Nana menolak untuk diajak ke rumah sakit, jadilah Darrel membawanya ke apartemen milik ayahnya yang lumayan dekat dari tempat makan itu. Darrel langsung panik saat Nana tidak berhenti merintih merasakan sakit di perutnya.
Kondisi Nana tidak separah satu jam yang lalu, tapi juga masih belum baik. Ia menahan rasa sakitnya dengan berusaha memejamkan mata, tadi Darrel sudah memberikannya obat, dan sekarang pria itu sedang mengantarkan Cantika pulang. Pahit memang, tapi Nana tidak bisa melarangnya. Lama memejamkan mata tidak membuatnya bisa tidur sepenuhnya, ia malah merasa takut di tempat baru ini.
HP-nya bergetar, menandakan ada pesan masuk.
Kael
Lo dmn?
Kak!
P!
P!
Lo gpp kan?
Nana menghela napasnya lemah, lalu membalas pesan dari adiknya itu.
To: Kael
Gue gpp, bentar
"Gimana, udah mendingan?" tanya Darrel yang baru kembali setelah mengantar Cantika. Sebenarnya ia tidak tega meninggalkan Nana sendirian, tapi hari ini ia sudah berjanji pada Cantika. Dan sebagai laki-laki, sudah menjadi tugasnya untuk menepati janjinya kepada seorang wanita.
Nana menaruh ponselnya, lalu menatap Darrel.
"Udah. Emm, Lo bisa ngantar gue pulang sekarang nggak?" tanya Nana.
Darrel mendekati Nana, lalu duduk di pinggiran ranjang yang ditempati Nana.
"Lo tadi kenapa? Udah tahu punya maag, terus kenapa pesen segala?" tanya Darrel.
Nana terdiam. Sebenarnya ia sendiri juga tidak tahu, tadi ia hanya merasa kesal saja dengan perhatian Darrel kepada Cantika. Tapi sekarang ia tidak bisa menggunakan itu sebagai jawaban atas pertanyaan Darrel, terlalu gengsi.
"Kan di sana cuma ada makanan itu, mana gue tahu kalau bakal sepedas itu, gue aja nggak pernah makan," alibi Nana.
"Gara-gara Lo gue jadi makan itu!" batin Nana melanjutkan.
Darrel tahu Nana berbohong, terlihat jelas dari mata Nana yang menghindarinya, dan dari tangannya yang tidak bisa diam. Tapi ia hanya diam. Ia tidak ingin memanjangkan masalah ini.
"Oke, kita turun. Gue juga udah pesen taksi online tadi," ucap Darrel lalu beranjak dari sana.
Ia membantu Nana berjalan ke depan.
Darrel mengantarkan Nana sampai rumah, tapi ia langsung pergi setelah tiba. Nana juga tidak berkomentar dengan kepergian Darrel, tapi ia merasa kalau Darrel berubah padanya. Darrel seolah sedang menjauhinya. Entah itu memang benar atau hanya perasaannya saja, tapi itulah yang Nana rasakan sekarang. Nana berpikir kalau Cantika hanyalah alasan untuk Darrel menjauhinya.
"Lo ke mana aja sih?" tanya Kael langsung. Tadi ia terkejut saat kakaknya belum sampai di rumah, padahal seharusnya Nana sudah sampai rumah jauh sebelum ia pulang dari sekolahan.
"Ah, gue tadi ke rumah Lisya dulu," ucap Nana lalu masuk melewati Kael. Untuk saat ini pikirannya masih penuh tentang Darrel, berbagai pertanyaan muncul di kepalanya. Nana langsung pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri, lalu pergi belajar dengan harapan pikirannya bisa teralihkan dari Darrel.
Beberapa menit Nana mencoba fokus dengan tulisan di buku itu, tapi usahanya gagal karena nama Darrel tetap tidak mau pergi dari kepalanya. Nana menggeram kesal, akhirnya pengalihannya kembali pada drama dari laptopnya.
"Kenapa dia nyebelin banget sih?" gumam Nana tanpa sadar.
Kael masuk ke kamar Nana, lalu duduk di atas ranjang, memperhatikan kakaknya yang sedang menggerutu tidak jelas di hadapan laptonnya. Ia masih diam di tempatnya, sampai Nana sadar kalau ada seseorang di belakangnya.
"Kael, ngapain lo di sini?" tanya Nana.
"Lo nggak belajar, ha?" tanya Kael sambil melirik jam tangannya.
"Ahh," Nana segera menutup laptopnya, lalu membuka buku. Ia benar-benar tidak bisa membantah perintah Kael sekarnag, adiknya itu bisa jauh lebih menyeramkan kalau sampai melihat nilainya sampai jelek. Sekarang ia harus kelihatan belajar dengan sungguh-sungguh, jika nanti nilainya tidak sebagus ekspektasinya, setidaknya Kael akan melihat usahanya.
Pagi harinya Kael mengantarkan Nana ke sekolahan, ia harus memastikan kakaknya itu selamat sampai tujuan, barulah ia pergi ke sekolahannya. Nana cukup beruntung memiliki adik sebaik Darrel, walaupun kadang adiknya itu cukup menyebalkan kalau terlalu overprotektif padanya.
Saat ia masuk kelas, Darrel sudah duduk di tempatnya. Nana melihat jam tangannya, ini masih terlalu pagi untuk Darrel yang sering datang terlambat. Lalu di tempat duduknya juga ada seorang wanita yang sangat Nana kenal, Vania, satu dari ribuan mantan Darrel. Nana memutar bola matanya malas, lalu pergi ke sana untuk menaruh tas.
"Eh Nana," ucap Vania cukup keras, wanita itu bergelayut manja di lengan Darrel yang saat ini sedang memainkan ponselnya.
Nana memaksakan kedua bibirnya terangkat untuk menanggapi sapaan Vania, "Maaf kak, aku cuma mau naruh tas aja," ucap Nana sambil menaruh tasnya di atas meja. Ia melirik Darrel yang seolah tidak peduli dengan kehadirannya.
Nana menghentakkan kakinya kesal, lalu pergi keluar dari kelas. Ia tidak habis pikir dengan Darrel, bukannya Darrel setidaknya menanyakan keadaannya, tapi ini? Nana pergi ke kelasnya, menghampiri Kana yang sedang sibuk dengan bukunya.
.
.
.
Darrel tidak tahu yang dia lakukan sekarang. Ia merasakan hal yang berbeda saat bersama Nana, mungkin karena ia sudah kenal lama dengan gadis itu, atau karena hal lain? Ia benar- benar merasa sedang diombang- ambingkan oleh perasaannya sendiri.
"Ya iyalah, ngapain juga gue suka sama cewek kayak Lo?" ucapnya pada Nana waktu itu.
Ia seperti tertampar dengan ucapannya sendiri. Darrel mengacak rambutnya kasar, lalu mendorong pelan wanita yang memeluknya dari samping itu.
"Lo ke kelas aja ya, gue mau tidur bentar," ucap Darrel dengan tatapan berbeda.
"Iya deh, gue juga mau persiapan dulu," ucap Vania, melihat wajah Darrel sekarang, sepertinya tidak mungkin ia membantah. Ia sangat tahu karakter mantannya itu. Darrel memang sangat lembut jika dalam mood bagus. Tapi kalau marah, jangan ditanyakan lagi. Sepertinya hal seperti ini tidak hanya berlaku untuk Darrel.
Darrel menatap kosong meja di sampingnya. Nana pasti pergi karena Vania,
Kevin yang tadi berada di tempat duduknya, berdiri dan mendudukkan dirinya di samping Darrel, tempat duduk Nana, "Lo udah beneran suka sama Nana?" tanya Kevin saat melihat gelagat Darrel.
Darrel mengendikkan bahunya, ia juga tidak tahu dengan perasannya. Tapi sepertinya hanya Nana yang berhasil membuat hatinya gundah sampai seperti ini. Hanya Nana? Entahlah, ia hanya merasa jika Nana berbeda dari gadis- gadis yang ia dekati selama ini. Atau itu hanya perasaanya saja?
Tak berapa lama bel berbunyi. Murid- murid yang berada di luar kelas segera masuk sebelum guru pengawas datang. Darrel menatap ke arah pintu, mencari seseorang yang sudah berhasil memenuhi isi kepalanya sekarang. Sampai guru datang pun Nana belum juga datang, Darrel sedikit khawatir, ia langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi Nana. Namun terhenti saat mendengar suara guru yang tengah bertanya kepada seseorang,
"Kamu dari mana saja? Kenapa baru datang?" tanya si guru pengawas. Darrel mengangkat kepalanya dan menatap ke arah pintu, terlihat Nana yang baru datang dengan tampang tidak berdosanya berdiri di depan kelas.
"Itu Pak..."
"Saya bisa tahu kamu bohong kalau kamu lagi Napak di tanah. Jadi, jangan coba- coba bohong sama saya. Kasih alasan yang sejujur- jujurnya!"
Nana tersentak kecil karena takut. Namun hal itu malah terlihat imut untuk orang- orang yang melihatnya, termasuk Darrel.
"Tadi nemenin temen pak," jawab Nana dengan kepala tertunduk sembari sesekali melirik sang guru.
"Nemenin temen ngapain?"
"Itu Pak..."
"Itu apa? Jangan berbelit- belit,"
"Nonton Ijat yang dibawa balik sama emaknya pas rumahnya kebakaran Pak," jawab Nana dengan kedua mata terpejam.
.
.
.