal- soal yang ada di kertas ujian itu. Tadinya Darrel terlihat santai- santai saja, namun satu jam setelahnya barulah ia langsung cepat- cepat mencari jawaban dari teman- temannya.
Nana menggelengkan kepalanya takjub. Namun bukan hanya Darrel saja yang mencontek, Nana pun demikian. Walaupun tidak semua, hanya jawaban dari pertanyaan yang memang benar- benar tidak ia ketahui saja, tapi kalau Darrel tanya semuanya, sepertinya pria itu bahkan tidak tahu soal apa saja yang ada di kertas ujiannya.
Waktu yang diberikan adalah dua jam. Untungnya Nana dapat berpikir cepat hari ini, jadi di menit ke 60 ia dapat menyelesaikan semua soal- soal itu. Ia menggunakan sedikit waktu untuk mengecek kembali jawabannya,
"Nanti dicek dulu sebelum keluar. Nilai Lo jelek gue aduin Papa," itulah ancaman yang selalu Kael siapkan sebelum Nana berangkat sekolah waktu ujian. Sampai bosan Nana mendengarnya.
Setelah memastikan jawabannya, barulah Nana berdiri, bersamaan dengan beberapa temannya yang juga sudah menyelesaikan ujian mereka.
Nana pergi ke kantin dengan teman- teman sekelasnya, lalu di sana ia bertemu dengan Kana dan Lisya. Ia ikut makan di meja yang ditempati kedua sahabatnya itu.
Tidak seperti meja disekitarnya yang sedang membicarakan tentang soal ujian, Lisya dan Nana malah sibuk membicarakan drama baru yang sedang trending saat ini. Padahal dulu Nana tidak terlalu tertarik dengan drama- drama Korea maupun China yang sering dibicarakan Lisya padanya, malahan ia bosan saat Lisya terus membicarakannya. Tapi lama kelamaan Nana jadi kepo dengan hobi temannya itu dan akhirnya ia juga menjadi penggila drama seperti Lisya. Di samping itu juga karena ia tidak mempunyai banyak waktu bersama orang tuanya yang sibuk bekerja itu.
"Judulnya apa? Gue nggak tahu," tanya Nana.
"Gue juga lupa, susah banget soalnya. Bikin lidah gue keseleo," ucap Lisya yang kesal karena tidak bisa mengingat nama drama yang ingin ia ceritakan pada Nana.
"Udahlah, Lo sekarang lagi nonton apa?"
Nana mendesah lesu, "Ck, mana bisa nonton gue. Kael ngawasin gue terus tau, ngeselin banget,"
"Itu artinya dia peduli sama Lo," sahut Kana.
Mereka sama sekali tidak memesan apa- apa, hanya mengobrol saja sudah membuat mereka kenyang. Mereka menyempatkan waktu untuk kembali belajar mapel ujian kedua. Nana meminjam buku Lisya untuk belajar, ia malas pergi ke kelas, karena nanti pasti ia akan bertemu dengan Darrel lagi. Ia baru pergi ke kelas setelah bel berbunyi.
Guru datang membagikan kertas ujian untuk para siswa maupun siswi yang sudah hadir di kelas. Kelas hening, tidak seramai tadi karena guru yang menjadi pengawas saat ini adalah Guru Fisika yang terkenal sangat killer. Untung tadi Nana sudah belajar, jadi tidak banyak soal yang tidak bisa ia kerjakan.
Setelah dirasa selesai, Nana menoleh ke samping, Darrel tidak kelihatan sepanik ujian sebelumnya. Kini Darrel terlihat tenang dengan pensil dan kertas ujiannya. Tak lama kemudian Darrel sepertinya juga sudah menyelesaikan soal- soalnya.
Merasa diperhatikan, Darrel menoleh, "Kenapa?" tanya Darrel berbisik.
Nana langsung menatap ke arah lain, "Gue nggak ngapa- ngapain," ucap Nana lalu kembali menatap kertas jawabannya.
"DI MEJA KANAN KETIGA DARI DEPAN ITU LAGI NGOBROL APA?"
Seluruh penghuni kelas menatap Nana dan Darrel, karena tempat yang dibicarakan guru itu adalah tempat mereka.
"Itu pak, katanya dia udah selesai," ucap Darrel menatap Nana sambil menaik-turunkan alisnya.
Mata Nana membola, "Gue belum selesai," bisik Nana dengan suara tajam.
"KALAU SUDAH SELESAI DIKUMPULKAN SAJA!"
Nana memejamkan matanya kesal. Ia maju sambil membawa kertas ujiannya. Memang ia sudah selesai mengerjakan, tapi ia masih menunggu teman-temannya agar bisa keluar bersama.
Nana salim pada guru itu, lalu pergi sambil melirik tajam Darrel. Setelah selesai mengerjakan ujian, para murid diperbolehkan pulang atau melanjutkan kegiatan masing-masing.
Koridor masih lumayan sepi, hanya ada beberapa murid saja yang berlalu-lalang, dan itupun dari kelas akselerasi yang sudah dipastikan muridnya terkenal pintar-pintar.
Nana menunggu di depan parkiran, ia lupa kalau adiknya sekarang pasti masih berada di sekolahan. Jadi ia juga lupa untuk memesan ojek online untuk mengantarkannya pulang. Nana menunggu sampai banyak murid yang sudah keluar dari kelas masing-masing. Lehernya sudah pegal, niatnya sekarang adalah menunggu Kana.
Nana mengaduh sakit saat seseorang menjitak kepalanya.
"Darrel!"
Darrel tertawa kecil, gadis itu terlihat sangat manis saat sedang kesal seperti sekarang. Darrel mengambil ponselnya yang bergetar.
"Kenapa?"
"Kamu udah selesai ujiannya?"
Nana menatap Darrel saat mendengar suara wanita dari ponsel Darrel. Sepertinya pria itu sengaja me-loudspeakernya.
"Udah," jawab Darrel.
"Jadi jalan kan setelah ini?" tanya wanita itu.
"Jadi. Lo mau dijemput?" Darrel melirik Nana, ia tersenyum tipis melihat keantusiasan Nana menguping pembicaraannya dengan Cantika.
"Nggak usah, aku sekarang udah di tempatnya. Kamu ke sini aja," ucap Cantika lembut, membuat Nana membuat ekspresi ingin muntah saat mendengarnya.
"Oke," Darrel mematikan sambungan teleponnya lalu menatap Nana, "Lo nguping?"
"Kok gue sih? Emang Lo yang sengaja kan? Supaya gue bisa denger suara pacar Lo?" tanya Nana tidak terima, enak saja main tuduh- tuduh.
Darrel mengendikkan bahunya tidak peduli, "Oh yaudah. Gue duluan,"
Nana menggerutu kesal. Bisa-bisanya Darrel meninggalkannya begitu saja. Ia mengekori Darrel dari belakang, lalu ikut naik tanpa sepengetahuan Darrel.
"Eh, apaan sih Lo?" tanya Darrel terkejut saat Nana naik ke atas motornya,
"Gue mau ikut Lo. Terserah Lo mau ke mana, gue ikut!" ucap Nana tanpa sadar, entah apa yang membuatnya jadi posesif seperti ini.
Darrel memutar bola matanya, lalu meminjam helm untuk Nana dari teman satu kelasnya.
"Nih!" ucap Darrel sambil menyodorkan helm itu pada Nana.
"Terserah kalau Lo marah. Gue tetep ikut," ucap Nana lalu memakai helm yang diberikan Darrel.
Darrel hanya menggelengkan kepalanya. Lalu memundurkan motornya keluar dari kawasan parkiran sekolahan,
Dalam perjalanan Nana masih menggerutu kesal karena Darrel mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Ia memeluk perut Darrel erat, ia benar-benar takut melayang jika sampai mengendurkan pelukannya.
Sampai di tempat yang ingin dikunjungi Darrel, Nana langsung turun dan memegang perutnya yang bergejolak akibat perbuatan Darrel. Tubuhnya sedikit lemas.
"Lo nggak papa Na?" tanya Darrel khawatir sambil memegang bahu Nana.
Pipi Nana memerah, benar-benar memalukan kalau Darrel mengetahui dirinya mabuk hanya karena Darrel mengebut, tidak etis rasanya. Nana menenangkan jantungnya yang berdebar, lalu berbalik dengan senyumannya.
"Gue nggak papa kok," ucap Nana lembut.
Darrel mengangkat bahunya, lalu masuk ke dalam, diikuti Nana dibelakangnya.
"Darrel!" teriak seorang wanita di salah satu meja di sana.
Darrel membalas sapaannya, lalu menghampiri Cantika. Sedangkan Nana memutar bola matanya malas, namun tetap pergi mengikuti Darrel. Ia duduk di samping Darrel yang berhadapan dengan Cantika. Nana terlihat acuh, ia bahkan tidak peduli saat Cantika menatapnya bingung.
"Dia siapa Rel?" tanya Cantika.
"Oh, dia Nana," ucap Darrel memperkenalkan Nana.
"Oh, Nana. Gue Cantika," ucap Cantik sambil mengulurkan tangannya.
Sebenarnya Nana malas menanggapinya, tapi mau tidak mau ia menerima uluran tangan wanita itu.
"Nana," balas Nana sambil tersenyum.
"Nana? Pacarnya Fian ya?" tanya Cantika memastikan ketika ia seperti mengingat sesuatu tentang gadis di samping Darrel itu.
"Ah," Nana menatap Darrel, tapi Darrel hanya bersikap biasa saja. Nana mendengus malas, "Iya, gue pacarnya Fian,"
Darrel hanya melirik Nana sekilas, lalu beralih pada ponselnya.
"Awet banget ya kalian. Gue sama Darrel aja putus nyambung terus," ucap Cantika sendu.
"Apaan sih Ka. Nggak usah sedih gitu lah," ucap Darrel menggenggam tangan Cantika.
Nana menggertakkan giginya, lalu segera menatap ke arah lain.
"Oh iya, Fian itu junior gue kok. Gue juga lumayan tahu soal dia. Kalau Lo mau tanya-tanya soal dia juga boleh, kalau gue bisa jawab tapi," ucap Cantika ramah.
Nana rasa Cantika tidak seburuk yang ia pikirkan. Wanita itu terlihat ramah dan tulus, tidak seperti wanita- wanita yang dulu jadi pacar Darrel. Pasti tidak jauh- jauh dari lebay dan menyebalkan. Tapi tunggu dulu, dia bilang apa tadi? Fian juniornya?
"Jadi kamu udah kuliah?" tanya Nana mengganti nada bicaranya menjadi lebih sopan.
"Hehe iya," ucap Cantika sebagai pengakhir dari pembicaraan itu. Lalu pelayan datang untuk menanyakan pesanan mereka.
"Level 8," ucap Darrel.
"Saya level tujuh aja deh," ucap Cantika.
"Kamu nggak kepedesan Yang? Itu pedes banget lo,"
"Nggak papa, lagipula kan ada kamu," ucap Cantika sambil terkekeh kecil.
Nana menjadi sangat kesal sekarang, "Saya level sepuluh," ucap Nana singkat lalu menatap ponselnya.
"Wahhh...itu level tertinggi Lo Na, kamu yakin?"
"Hm,"
Makanan tiba, berkali-kali Nana meneguk ludahnya melihat merahnya mie yang ada di hadapannya. Mendadak perutnya panas melihatnya, ia tidak pernah melihat makanan yang bahkan dari aromanya saja sudah terasa pedas. Bahkan ia hampir tidak pernah makan makanan pedas setelah terkena maag diusia 6 tahun. Sepertinya sekarang ia sedang ingin mengejutkan perutnya yang sekarang kosong karena tadi ia tidak jadi makan saat istirahat, dan sekarang ia malah makan makanan yang sangat pedas.
Darrel menyadari raut wajah Nana, "Kalau kepedesan nggak usah dimakan," ucap Darrel hendak menarik mangkuk ramen Nana, tapi Nana menahannya.
"Gue lagi pengen pedes," ucap Nana sinis. Lalu langsung mengambil sumpit dan memakannya.
Sedangkan Cantika mengernyitkan dahinya bingung saat melihat perhatian Darrel pada Nana. Darrel sepertinya lebih perhatian kepada Nana daripadanya.
Wajah Nana langsung memerah, lidahnya terasa terbakar, tapi itu tidak menghentikannya. Ia terus memakannya tanpa ragu,
Darrel dan Cantika pun juga memakan ramen masing- masing. Mata Darrel sesekali melirik Nana yang terus memakan ramennya. Wajah gadis itu sudah sangat merah menahan pedas, tangannya juga mengepal erat. Hingga pada akhirnya Nana tidak bisa menahan rasa sakitnya, ia memegang perutnya lalu meringis menahan sakit di perutnya.
"Sakit," rintih Nana. Darrel langsung melepaskan sumpitnya, begitupun dengan Cantika yang juga ikut panik melihat Nana.
"Darrel sakit..." Nana menangis sambil memegang perutnya.
"Nana!"
.
.
.